Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 162 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia melepaskan pelukannya pada tubuh William. Ia menengadahkan wajahnya tepat di hadapan wajah suaminya. "Jadi apa pekerjaanmu?" tanya Zinnia menatap wajah suaminya.


William tersenyum tipis. Ia tahu jika Zinnia kali ini sudah dalam mode melancarkan misinya agar dirinya jatuh cinta Istrinya. Pasalnya ia tahu jika gadis ini sangat anti jika bermanja-manja padanya seperti sekarang ini.


Pria itu mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri seraya berbisik, "Aku seorang Dokter bedah."


Zinnia langsung menoleh ke arah suaminya. Dari rasa penasarannya membuat gadis itu tak memperkirakan jika ia menoleh seperti itu wajah mereka pasti akan sangat dekat.


Hidung keduanya sudah saling menempel, bahkan deru nafas mereka saling menerpa satu sama lain.


Mata keduanya juga sudah saling mengunci, namun Zinnia langsung memundurkan tubuhnya.


Gadis itu nampak salah tingkah. Ia tak tahu jika akan seperti ini kejadiannya.


Zinnia mencoba menormalkan suasana hatinya. Ia kembali menatap ke arah William yang tersenyum menang.


"Pasti dia mengira aku malu karena hidung kami tadi bersentuhan! hah, kau belum tahu aku rupanya, Pria mesum! lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu."


Zinnia kembali menatap ke arah suaminya. "Kau sungguh seorang, Dokter?" tanya Zinnia penuh rasa keraguan.


William hanya mengangguk dan ia memberikan laptopnya agar gadis itu mencari informasi tentangnya di Google.


"Cari namaku! kau akan tahu semua tentangku," pinta William pada Istrinya.


Zinnia mengambil alih laptopnya, kemudian mulai mengetik nama suaminya.


Tangannya terhenti karena yang ia tahu hanya nama panggilannya saja. "Nama panjangmu?" tanya Zinnia santai tanpa rasa bersalah.


Mata William kembali di buat ingin keluar oleh ucapan Zinnia. "Serius? kau tak tahu nama panjangku?"


"Tidak!"


William mulai mengacak rambutnya frustrasi. Ia tak habis pikir kenapa istrinya sepolos ini atau lebih tepatnya tak tahu apa-apa tentangnya.


"Aiden William Pattinson."


Zinnia mulai mengetik nama panjang suaminya. Semua informasi tentang pria itu keluar beserta gambar yang pernah di posting oleh William di akun media sosialnya.


Zinnia memastikan gambar yang sepertinya pernah ia lihat itu.


Zinnia ingat. Ia pernah melihat para karyawan butiknya saat jam istirahat sedang menggosipkan gambar William.


Zinnia juga membaca biografi suaminya sampai pada tulisan "Hot Dokter".

__ADS_1


Zinnia langsung melirik William yang juga ikut melihat apa yang sedang istrinya baca.


"Kenapa?" tanya William tanpa dosa.


"Kau sungguh di juluki, Hot Dokter?" tanya Zinnia memastikan.


"Tentu saja! karena aku tampan, baik, dan setia," tutur William sombong.


Zinnia bergidik ngeri dengan tingkat percaya diri pria mesumnya itu.


"Aku tak yakin karena hanya alasan itu kau di sebut, Hot Dokter! pasti karena kau sering mengumbar gambarmu di sosial media yang membuat hati para wanita di luar sana menjadi lumer dan mereka terpesona padamu kemudian mereka dengan senang hati mau menjadi pacarmu! tipu muslihat pria sepertimu itu sudah pasaran, Pria mesum! pantas saja kau sangat mesum, pasti kau suka gonta-ganti pacar ya? sampai calon istrimu kabur," celotehan Zinnia tanpa jeda bagai barisan gerbong kereta api yang sedang melintasi rel.


William tak marah atau tersinggung. Ia malah acuh pada semua ucapan Istrinya. "Sudah!"


Zinnia mengangguk, sedangkan William menatap istrinya dengan wajah serius. "Dengarkan aku," pintanya.


"Aku bukan pria yang suka bergonta-ganti pacar dan aku pria yang setia, buktinya dari saking setia dan bodohnya aku, sampai wanita seperti Marion saja bisa menipuku habis-habisan seperti sekarang ini, bahkan bukan hanya menipu, tapi ia menyakitiku sampai aku berada pada jurang terdalam," ujar William dengan nada santai namun bagi Zinnia pria itu tengah menahan rasa pilunya.


Gadis itu merasa bersalah telah berkata hal yang mengungkit rasa sakit hati William pada mantan calon istrinya.


"Apa kau ingin menangis?" tanya Zinnia yang melihat telapak tangan William mengepal kuat menahan sesuatu.


"Tidak!" William menjawab dengan nada dingin.


William menatap ke arah istrinya dengan tatapan mata yang mulai memerah. "Aku sudah bilang tidak kan padamu! kenapa kau masih menanyakan itu lagi, hah? apa kau sengaja ingin membuatku mengingat jika aku pria paling bodoh karena di butakan oleh rasa cinta yang tak berguna ini," teriak William membuat Zinnia sedikit tersentak kaget karena baru pertama kali ini gadis itu melihat suaminya berteriak tak bisa mengontrol emosi.


Ia tahu jika William pria yang bisa menahan amarahnya, buktinya saat di pesta pernikahan mereka, pria itu dapat menahan rasa kesalnya pada perawat yang coba menggodanya.


Zinnia mencoba menyentuh tangan William yang masih mengepal keras.


Pria itu menepis tangan Zinnia yang mencoba menyentuhnya. "Jangan pernah mengasihani aku! aku memang pria bodoh."


Zinnia tersenyum manis ke arah William yang menatapnya sangat dingin. Perlahan gadis itu memberanikan diri menyentuh kembali tangan yang masih mengepal kuat.


Zinnia bertekad jika ini langkah kedua untuk membuat William takluk padanya.


Tangan Zinnia sudah berada di atas tangan William. "Kau bukan pria bodoh! kau pria tampan, baik, dan tulus mencintai wanita itu, tapi dia saja yang bodoh karena telah mencapkkan berlian seindah dirimu! aku yakin, suatu saat nanti dia akan menyesali perbuatannya karena hukum karma itu pasti akan berlaku, Will! aku juga yakin, jika suatu saat nanti akan ada wanita yang akan mencintaimu dengan tulus tanpa memandang kau kaya atau apalah," jelas Zinnia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan William yang berangsur mulai melunak.


William menatap wajah istrinya. "Apa yang kau katakan itu benar?" tanya William memastikan.


"Tentu saja benar! kau harus bangkit, sama seperti saat kau memberikan semangat pada para pasienmu agar mereka bisa cepat sembuh! kau juga harus bisa move on dari masalalu yang tak ada gunanya lagi bagimu jika terus diingat."


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya William meminta izin pada Istrinya.

__ADS_1


Zinnia ingin sekali menolak, namun ini merupakan kesempatan besar agar pria ini bisa lebih cepat takluk padanya. "Kemarilah," ujar Zinnia merentangkan kedua tangannya dan pria itu langsung memeluk tubuh istrinya erat.


Terdengar suara isak tangis dari mulut William. Zinnia terkejut, ternyata pria dingin seperti suaminya juga bisa menangis.


Gadis itu mengusap punggung William dengan lembut. Ia seakan memberitahu suaminya jika pria itu harus kuat.


Setelah cukup lama William mengeluarkan rasa sedihnya, pria itu langsung menjauhkan diri dari tubuh istrinya.


Mata tajam itu menatap mata lembut Zinnia.


"Apa aku boleh meminta satu bantuan lagi padamu hari ini?" tanya William lagi.


"Apa?"


"Aku ingin melupakan rasa sakit hati ini, Zi!"


"Apa yang dapat aku bantu?" tanya Zinnia kebingungan.


"Kau cukup diam dan menerima apa yang akan aku lakukan," tutur William dengan wajah memohon.


Zinnia bingung, ia takut William meminta hal yang aneh-aneh, namun di sisi lain ia iba melihat suaminya seperti orang yang tak semangat hidup.


"Bagaimana? apa kau mengizinkan?" tanya William lagi.


"Asalkan jangan yang berlebihan aku akan membantumu!" Zinnia setuju dengan permintaan suaminya karena ia mengira mungkin suaminya akan tidur di pangkuannya saja, namun saat melihat senyum William, ia hendak berkata tidak tapi bibir pria itu sudah menempel pada benda kenyal milik Zinnia.


Zinnia masih terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Zinnia hanya bisa diam tanpa menggerakkan bibirnya.


Karena tak ada penolakan dari sang istri, William mulai memberanikan diri menggerakkan bibirnya ke atas dan bawah dengan gerakan lembut.


Tangan pria itu sudah berada pada pinggang Istrinya. Mencengkram erat pinggang seksi milik Zinnia.


Tubuh William menggiring tubuh Zinnia agar berbaring di sofa.


Kini gadis itu sudah berada dalam kungkungan suaminya.


Setelah cukup puas dengan benda kenyal milik sang istri, William melepas pangutan bibirnya.


Kening mereka masih menyatu dengan mata William terpejam, sedangkan mata Zinnia masih terbuka lebar dengan raut wajah terkejut.


Pria itu menatap wajah Zinnia. Merapikan helaian rambut yang berantakan di sekitar wajah istrinya.

__ADS_1


"Terimakasih," tutur William mengecup bibir Zinnia sekilas, kemudian langsung beranjak dari sofanya menuju arah kamar mandi.


__ADS_2