
Edward menatap Salma dengan tatapan sedikit cemas. Ia langsung berjalan ke arah meja Salma.
Edward melihat hasil test kehamilan Melati yang berada di tangan Salma.
Senyum cantik Dokter Salma terukir indah kala ia memperlihatkan hasil dari test urine Melati. Garis dua terpampang nyata di hadapan Arnon dan Melati.
"Selamat Bapak dan Ibu! anda berdua sudah menjadi orangtua saat ini, istri anda hamil, Pak!"
Air mata Melati menetes seketika saat ia tahu jika ada satu nyawa yang kini berada di dalam rahimnya.
Tangan Melati mengusap perut ratanya. Ia masih belum percaya jika dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.
"Jadi istri saya benar-benar hamil, Dok?" tanya Arnon yang ingin memastikan lagi perkataan dokter Salma.
"Iya, Pak! Istri anda positif hamil dan ini buktinya! ada garis dua pada alat test urine istri anda."
Arnon tersenyum bahagia mendengar jika ia dan Melati akan segera menjadi orangtua bagi anak mereka yang masih ada di dalam rahim Melati.
"Untuk memastikan sudah berapa Minggu usia kehamilan istri anda, kita akan melakukan USG agar hasilnya lebih akurat lagi," tutur Salma yang berjalan ke arah tempat untuk melakukan proses USG.
"Nyonya Melati silahkan berbaring di sini dulu," pinta Salma pada Melati agar gadis itu berbaring di tempat tidur yang sudah tersedia.
Melatih, Arnon, dan Edward berjalan secara bersamaan menuju arah ranjang pasien. Melati sudah berbaring di ranjang tersebut dengan posisi terlentang.
Salma membuka sedikit bagian perut Melati agar mempermudah dalam melakukan proses USG.
Arnon langsung menutup mata Edward karena ia takut sahabatnya itu melihat bagian tubuh Melati.
"Kau ini apa-apaan, Ar! aku tak bisa melihat," protes Edward pada Arnon yang menghalangi penglihatannya.
"Kau tak perlu melihat bagian perut, Istriku! sudah diam saja tak perlu banyak bicara," ujar Arnon dengan sikap posesifnya.
Melati tersenyum melihat kelakuan kedua manusia yang sudah berumur itu.
"Sayang! buka mata, Edward! kasihan dia," pinta Melati pada suaminya.
Arnon sebenarnya tak ingin melepaskan tangan yang menutupi mata Edward, namun karena itu permintaan Melati, ia harus mengalah karena istrinya tengah mengandung.
"Kau keterlaluan ya, Ar!" Edward memukul pelan lengan Arnon.
Arnon tak membalas pukulan remeh temannya. Ia lebih memilih mendekat ke arah istrinya.
__ADS_1
Salma menuangkan cairan bening menyerupai jel pada perut Melati. Setelah itu Salma mengambil sebuah alat dan meletakkannya pada perut Melati yang sudah terpoles oleh cairan jel tadi.
Salma menggerakkan alat untuk mendeteksi keberadaan janin pada perut Melati. Dokter itu terus menggerakkan alat USG tersebut mencari dimana kecambah Arnon bersembunyi.
Gerakan tangan Salma terhenti saat di layar monitor terlihat gumpalan bulat kecil yang berada dalam rahim Melati.
"Bisa kita lihat semua, itu anak Ibu dan Bapak! usia kehamilan Nyonya Melati sudah memasuki 6 Minggu hampir dua bulan," jelas Salma pada kedua pasangan muda itu.
Air mata Melati kembali menetes saat melihat anaknya masih belum terbentuk sempurna. Melati bahagia sekali karena Tuhan mempercayakan dirinya dan Arnon bisa menjaga buah cinta mereka.
Air mata Arnon mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia sungguh bahagia karena akhirnya semua keinginannya terwujud. Anaknya akan lahir dari rahim seorang wanita yang sangat ia cintai.
Salma kembali menutup bagian perut Melati karena pemeriksaannya sudah selesai.
"Apa jenis kelaminnya, Dok?" tanya Arnon.
Salma tersenyum mendengar pertanyaan yang Arnon lontarkan. "Jika masih usia Minggu ketujuh, jenis kelamin masih belum terlihat, kalau usia kehamilan sudah 4 bulan ke atas baru bisa terlihat."
Arnon nampak sedikit kecewa karena ia tak bisa tahu lebih awal jenis kelamin anaknya. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Arnon melangkah ke arah Melati.
Pria itu mengusap perut rata Melati. Mengecupnya berkali-kali. "Baik-baik di perut, Mommy! jangan buat Mommy sakit atau mual ya, Son!"
Arnon menoleh ke arah Melati yang memanggilnya dengan cara berbeda kali ini. "Kau memanggilku apa, Sayang?" tanya Arno memastikan.
"Daddy!"
Arnon memeluk tubuh Melati erat yang masih berbaring. "Aku mencintaimu, Sayang!"
"Mommy juga mencintai, Daddy!"
Keduanya saling mengumbar senyum. Edward dan Salma juga ikut tersenyum melihat sisi keromantisan kedua pasangan yang di juluki best couple ini.
Salma tak sengaja melihat ke arah Edward yang juga tengah menatapnya.
Perempuan dengan rambut di gerai panjang itu sudah lama mengagumi Edward diam-diam. Ia tak berani mengungkapkan perasaannya pada Edward karena ia merasa belum pantas bersanding dengan seorang dokter pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.
Berbeda lagi dengan seorang wanita yang berada di sebuah toko bunga dengan para pegawainya di sana. Ia masih sibuk menata bunga-bunganya karena sebentar lagi, toko bunga itu akan di buka secara perdana dengan promo besar-besaran.
Agnez membenarkan rambut dan bajunya agar penampilannya semakin terlihat enak dipandang mata.
Para costumer sudah mengantri di depan toko bunga itu. Kebanyakan dari mereka pelanggan laki-laki karena mereka ingin memberikan bunga-bunga itu pada pasangan masing-masing.
__ADS_1
Kedua pelayan toko bunga itu membuka pintu tokonya lebar-lebar, pertanda jika toko bunga itu sudah di buka.
"Selamat datang di toko bunga kami!"
Kedua pelayan itu menyambut para pembeli dengan senyum manis mereka.
Agnez selaku manager toko itu juga ikut tersenyum manis pada para pelanggannya.
Semua pembeli sudah berada di dalam toko bunga itu. Mereka memilih bunga untuk pasangannya sebagai tanda cinta yang tulus.
Beberapa jam kemudian, toko itu sudah sedikit sepi, namun masih ada beberapa pembeli yang masih memilih bunga mawar merah dan beberapa bunga tulip.
"Kalian bisa makan siang dulu! saya yang akan menjaga toko," ujar Agnez pada para pegawainya.
"Baik, Bu Agnez!" para pegawai itu menjawab perintah Agnez bersamaan sembari melenggang menuju cafe yang berada tak jauh dari toko bunga tersebut.
Agnez tengah asyik merangkai beberapa bunga yang menurutnya sangat cocok untuk di berikan kepada wanita yang di cintai oleh seorang pria.
Klininggg
Bunyi denting pintu toko terbuka yang menandakan jika ada seorang pembeli yang masuk.
Mendengar bunyi pintu itu, Agnez tersenyum sembari menatap ke arah pintu. "Selamat da ...."
Ucapan Agnez tercekat saat melihat pria bertubuh tegap, rahang keras, dan wajah datar yang selalu ia mimpikan selama dua bulan terakhir ini.
Pria itu masih diam mematung kala melihat wanita bertubuh tinggi dengan rambut pendek yang tengah menatapnya. Ia tak menyangka penampilan wanita yang dua bulan terakhir selalu menghantui tidurnya sudah berubah total.
Keduanya sama-sama mematung karena pertemuan ini sungguh tak di harapkan oleh Agnez, namun bagi pria itu, pertemuan ini sangat ia nantikan.
"Kali ini kau tak bisa lepas dariku, Kucing galak!"
Pria itu adalah Pram. Lelaki yang sangat dirindukan oleh Agnez, lelaki yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang.
Selama Agnez berada di Belanda, wanita itu menutup total akses Pram dalam mencari keberadaan dirinya, agar ia lebih fokus bekerja tanpa harus merasa terusik dengan ulah Pram.
Agnez tahu jika Asisten Arnon itu sangat lihai dalam mencari tahu keberadaan seseorang.
Keduanya masih terus menatap satu sama lain. Rasa rindu dan canggung, semuanya menjadi satu dalam hati mereka.
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya Kakak 😊
__ADS_1