Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 136


__ADS_3

Dua bulan berlalu.


Hari-hari terus Melati lewati dengan hati gembira agar kondisi bayi dalam rahimnya juga sehat karena ibunya juga dalam kondisi mood yang baik.


Kini usia kehamilan Melati sudah menginjak 7 bulan. Perutnya juga sudah bertambah besar. Berjalan juga sudah tak seperti biasanya.


Arnon selalu berada di samping Melati, karena pria itu juga sudah menyelesaikan filmnya.


Sebenarnya masih banyak sekali film yang di tawarkan kepadanya, namun Arnon menolak, karena ia ingin fokus dengan proses kehamilan sang istri sampai Melati melahirkan.


Hari ini tepat bulan ketujuh istrinya mengandung. Hari dimana baby shower akan di gelar, namun tanpa sepengetahuan Melati. Itu sebuah kejutan dari Arnon dan keluarganya beserta para sahabatnya.


Arnon sudah menghubungi semua keluarga untuk membantunya memuluskan aksinya.


Pria itu sudah berada di taman belakang dengan secangkir teh di tangannya. Arah pandangan Arnon tertuju pada kolam ikan. Ia melihat ikan berenang kesana kemari memperebutkan makanan mereka.


Melati masih belum bangun. Ia sengaja tak membangunkan istrinya, agar rencananya dan Agnez hari ini bisa berjalan lancar.


Suara klakson mobil Agnez sudah terdengar di halaman rumah Arnon. Pria itu langsung bergegas menuju teras rumahnya.


Agnez sudah keluar dari mobilnya menuju ke arah Arnon yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Apa Melati masih belum bangun?" tanya Agnez pada adik iparnya itu.


"Belum! kau saja yang membangunkan dia! rencana kita harus berhasil, kau harus membuatnya pulang sore," ujar Arnon."


"Kau tenang saja! Melati pasti aman bersamaku," sahut Agnez yakin.


"Tapi aku akan tetap mengutus anak buahku untuk mengikuti kalian berdua," tutur Arnon lagi.


"Terserah kau saja!"


Agnez berlalu menuju lantai dua. Lantai dimana tempat kamar adiknya berada.


Agnez berada di depan pintu sambil mengetuk pintu kamar Melati.


Tok tok tok


"Mel! bangun! temani aku ke butik, mertuamu!" suara Agnez sedikit berteriak.


Tak ada jawaban dari dalam sana. Agnez memang bukan orang yang sabar menunggu sesuatu. Tanpa permisi, wanita berambut pendek itu menarik handel pintu kamar Melati dan masuk ke dalam.


Agnez berjalan ke arah ranjang. Ia melihat selimut yang masih melingkar di tubuh Melati.


Agnez tergelak karena Melati seperti kue molen. Melati pisangnya dan selimut itu kulit molennya.


Agnez duduk di tepi ranjang dekat dengan tubuh Melati yang masih bergulung dalam selimut.


Suara deru napas Melati masih teratur. Ia tahu jika adiknya itu sedang dalam kondisi tidur pulas.


"Mel! bangun!" Agnez menepuk kecil pipi Melati.


Melati hanya menggeliat kecil. Tak ada pergerakan dari ibu hamil itu untuk berniat bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Mel! bangun!" Agnez kembali menepuk pipi adiknya.


Melati sedikit membuka matanya. Ia melihat ternyata orang yang mengusik tidurnya adalah sang kakak.


"Apa sih, Kak! aku masih mengantuk," ujar Melati dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Hei, ini sudah jam 8 pagi, ayo bangun!" Agnez kembali menepuk pipi adiknya.


"Aku lelah, Kak! aku baru tidur jam 5 pagi," tolak Melati untuk bangun.


"Apa yang kau lakukan sampai tidur jam 5 pagi?" tanya Agnez penasaran.


"Suamiku minta jatah pagi-pagi," jelas Melati dengan mata terpejam.


"Apa? kenapa tak malam saja?"


"Dia ingin pagi saja untuk hari ini," jelas Melati lagi.


"Dasar! dia ingin bangun pagi untuk segera mempersiapkan acara hari ini, tapi masih menggempur Melati terlebih dulu! huh, mencari kesempatan dalam kesempitan itu namanya."


"Cepat kau bangun! aku ingin mengajakmu fitting baju pengantin, Mel!"


Saat telinga Melati merespon kata baju pengantin, ia langsung bangun dengan posisi masih duduk di atas ranjangnya.


"Hari ini?" tanya Melati dengan wajah terbelalak.


"Iya! cepat bangun dan bersiaplah!"


"Tapi ...."


"Huh, baiklah! aku mandi dulu."


Dengan wajah lesu, Melati beringsut dari kasurnya. Ia bergerak dengan hati-hati karena perutnya kini sudah besar. Jadi pergerakannya saat ini mulai terbatas.


Melati melangkah menuju arah kamar mandinya secara perlahan.


Agnez turun ke lantai dasar untuk menemui Arnon. Dia mencari keberadaan adik iparnya.


"Kemana dia?"


Agnez mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arnon. Ternyata pria itu berada di teras bersama tunangannya.


Agnez mendekati mereka berdua yang tengah berbincang membicarakan sesuatu.


"Apa kau sudah menghubungi keluarga yang akan datang kemari?" tanya Agnez pada Arnon.


"Sudah! semua sudah diurus oleh calon suamimu, Kakak Ipar!"


"Baguslah! ingat! harus bagus dan mengesankan bagi Melati, agar kakiku tak rugi jika nantinya terasa pegal karena mengajaknya berjalan seharian," tutur Agnez pada Arnon.


"Pastinya," sahut Arnon.


"Sayang ...."

__ADS_1


Ucapan Agnez terpotong karena Arnon menyelanya.


"Cie cie! Sayang! ada yang lagi sayang-sayangan rupanya," ledek Arnon langsung meninggalkan teras rumahnya menuju arah kamar.


Pram dan Agnez tergelak karena jika mereka berdua bertemu dengan Arnon pasti akan menjadi bahan ledekan.


"Apa kau akan segera berangkat?" tanya Pram pada Agnez.


"Iya! aku seharian ini pasti akan rindu padamu," ujar Agnez.


"Hanya sehari, Sayang! nanti sore kita akan bertemu di rumah ini."


"Huh, baiklah! aku akan menahannya," ucap Agnez dengan wajah lesu.


Pram menarik tangan Agnez agar pria datar itu bisa mendekap tubuh wanitanya.


"Anggap saja pelukan ini sebagai penawar rasa rindu kita sampai sore nanti."


"Aku mencintaimu," tutur Agnez membalas pelukan Pram.


"Aku juga mencintaimu."


Keduanya saling tersenyum dan membalas pelukan hangat satu sama lain sebagai penawar kerinduan mereka karena seharian ini keduanya akan melalui jarak.


Melati sudah selesai mandi. Ia mengenakan baju hamilnya.


Ceklek


Suara pintu kamarnya terbuka. Melati menoleh ke arah pintu kamar. Ia melihat seorang laki-laki gagah berjalan ke arahnya.


Pria itu tanpa aba-aba mengecup bibirnya sekilas.


Cup


"Selamat pagi, Sayang!"


"Hampir siang, bukan pagi lagi," ralat Melati atas perkataan suaminya tadi.


"Terserah kau saja!"


Pria itu mendaratkan lututnya dengan posisi wajah sejajar dengan perut buncit istrinya.


"Selamat pagi menjelang siang, Baby! apa kau baik-baik saja di sana?" tanya Arnon yang seakan tengah berbicara dengan bayi yang bisa merespon perkataannya.


Arnon mengusap lembut perut istrinya. Saat usapan yang ketiga, tiba-tiba tendangan dari perut Melati terasa oleh telapak tangan Arnon.


"Wow, apa kau ingin bergelut dengan, Daddy? jika benar, kau harus lahir dengan sehat beserta Mommy-mu juga," jelas Arnon mengecup perut besar sang istri.


Melati tersenyum melihat Arnon yang sangat antusias atas kehamilannya. Ia sangat senang karena Arnon bisa menerima kenyataan, meskipun anaknya bukan berjenis kelamin laki-laki.


"Aku mencintaimu, Sayang!" Melati mengusap lembut rambut lebat Arnon


Pria itu menengadahkan wajahnya menatap wajah istrinya. "Kami juga mencintaimu, Mom!"

__ADS_1


Lagi-lagi Arnon mengecup perut Melati tanpa henti sampai ibu hamil itu merasa geli pada bagian perutnya.


__ADS_2