
Melati menggenggam erat tangan suaminya. Sakit pada bagian perut bawahnya semakin menjadi tiap jamnya.
Melati ingin sekali menjerit, namun ia tahan karena ia tak ingin membuat suaminya semakin cemas.
Melati meringis menahan sakit saja Arnon sudah cemasnya minta ampun. Apalagi jika ia menjerit, bisa syok suami tampannya itu.
Keluarga Melati dan Arnon menunggu diluar. Hanya satu orang saja yang boleh menunggu di dalam ruang bersalin.
5 jam kemudian
Pembukaan untuk persalinan Melati sudah lengkap yaitu pembukaan 10.
Salma dan 2 perawat sudah berada di ruangan bersalin.
Semua peralatan sudah lengkap dari mulai gunting dan teman-temannya.
Sebenarnya kondisi Melati normal, namun demi mengantisipasi hal yang tak diinginkan, jadi semua peralatan itu harus sudah siap.
"Apa saya boleh menemani Melati, Dok!"
Wajah Arnon sudah ingin sekali menangis. Ia sungguh tak tega meninggalkan Melati sendirian di ruangan ini.
Ia tak ingin Istrinya berjuang sendirian untuk melahirkan anak mereka. Anak itu mereka dapatkan dengan cara berdua dan mereka juga harus bersama berjuang membuat buah hati mereka lahir ke dunia. Meskipun Arnon hanya memberi semangat karena pria itu pikir, semangat darinya bisa memberi kekuatan tersendiri bagi Melati .
Melati menatap ke arah Salma. "Boleh ya, Kak?" Melati juga ikut memohon pada Salma.
Salma menghela nafas panjang. "Boleh," tutur Salma tersenyum pada Melati.
"Ikuti semua instruksi saya, tarik nafas kemudian dorong sekuat tenaga ya!"
Melati melihat ke arah Arnon dan pria itu mengangguk mengiyakan.
Melati menarik nafas panjang kemudian melakukan apa yang sudah di perintahkan oleh Salma.
"Sekali lagi, Mel!"
Melati kembali melakukan hal yang sama yang diperintahkan oleh Salma.
"Sekali lagi, Mel! kepalanya sudah terlihat, ayo, Mel! kamu pasti bisa," ujar Salma.
Melati melakukan perintah Salma sampai nafasnya terengah-engah.
Arnon mulai panik karena wajah Melati sudah pucat. "Sayang! kau pasti kuat, aku yakin kau bisa, demi anak kita, Sayang!" Arnon mengecup kening Melati.
"Aku mencintaimu," ujar Arnon kembali mengecup kening Melati.
Tenaga yang awalnya terkuras habis kini seakan bertambah dengan sendirinya saat mendengar pernyataan cinta dari Arnon.
"Sekali lagi ya, Mel! ini yang terakhir, ingat! ada bayimu yang ingin cepat melihat dunia ini dan kau harus sekuat tenaga untuk membantunya lahir," tutur Salma memberi semangat pada Melati.
Melati menarik nafas panjang. Ia bertekad kali ini anaknya harus lahir.
Tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya, Melati langsung mengejan sekuat tenaga agar bayinya cepat keluar.
Suara tangisan bayi langsung terdengar oleh telinga orang yang berada di ruang persalinan dan juga yang berada di luar ruangan itu.
Nafas Melati tersengal-sengal bagai sehabis lari maraton. Arnon tersenyum mengecup puncak kepala Melati.
Tanpa sadar, pria itu meneteskan air matanya mengenai wajah Melati.
"Kau kenapa, Sayang!" ujar Melati pada suaminya.
"Aku ... aku bahagia sekali! akhirnya Putri kita telah lahir," tutur Arnon memeluk tubuh istrinya. "Terimakasih karena kau telah membuat keluarga kita sempurna, Sayang!"
Melati membalas pelukan suaminya. "Selamat untukmu, Sayang!"
Arnon melonggarkan pelukannya menatap ke arah sang istri. "Selamat untuk apa?" tanya Arnon bingung.
__ADS_1
"Karena kau telah resmi menyandang gelar Daddy," jelas Melati sembari tersenyum pada Arnon.
Pria itu membalas senyuman manis Istrinya. "Kau juga sudah resmi menjadi Mommy dari anak kita."
Salah satu perawat membawa anak Melati dan meletakkan bayi mungil yang masih merah itu tepat di atas dada ibunya untuk inisialisasi menyusui dini (IMD).
"Selamat ya, Tuan dan Nyonya! anak anda perempuan dan cantik sekali sama seperti ibunya," tutur perawat itu.
"Terimakasih!" Melati tersenyum pada perawat itu.
Arnon dan Melati bisa melihat langsung wajah putri mereka.
Wajah anaknya itu mengambil kedua gen dari orangtuanya. Mirip Melati dan Arnon.
Sungguh Arnon tak dapat membendung air matanya lagi. Ia sangat bahagia bisa menjadi orangtua saat ini dan anaknya juga cantik sekali.
Arnon dan Melati secara bersamaan mengecup anak mereka.
Melati mengecup bagian kening sedangkan Arnon bagian pipi putrinya.
Setelah kira-kira sudah cukup untuk melakukan IMD ( inisialisasi menyusui dini ) selama 1 jam, perawat tadi mengambil kembali putri Arnon untuk di bersihkan.
Setelah selesai di bersihkan, perawat itu kembali memberikan kembali pada orangtuanya.
"Silahkan jika anak anda ingin di adzani," ujar perawat itu sembari memberikan bayi tersebut pada Arnon.
Aktor tampan itu menggendong anaknya. Ia langsung mengumandangkan adzan dan Iqamah pada kedua telinga bayinya secara bergantian.
Salma mendekati keluarga kecil itu. "Selamat ya! akhirnya Melati sudah menyandang gelar ibu," ucap Salma.
Suara pintu ruangan itu terbuka, keluarga Melati dan Arnon masuk untuk melihat bayi cantik itu.
Susan dan Agnez yang lebih dulu mendekati keluarga kecil tersebut.
"Cucu Grandma cantik sekali rupanya," ujar Susan mengusap lembut pipi cucunya dengan punggung jari telunjuknya.
"Uluh uluh, ini keponakan Aunty cantik banget sih!" mencium pipi bayi cantik itu dengan gemas.
"Aku akan memberikan dia nama Zinnia Putri Marvion Gafin, apa kau setuju, Sayang?" tanya Arnon pada Melati.
"Aku setuju dengan nama itu," sahut Melati.
"Jadi aku akan memanggilnya, Baby Zi!" Agnez berceletuk ria.
Hadi dan Susan sebagai Grandpa dari baby Zi hanya bisa ikut bahagia mendengar obrolan mereka semua.
"Semuanya harap keluar dulu, agar ibunya bisa beristirahat," pinta Salma secara lembut.
"Baik, Dok!" Susan menjawab mewakili keluarga lainnya.
Namun sebelum semuanya keluar, Agnez menanyakan sesuatu pada Salma selaku dokter yang menangani proses persalinan Melati, "Kapan Melati bisa pulang, Dok?"
"Jika kondisi ibunya sudah pulih, nanti sore sudah bisa pulang karena Melati melahirkan secara normal," jelas Salma pada Agnez.
"Terimakasih, Dok!"
Semua keluarga keluar dari ruangan itu agar Melati dapat beristirahat dan kondisinya bisa kembali stabil.
Arnon dan Pram telah mengurus semua administrasi persalinan Istrinya.
Benar apa yang telah dikatakan oleh Salma, Melati sudah bisa pulang karena kondisi Nyonya Arnon itu sudah stabil.
Susan yang menggendong baby Zi, sementara Melati dan Arnon masuk dalam mobil yang berbeda.
Barisan mobil mobil secara bergiliran memasuki kediaman Arnon. Tiga mobil itu terparkir di halaman rumah mewah tersebut.
Susan terlebih dulu masuk ke dalam rumah Melati, kemudian diikuti oleh orangtua sang bayi dan keluarga Melati.
__ADS_1
Baby Zi sudah berada di ranjang bayinya. Dia masih terlelap tidur.
Agnez dan yang lain keluar dari kamar itu agar Melati dan bayinya bisa beristirahat.
"Kau istirahat dulu ya, Mel! kita semua menunggu di bawah," ujar Agnez keluar dari kamar itu.
Melati berada di atas kasurnya, sedangkan Arnon sudah membawa nampan yang berisi makanan untuk Melati.
"Kau harus makan dulu, agar ASI untuk anak kita keluar sempurna," ujar Arnon sembari menyuapi Istrinya.
Melati membuka mulutnya menerima suapan dari Arnon.
Setelah nasi pada piring itu sudah hampir habis, tiba-tiba baby Zi menangis.
Arnon bergegas mengambil putrinya dan membawa ke arah Melati. Pria itu memberikan baby Zi pada ibunya. "Mungkin dia haus, Sayang!"
Melati membawa baby Zi ke dalam gendongannya dan mulai memberikan ASI pada sang buah hati.
Baby Zi nampak haus, terbukti dari cara ia meminum ASI Melati.
Ceklek
Suara pintu kamar terdengar. Arnon dan Melati menoleh ke arah pintu. Ternyata di sana sudah ada sahabat Arnon dan juga seorang anak kecil yang tak lain adalah William.
"Wah, keponakanku sudah lahir rupanya," ujar Harry mendekati Melati yang sudah selesai memberikan ASI pada baby Zi.
"Kenapa anakmu sangat cantik sekali? ah, aku mulai iri padamu, Ar!" Hamish memasang raut wajah lesu.
"Jika kau ingin membuat anak, cepatlah menikah! jangan hanya kau gantung saja, Selena!" Arnon tersenyum meledek.
"Jika di tak terikat kontrak dengan agensinya, sudah aku nikahi dia sebelum kau mendahuluiku," celetuk Hamish.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Edward pada Melati karena baby Zi masih dalam gendongan ibunya.
"Baby Zi! namanya Zinnia Putri Marvion Gafin," jelas Melati yang melihat Edward nampak bingung harus memanggil anaknya dengan sebutan apa.
Melati memberikan baby Zi pada Edward dan dokter tampan itu langsung menerima bayi mungil nan cantik tersebut dalam gendongannya.
Edward tersenyum pada baby Zi. "Kau sangat cantik sekali, Sayang!"
Tanpa Edward sadari, kemejanya sedang ditarik-tarik oleh keponakannya yang tak lain adalah William.
"Ada apa, Will?" tanya Edward pada keponakannya.
"Boleh aku melihat adik kecil itu, Dad?"
Edward tersenyum sembari meletakkan baby Zi di atas ranjangnya. "Kau sudah bisa melihatnya sekarang," ujar Edward pada keponakannya.
William mendekati ranjang baby Zi, ia melihat bayi mungil nan cantik itu. "Selamat datang adik kecil."
William tersenyum pada bayi cantik tersebut dan baby Zi hanya menatap William tanpa membalas senyuman bocah yang masih berumur tujuh tahun tersebut, karena umur baby Zi belum juga genap satu hari.
"Karena kau cantik, maka aku mau menikah denganmu," tutur William layaknya anak kecil yang masih sangat polos.
Semua orang yang ada di sana tersenyum karena ucapan William.
Tangan baby Zi seakan bergerak terangkat ke atas dan spontan tangan William terulur untuk menggapainya.
Tangan mungil bayi cantik itu menggenggam erat jari telunjuk William seakan mereka berdua sudah di takdirkan untuk bersatu.
Keduanya akan bersatu atau tidak hanya takdir yang bisa menentukan. Mereka berdua hanya bisa menjalani hari-harinya, sampai takdir yang akan mempersatukan atau menjauhkan keduanya.
**SEASON 1 END**
SEASON 1 NOVEL INI SUDAH END. TAPI JANGAN CEMAS KARENA SEASON 2 AKAN SEGERA RILIS DI NOVEL INI JUGA.
AUTHOR AKAN JADIKAN SATU LAPAK SAJA.
__ADS_1
JADI TERUS JADIKAN NOVEL INI FAVORIT YA KAKAK READERS TERCINTA.
INSYAALLAH NANTI MALAM ATAU BESOK SEASON 2 AKAN RILIS 😘😘😘