Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 74


__ADS_3

Melati dan Arnon sudah selesai makan malam. Mereka berdua masuk ke dalam kamar.


Arnon berjalan menuju ranjang, sedangkan Melati berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, Melati melihat Arnon telah berbaring dengan posisi kepala menyandar pada sandaran ranjang.


Pria itu tersenyum melihat Melati sambil menepuk kasur tepat di sebelahnya.


Melati berjalan menuju sisi ranjang yang berseberangan dengan Arnon kemudian tidur dan menarik selimutnya sampai batas leher.


Gadis itu mengacuhkan kode yang di berikan oleh Arno padanya.


Arnon masih setia dengan senyumannya. Pria itu tahu jika istrinya belum tidur dan mengerti maksud dari kodenya.


Arnon bergeser mendekati Melati yang sudah bergulung dengan selimut. Pria itu memeluk tubuh Melati dari belakang.


Sebenarnya lebih tepat bukan memeluk Melati, melainkan memeluk selimut tebal yang di gunakan istrinya.


Arnon menempelkan wajahnya pada rambut Melati yang memiliki aroma sangat menenangkan baginya.


Arnon terus mengendus dan mengendus sampai si empunya rambut merasa geli.


"Aku mengantuk," rengek Melati pada suaminya yang masih memeluknya erat.


Arnon tak perduli dengan perkataan Melati. Ia masih tetap terus menghirup aroma wangi rambut istrinya yang membuatnya candu.


"Kau memakai shampo apa,Sayang!" hidung Arnon tetap setia berada di tiap helai rambut Melati yang sudah mulai acak-acakan karena pria itu terus saja mencari titik aroma wangi yang semakin lama di hirup semakin membuatnya melayang.


"Aku hanya memakai shampo biasa dan kau harus berhenti membuatku merasa geli," pinta Melati pada suaminya.


"Tapi aku masih ingin tetap seperti ini," tolak Arnon.


"Kenapa aku memiliki suami yang kekanakan sekali ... dan sialnya aku sangat mencintainya."


Melati menarik sedikit selimut yang di tindih oleh Arnon dan membukanya lebar-lebar.


"Lebih baik kau tidur, jika kau besok masih ingin berkencan denganku, Sayang!" dengan selimut yang masih terbuka lebar agar Arnon juga ikut masuk ke dalam.


Pria itu tersenyum lebar dan langsung masuk ke dalam selimut istrinya.


Arnon memeluk perut istrinya dengan sejuta bayangan yang bermunculan di otaknya.


"Perut rata ini kedepannya akan menjadi tempat calon anak-anakku tinggal sampai mereka semua siap lahir ke dunia."


Arnon memejamkan matanya sambil tersenyum menikmati angan-angan yang melintasi pikirannya dengan posisi wajah berada di ceruk leher Melati.

__ADS_1


Berbeda dengan Melati yang memilih untuk tidur lebih dulu karena ia merasa lelah sekali hari ini.


Keduanya tidur dalam selimut yang sama. Saling berbagi kehangatan untuk yang pertama kalinya.


Keesokan harinya, seperti biasanya Melati sudah berada di dapur membuat susu hangat untuk keluarganya.


Gadis itu sangat cekatan dalam urusan rumah tangga karena ia sudah terbiasa sejak Anggi masuk dalam kehidupannya.


Saat Melati hendak membawa 4 gelas susu yang sudah ada di atas nampan, tangan kekar melingkar di perut rampingnya dengan wangi parfum maskulin yang menyeruak masuk pada indera penciumannya.


Melati menoleh ke belakang dengan posisi tangan masih memegang nampan yang hendak ia angkat namun di urungkannya karena ulah seseorang. Siapa lagi kalau bukan Arnon.


"Selamat pagi, Sayang!" mencium pipi Melati.


"Apa yang kau lakukan? tidak enak jika di lihat orang," ujar Melati dengan kedua mata yang sudah melihat ke segala arah.


Arnon lebih mengeratkan pelukannya pada perut rata Melati dengan wajah berada di ceruk leher istrinya.


"Kenapa harus tak enak? kita sudah sah menjadi suami istri dan bermesraan di pagi hari bagi pasangan yang baru menikah itu wajarkan? bahkan yang aku dengar ada pasangan yang baru menikah tidak keluar kamar selama 7 hari 7 malam," jelas Arnon.


Melati di buat terkejut dengan perkataan suaminya. Gadis itu mulai membayangkan jika dirinya yang ada di posisi pengantin baru tersebut.


"Bagaimana jadinya jika aku yang ada di posisi mereka? pasti kulitku akan keriput karena harus mandi setiap jam, atau ... bahkan menit."


Arnon melirik istrinya yang sedang melamun dengan raut wajah gelisah seperti sedang memikirkan sesuatu.


Pria itu menyunggingkan senyumannya. Perlahan Arnon memutar bahu Melati untuk menghadap ke arahnya.


"Aku tahu kau sedang memikirkan apa," tutur Arnon sambil mengedipkan mata kirinya.


"Apa yang aku pikirkan?" tanya Melati menatap kedua mata suaminya dalam.


Arnon mendekatkan wajahnya pada telinga Melati sambil berbisik, "kau sungguh berpikir kita tak keluar kamar selama 7 hari 7 malam juga kan?"


Mata Melati terbelalak mendengar ucapan suaminya yang dapat menebak isi kepalanya sedari tadi.


Wajah Melati memerah. Gadis itu menundukkan kepalanya tak ingin Arnon tahu jika wajahnya saat ini dalam keadaan malu karena tertangkap basah oleh suaminya sedang berpikir hal yang seharusnya tak Melati bayangkan.


"Aku harus segera mengantar susu ini ke meja makan, jadi ... minggir dulu," pinta Melati masih dengan wajah menunduk.


Arnon mengangkat sedikit wajah istrinya agar menatap ke arahnya.


"Jika kau berpikir seperti apa yang aku katakan, itu artinya kau normal, Sayang! kau tak perlu malu karena semua pengantin baru akan ada masanya sendiri untuk tak keluar kamar," tutur Arnon agar Melati tak merasa malu lagi.


"Kita sarapan sekarang dan ... biar aku saja yang membawa susunya." Arnon mengangkat nampan yang berisi 4 gelas susu hangat.

__ADS_1


Arnon berjalan mendahului, sedangkan Melati mengekori langkah suaminya.


Keduanya sudah berada di meja makan. Di sana masih belum ada siapapun hanya mereka berdua. Saat Melati hendak pergi ke dapur untuk mengambil selai, tangan Arnon menahan lengannya.


"Mau kemana?"


"Aku ingin mengambil selai, apa kau ingin aku buatkan sesuatu?" tanya Melati tanpa rasa curiga pada Arnon.


"Apa istriku ini akan mengambulkan semua permintaanku?"


Melati mengangguk dengan senang hati tanpa rasa was-was sedikitpun.


"Beri aku morning kiss, Sayang!" dengan mata berbinar dan itu semua menggoyahkan iman Melati untuk menolak permintaan Arnon.


"Kenapa orang ini memasang wajah seperti itu," batin Melati.


Secepat kilat Melati mencium pipi Arnon.


Cup


"Morning kiss, Sayang! aku mencintaimu," bisik Melati yang ingin membalas Arnon karena telah membuat wajahnya memerah saat di dapur.


Gadis itu langsung menunju dapur, sedangkan Arnon terkesiap dengan perkataan istrinya yang membuatnya melayang tinggi.


Arnon tersenyum sendiri seperti orang gila.


"Jika terus begini, aku bisa semakin gila karenamu," gumam Arnon mendarat bokongnya pada kursi.


Hadi dan Anggi sudah berada di meja makan. Melati juga sudah berada di sana sambil mengolesi selembar roti dengan selai coklat kesukaan suaminya.


Melati memberikan roti tersebut pada Arnon dan pria itu menerima dengan senang hati.


Suasana sarapan kali ini tanpa ada percakapan apapun, yang ada hanya suara keheningan karena mereka semua terfokus pada makanannya masing-masing.


Hadi sudah berangkat ke lokasi proyek, sedangkan Arnon naik ke atas untuk bersiap pergi berkencan dengan Melati.


Melati masih sibuk membersihkan meja makan. Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, suara cempreng wanita paruh baya terdengar di telinga Melati.


"Nah, begitu dong! bangun pagi siapkan sarapan, jangan hanya minta enaknya saja," celetuk Anggi sambil berjalan menuju ke arah kamarnya.


Melati tak memperdulikan ucapan wanita itu karena Melati menganggap ocehan ibu tirinya itu hanya angin lalu di pagi hari.


Setelah selesai, Melati bergegas menuju kamarnya untuk bersiap karena ia dan suaminya akan berkencan layaknya orang baru berpacaran.


Di sepanjang jalan, gadis itu tersenyum-senyum sendiri membayangkan kencan mereka hari ini.

__ADS_1


__ADS_2