
Melati dan Arnon sudah berada di sebuah toko khusus perlengkapan bayi.
Mereka sengaja berbelanja untuk kebutuhan bayinya sekarang, karena tanggal persalinan Melati sudah semakin dekat.
Sebenarnya Arnon mengajaknya berbelanja saat usia kandungan Melati menginjak enam bulan, namun wanita hamil itu tak mengindahkan permintaan suaminya karena menurut sebagian orang, tak baik jika menyediakan perlengkapan bayi di jauh-jauh hari. Jadi Melati memutuskan untuk berbelanja saat usia kandungannya sudah masuk 8 bulan.
Melati memilih beberapa baju lucu nan cantik untuk putrinya. Sementara Arnon mencari stroller baby.
Setelah cukup dengan baju sang bayi, Melati beralih ke arah gendongan bayi, selimut, handuk, dan keperluan lainnya.
Arnon mendekati Istrinya yang sudah berada di meja kasir. "Apa sudah selesai semua?" tanya Arnon sembari meletakkannya stroller bayinya.
"Sudah, Sayang!"
Melati melihat ke arah stroller yang di bawa oleh Arnon. Wajah ibu hamil itu langsung terlihat gemas dengan stroller bayi yang di pilih oleh aktor tampan tersebut.
"Apa ini untuk bayi kita?" tanya Melati pada suaminya.
"Iya, Sayang!"
Melati tersenyum pada Arnon, namun sedetik kemudian, wajahnya berubah.
"Kenapa?" tanya Arnon dengan wajah heran.
"Ranjang bayinya belum," ujar Melati melihat ke segala arah di toko itu, mencari keberadaan ranjang bayi yang mungkin cocok untuk baby mereka.
"Apa anda mencari ranjang bayi?" tanya kasir yang sedang menghitung total barang-barang yang di beli Melati dan Arnon.
"Iya, Mbak!" Melati menjawab pertanyaan kasir tersebut.
"Tempat ranjang bayi ada di bagian sebelah kiri ruangan ini, Nyonya!"
"Terimakasih!" Melati langsung menarik tangan suaminya menuju ke tempat khusus ranjang bayi.
Saat keduanya sudah berada di ruangan itu, mata Melati tak henti-hentinya di buat kagum dengan berbagai model dan warna ranjang bayi yang sangat cantik baik itu ranjang bayi laki-laki atau perempuan, semuanya bagus.
Mata Melati tertuju pada sebuah ranjang bayi berwarna cream kombinasi putih dengan tempat baju dan tempat bedak bayi menjadi satu di ranjang itu.
Melati berjalan ke arah ranjang yang menyita perhatiannya diikuti Arnon di belakangnya.
"Apa kau suka ranjang bayi itu?" tanya Arnon memperhatikan Melati yang sedang melihat tiap jengkal tempat tidur untuk bayinya kelak.
"Apa menurutmu ini bagus?" tanya balik Melati.
__ADS_1
Arnon menyentuh kedua pundak Istrinya. "Semua yang kau suka pasti bagus," sahut Arnon.
"Kali begitu, kita ambil yang ini saja."
Arnon meminta pada pelayan toko untuk mengemas ranjang bayi yang dipilih oleh Melati.
Keduanya sudah berada di dalam mobil. Mereka berjalan menuju arah pulang, namun Melati tiba-tiba menoleh ke arah suaminya yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Sayang!" Melati memanggil Arnon dan pria itu menoleh ke arah Istrinya. "Ada apa, Sayang!"
"Apa kita bisa ke rumah pohon? aku ingin menginap di sana," ujar Melati dengan wajah memelas.
"Hanya untuk satu malam ini saja," ujar Arnon pada Melati.
Wanita berperut buncit menganggukkan kepalanya mantap.
Roda mobil Arnon beralih arah menuju rumah pohon. Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Arnon sudah berada di dekat rumah pohon dengan hamparan bunga yang memanjakan mata.
Melati turun dari mobil dengan langkah semangat berjalan ke arah rumah pohonnya.
Arnon mengikuti langkah Istrinya. Pria itu menatap punggung Melati dari belakang. "Aku senang karena keluarga kita akan lengkap sebentar lagi," gumam Arnon.
Melati menyentuh bunga-bunga yang menghiasi perjalanannya menuju ke arah rumah pohonnya.
Ceklek
Pintu rumah pohon itu terbuka. Melati langsung menuju ke arah balkon untuk melihat hamparan bunga yang melambai tertiup angin membuat keindahan mereka semakin terpancar indah.
Arnon memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Apa kau sedang ada masalah?" tanya Arnon yang merasa tak biasanya Melati mengajak keluar rumah bahkan menginap di luar semenjak ia hamil.
"Tak ada," sahut Melati singkat sembari menatap ke arah ribuan bunga di depan matanya.
"Kenapa ingin menginap di sini?" tanya Arnon lagi sambil mengecup singkat tengkuk Melati.
Ibu hamil itu berbalik menatap wajah suaminya. Ia menelisik tiap inci bagian wajah Arnon penuh cinta.
Perlahan bibir Melati mendekat ke arah telinga suaminya sembari berbisik, "Aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu, karena ketika aku sudah melahirkan, kau tak bisa menggempurku selama 2 bulan, Sayang!"
Mata Arnon terbelalak sempurna. Pria itu menatap mata istrinya. "Apa benar yang kau katakan?" tanya Arnon.
"Tentu saja benar! maka dari itu aku meminta kita menginap di sini malam ini," jelas Melati pada suaminya.
"Astaga! kenapa aku bisa lupa akan hal itu! aku di bulan-bulan kemarin jarang mengunjungi anakku karena aku kira setelah dia lahir, aku bisa menggempurmu habis-habisan, Sayang!"
__ADS_1
"Kau bisa melakukannya mulai hari ini," ujar Melati membuka kancing baju suaminya satu persatu.
Tangan Arnon mulai bertengger pada pinggang Melati. Perlahan tangan itu mulai menjalar ke arah punggung istrinya. Ia menarik turun resleting baju Melati.
Tangan Arnon mengusap lembut punggung polos Istrinya yang masih menyisakan pengait pembungkus kedua benda sensitif Melati yang semakin membesar.
Pengait itu Arnon lepas dengan mudahnya sampai punggung Melati sungguh polos, namun bagian depan masih tertutup.
Kancing kemeja Arnon juga sudah terbuka semua. Menampilkan dada bidang kesukaan Melati. Dada itu tempat ternyaman bagi Melati.
Mata keduanya saling menatap satu sama lain. Wajah mereka mulai mendekat hingga bibir pasangan itu mulai menempel dan saling membalas.
Tangan Melati sudah terkalung indah. Kabut gairah mulai menghampiri keduanya.
Arnon melepaskan ciuman mereka. Ia mengangkat tubuh istrinya ke arah ranjang. "Kita lanjutkan di dalam, di luar dingin," ujar Arnon meletakkan tubuh Melati di atas kasur berukuran king size-nya.
Arnon menghidupkan penghangat ruangan tak lupa ia menutup pintu dan jendela karena angin semakin menghantarkan rasa dingin pada permukaan kulitnya.
Arnon sudah berada di tepi ranjang hendak membuka kemejanya, namun Melati langsung bangun dari kasur mencegah Arnon, "Jangan dibuka, biar aku saja."
Melati mulai membantu membuka baju Arnon dan suaminya mulai merasa aneh dengan tingkah sang istri. Tak biasanya Melati seagresif ini.
Saat tangan Melati hendak membuka resleting celana Arnon, pria itu langsung menahan tangan Melati dan spontan si empunya tangan menatap ke arah pemilik celana tersebut. "Kenapa?" tanya Melati.
"Kau yang kenapa, Sayang? kau tak seperti biasanya bersikap seagresif ini," tutur Arnon.
Melati mengecup bibir Arnon.
Cup
"Aku tak tahu, yang jelas saat ini aku ingin melakukan apa yang aku inginkan."
Arnon tersenyum menang. Ia tahu jika saat ini istrinya sudah terpengaruh oleh hormon kehamilan.
Sungguh Arnon merasa bahagia jika Melati bisa seagresif ini setiap harinya.
Pria itu menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri. Pergerakan dua benda kenyal itu semakin panas karena Melati juga semakin gencar membalas gempuran Arnon pada bibirnya.
Perlahan Arnon menggiring Melati ke arah ranjang. Ia merebahkan tubuh Melati dengan hati-hati.
Arnon sudah menindih tubuh istrinya. "Aku akan lembut, Sayang! kau nikmati saja permainan malam ini," ujar Arnon sebelum ia menggempur Melati dengan gerakan lembut karena ia tak ingin menyakiti bayi dalam perut istrinya.
Malam ini bukan malam yang panjang seperti biasanya. Arnon tak membuat Melati meronda karena Istrinya sedang hamil tua jadi ia tak ingin membuat Melati kelelahan dan berdampak pada kehamilannya.
__ADS_1