Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 86


__ADS_3

Melati melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang gelap, namun cahaya lilin kembali menerangi tiap sudut kamar yang akan menjadi tempat penyatuannya dengan Arnon.


Taburan bunga mawar melimpah ruah di ruangan itu. Dari mulai lantai sampai pada kasurnya.


Di sekeliling ruangan itu sudah tertata rapi lilin yang menebarkan aroma wangi yang menenangkan.


Melati melangkahkan ke arah ranjang yang sudah terhias begitu cantik.


Ranjang itu sudah terdapat kelambu transparan yang masih terikat dengan aksen lampu berwarna oranye pada tiap tiang penyangganya.


Melati terus mendekati ranjangnya. Gadis itu melihat kelopak bunga mawar merah yang membentuk hati pada bagian atas kasur.


Tangan Melati menyentuh kelopak bunga mawar yang berhamburan pada ranjangnya.


Seketika gadis itu ingat jika dirinya harus memakai baju yang di berikan oleh Arnon.


Melati masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju. Setelah beberapa menit berada di dalam, gadis itu keluar mengenakan baju tidur berenda yang berbahan lace premium berwarna merah hati.


Melati melangkahkan telapak kakinya hendak menuju ranjang, namun bayangkan seorang pria bertubuh kekar dan tegap nampak tengah duduk di bibir ranjang menghadap ke arahnya.


Sontak kaki Melati membeku melihat siapa pemilik tubuh sempurna tersebut.


Pria itu adalah Arnon, suaminya yang akan menggempurnya sampai habis malam ini.


Wajah Arnon samar-samar mulai terlihat seiring pria itu berjalan mendekat ke arah istrinya.


Semakin lama jarak Arnon semakin dekat ke arah Melati. Wajah pria itu juga semakin terlihat lebih tampan saat cahaya lilin menerpa wajahnya yang putih bersih tanpa celah sedikitpun.


Melati terus menatap wajah Arnon yang kini sudah berada tepat di wajahnya.


Arnon tersenyum menatap setiap inci sudut wajah Melati. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.


Arnon membuka kotak tersebut tepat di hadapan Melati. Wajah Melati masih kebingungan saat melihat isi dari kotak tersebut.


"Aku ingin melamarmu malam ini, karena pada saat pernikahan kita ... tak ada cincin pernikahan yang aku sempatkan pada jari manismu," tutur Arnon.


Pria itu tanpa aba-aba menurunkan sebelah lututnya menyentuh lantai hendak melamar sang istri.


"Apa kau bersedia menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Arnon sambil menunjukkan sebuah cincin bertahtakan berlian dengan desain simpel namun mewah.


Kedua mata Melati mulai mengeluarkan sedikit kristal beningnya. Wajah Melati tersenyum menatap kedua manik mata Arnon.

__ADS_1


"Aku menerimamu menjadi ayah dari anak-anakku," jawab Melati yang kembali menyunggingkan senyumnya.


Arnon tersenyum kemudian berdiri memasangkan cincin pada jari manis Melati.


Arnon memeluk Melati erat. Pria itu mengendus wangi rambut istrinya yang menjadi candu baginya.


Tangan kokoh Arnon sudah berada pada pinggang Melati. Saat pria itu ingin mencium leher jenjang Melati, angin tiba-tiba mengusik keduanya karena jendela kamar mereka memang masih terbuka lebar.


Melati menoleh ke arah jendela. Gadis itu melepaskan pelukan Arnon dan berjalan ke arah jendela untuk menutupnya.


Saat Melati ingin menutup jendela tersebut, gadis itu tak sengaja menatap ke atas langit melihat bulan yang begitu indah.


Gadis itu terus memandangi bulan yang terlihat sudah membulat sempurna.


Lengan kekar melingkar pada tubuh Melati yang masih berada di dekat jendela kamarnya.


"Kenapa tak menutup jendelanya?" tanya Arnon dengan wajah berada pada ceruk leher Melati.


"Bulan itu terlihat begitu indah," tutur Melati.


"Lebih indah istriku dari pada bulan itu," ujar Arnon menyentuh leher Melati dengan hidung mancungnya.


Gadis itu memejamkan matanya dengan jantung yang sudah berdetak kencang.


Tangan Arnon perlahan menarik outer yang di kenakan oleh Melati sampai bahu gadis itu terlihat jelas tanpa penghalang apapun.


Outer yang dikenakan Melati sudah terlepas sempurna dan Arnon menjatuhkannya di sembarang tempat.


Kini hanya ada baju tidur yang memperlihatkan lekuk tubuh Melati yang masih menempel pada tubuh gadis itu.


Jemari Arnon menelusuri tangan istrinya mulai dari tangan menuju ke atas sampai batas lengan.


Bibir Arnon perlahan menyentuh pundak Melati dan membuat si empunya pundak merasakan sensasi sengatan listrik pada tubuhnya saat tiap bagian kulitnya disentuh oleh Arnon.


Melati terus memejamkan matanya dengan nafas sedikit mulai naik turun tak beraturan.


Gairah Arnon semakin tak terkendali saat naluri lelakinya menelusuri tengkuk mulus Melati yang beraroma wangi rambut gadis itu.


Kepala Melati mendongak karena kali ini bukan hanya bibir Arnon yang bekerja, namun hidung pria itu juga ikut bergerak menciptakan sensasi sengatan listrik yang semakin menegang.


Tangan nakal Arnon mulai menurunkan baju tidur transparan yang di kenakan oleh Melati.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, baju itu sudah tergeletak jatuh berada di bawah kaki istrinya.


Arnon membalik tubuh Melati yang kini hanya memakai pakaian intinya.


Arnon mendekati wajah Melati yang masih setia dengan mata tertutup rapat menikmati sentuhan Arnon padanya.


Bibir mereka berdua sudah menyatu tanpa sekat. Gairah Arnon kembali terasah saat kedua tangannya tanpa henti menyentuh tiap inci bagian tubuh mulus sang istri.


Gadis itu mengalungkan tangannya pada leher Arnon. Pria itu mengangkat tubuh Melati dan membawanya ke arah ranjang yang sudah bertabur kelopak bunga mawar.


Ciuman keduanya masih terus berlangsung sampai Arnon merebahkan tubuh Melati di atas kasurnya.


Pria itu mulai membuka bajunya. Dada bidang yang sangat indah dengan 6 bagian roti sobek pada perutnya membuat Melati sedikit menelan ludah.


Pria itu merangkak naik dengan posisi dirinya sudah berada di atas tubuh Melati yang masih mengenakan pakaian intinya.


Arnon menyingkirkan rambut halus yang masih terlihat mengganggu wajah cantik istrinya.


Wajah Melati terlihat semakin cantik terkena terpaan sinar lilin yang mengitari ranjang mereka.


Arnon mengecup kening Melati, beralih pada hidungnya, kedua matanya, kedua pipinya, dagunya, dan yang terakhir sasaran yang paling di tunggu oleh Arnon adalah benda kenyal berwarna merah cerry milik Melati.


Pria itu menarik selimut agar menutupi setengah bagian bawah tubuhnya dan Melati. Tak lupa tali tirai transparan yang mengelilingi ranjang penyatuan mereka juga di tarik oleh Arnon.


Setelah itu entah apa yang dilakukan oleh kedua pasangan muda tersebut.


Siluet pada tirai transparan itu memperlihatkan seorang Arnon yang menggempur Melati dengan gagahnya sampai Melati menikmati tiap sentuhan manis pada tubuhnya.


Entah berapa kali mereka melakukan pertarungan ranjang tersebut. Yang jelas Arnon tak membuat Melati istirahat sampai rahim gadis itu penuh dengan benihnya.


Lilin yang berada di ruangan itu menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka yang selama ini tak mudah untuk mereka lewati hingga pada akhirnya malam ini pun terjadi dan berlangsung sampai pagi menjelang.


Keringat pada tubuh Arnon sudah tak dapat di bendungan lagi. Tetesan peluh percintaan mereka memberikan kebahagiaan bagi aktor tampan tersebut.


Melati sudah tertidur pulas karena suaminya benar-benar tak membuatnya beristirahat meskipun hanya 5 menit saja.


Gadis itu memeluk tubuh Arnon dengan selimut yang masih menggulung keduanya.


Arnon mengecup kening Melati. "Terimakasih, Sayang! aku sangat mencintaimu," gumam Arnon memeluk erat tubuh Melati.


Keduanya tidur tanpa sehelai benangpun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua.

__ADS_1


Arnon perlahan mulai mengikuti jejak istrinya menuju alam mimpi yang sangat bahagia.


__ADS_2