
Keesokan harinya Melati dan Arnon sudah berada di dalam mobil menuju ke arah rumah Hadi.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan halaman rumah orangtua Melati.
Dengan perut yang sudah membesar membuat Melati sedikit susah turun dari mobil.
Arnon secepat kilat keluar dari mobilnya. Ia berlari ke arah pintu mobil sang istri untuk membantunya turun.
Melati berpegang erat pada kedua telapak tangan Arnon.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah Hadi. Di rumah itu tak nampak sedang ada acara pertunangan karena keluarga Agnez yang hadir hanya Hadi, Melati, dan Arnon.
Acara pertunangan itu hanya acara kecil-kecilan saja. Hanya kedua keluarga belah pihak saja yang hadir, tanpa mengundang sanak saudara lainnya.
Melati sudah berada di dalam rumah itu. Ia melihat semuanya sudah beres berkat bantuan suaminya.
Melati menatap Arnon penuh cinta. "Terimakasih, Sayang! tanpamu, aku yakin persiapan ini tak akan semulus seperti sekarang," tutur Melati memeluk tubuh Arnon.
"Kekuargamu sudah menjadi keluargaku juga, Sayang! kau tak perlu cemas, semuanya sudah beres."
Melati tetap berada dalam pelukan suaminya. Ia selalu ingin berlama-lama jika berada di dada bidang Arnon.
"Kau sudah datang, Mel!"
Hadi membuat pelukan keduanya harus terlepas. Melati mendekati ayahnya. "Iya, Pa! Kakak ada dimana?" tanya Melati sambil mengedarkan pandangannya pada pintu kamar Agnez.
"Kau seperti tak tahu dia saja! dia pasti sedang merawat dirinya untuk persiapan nanti malam," tutur Hadi tersenyum pada putri kesayangannya. "Bagaimana keadaan cucu, Papa?" tanya Hadi sambil memandangi perut anaknya yang sudah membuncit.
"Dia sehat, Pa! Papa tak perlu cemas! aku ke kamar Kakak dulu ya!"
Melati berjalan ke arah pintu kamar Agnez. Karena pintunya tak dikunci, akhirnya Melati memberanikan diri masuk.
Melati melihat Agnez tidur dengan posisi terlentang dan dua potong timun bertengger di kedua matanya.
"Wah, yang akan tunangan nanti malam! apa perlu harus memakai timun di mata seperti itu?" tanya Melati sambil duduk di ranjang dekat Agnez membaringkan tubuhnya.
Agnez tak bersuara. Ia hanya mendengarkan semua celotehan Melati Melati dengan earphone di telinganya.
Sebenarnya earphone itu tak ada suara apapun. Agnez memang sengaja ingin mengagetkan Melati.
__ADS_1
Setelah Melati diam tanpa suara, akhirnya Agnez melancarkan aksinya.
Agnez langsung bangun secara tiba-tiba dengan suara yang mengejutkan Melati, "Dor!"
Melati terkejut langsung memukul lengan Agnez cukup keras. "Rasakan itu! salah siapa kau seenaknya berteriak dar der dor padaku," sungut Melati pada Kakaknya.
Agnez tersenyum kemudian memeluk Melati erat. "Maaf ya? aku hanya bercanda!" dengan dua jarinya di angkat ke atas tanda berdamai.
Melati membalas pelukan Agnez dengan kedua pelipis mereka saling menempel. "Iya, Kak! aku tahu jika kau hanya bercanda," tutur Melati mengusap lembut lengan Agnez.
Melati melihat ke arah jam yang berada di kamar kakaknya. "Ini sudah siang, Kak! kakak mandi dulu sana!"
"Kau tenang saja, Mel! aku sudah menyiapkan air dengan taburan bunga mawar di dalamnya agar tubuhku wangi," ujar Agnez sembari melangkah menuju kamar mandinya.
Melati hanya bisa tergelak mendengar ucapan Agnez. "Sekalian saja kau mandi kembang tujuh rupa, Kak! hahahaha! dasar, kau seperti orang yang ingin melangsungkan malam pertama saja," celetuk Melati dengan suara keras agar Agnez mendengarnya.
Agnez hanya melambaikan tangannya tak membalas celetukan Melati yang ingin menggodanya.
Tubuh Agnez hilang dibalik pintu kamar mandinya.
Melati keluar dari ruangan itu menuju ke arah ruang tamu yang sudah di sulap menjadi ruangan yang sangat indah meskipun sederhana.
Aktor tampan itu menyambut Melati dengan senyuman. "Bagaimana?" tanya Arnon mendekap Melati tanpa rasa sungkan, meskipun Hadi berada di hadapan mereka.
"Kakak memang orang yang perfeksionis jika berurusan dengan penampilan, jadi dia sekarang sedang berendam dengan taburan bunga mawar," tutur Melati yang mendapat gelak tawa dari Arnon dan Hadi.
"Begitulah dia, semoga saja ini awal dari kebahagiaannya, meskipun ibunya sendiri sekarang tak bisa hadir di acara pertunangannya," ucap Hadi dengan wajah iba.
"Aku yakin, Pa! calon Kakak Iparku pasti orang yang bertanggung jawab, karena kami berdua tahu bagaimana sifat calon menantu Papa yang baru itu!" Melati meledek ayahnya.
Acara akan segera di mulai. Hadi dan Arnon sudah bersiap dengan pakaian formal mereka, sedangkan Melati baru turun dari lantai atas dengan gaun berwarna abu muda yang menampilkan perut buncitnya.
Arnon melihat ke arah Melati yang tampil begitu cantik dengan rambut diikat rapi, sehingga bagian wajah, rahang, dan lehernya terlihat begitu jelas.
Arnon baru sadar jika bagian dada istrinya sedikit membesar karena usia kehamilan Melati juga bertambah, jadi pria itu tak heran.
Saat tatapan mata Arnon tertuju pada bagian perut buncitnya istrinya, ia tersenyum karena Melati terlihat lebih seksi saat kondisi hamil seperti itu.
Melati mengenakan hells dengan tinggi 4 cm saja. Jika terlalu tinggi, ia takut berbahaya bagi kandungannya karena kakinya pasti merasa pegal bila terlalu lama menggunakan hells terlalu tinggi.
__ADS_1
Arnon menghampiri Melati. Pria itu mengulurkan tangannya dan wanita dengan perut buncit itu menerima uluran tangan suaminya diiringi senyuman manis. "Terimakasih!" Melati mengedipkan sebelah matanya.
Melati berjalan menuju ruang acara. Kaki Melati tiba-tiba saja berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah meja makan.
"Apa kau tak keberatan jika harus mengantarkan istrimu ke meja makan?" tanya Melati pada suaminya.
"Tentu saja tidak, Nyonya! apapun yang anda minta akan saya laksanakan," ujar Arnon mencium punggung tangan Melati.
"Jika kau bukan, suamiku? sudah pasti hells ini akan melayang di wajahmu itu," ucap Melati tersenyum meledek Arnon.
Melati melangkah menuju arah meja makan. Ia ingin memastikan jika semua hidangan sudah tersaji dengan rapi.
"Apa kau masih meragukan suamimu ini, Istriku?" tanya Arnon yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Melati.
Melati mendekati Arnon dengan kedua tangan yang berada di bahu suaminya.
"Aku tak mungkin meragukanmu, Sayang! aku hanya ingin memastikannya jika acara ini benar-benar berjalan lancar karena kau yang bertanggung jawab, jadi aku tak ingin nama baik aktor tampan ini tercemar," cetus Melati mencubit kedua pipi Arnon gemas.
"Minta hadiah," rengek Arnon dengan wajah bagai anak kecil.
"Apa sih, Sayang! kau ingin hadiah apa?" tanya Melati dengan tangan yang masih tetap bertengger pada pipi Arnon.
"Cium."
Melati di buat melebarkan matanya mendengar permintaan Arnon yang tak tahu kondisi.
"Nanti saja di rumah," tolak Melati halus.
"Tidak mau! aku maunya sekarang, Sayang!" Arnon mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
"Tapi banyak pelayan yang berlalu lalang di sini," bujuk Melati agar suami mengerti.
"Sekarang!" Arnon sudah mengeluarkan sifat semaunya sendiri.
Melati melihat ke segala arah, ternyata tak ada orang lewat satupun di ruangan itu.
Wanita berbadan dua itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menyatu bibirnya pada bibir Arnon.
Cup cup cup
__ADS_1
"Sudah kan?" tanya Melati dan diiringi anggukan manja dan senyuman manis dari bibir Arnon. " Sekarang kita kembali kedepan untuk menunggu Pram dan keluarganya," ajak Melati sambil menarik tangan Arnon.