
Arnon dan Melati sudah berada di lantai dasar rumah baru Hadi.
Pelayan wanita membawa satu buah koper dan ransel ke hadapan Arnon dan Melati.
"Ini barang-barang anda, Tuan!"
"Letakkan saja di situ, nanti biar supir yang membawanya ke mobil," titah Arnon sambil memeluk pinggang Melati.
"Sayang! kita pulang sekarang," pinta Arnon pada Melati.
"Tapi aku ingin berpamitan terlebih dulu pada mama dan kak Agnez," ujar Melati pada suaminya.
"Tidak perlu! kita langsung pulang saja." Wajah Arnon mulai terlihat emosi kembali.
"Lebih baik aku turuti saja kemauannya, daripada dia marah-marah lagi," batin Melati.
"Baiklah! kita pulang sekarang."
Arnon dan Melati berjalan menuju mobil. Saat di ruang tamu, wajah Agnez sudah tak nampak di ruangan itu.
Arnon melirik ke arah sofa yang tadi di tempati oleh kakak iparnya.
"Kemana perginya kakak ipar yang juga suka menyiksa istriku itu? heh,kau kira aku tak tahu jika kau selalu berebut pria dengan Melati, dasar wanita tak tahu diri! sudah tahu mereka lebih suka dengan Melati tapi masih saja suka berebut dengan wanitaku," batin Arnon dengan langkah kaki menuju mobil.
Roda mobil yang di naiki Melati dan Arnon terus bergulir sampai pada bangunan rumah yang teramat sangat megah.
Melati dan Arnon sudah berada di depan rumah keluarga Gafin.
Keduanya masuk ke dalam dan mereka di sambut oleh para pelayan.
"Selamat datang Tuan dan Nona!"
Mereka berdua menampilkan senyum pada semua pelayan yang menyambut.
"Mommy kemana Kepala pelayan Mirna?" tanya Arnon dengan tangan yang masih bertengger pada pinggang istrinya.
Semua pelayan yang ada di sana tak terkecuali kepala pelayan Mirna masih terfokus pada tangan Arnon yang berada pada pinggang Melati.
Mereka tersenyum melihat keromantisan Tuan mudanya.
"Kepala pelayan Mirna," ujar Arnon membuyarkan lamunan Mirna.
"Maaf, Tuan! Nyonya dan Tuan besar sedang pergi untuk perjalanan bisnis ke Amerika," sahut Mirna.
"SaSi kemana?" tanya arnon lagi.
"Nona muda masih belum pulang dari kampus, Tuan!"
"Terimakasih untuk informasinya, Kepala pelayan Mirna."
Arnon dan Melati berjalan ke arah tangga menuju lantai atas. Saat keduanya sudah sampai di depan pintu kamar Melati, gadis itu hendak membuka pintu kamarnya, namun tangan Arnon mencegah tangan istrinya.
"Kenapa?" tanya Melati polos.
"Mulai hari ini, kita tidur satu kamar," tutur Arnon menggendong tubuh Melati ala bridal style.
Mata Arnon tak henti-hentinya menatap kedua manik mata Melati sambil berjalan menuju ke arah kamarnya.
Saat sudah berada di depan pintu kamar Arnon, pria itu tak bergerak hanya diam di depan pintu kamarnya.
"Kenapa diam?" tanya Melati bingung.
"Aku tak bisa membuka handel pintunya, Sayang! kau saja yang buka ya?" Arnon tersenyum manis.
Gadis itu membuka handel pintu kamar Arnon. Aktor tampan tersebut membawa istrinya ke arah ranjang dan meletakkan Melati perlahan di atas kasur berukuran king size-nya.
Gadis itu masih dengan posisi terduduk, sedangkan Arnon sudah membuka bajunya di hadapan sang istri.
Spontan gadis itu menutup kedua matanya.
__ADS_1
Arnon terkekeh melihat tingkah lucu Melati. Pria itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat Melati ingin merebahkan tubuhnya, suara Kepala pelayan Mirna terdengar.
"Tuan muda! koper anda sudah ada di luar pintu."
Melati langsung bergegas turun dari kasur menuju pintu.
Saat pintu sudah terbuka, koper Arnon sudah berada di hadapannya.
Melati menarik koper tersebut masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di depan sofa kamar Arnon yang telah menjadi kamarnya juga.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Melati menoleh ke arah sumber suara dan ternyata Arnon hanya memakai handuk yang ia lilitkan sampai batas pinggang dengan air menetes dari rambut basahnya.
GLEK
Melati menelan ludahnya secara perlahan saat melihat pemandangan yang menggoda imannya.
Gadis itu langsung berlari menuju kamar mandi, namun belum juga sampai di depan pintu kamar mandi, Arnon menarik tangan Melati sampai telapak tangan gadis itu menyentuh dada bidang Arnon.
Mata Melati membulat sempurna melihat otot atletis suaminya yang benar-benar membuat kaum hawa luntang-lantung entah kemana.
"Astaga! kenapa tangan ini sangat nyaman berada di tempat yang tak semestinya," lamun Melati.
Sedetik kemudian kesadarannya mulai kembali dan ia menjauhkan dirinya dari tubuh Arnon.
Pria itu tersenyum simpul kemudian berjalan ke arah kopernya.
Melati lebih memilih kabur masuk kamar mandi karena wajahnya sudah memerah bagai udang rebus.
Gadis itu 3 jam berada di dalam kamar mandi tak kunjung keluar.
Arnon cemas dengan keadaan istri. Ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
Melati masih berada di dalam bathtub.
"Ya! aku baik-baik saja, sebentar lagi aku selesai," sahut Melati yang langsung mengenakan baju mandinya.
Gadis itu keluar dengan rambut yang sudah tergulung oleh handuk.
Arnon masih berada di depan pintu kamar mandi. Ia melihat wajah Melati terlihat sangat segar dengan aroma rambut yang sangat menggoda indera penciumannya.
Tanpa pikir panjang Arnon menarik pinggang Melati membuka handuk yang melilit rambut indahnya.
Saat rambut itu sudah tak terhalang oleh apapun, aroma khas menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
"Kenapa?" tanya Melati.
"Aku ingin mencium wangi rambutmu ini," sahut Arnon sambil menempelkan hidungnya pada rambut basah Melati.
Gadis itu merasa kegelian diiringi tawa kecilnya.
"Sayang! jangan begini, aku merasa geli."
Tak ada sahutan dari Arnon. Pria itu semakin menjadi dan terus mengendus wangi rambut istrinya.
Tok tok tok
Melati langsung menjauh dari tubuh Arnon.
"Makan malam anda sudah siap, Tuan!" suara Kepala pelayan Mirna terdengar.
"Baiklah! aku akan segera turun," sahut Arnon.
Melati membongkar isi ranselnya mencari baju yang akan ia pakai.
__ADS_1
Sebelum memakai baju yang sudah ia pilih, Melati melihat ke arah Arnon.
"Kau tunggu di meja makan saja, nanti aku menyusul," pinta Melati.
"Jangan malu, Sayang! cepat atau lambat aku akan melihat semua tubuhmu itu," goda Arnon dengan mengedipkan sebelah matanya.
Pria itu keluar menuju meja makan, sedangkan Melati masih terdiam mencerna ucapan suaminya.
"Apa maksud dia kita akan ...."
Melati bergidik ngeri membayangkan hal yang muncul di dalam otaknya.
Gadis itu langsung mengganti baju agar Arnon tak menunggunya terlalu lama di meja makan.
Jam telah menunjukkan tepat pukul 10 malam. Jam dimana waktunya semua orang beristirahat tak terkecuali Melati dan Arnon.
Mereka berdua masih duduk di tepi ranjang yang bersebrangan.
"Apa kita masih akan memakai guling pembatas?" tanya Arnon pada Melati.
Gadis itu menatap wajah suaminya. "Tidak perlu! kita berdua sudah tahu tentang perasaan masing-masing, jadi untuk apa masih menggunakan guling pembatas," jelas Melati.
Arnon tersenyum langsung membaringkan tubuhnya tepat di tengah-tengah kasur.
Pria itu menari tangan Melati agar masuk ke dalam pelukannya.
"Aku sudah lama ingin tidur dan memelukmu seperti ini setiap hari," ujar Arnon sambil memejamkan matanya.
Melati hanya bisa tersenyum mendengar ucapan manis dari mulut suaminya.
Arnon mengambil sesuatu dari atas meja nakas. Sebuah gantungan kunci yang dulu pernah ia beli saat liburan ke Bali.
"Mana ponselmu?" tanya Arnon.
Melati mengambil ponselnya yang juga berada di atas nakas tepat di sampingnya.
Gadis itu memberikan ponselnya pada Arnon. Pria itu memasang gantungan kunci berbentuk hati dengan inisial di tengah-tengah hati itu huruf A.
Melati melihat inisial dari gantungan kunci yang di berikan oleh suaminya.
"Apakah ini inisial dari namamu?" tanya Melati menatap wajah Arnon.
Pria itu menganggukan kepalanya sambil memperlihatkan gantungan pada ponselnya sendiri.
Melati melihat gantungan ponsel yang sama dengan miliknya namun dengan huruf berbeda yaitu M.
"Apa itu inisial dari ...."
"Itu inisial dari nama orang yang sangat aku cintai bahkan teramat sangat aku cintai," sambung Arnon mengecup bibir Melati sekilas.
Cup
"Selamat tidur, Sayang! aku mencintaimu."
Melati tersenyum mendengar ucapan selamat tidur dari suaminya.
Gadis itu juga mengecup sekilas bibir Arnon.
Cup
"Selamat tidur, Suamiku! aku juga sangat mencintaimu."
Keduanya saling berpelukan menikmati kehangatan satu sama lain sampai alam mimpi membawa mereka terbang entah kemana.
Challenge: Jika bab ini like bisa tembus sampai 1000 like dalam sehari dan komentar tembus 100 komentar, author akan update 1 bab lagi ya.
Ingat komentar tidak boleh double,satu orang di hitung 1 komentar, usahakan komentarnya yang membangun dan membuat jiwa penulis author lebih semangat lagi untuk menulis.
Author cinta kalian semua😘😘😘😘
__ADS_1