
Kini keempatnya sudah turun dari jet pribadi milik Marquez.
Mereka berempat keluar satu persatu dari jet tersebut. Zinnia dan William berjalan menuju ke arah mobil jemputan mereka yang sudah menunggu, sementara Sandra dan Marquez berjalan santai menikmati kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan berpisah.
Sandra dan Marquez memanfaatkan waktu mereka saat ini karena bagi pasangan baru yang lagi hangat-hangatnya, waktu 1 jam itu bagai satu menit bagi mereka.
Kini semua koper Sandra dan Marquez sudah di masukkan ke dalam bagasi mobil yang sudah siap meninggalkan tempat parkiran itu.
Sandra masuk ke dalam mobil begitu pula dengan Marquez yang ikut masuk ke dalam.
Tangan Sandra dan Marquez saling genggam dalam perjalanan menuju arah rumah Sandra.
Tatapan mata Sandra tertuju pada pinggir jalan. Asisten cantik itu melihat lalu lalang kendaraan yang menyalip kendaraan yang ia tumpangi.
Marquez melihat ke arah Sandra. "Jangan tegang! aku yakin Kak Nina akan menerima kita," tutur Marquez ingin menenangkan hati kekasihnya.
Sandra menoleh ke arah Marquez. "Aku masih ragu," cicit Sandra yang masih tak percaya diri dengan pilihannya.
Marquez tersenyum pada tunangannya. "Kau tenang saja! ada aku," ujar Marquez kembali menenangkan tunangannya.
Sandra membalas senyumannya. Wanita itu tersenyum pada Marquez sembari menganggukkan kepalanya.
Roda mobil yang di naiki oleh Sandra dan Marquez sudah berada di halaman rumah Sandra.
Dua penumpang yang berada di kursi penumpang turun berjalan ke arah pintu masuk rumah mewah namun, tak semewah rumah William.
Sandra dan Marquez sudah berada di depan pintu masuk rumah itu. Sandra menoleh ke arah Marquez. "Aku tekan bel-nya sekarang ya?" tanya Sandra pada tunangannya.
Marquez mengangguk dengan cepat dan wajah penuh keyakinan.
Sandra menghembuskan napas panjangnya. Tangan halusnya itu perlahan mulai terangkat untuk menekan bel pintu rumahnya.
__ADS_1
Ting tong ting tong
Sandra terlihat sangat gugup padahal bukan dirinya yang akan meminta restu, tapi Sandra yang berkeringat dingin, sementara Marquez hanya bersikap santai karena ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari ini.
Ceklek
Suara pintu masuk rumah itu terbuka dan menampakkan seorang wanita yang lebih tua dari mereka menatap keduanya bergantian. "Kau sudah pulang, San! ayo masuk!" Nina mempersilahkan keduanya masuk.
Sandra tak langsung menuju ke arah kamarnya, wanita itu berjalan menuju arah ruang tamu bersama dengan Marquez.
Nina langsung kebelakang untuk membuatkan keduanya minuman.
Sandra dan Marquez berada di ruang tamu menunggu Nina datang dan beberapa menit kemudian, akhirnya Nina datang dengan sebuah nampan di tangannya dan dua cangkir teh hangat karena malam ini sudah menunjukkan waktu pukul 9 malam.
"Ayo diminum dulu! pasti kalian lelah kan?" Nina duduk tepat di depan Marquez.
Sandra mengambil cangkir yang berisi teh miliknya dan meminumnya.
Tangan Marquez perlahan mulai meraih cangkir berisi teh hangat tersebut namun, seketika cangkir yang ada dalam genggaman Marquez bergetar bagai gempa bumi yang melanda rumah Sandra, samping Nina yang melihat itu ikut terkejut karena teh milik Marquez sampai tumpah karena guncangan yang Nina kira sebuah gempa.
"Apa ada gempa? tapi kenapa aku tak merasakannya?" tanya Nina pada keduanya.
Sandra melihat ke arah Marquez dan benar saja teh hangat milik tunangannya itu sudah tinggal setengah karena guncangan yang diakibatkan oleh tangan Marquez yang bergetar membuat tehnya tumpah.
"Tadi saja menyombongkan diri berlagak berani menghadapi, Kak Nina! tapi sekarang malah grogi minta ampun seperti ini."
Sandra segera mengambil alih cangkir milik Marquez dan meletakkan cangkir berisi teh itu kembali pada tempatnya.
"Ini bukan gempa, Kak! tapi getaran dahsyat yang berasal dari dalam tubuh Marquez yang mampu membangkitkan tenaga listrik, jika getaran itu terlalu dahsyat melebihi kapasitasnya, maka akan BOOM!" Sandra melebarkan matanya menatap ke arah Nina sampai sang kakak bergidik ngeri. "Marquez bisa meledak?" tanya Nina dengan raut wajah tegang.
"Hahaha!" Tawa Sandra pecah seketika saat pertanyaan konyol Kakaknya menggelitik telinganya.
__ADS_1
Marquez hanya menatap Sandra kesal. Bisa-bisanya di saat ia berusaha menormalkan ketegangannya, Sandra masih bercanda membuatnya malu seperti itu.
"Aku hanya bercanda, Kak! sebenarnya ada yang ingin Marquez bicarakan padamu," tutur Sandra melirik ke arah Marquez dan tersenyum manis pada pria yang sangat ia cintai.
Dengan kekuatan jiwa seorang pria yang ingin sekali mempersunting Sandra, akhirnya Marquez meyakinkan dirinya jika Nina pasti akan menerimanya sebagai calon adik ipar.
Marquez menegakkan tubuhnya duduk bagai sedang berhadapan dengan orang penting. "Sebenarnya saya datang kemari ingin meminta restu, kak Nina untuk menjadikan Sandra sebagai istri saya," tutur Marquez diakhiri hembusan napas lega bagai sedang berhadapan dengan seorang dosen saat proses wawancara penting.
Nina melirik ke arah sang adik, "Apa kau sudah siap menjadi seorang istri dan ibu, San?" tanya Nina pada adiknya.
"Siap 1000 persen, Kak!" Sandra menyahut dengan nada tegas tanpa keraguan di dalamnya.
"Apa kau juga siap jika kelak kau sudah memiliki anak dan mengurus anakmu di rumah saja tanpa sibuk dengan pekerjaanmu dan kau pastinya harus berhenti bekerja," cecar Nina pada adiknya dengan berbagai macam pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Siap, Kak! karena suamiku kaya, jadi aku berhenti bekerja pun dia akan memenuhi segala kebutuhanku dan keluarga kita, iya kan, Sayang?" tanya Sandra pada Marquez dan Marquez menganggukkan kepalanya secepat mungkin agar Nina mau merestui hubungannya dan Sandra.
Nina masih menatap keduanya dengan tatapan penuh selidik namun, tiba-tiba senyum ibu beranak dua itu terbit. "Kakak merestui hubungan kalian berdua," ujar Nina membuat keduanya tersenyum bahagia.
Sandra berjalan ke arah sang kakak dengan cepat dan memeluk Nina cukup erat. "Terimakasih kakak!"
Nina tersenyum dan membalas pelukan adiknya tak kalah eratnya. "Kakak akan mendukung apapun yang bisa membuatmu bahagia selama hal itu baik untuk kehidupanmu untuk kedepannya," jelas Nina pada Sandra. "Terimakasih banyak karena Kakak sudah mau mengerti aku."
Marquez merasa lega sekali karena calon kakak iparnya ternyata sangat pengertian terhadapnya dan Sandra.
Nina dan Sandra melepaskan pelukan mereka. "Sekarang kalian berdua harus istirahat karena kalian pasti lelah dalam perjalanan pulang," pinta Nina pada keduanya.
"Marquez malam ini tidur disini saja dulu! tapi tidak tidur satu kamar dengan, Sandra!" Nina meledek adiknya dan wajah Sandra sudah memerah.
"Marquez tidur di kamar tamu! Sandra! antar Marquez ke kamarnya dan ingat! cepat kembali ke kamarmu," goda Nina beranjak dari sofa menuju kamarnya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.
__ADS_1