
Acara game telah usai. Zinnia dan William sudah berada di dalam lift menuju ke arah lantai ruangan suaminya berada.
Keduanya masih mengenakan baju olahraga karena mereka baru kembali dari halaman belakang.
Tangan Zinnia dan William bergandengan. Keduanya menatap lurus ke depan bagai tak terjadi apa-apa.
Zinnia melirik suaminya. "Kenapa kau tak bicara? apa kau lelah atau sedang mogok bicara?" tanya Zinnia menghantam William dengan berbagai pertanyaan dalam kepalanya.
Pria itu menatap ke arah istrinya. "Aku lelah, Sayang!"
Zinnia mengusap lembut lengan kekar William yang masih menggandeng tangannya. "Kau istirahat saja dulu jika kau lelah," ujar Zinnia meletakkan kepalanya pada bahu William.
"Apa kau cemas padaku?" tanya William pada Zinnia.
Zinnia menegakkan kembali kepalanya. Gadis itu melihat ke arah suaminya. "Tentu saja aku cemas karena kau adalah, Suamiku!"
William memeluk tubuh Zinnia erat. "Apa kau sungguh cemas dengan keadaanku?" tanya William lagi.
Zinnia membalas pelukan tubuh suaminya. "Kau sudah tahu jawabannya, tapi masih terus bertanya! apa kau tak percaya padaku?" tanya Zinnia balik pada suaminya.
William sedikit memundurkan tubuhnya agar ia dapat melihat wajah Zinnia. "Aku ingin bukti darimu," tutur William yang mendapat kerutan pada dahi istrinya.
"Bukti?" tanya Zinnia yang langsung di angguki oleh William.
"Bukti apa?" tanya Zinnia lagi.
"Cium aku sekarang!"
Zinnia memejamkan matanya karena permintaan William itu bukan hanya sekedar pembuktian melainkan kecanduan.
"Apa kau mulai kecanduan dengan bibirku ini?" Zinnia mulai meraba dada bidang suaminya.
"Kenapa kau selalu membuatku tak karuan seperti ini, Zi? apa kau menggunakan magic untuk membuat dadaku berdebar sekencang ini?"
William meletakkan tangan Zinnia tepat di dadanya.
Zinnia tersenyum mendekatkan wajahnya pada wajah William. "Aku hanya perlu bibir ini untuk membuatmu lebih bergetar lagi," goda Zinnia menyatukan ujung hidung keduanya.
Saat bibir Zinnia sudah hampir mendarat di bibir William, suara denting pintu lift terbuka.
Ting
Zinnia dan William langsung menjauh berlagak bagai orang yang tak melakukan apapun.
Untung saja Zinnia dan William tak berciuman karena di depan pintu lift ada seorang dokter wanita yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
"Selamat siang, Dokter William dan Ibu Zinnia!" Dokter wanita yang bername tag kristal Anggraeni itu menyapa Zinnia dan William.
__ADS_1
"Selamat siang," sahut Zinnia dan William bergantian.
William menarik tangan Zinnia agar istrinya cepat keluar dari dalam lift.
Kristal melihat ke arah William dan istrinya yang berjalan terburu-buru. "Mereka berdua kenapa? seperti melihat hantu saja! apa mungkin wajah bagai Barbie ini sudah berubah menjadi wajah Mbak Kunti yang suka terbang dengan gaun putih dan rambut panjangnya?"
Kristal masuk ke dalam lift sambil memegangi wajahnya.
Zinnia dan William sudah berada di dalam ruangan William. Zinnia sudah menempel pada daun pintu ruangan suaminya.
Dokter tampan itu sudah mengunci pintunya agar tak ada yang menganggunya.
"Kau milikku, Sayang!" William meletakkan kedua telapak tangannya pada daun pintu tepat di samping kanan kiri kepala Zinnia.
Zinnia tersenyum membusungkan dadanya. "Aku memang milikmu, baik saat ini atau seterusnya," tutur Zinnia menatap bibir William yang tersenyum simpul padanya.
"Kita bisa lanjutkan adegan yang hampir tertunda tadi?" tanya William pada Zinnia.
Zinnia melingkarkan tangannya pada tubuh William. "Tentu saja!"
Zinnia mulai mengecup pipi suaminya.
Cup
William memejamkan matanya menikmati benda kenyal milik Zinnia. Perlahan manik mata William terbuka. "Apa kau ingin menggodaku terus menerus?"
William menarik pinggang Zinnia tanpa permisi. "Kita tak sedang ingin berolahraga, Sayang! aku hanya butuh ciumanmu saja."
"Dasar pria tak sabaran!"
Zinnia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri namun, saat bibir Zinnia sudah menyapu sedikit bibir William, suara ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok tok
Zinnia diam tepat di dekat bibir William namun, sebagian bibir itu sudah hampir menempel.
"Lanjutkan saja, Sayang! pasti itu orang tak penting," ujar William yang langsung diindahkan oleh Zinnia.
Saat bibir gadis itu sudah akan menyatu dengan benda kenyal kepunyaan suaminya, suara ketukan pintu ruangan William terdengar kembali.
Tok tok tok tok
Rahang William mengeras, mata terpejam marah, sedangku bibirnya sudah mengatup penuh emosi yang sedang di tahannya.
William mengecup kening Zinnia. "Kita lanjutkan sebentar lagi ya, Sayang! aku akan membuat orang yang sudah berani mengganggu kita membayar dengan rasa yang setimpal."
Zinnia mengangguk, kemudian memposisikan dirinya berada di belakang suaminya.
__ADS_1
Ceklek
William menarik napas panjang sebelum pria itu membuka daun pintu ruangannya lebar-lebar.
Saat pintu itu sudah terbuka lebar, William langsung berkata, "berani sekali kau ...."
Ucapan William terhenti karena melihat seorang wanita yang wajahnya sangat ia kenal, wajah yang beberapa hari kemarin membuat hari-harinya gelap gulita tanpa cahaya setitikpun.
William melihat sosok wanita dengan tubuh yang sama, tinggi yang sama, dan wajah yang sama sedang tersenyum manis padanya dengan balutan dress hitam yang seksi.
William diam mematung bukan karena terpana, melainkan karena ia memastikan jika wanita di hadapannya itu bukan wanita itu.
Zinnia yang merasa aneh dengan sikap suaminya, akhirnya memutuskan untuk melihat siapa yang datang ke ruangan William.
Saat Zinnia keluar dari belakang tubuh William. Mata Zinnia terbelalak melihat siapa yang datang.
Tubuh Zinnia bergetar. Rasanya ia sudah tak kuat berdiri saat melihat sosok wanita yang sangat suaminya cintai.
"Apa ini akhir dari pernikahan kami? apa ini semua memang sudah takdirku untuk jatuh ke jurang yang tiada ujungnya?"
Zinnia yang hampir saja terhuyung ke belakang segera memegang lengan suaminya. Seketika itu juga William tersadar dari lamunannya.
Pria itu merangkul tubuh Zinnia. "Kau tak apa-apa, Sayang?" tanya William pada istrinya.
Gadis itu menatap ke arah William dengan tatapan syarat akan penjelasan.
"Aku akan menjelaskan semuanya," ujar William yang tahu maksud tatapan Zinnia.
Wanita yang sedari tadi memperhatikan William dan istrinya hanya tersenyum simpul.
"Hah, perempuan seperti ini yang kau nikahi, Kak William! apa kau tak salah memilih wanita dengan mental tempe seperti dia? belum apa-apa sudah hampir jatuh!"
Perempuan itu mulai melihat Zinnia dari atas sampai bawah.
"Memang sih dia cantik, tapi kau akan menjadi milikku! cara apapun akan aku lakukan, asalkan kau bisa menjadi milikku untuk selamanya, wanita ini adalah wanita terakhir yang bisa dekat denganmu sebelum kita menikah dan aku akan melakukan apapun demi memiliki dirimu."
Senyum wanita itu semakin terpancar saat ia membayangkan menikah dengan William.
"Aku akan menyingkirkan dia, sama seperti aku menyingkirkan wanita yang kau cintai sebelumnya, Dokter William!"
Zinnia masih melihat ke arah wanita itu tanpa berkedip.
"Marion!" Zinnia menyebut nama mantan calon istri suaminya.
Rangkulan pada tubuh Zinnia semakin erat oleh William.
"Bukan," sambung William sambil menatap wajah Zinnia.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰