
Tatapan mata William masih terfokus dengan bibir seksi milik istrinya.
Zinnia menatap mata dan hidung suaminya yang berada sangat dekat dengannya. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Zinnia sedikit gugup karena wajah mereka sangat dekat sampai napas William mengenai permukaan wajahnya.
"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," sahut William mulai menyatukan hidungnya dengan hidung sang istri.
William mulai menggerakkan ujung hidungnya seakan sedang membelai ujung hidung Zinnia. "Aku sudah membuka mataku," tutur Zinnia dengan deru napas yang sudah sedikit tak beraturan.
"Aku sudah mengatakan buka matamu sebelum bibir ini hampir menyentuh bibirmu, tapi kau masih diam, jadi hukuman yang sudah aku buat harus tetap di lakukan, Gadis cerewet!"
Mata William sudah mulai terpejam dengan kepala yang sudah sedikit miring dan bibir mereka juga sudah akan menyatu, namun ....
"Tunggu! aku ... aku sesak napas," kilah Zinnia agar ia dapat lolos dari hukuman suaminya.
Mata William terbuka. Pria itu menatap mata istrinya dengan ujung hidung yang masih saling menempel.
"Apa kau sungguh sesak napas?" tanya William dan diangguki oleh Zinnia.
Pria itu tersenyum manis sambil mengelus pipi istrinya. "Aku yang akan memberikanmu napas buatan."
William langsung mencium bibir istrinya. Pria itu awalnya hanya ingin menggoda Zinnia, namun saat bibirnya sudah menempel pada benda kenyal milik istrinya, William tak bisa hanya diam menyia-nyiakan hal langka itu begitu saja.
William mulai memberanikan diri untuk menggerakkan bibirnya. Jika Zinnia berontak atau mendorong tubuhnya, ia akan melepaskan ciuman itu. Tapi jika Zinnia diam dan menerima ciumannya, itu berarti gadis itu memberikan lampu hijau padanya.
William masih diam untuk melihat reaksi Zinnia. Tak ada penolakan dari Zinnia.
William tersenyum di tengah-tengah ciumannya. Pria itu menekan tengkuk Zinnia memakan habis benda semanis permen karet itu karena wangi bibir istrinya seperti wangi bubble gum.
William ingin mengigit bibir Zinnia agar gadis itu membuka mulutnya, namun di luar dugaannya, gadis itu justru yang memberikan akses tersebut pada William.
Bahkan Zinnia bergerak-gerak berusaha membuka gulungan selimutnya yang melilit tubuhnya.
Saat selimut pada tubuh Zinnia sudah terlepas, gadis itu kini mengambil alih peran suaminya.
Kini Zinnia yang menguasai permainan yang di buat oleh William.
Jari lentik Zinnia masuk ke dalam sela-sela rambut suaminya. Tangan Zinnia sudah berada di tengkuk William.
Zinnia sedikit mengangkat kepala suaminya. Ia memberikan kode agar William bangun.
__ADS_1
Pria itu mengerti maksud sang istri. William bangun dengan posisi Zinnia sudah berada di atas pangkuannya.
Tanngan William sudah tak enak diam. Kini pria itu sudah masuk perangkap dalam permainan yang ia ciptakan sendiri.
Tanga William sudah berada di pinggang istrinya. Tangan itu mulai menggerayangi punggung Zinnia.
Desainer cantik itu tak ingin kalah dari suaminya. Ia mulai menurunkan tiap jari-jari lentiknya. Membuka tiap kancing kemeja yang dikenakan suaminya.
Kancing pertama sudah terbuka. Tangan Zinnia kembali usil mengusap lembut dada suaminya yang masih tertutup kemeja, hanya satu kancing saja yang ia buka.
Tiba-tiba ciuman keduanya terlepas karena William menjauhkan wajahnya.
Mata keduanya sudah sama-sama di penuhi kabut gairah.
Zinnia melingkarkan kakinya pada tubuh William. "Kenapa kau berhenti?" tanya Zinnia kembali membuka kancing kedua dari kemeja William.
William melihat tangan Zinnia yang membuka kancing kemejanya. Arah mata pria itu beralih pada wajah istrinya yang kini tengah fokus membuka kancing kemejanya.
"Apa kau ingin melanjutkannya?" tanya balik William yang melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.
Zinnia tersenyum menatap tiap inci wajah William. "Jika kau mengizinkan, aku yang akan memimpin permainan kali ini," bisik Zinnia tepat di telinga William.
Zinnia memundurkan sedikit wajahnya menatap wajah suaminya yang pasti sudah penuh dengan kabut gairah tak tertahankan.
"Pejamkan matamu," pinta Zinnia.
William memejamkan matanya. Gadis itu turun dari atas pangkuannya.
William langsung membuka matanya lebar-lebar. Pria itu melihat istrinya sudah berbaring di sampingnya.
William mengguncang tubuh Zinnia. "Zi! bangun! kau tak perlu pura-pura tidur," ujar William dengan wajah kesal menahan sesuatu.
Zinnia berbalik menghadap ke arah suami yang awalnya ia punggungi.
Zinnia tersenyum menang. "Aku juga ingin memberikan kau hukuman, Pria mesum!"
William di buat geram dengan kelakuan usil Zinnia.
William langsung berbaring tepat di samping istrinya. Ia membuka selimut yang digunakan Zinnia dan masuk ke dalam.
__ADS_1
William tidur memeluk tubuh Zinnia.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zinnia.
"Aku ingin tidur dengan posisi seperti ini," sahut William yang mendaratkan kepalanya tepat di dada Zinnia.
Gadis itu mencoba mendorong kepala William, namun kepala suaminya semakin menempel erat saat dirinya terus berusaha mendorongnya.
"Menjauhlah dariku, Pria mesum!"
"Tidak! aku ingin seperti ini!"
"Ih, kau mesum sekali, William! kepalamu tidak berada pada tempat yang benar," protes Zinnia dengan tangan yang terangkat ke atas karena kepala William sudah menguasai dadanya.
"Ini sudah berada dalam posisi yang benar! buktinya terasa sangat empuk sekali," sahut William sekenanya.
Zinnia memutar bola matanya jengah. "Cepat kembali ke tempatmu, Pria mesum! aku tak tahan harus berlama-lama dengan posisi ini!"
William mendongakkan wajahnya menatap ke arah Zinnia. "Jika kau tak diam dan terus banyak bicara seperti ini, kupastikan bantal empuk yang aku tiduri saat ini akan aku makan sampai pagi tak akan aku lepas! apa kau ingin seperti itu?" tanya William dengan wajah mengancam.
"Tidak mau! jika ia benar-benar melakukan hal itu, yang ada aku tak bisa tidur dan kedua benda yang berada di dadaku ini bisa kendor tak beraturan jika harus ia makan sampai pagi."
Zinnia memikirkan saja sudah ngeri, bagaimana jika benar-benar terjadi, yang ada ia bisa gila.
"Ha-hanya tidur saja ya? jangan lebih! awas jika kau berani melakukan hal lebih dari itu," ancam balik Zinnia.
"Ini juga gara-gara kau, Gadis cerewet! aku harus menahan gairahku! daripada aku mandi air dingin, lebih baik aku memelukmu begini! pasti nanti akan normal dengan sendirinya."
"Iya hanya peluk saja! kau takut sekali padaku," celetuk William yang kembali tidur pada dada istrinya.
"Kenapa kau selalu membuatku kesal sih, Pria mesum! kau ingin aku ini cepat tua? hah, kau sungguh pria jahat jika memang itu tujuan aslimu membuatku marah," cecar Zinnia yang tak menerima balasan dari mulut suaminya.
Gadis itu mengintip ke arah wajah William dan pria itu ternyata sudah tertidur.
"Kenapa dia cepat sekali tidurnya?"
Zinnia menyingkap beberapa helai rambut halus yang menutupi bagian wajah suaminya.
Zinnia tersenyum manis. "Kau memang pria tampan! tapi sayang sekali, kau itu mesum," gumam Zinnia ikut memejamkan matanya menyusul William menjelajahi alam mimpi.
__ADS_1