Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 217 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia dan William masih tidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


Tak ada yang berani membangunkan mereka berdua karena semua penghuni rumah itu tahu jika William dan Zinnia dalam proses pembuatan William junior.


Mata indah seorang gadis yang sudah berganti status menjadi wanita kini terbuka sedikit demi sedikit.


Mata berwarna hitam pekat itu menatap pahatan wajah seorang pria yang masih tertidur pulang dengan deru napas yang masih terdengar teratur.


Zinnia memperhatikan tiap guratan pada wajah William yang masih nampak lelah karena pergulatan panas mereka.


Awalnya hanya dua kali namun, stamina seorang hot Dokter yang tak bisa di anggap remeh membuat Zinnia di gempur habis-habisan sampai jam 1 dini hari.


Zinnia menyentuh pipi William. "Kau pasti lelah sekali karena aku juga merasakan hal itu," gumam Zinnia dengan suara yang teramat sangat pelan karena ia tak ingin membuat William terbangun.


Zinnia tersenyum saat ia mengingat kejadian tadi malam dimana dirinya di gendong ke kamar mandi dan di mandikan oleh suaminya karena Zinnia sudah kelelahan melayani nafsu William yang tak kunjung tuntas.


Pria itu juga memakaikan bajunya dan Zinnia saat ini melihat ke arah baju tidur yang ia pakai. "Apa kau begitu mencintaiku sampai baju saja kau yang memakainya," gumam Zinnia lagi.


"Hm."


Suara William mengagetkan Zinnia. Wanita itu menatap ke arah William dan senyum lelakinya terukir indah dengan mata terpejam.


"Apa kau sudah bangun?" tanya Zinnia namun, tak ada jawaban dari mulut William.


Zinnia tersenyum dan wanita itu bergerak lebih dekat dengan wajah William.


Cup


Kecupan selamat pagi mendarat pada bibir suaminya. "Ayo bangun, Sayang!"


Zinnia menggoda suaminya namun, pria itu tak ada respon apapun dan Zinnia kembali mendaratkan bibirnya pada bibir William.


Cup


William masih diam tak ada respon. "Kau jangan berpura-pura, Sayang! ayo bangun!"


Zinnia mengguncang tubuh suaminya dengan keras namun, William masih saja tak merespon.


Zinnia memicingkan matanya menatap William tajam.


"Nampaknya harus ada morning kiss yang lebih dari biasanya."


Zinnia mendekatkan wajahnya pada wajah William. "Jika kau masih tak bangun, aku akan pergi," ancam Zinnia dan William masih tak memberikan respon apapun.


Zinnia menyentuh dada William yang masih tak memakai baju. Pria itu hanya menganakan celana tidurnya saja.

__ADS_1


"Coba saja kau tak merespon jika bibir ini sudah bekerja."


Cup cup cup cup cup cup


Kecupan bertubi-tubi mendarat pada bibir William. Pria itu masih diam dan Zinnia terus menghujani pagi William dengan morning kiss-nya.


Saat Zinnia asyik menggoda William, tangan kekar Dokter tampan itu menekan tengkuk istrinya.


William membalik posisi. Kini Zinnia yang berada di bawah kungkungannya dan William yang kini memimpin ciuman mereka.


William menggerakkan bibirnya melahap bibir kenyal Zinnia. Mata Zinnia yang awalnya terbuka kini tertutup menikmati ciuman William.


William melepaskan ciumannya. "Morning kiss, Sayang!"


Zinnia membuka matanya menatap wajah William yang tersenyum padanya. "I love you." Zinnia menyentuh pipi suaminya.


"Apa masih sakit?" tanya William pada Zinnia.


Desainer cantik itu masih berpikir dan masih mencoba merasakan sesuatu yang menjadi topik pertanyaan suaminya.


"Masih perih, tapi karena tadi malam sudah berendam air hangat terasa lebih baik, meskipun kau masih menggempurku tanpa ampun," celoteh Zinnia memukul dada William cukup kencang.


"Aw!" William merintih kesakitan sambil berguling ke samping Zinnia.


"Kau tak apa-apa?" tanya Zinnia dengan wajah panik.


William masih diam memegang dadanya yang di pukul oleh Zinnia.


"Sayang! kau kenapa? jangan membuatku takut! katakan padaku," desak Zinnia dengan air mata yang hampir menetes.


William menatap wajah istrinya "Kemarilah! aku akan membisikkannya padamu," pinta William dan Zinnia mendekati suaminya.


"Sakit ini akan segera sembuh jika kau menciumku," tutur William.


Wajah Zinnia yang awalnya panik serta hampir saja menangis seketika berubah menjadi kesal.


Zinnia langsung memukul kembali dada bidang William. "Rasakan kau ya! kau berani berpura-pura sampai membuatku hampir menangis," ucap Zinnia terus memukul suaminya.


"Ampun!" William menarik selimutnya, menutupi tubuhnya agar Zinnia tak memukulnya lagi.


Zinnia menghentikan pukulan pada William. Wanita itu duduk dengan posisi membelakangi suaminya.


Karena tak ada pergerakan dari Zinnia, akhirnya William memilih membuka selimutnya melihat situasi.


"Kenapa berhenti?" tanya William menyangga kepalanya dengan tangannya.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari mulut Zinnia. Yang ada hanya deru napas penuh emosi.


William tersenyum karena ia tahu jika saat ini Zinnia kesal padanya.


William bangun mendekati istrinya, memeluk tubuh Zinnia dari belakang. "Maafkan aku," tutur William meletakkan kepalanya pada ceruk leher istrinya.


Zinnia masih diam tak menjawab. Ia masih kesal dengan William yang berpura-pura kesakitan.


"Sayang!"


Zinnia masih diam membisu. Ia mogok bicara agar William tak mengerjainya lagi.


"Sayang! jangan marah lagi ya?" William masih membujuk istrinya agar tak marah padanya.


William mengeratkan pelukannya pada perut rata Zinnia. "Jangan marah lagi ya? kasihan yang ada di dalam perut ini jika dia sudah mulai tumbuh," tutur William membuat Zinnia berbalik menatap ke arah suaminya.


"Maksudmu aku sudah hamil hanya sekali tembak saja?" tanya Zinnia masih dengan raut wajah kesal pada William.


"Bisa jadi, Sayang! karena kau belum tahu kemarin malam itu masa suburmu atau tidak, jika itu masa suburmu bisa jadi anakku sudah berada di dalam sini," jelas William mengelus perut rata Zinnia.


Zinnia ikut menatap ke arah perutnya. "Bagaimana jika masih tidak hamil?" tanya Zinnia.


William tersenyum simpul. "Aku akan menabur benihku lagi sekarang juga," sahut William menyambar bibir Zinnia.


Pria itu membaringkan tubuh istrinya secara perlahan dengan bibir yang masih menyatu dan saling membalas.


William membuka satu persatu kancing baju tidur Zinnia. Ia menarik kembali selimut putihnya untuk menutupi tubuhnya dan tubuh sang istri yang sebentar lagi akan polos tanpa sehelai benang.


Belum juga kamar itu bersih dari gaun dan setelan jas William yang masih tergeletak di lantai, kini baju yang berhamburan di lantai kamar itu kembali bertambah.


Baju tidur Zinnia sudah melayang dan decitan ranjang mulai menjadi suara merdu bagi William dan Zinnia. Ditambah lagi suara Zinnia yang meneriakkan kenikmatan luar biasa karena William sungguh tak bisa membiarkannya beristirahat sejak tadi malam.


Peluh mulai membanjiri tubuh keduanya dengan urat-urat pada tubuh William mulai terlihat. Pria itu akan mencapai puncaknya. "I ... love ... you ... Zinnia!"


Saat empat kata itu sudah terucap, Zinnia mendongakkan kepalanya karena dorongan dalam dirinya begitu kuat. William sudah melepaskan semua benihnya pagi ini dalam rahim istrinya.


William mencium kening Zinnia. "Terimakasih, Sayang!"


Zinnia masih tak merespon ucapan suaminya. Wanita itu terkulai lemas karena William menggempurnya cukup lama pagi ini.


Pria itu mengangkat tubuh Zinnia yang sudah tergulung selimut dan dirinya sudah menggunakan celana selututnya.


William membawa Zinnia ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan istrinya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2