Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 249 ( Season 2 )


__ADS_3

BUGH


"SANDRA!" Marquez, Zinnia, dan William secara bersamaan berteriak.


Marinka terkejut karena bukan Zinnia yang jatuh namun, senyum Marinka terpancar kala satu penghalang sudah tumbang.


Marquez segera berlari menghampiri Sandra yang sudah tergeletak lemah tak berdaya, sementara Zinnia hampir saja terjatuh karena ia merasa tubuhnya lemas tak bertenaga melihat darah yang keluar merembes dari kepala Sandra asisten pribadinya, sekaligus sudah ia anggap saudara sendiri karena bersama Sandra perjalanan kariernya di dunia fashion ia rintis mulai dari nol.


Beruntung William sigap segera memeluk tubuh istrinya dan mendekap Zinnia erat-erat.


Zinnia menangis meraung-raung kala ia berpikir Sandra dalam kondisi yang sangat parah. "Sayang! tenang dia tak akan apa-apa!" William mencoba menenangkan istrinya namun, sebenarnya William juga cemas karena darah yang keluar dari kepala Sandra bukan sedikit tapi cukup banyak.


Kepala Sandra kini sudah berada di pangkuan Marquez. Desainer tampan itu merasakan basah pada telapak tangannya saat ia menyentuh belakang kepala Sandra.


Marquez melihat telapak tangannya dan ternyata tangan itu sudah penuh dengan cairan berwarna merah.


Marquez terkejut sembari melihat ke arah Sandra. Assisten cantik itu tersenyum pada Marquez. "Aku baik-baik saja," tuturnya dengan suara lemah.


Entah mengapa bayangan negatif mulai bermunculan dalam benak Marquez. Bukan hanya itu saja, kenangan saat ia menggoda Sandra mulai terpatri dalam otaknya, sehingga pikiran desainer tampan itu mulai bercampur aduk.


Entah dari mana asal tetesan air yang tiba-tiba jatuh mengenai pipi Sandra yang mulai memucat. Saat kesadaran Sandra mulai perlahan kabur, ia masih bisa melihat samar-samar ke arah Marquez dan kedua mata Marquez ternyata mulai di basahi oleh air mata.


Tangan Sandra perlahan bergerak menggapai pipi Marquez. Asisten cantik itu kembali tersenyum hendak menguatkan pria yang kini meneteskan air mata untuknya. "Jangan ... menangis! aku pasti akan sembuh untuk mencubitmu ... dengan puas!" tangan Sandra yang berada di pipi Marquez tiba-tiba terlepas dengan sendirinya bersamaan dengan kelopak mata yang juga ikut tertutup rapat.


Wajah Marquez semakin di buat cemas. "Sandra! bangun! jangan bercanda begini, aku mohon," ujar Marquez sembari mengusap lembut pipi wanita yang sudah terbaring tak sadarkan diri dalam pangkuannya.


Suara ambulans masuk ke halaman rumah William, ternyata Asih yang menghubungi rumah sakit milik Tuannya.


Marquez segera mengangkat tubuh Sandra dan membawanya masuk ke dalam ambulans.


Ambulans itu sudah melesat menuju rumah sakit milik William, sementara Zinnia yang melihat kepergian ambulans yang membawa Sandra membuat emosinya kembali bangkit menatap ke arah Marinka yang menyaksikan adegan memilukan itu.


"Kau yang membuatnya celaka," tuduh Zinnia sembari menunjuk wajah Marinka dengan guratan emosi yang sudah menguasai Zinnia.


William mencoba menenangkan istrinya yang sedang dalam keadaan emosi tak stabil.

__ADS_1


"Mana buktinya, Zinnia! jika kau berani menuduhku, aku bisa menuntutmu," ancam Marinka yang hanya sebuah gertakan semata.


Kedua anak buah Sandra memasuki halaman rumah William menggunakan mobil berwarna hitam.


Mereka berdua turun menghampiri Zinnia dan William. "Ini bukti kejahatan Nona Marinka yang sudah saya dapatkan! Nona Sandra meminta kami memasang alat penyadap di setiap sudut apartemen, Nona Marinka!"


Wajah Marinka sudah pucat pasi, ia hendak masuk ke dalam mobilnya untuk kabur namun, para penjaga yang sedari tadi berjaga di sekitar rumah William segera mengunci tangan Marinka.


"Lepaskan aku!" Marinka mulai meronta sembari berteriak ingin di lepaskan.


Zinnia mendengar teriakkan Marinka. Ibu hamil itu menoleh ke arah Marinka. Zinnia memberikan bukti-bukti kejahatan Marinka pada suaminya. Ia melangkah tiga langkah ke samping karena ia tahu di undakan terasnya terdapat sesuatu yang tak beres sehingga membuat Sandra terjatuh.


Zinnia dengan anggunnya menuruni tiap undakan teras rumahnya. Ibu hamil itu menatap Marinka dengan sorot mata tajam namun, bibir Zinnia tetap memancarkan senyum khas balas dendam.


Kini jarak Zinnia dan Marinka yang sudah di amankan oleh para penjaganya sangat dekat.


Tangan mulus milik desainer cantik itu perlahan mulai meraba kulit wajah Marinka yang sangat lembut, kenyal, dan halus.


"Wajah ini sangat cantik, tapi pemilik wajah ini tak cukup cantik, melainkan dia seorang iblis yang menyamar menjadi seorang manusia."


Kembaran Marion itu hanya diam tak menjawab karena ia saat ini dalam posisi tak menguntungkan.


"Karena kau tak menjawab biar aku saja yang menjawabnya untukmu." Zinnia mencengkram kuat pipi cantik Marinka dengan wajah desainer cantik itu sudah di penuhi aura emosi macan ngamuk yang tak bisa ditutupi lagi.


"Rasanya saat aku melihat Sandra terkapar tak berdaya seperti tadi itu lebih sakit dari cengkeraman tanganku pada pipi indahmu ini dan apa kau ingin tahu bagaimana rasa sakit saat ruhmu dulu tak ditiupkan pada janin dalam rahi ibumu? rasanya itu seperti saat kau kehilangan nyawamu! kau belum tahu kan rasanya bagaimana kehilangan nyawa secara mengenaskan? sebentar lagi kau akan tahu bagaimana rasanya mendekam di penjara seumur hidupmu, Nona cantik! aku tahu tujuanmu untuk membuat aku jatuh dan keguguran, tapi yang maha kuasa lebih menyayangi kedua anakku ini," tutur Zinnia dengan senyuman penuh kemenangan yang tak pernah di perlihatkan pada orang lain.


Marinka terkejut mendengar kata kedua anak dari mulut Zinnia.


Zinnia melepaskan cengkraman tangannya pada pipi Marinka yang sudah memerah karena saking kuatnya Zinnia mencengkram pipi itu. Zinnia menyalurkan semua emosinya pada Marinka.


Ibu hamil itu berbalik hendak pergi meninggalkan kembaran Marion namun, langkahnya terhenti dan Zinnia kembali berbalik.


PLAKKK


"Sedikit pemanasan untukmu," ujar Zinnia membuat pipi Marinka semakin memerah.

__ADS_1


PLAKKK


"Itu hadiah untukmu karena kau telah berani mencari masalah dengan keluarga, Gafin! yang pantas untukmu sebenarnya adalah kematian, Marinka! tapi aku akan menyerahkan semua ini pada pihak yang berwajib! ... cepat bawa di ke kantor polisi dan pastikan jika dia seumur hidup berada di sana dan merasakan bagaimana rasanya ingin memiliki keturunan," titah Zinnia pada para penjaga bertubuh besar itu.


"Tidak! aku tidak mau di hukum mati! Zinnia lepaskan aku!" Marinka berteriak sekuat tenaga agar Zinnia mau mengubah niatnya.


Ibu hamil itu berjalan ke arah suaminya dan berhambur ke dalam pelukan William. "Aku lelah, Sayang!" Zinnia sudah muak harus berpura-pura tegar di hadapan Marinka dan harus menguras banyak tenaganya.


William mengecup puncak kepala istrinya. Ia memang sedari tadi hanya menjadi penonton karena William tak ingin ikut campur urusan para wanita. "Kau harus istirahat dulu!"


"Aku ingin ke rumah sakit melihat keadaan, Sandra!"


"Tapi kau harus istirahat dulu, Sayang!"


"Tidak mau!"


William menghela napas panjang. "Baiklah! kita ke rumah sakit sekarang!"


Di dalam mobil ambulans, Marquez terus menggenggam tangan Sandra yang sudah terselip selang infus pada bagian urat nadinya. "Kau harus kuat! kau harus sadar karena aku ingin merasakan cubitanmu lagi," tutur Marquez pada Sandra yang dalam keadaan tak sadarkan diri.


Pertolongan pertama sudah di lakukan oleh perawat itu. Perawat pria yang sedari tadi memperhatikan bagaimana cemasnya dan bagaimana air mata Marquez hendak menetes merasa kagum pada pria yang berada di hadapannya saat ini.


Ia merasa kenal dengan pria di hadapannya namun, karena takut salah orang, perawat itu hanya diam memperhatikan.


"Nampaknya pria ini sangat mencintai kekasihnya! terlihat sangat jelas dari guratan kecemasan pada wajahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Marquez terus menggenggam tangan Sandra. "Kau harus bertahan, Sandra! sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit dan kau akan segera sehat kembali."


"Aku mohon jangan tinggalkan aku!"


Kalimat itu yang terbesit dalam benak Marquez. Entah karena pengaruh apa sampai rasa takut kehilangan tiba-tiba saja bertebaran dalam otaknya.


Yang Marquez inginkan saat ini adalah Sandra cepat sadar.


Marquez memejamkan matanya berdoa pada yang maha kuasa, "Tolong buat wanita yang sedang terkapar tak berdaya ini sadar, Tuhan! aku tak mengerti dengan perasaanku, yang pasti, aku ingin dia sadar agar aku bisa bertemu dengannya setiap hari."

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2