
Mata yang berwarna hitam pekat tengah menghindari cahaya yang menyorotnya. Gadis dengan rambut sudah acak-acakan itu masih berada di atas kasur empuknya.
Selimut yang tadi malam sempat ia perebutkan dengan William, ternyata masih menutupi seluruh tubuhnya.
Zinnia bersenyum melihat ke arah selimut itu, namun saat ia menoleh ke arah sampingnya, ia tak menemukan William yang tadi malam tidur satu ranjang dengannya.
Zinnia mengedarkan pandangannya, namun suaminya tak ada di ruangan itu.
Saat Zinnia menggerakkan sedikit bagian tubuhnya, ia merasa ada sesuatu yang memeluk tubuhnya erat.
Zinnia sempat takut, gadis itu berpikir mungkin ada mahluk yang tak kasat mata bersembunyi di dalam selimutnya.
Zinnia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memukul mahluk itu. Zinnia melihat ada bantal William yang menganggur tak berpenghuni.
Gadis itu memutuskan untuk menggunakan bantal tersebut memberi pelajaran pada mahluk tak tahu malu yang berani menyelinap masuk ke dalam selimutnya.
Zinnia secara perlahan mulai menyentuh ujung selimutnya, saat kedua tangan kanannya sudah mencengkram erat selimut itu, Zinnia dengan cepat menyingkap selimut yang ia gunakan.
Tangan kiri Zinnia yang memegang bantal sudah siap menghantam apa saja yang ada di dalam selimutnya, namun gerakan tangan Zinnia terhenti karena mahluk yang memeluknya dengan erat adalah suaminya sendiri.
Pria itu masih dengan posisi yang sama tanpa ada pergerakan ingin bangun meskipun Zinnia sudah bergerak-gerak dari tadi.
Zinnia meletakkan bantal yang tadi ia pegang. Telunjuk tangan kanannya menusuk-nusuk pipi William yang tidur menempel pada perutnya.
"Bangun!"
Zinnia terus melakukan hal itu, namun William malah lebih mengeratkan pelukannya, bahkan kaki pria itu sudah berada di atas kaki istrinya.
Zinnia semakin ingin menjauh dari William.
"Hei, Pria mesum! bangun!"
William masih tak ada pergerakan untuk bangun juga.
Dengan jahilnya, Zinnia mencubit hidung William sampai pria itu langsung terbangun dan langsung duduk.
Zinnia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi William yang seperti orang baru di kejar hantu.
"Hahahaha! rasakan kau, Pria mesum! suruh siapa kau tidur seperti orang mati."
William duduk dengan raut wajah khas baru bangun tidur.
William tak ada niatan untuk membalas perbuatan istrinya. Tatapan mata pria itu datar dan dingin.
William langsung turun dari ranjang Zinnia. William berjalan menuju arah kamar mandi.
__ADS_1
Gadis itu menatap punggung suaminya yang mulai hilang di balik pintu kamar mandinya.
Zinnia bingung, kenapa pria itu tak membalas kejahilannya.
Tiba-tiba ponsel Zinnia berbunyi.
"Halo!"
"Kau ada di mana, Sayang?"
"Aku ada di butik, Mom! ada apa?"
"Ini hari Minggu, Zi! bukankah butikmu libur?"
"Aku ada pekerjaan yang yang harus di kerjakan, Mom! jadi aku tidur di sini."
"Sendiri?"
"Tentu saja tidak, Mom! aku dengan, Suamiku!"
"Oh, nanti malam Mommy dan Daddy akan datang ke rumahmu untuk makan malam! mertuamu juga akan datang, Zi! jadi kau harus masak masakan yang sudah pernah Mommy ajarkan padamu."
"Baik, Mom!"
"Sampai bertemu nanti malam, Sayang!"
Panggilan diakhiri oleh Melati. Zinnia menatap ponselnya, tiba-tiba suara pintu kamar mandi terdengar.
William keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Gadis itu mendekati suaminya.
"Nanti malam kedua orangtua kita akan ke rumah untuk makan malam, jadi kita pulang dari sini langsung berbelanja," tutur Zinnia pada suaminya.
William hanya diam tanpa berkata-kata apapun. Pria itu menatap istrinya datar.
William melewati istrinya yang berdiri di hadapannya begitu saja tanpa sepatah katapun dari bibir manisnya itu.
Zinnia menoleh mengikuti arah William melewatinya. William berjalan menuju arah pintu.
Dengan cepat Zinnia berlari menghadang pintu kamarnya. "Kau kenapa?" tanya Zinnia menatap suaminya penuh mohon agar pria itu mau menjawab pertanyaannya.
William hanya diam tak menanggapi pertanyaan istrinya.
Zinnia di buat kebingungan dengan sikap bisu William.
"Kau ini kenapa sih, Pria mesum?" tanya Zinnia lagi.
__ADS_1
William masih diam hanya menatap istrinya tanpa ada pergerakan dari bibir Dokter tampan itu untuk membuka suaranya.
"Apa pria ini sudah terkena penyakit bisu saat bangun tidur? itu tidak mungkin!"
Zinnia sedikit menggeser tubuhnya seolah ia memberikan izin pada William untuk lewat, namun saat William hendak membuka handel pintu kamarnya, Zinnia kembali menutup akses pria itu agar tak bisa keluar dari kamarnya.
Zinnia menatap suaminya dengan tatapan tajam, sementara William hanya menatap dirinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Kau ini kenapa sih? aku bertanya kau tak menjawab, jadi aku harus bagaimana lagi agar kau bisa membuka mulutmu dan menejelaskan apa yang terjadai, Will!"
Zinnia kini tak menyebut suaminya dengan panggilan Dokter mesum lagi. Gadis itu langsung memanggil namanya tanpa ragu.
William masih diam, sementara Zinnia sudah kehabisan akal membuat suaminya bicara.
"Baiklah! jika kau tak ingin mengatakan apa yang membuatmu sampai mogok bicara seperti ini!"
Zinnia berbalik membuka hendel pintu kamarnya, tiba-tiba William menarik Zinnia ke dalam pelukannya.
Posisi gadis itu masih memunggungi suaminya.
Kepala William sudah berada di ceruk leher zinnia. Pria itu memeluk tubuhnya erat.
"Lepaskan aku! aku ingin pergi ke supermarket," tutur Zinnia pada suaminya.
Pria itu manarik napas panjang dan menghembuskannya. "Apa kau tak ingin membujukku lagi? agar aku bisa menjelaskan apa yang membuatku sampai tak ingin bicara?"
Zinnia memejamkan matanya diiringi hembusan nafas yang terdengar frustrasi.
Gadis itu berbalik menghadap ke arah William yang kini mata keduanya sudah saling tatap.
Zinnia menyentuh kedua pipi suami. "Kau ini kenapa? baru bangun tidur sudah mogok bicara seperti ini! apa aku melakukan sesuatu atau berkata hal yang menyakitkan untukmu?" tanya Zinnia mengelus lembut pipi William dengan ibu jarinya.
William masih menatap wajah istrinya. "Apa kau tak merasa telah melakukan sesuatu yang membuatku begini?" tanya balik William dengan tangan yang sudah melingkar erat pada pinggang istrinya.
Zinnia menatap kedua mata suaminya dalam. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu sampai begini, maka dari itu aku bertanya padamu," tutur Zinnia dengan suara lembut penuh kasih.
William langsung memeluk istrinya. Zinnia merasa William sangat manja hari ini padanya.
"Aku masih mengantuk, Zi! aku masih ingin tidur," tutur William dengan nada yang tak kalah manja.
Zinnia terkejut dengan penuturan William. Ia pikir suaminya marah padanya karena masalah serius, tapi yang menjadi masalah William hanya kurang tidur.
"Apa aku bermimpi? pria ini sudah melewati masa kanak-kanak kan? tapi kenapa dia sangat kekanakan begini? Tuhan! aku ingin sekali menjitak kepalanya sampai puas!"
Zinnia memejamkan matanya. Ia berusaha menahan emosinya agar tak keluar. Ia tak ingin William menjadi ilfil padanya karena ia terlalu cerewet.
__ADS_1
"Sabar, Zi! anggap saja kau sekarang sedang berhadapan dengan anak berumur lima tahun yang masih rewel minta ampun!"