
Agnez dan Anggi masih menunggu di teras depan rumahnya.
"Papa kemana ya Ma? kenapa lama sekali?" tanya Agnez pada ibunya sambil melihat jam tangannya.
"Pasti papa sudah di jalan Nez,kita tunggu saja sebentar lagi," jawab Anggi pada putrinya.
Benar saja,belum 1 menit Anggi berkata,suara sepeda motor terdengar berhenti di depan halaman rumahnya.
Pria setengah baya turun dari sepeda motor matic tersebut dan membuka helm yang ia pakai.
Agnez dan Anggi tersenyum melihat kedatangan orang itu yang tak lain adalah Hadi.
Hadi melihat ada sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.
"Mobil siapa itu?" tanya Hadi pada dirinya sendiri.
Hadi ingin menanyakan perihal mobil itu namun niatnya tak terlaksana karena pria paruh baya tersebut terfokus pada barang bawaan Agnez.
"Kenapa kalian di luar? dan ... apa isi koper itu?" tanya Hadi menunjuk koper yang dibawa oleh Agnez.
"Ini pakaianku dan Mama,baju Papa ada di tas yang Mama pegang itu," jelas Agnez pada ayah tirinya.
Dahi Hadi mengkerut sempurna sampai kedua alisnya hampir menyatu.
"Untuk apa kalian membawa semua pakaian itu?" tanya Hadi lagi yang masih belum paham akan situasi saat ini.
Agnez menatap kearah ibunya memberi kode agar Anggi menjelaskan semuanya pada Hadi.
Anggi berdiri mendekati suaminya.
"Kita akan pindah kerumah baru Pa," ujar Anggi pada suaminya.
"Rumah baru yang mana Ma? Papa tak paham." Hadi menggelengkan kepalanya.
"Mertua Melati sudah membelikan kita rumah Pa! dan hari ini kita akan pindah," jelas Anggi dengan sangat bersemangat.
"Iya Pa betul sekali apa yang Mama katakan,kita semua sedang menunggu Papa pulang dari tadi," celetuk Agnez.
"Kita semua? bukankah kalian hanya berdua?" tanya Hadi yang semakin dibuat kebingungan oleh ucapan anak tirinya.
"Astaga! aku lupa memberitahu Papa jika Melati ada disini," ungkap Agnez dengan senyum kikuknya.
"Melati? dimana dia sekarang?" tanya Hadi dengan wajah penuh harap.
"Dia ada di dal ...."
Belum selesai Agnez berucap,Hadi sudah terlebih dulu masuk kedalam rumahnya mencari keberadaan sang putri.
"Huh! kebiasaan Papa kumat lagi,jika mendengar nama anaknya pasti langsung lupa segalanya," gumam Agnez sambil menyangga dagunya.
Anggi menatap kearah sang putri.
"Mama mengerti perasaanmu Nez,kau sangat kekurangan figur seorang ayah sejak kau kecil."
Hadi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putrinya di ruang tamu.
Hadi terfokus pada sepasang suami dan istri yang sedang tertidur di sofa ruang tamunya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu mendekat perlahan untuk melihat lebih dekat lagi wajah putrinya.Hadi tersenyum bahagia melihat Melati dan suaminya terlihat sangat dekat.
"Terimakasih Tuhan karena engkau telah memberikan kebahagiaan untuk putri hamba," ucap syukur Hadi pada sang maha pencipta.
Hadi membangunkan menantunya dengan menepuk kecil lengan Arnon.
Si empunya lengan mulai membuka kelopak matanya perlahan.
Arnon melihat sekeliling ruangan itu dan kedua bola matanya menangkap bayangan ayah mertuanya yang berdiri tepat di sampingnya dengan menampilkan senyumannya.
"Papa sudah pulang?" tanya Arnon membenarkan posisi duduknya.
"Iya,Nak! bangunkan istrimu,Papa ingin mandi sebentar," ujar Hadi pada Arnon.
Arnon hendak membangunkan istrinya namun saat melihat wajah Melati yang tidur dengan sangat pulas,ia mengurungkan niatnya.
"Aku bangunkan nanti saja," gumam Arnon.
20 menit kemudian
Hadi sudah keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.Disana Arnon tengah fokus chattingan dengan asisten pribadinya.Ia meminta agar Pram mengirimkan satu mobil lagi kerumah istrinya.
Arnon sebenarnya biasa langsung menelepon Pram,namun karena situasi tak terlalu genting ditambah lagi saat ini ia tengah berada di rumah mertuanya jadi mengirim pesan lebih efektif menurutnya.
"Bisa kita berangkat sekarang,Nak? Papa sudah siap," tutur Hadi pada menantu tampannya itu.
Arnon seketika menyimpan ponselnya kedalam saku celananya saat mendengar suara ayah mertuanya.
"Iya Pa bisa," jawab Arnon diiringi senyum manisnya.
"Loh! kenapa Melati masih belum bangun?" tanya Hadi dengan wajah sedikit terkejut mendapati sang putri masih belum bangun juga.
"Maaf Pa,saya memang tidak membangunkan Melati tadi,karena kasihan mungkin dia lelah Pa," jelas Arnon pada mertuanya.
Hadi tersenyum mendengar penjelasan menantunya itu.
"Baiklah,Nak! terserah kau saja dan ... kau tak perlu terlalu formal dengan mertuamu ini,anggap saja aku seperti orangtuamu sendiri," pinta Hadi kemudian berjalan keluar.
Arnon berdiri menghadap kearah istrinya.Pria itu perlahan sedikit membungkukkan badannya mengangkat tubuh Melati yang masih tetap dalam mode hibernasi.
"Diangkat begini kau tak bangun juga? astaga! kenapa ada gadis seperti dirimu di dunia ini." Tersenyum memandang wajah Melati sambil berjalan menuju kearah mobil.
Saat melewati pintu,mata Agnez terbelalak melihat adegan romantis Melati dan suaminya.
"Ini tak salah kan? Melati dan Arnon ...." Rahang Agnez mulai mengeras kasar.
Berbeda dengan Anggi yang hanya melihat kedua manusia beda jenis itu dengan tatapan biasa saja karena Anggi sudah mulai terbiasa melihat keduanya bermesraan.
"Jadi obat nyamuk lagi," gerutu Anggi.
Sementara Hadi tersenyum bahagia melihat keharmonisan rumah tangga putrinya.
"Semoga hanya maut yang dapat memisahkan kalian berdua,Nak!" Hadi mengikuti langkah menantu dan putrinya.
Dua mobil sudah berjejer rapi di depan halaman rumah Hadi.
Pintu mobil tersebut sudah di buka oleh supirnya.Arnon meletakkan Melati di kursi penumpang dengan posisi berbaring.
__ADS_1
Arnon keluar kembali berjalan menghampiri mertuanya.
"Papa dan yang lain naik mobil yang satunya,untuk motornya biar asisten Pram yang mengurus," jelas Arnon pada Hadi.
"Baiklah,Nak!"
Hadi dan yang lain masuk kedalam mobil yang berada tepat di belakang mobil Arnon dan Melati.
Arnon masuk kedalam mobilnya.Ia mengangkat kepala istrinya dan meletakkan tepat di atas pangkuannya.
"Dasar gadis hibernasi! meskipun tidur dengan posisi apapun kau tetap nyenyak sekali," gumam Arnon sambil geleng-geleng kepala.
Mobil yang di tumpangi Arnon melaju menuju rumah baru keluarga Hadi dan diikuti oleh mobil yang membawa semua anggota keluarga dari istri seorang Arnon Marvion Gafin.
Di perjalanan menuju rumah baru,Arnon tak henti-hentinya mengusap-usap rambut Melati sambil terus memandangi wajah istrinya yang tidur di atas pangkuannya.
"Hei,bangunlah! kita akan segera sampai," gumam Arnon masih tetap dengan mode menyentuh rambut halus istrinya.
Melati mulai menggeliat kecil menerima sentuhan dari suaminya.
Melati hendak tidur kembali tak berniat ingin bangun namun tiba-tiba tubuhnya terlonjak karena supir yang mengendarai mobil mereka tak sengaja melintas di jalan yang berlubang.
Melati langsung bangun dari pangkuan Arnon dengan posisi yang sudah duduk.
Ia melihat sekelilingnya dengan raut wajah bingung.
"Bukannya aku tadi ada di rumah?," tanya Melati dengan wajah kebingungan.
Arnon tersenyum melihat wajah Melati yang nampak seperti orang bodoh saat bangun tidur.
Pria itu menyentuh puncak kepala istrinya lembut dan si empunya kepala menatap kearah suaminya.
Raut wajah Melati masih tetap sama tak ada perubahan karena ia masih belum seutuhnya sadar 100%.
Arnon menyelipkan rambut halus yang berantakan di sekitar wajah Melati karena efek dari bangun tidurnya.Lebih tepatnya bisa di katakan rambut yang masih acak-acakan.
Arnon menatap wajah Melati yang nampak sangat polos saat ini.
Wajah Arnon mendekat kearah wajah istrinya hendak mencium kening Melati namun kesadaran Melati spontan kembali secara tiba-tiba.
"Mau apa kau?," tanya Melati menahan dada bidang suaminya.
"Aku hanya ingin melakukan ini," jawab Arnon mengecup lembut kening istrinya.
Cup
Wajah Melati nampak memerah menerima kecupan dari Arnon.
"Jangan lakukan itu lagi,kita bukan hanya berdua disini." Melati membelakangi Arnon karena wajahnya sudah benar-benar memerah luar biasa.
"Jadi jika hanya kita berdua ... boleh," ledek Arnon pada istrinya.
"Diam," jawab Melati tanpa menoleh kearah suaminya.
Arnon ingin sekali tertawa namun hanya tersenyum yang dapat ia lakukan saat ini.Melati dalam mode kesal karena kelakuannya.
Lagi-lagi supir itu menerima tontonan romantis antara Tuan dan Nona mudanya yang mana wajah mereka sama-sama terlihat lucu sekali bagi supir tersebut yang masih tergolong muda namun lebih tua dari usia Arnon.
__ADS_1