
Sandra masih terbelalak mendengar pernyataan Marquez. Sandra masih mencoba mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut desainer tampan tersebut.
"Apa pria ini ingin menjadikan aku sebuah tempat untuk berlindung dari kejaran pertanyaan para media? tapi kenapa harus aku? artis lain masih banyak kan?"
"Apa anda sudah tahu jika Tuan Copaldi menyukai anda?" tanya reporter wanita.
Sandra masih belum menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya. Asisten pribadi Zinnia itu melihat ke arah Marquez.
Marquez mengerti akan tatapan mata Sandra. Tangan Marquez yang masih menggenggam tangan Sandra, kini tangan itu semakin erat menggenggam tangan asisten cantik Zinnia.
"Apa maksud dari mengeratkan genggamannya? apa dia memintaku untuk mengikuti kebohongan yang di buatnya?"
Sandra tersenyum ke arah kamera. "Kami berdua sudah berpacaran tanpa sepengetahuan, Nona Zinnia!"
Zinnia dan William muncul dari balik kerumunan para media yang hadir.
Tubuh Sandra menegang bukan main. Perempuan dengan setelan baju kerjanya itu menundukkan kepalanya pada Zinnia.
William dan Zinnia melihat ke arah Sandra dan Marquez secara bergantian.
"Kami akan menunggu kalian berdua di butik," tutur Zinnia melangkah melewati Marquez dan Sandra dan diikuti oleh William di belakangnya.
Sebelum Dokter tampan itu benar-benar melewati Marquez, William berhenti sejenak menepuk pundak Marquez. "Kau harus siapkan dirimu untuk menghadapi segudang pertanyaan dari, Istriku!" William melanjutkan langkahnya mengejar Zinnia.
"Kami masih ada pertemuan yang sangat penting," tutur Marquez menarik tangan Sandra.
Asisten cantik itu hanya diam tanpa berontak karena ia ingin keluar dari keadaan yang sangat membuatnya tegang setiap saat.
"Jika Zinnia bertanya apakah hubungan kita ini serius atau tidak, kau bilang saja serius dan kita sudah berpacaran satu Minggu," tutur Marquez pada Sandra sembari terus menggenggam tangan asisten dari Zinnia.
"Kenapa anda harus memilih saya sebagai tembok pelindung anda, Tuan Copaldi?" tanya Sandra menghentikan langkahnya dan langkah Marquez juga ikut terhenti.
Pria tampan itu menoleh ke arah Sandra. "Karena hanya kau wanita yang ada di sana yang aku pikir pantas melakukan kerjasama ini," jelas Marquez pada Sandra.
"Tapi saya tak ingin terlihat berhubungan atau memiliki skandal dengan artis manapun," tolak Sandra halus.
"Apa kau juga ingin Zinnia terus dikejar-kejar oleh para wartawan itu?" tanya balik Marquez pada Sandra dan wanita itu hanya diam tak menjawab pertanyaan Marquez.
"Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai seorang asisten yang baik, jangan sampai karier Zinnia hancur hanya karena perasaan masalaluku," tutur Marquez pada Sandra.
"Halah, bukan masalalu, tapi saat ini kau masih mencintai Nona Zinnia kan?"
"Bukan saya yang membuat karier Nona Zinnia di ambang kehancuran, tapi karena perasaan anda yang membuatnya dalam situasi seperti ini," ucap Sandra.
Marquez menatap wanita dengan wajah datar dan nada bicara kaku itu dengan tatapan intens. "Apa kau selalu mengungkapkan hal yang ingin kau ucapkan pada siapapun?" tanya Marquez.
"Ya!"
Marquez yang masih menggenggam tangan Sandra melepaskan tangan asisten cantik itu. "Jika kau tak mau membantuku, anggap saja kau bekerja padaku! aku akan menggajimu dua kali lipat dari gaji yang Zinnia berikan padamu," bujuk Marquez membuat Sandra berpikir.
"Gaji yang ditawarkan oleh Tuan Copaldi sangat besar dan itu bisa membantuku untuk membiayai sekolah, Nisa dan Amanda!"
"Baiklah! saya setuju! saya menerima tawaran anda bukan karena saya mata duitan atau tak ingin membantu, Nona Zinnia! saya memang sedang butuh uang itu," jelas Sandra pada Marquez.
Pria itu hanya mengangguk tanda mengerti. Marquez melanjutkan langkahnya menuju arah mobil.
"Semua wanita sama saja! yang ada di pikiran mereka hanya uang dan uang."
Saat sudah berada di tempat parkir, Sandra diam tepat di antara mobilnya dan mobil Marquez.
"Kau ikut denganku, biar mobilmu asistenku yang mengurusnya," tutur Marquez menarik tangan Sandra masuk ke dalam mobilnya. "Anda tak perlu menarik tangan saya karena saya bisa masuk sendiri."
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan panggil, anda atau saya! panggil namaku, Sayang!"
Marquez yang masih berdiri di samping pintu mobil tempat Sandra duduk segera bergegas masuk dan duduk di kursi kemudi.
Mata Sandra terbelalak mendengar ucapan Marquez. "Ini hanya pura-pura, Tuan Copaldi! kenapa harus ada panggilan sayang seperti itu?" tanya Sandra yang merasa tak bisa melakukan hal itu.
Marquez mulai melajukan mobilnya. "Aku ingin berakting penuh totalitas dan lagipula kau aku gaji kan? aku tak ingin membuang uang begitu saja jika hasilnya mengecewakan," sahut Marquez dengan nada santai bagai di pantai.
Sandra masih menatap ke arah Marquez. "Apa anda bercanda?" tanya Sandra lagi.
"Apa wajahku terlihat seperti orang tengah bercanda? aku serius."
"Model pria seperti ini bagaimana aku harus menanganinya? dia sangat berkuasa dengan uangnya dan aku sangat butuh uang itu untuk biaya sekolah mereka berdua."
"Baiklah! tapi panggilan sayang itu hanya berlaku di depan Nona Zinnia dan orang penting lainnya."
"Tidak mau! enak saja! dimana kita bertemu dan bersama dalam keadaan apapun kau harus memanggilku Sayang dan aku juga akan melakukan hal itu, apa kau tak tahu para paparazi yang suka menguntit akan selalu berkeliaran di sekitar kita selama 24 jam, jika mereka tahu kita hanya berpura-pura pacaran, apa kau akan bertanggung jawab dengan semua kekacauan yang akan terjadi?"
Sandra menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia sungguh tak ada pilihan lain selain melakukan semua yang diperintahkan oleh Marquez.
"Terserah kau saja!" Sandra sudah pasrah dengan jalan hidupnya untuk beberapa waktu ke depan.
Marquez tersenyum menang karena bia bisa membuat Sandra mau mengikuti sandiwaranya.
"Kau pikir gampang berurusan denganku? tak semudah itu, Nona asisten!"
"Apa anda ... apa kau tak ingin mencari perempuan yang akan menggantikan aku kelak? maksudku perempuan yang benar-benar kau cintai."
"Tentu saja aku akan mencarinya, jika aku sudah menemukan perempuan yang cocok, kerjasama kita selesai," ujar Marquez masih terus menatap lurus ke arah depan.
Sandra mengelus dadanya. Akhirnya suatu saat nanti ia bisa bebas dari jeratan si pria perhitungan ini.
Beberapa menit berada dalam satu mobil yang sama, akhirnya Marquez dan Sandra sampai di butik Zinnia.
Saat keduanya sudah turun dari mobil dan hendak berjalan masuk ke dalam, Marquez tiba-tiba menggenggam tangan Sandra. "Kita harus terlihat mesra," tutur desainer tampan asal Amerika tersebut.
"Apa perlu kita melakukan hal ini? ini sudah malam!"
"Paparazi berada dimana-mana, dan kita berdua harus berakting dengan totalitas yang bagus, Sayang!"
Deg deg deg
Jantung Sandra berdebar kencang. Wanita itu tak tahu kenapa tiba-tiba dadanya seperti sebuah genderang yang siap perang.
"Apa yang dia katakan sih? dan dada ini juga kenapa harus berdebar menggila seperti ini?"
Sandra tersenyum manis pada Marquez. "Baiklah jika itu yang kau mau, Sayang!"
Marquez tersenyum bahagia mendengar panggilan sayang dari Sandra. "Nah, begitu baru enak di dengar," puji Marquez mulai melangkahkan kakinya bersamaan dengan Sandra.
"Apa kau tahu jalan masuk butik ini?" tanya Marquez pada Sandra. "Ya, karena aku asisten Nona Zinnia mulai dari awal dia meniti kariernya sampai saat ini," jelas Sandra pada Marquez.
Saat berada di depan pintu menuju halaman belakang, Sandra membunyikan bel-nya.
Ting tong
Zinnia yang sudah berada di halaman belakang langsung bergegas membukakan pintu belakang butiknya.
Saat pintu itu sudah terbuka lebar, mata Zinnia terfokus pada tangan Sandra dan Marquez yang saling berpegangan.
"Kalian sungguh pacaran?" tanya Zinnia yang langsung menanyakan kebenaran berita itu tanpa mempersilahkan mereka berdua masuk dan masih tetap berada di depan pintu belakang butiknya.
__ADS_1
Marquez tersenyum pada Zinnia, kemudian beralih menatap ke arah Sandra. "Kami berdua memang sudah resmi pacaran, iya kan, Sayang?" tanya Marquez pada Sandra dan panggilan sayang dari desainer tampan itu membuat Zinnia terkejut.
"Iya, Nona! kami sudah resmi berpacaran," jelas Sandra pada Bosnya.
"Kalian masuk dulu!" Zinnia mempersilahkan mereka masuk ke dalam dan keduanya mengikuti perkataan Zinnia.
"Aku masih belum yakin dengan hubungan mereka, aku akan mengetes mereka berdua dengan caraku sendiri."
Senyum jahil terpancar dari bibir Zinnia.
Istri William itu ikut masuk ke dalam. Di dalam sana ternyata sudah ada William yang duduk beralaskan karpet dengan empat buah kaleng soda.
Sandra dan Marquez duduk berdempetan, sementara Zinnia dan William saling pandang bingung dengan kecanggungan itu.
"Jadi mulai kapan kalian berpacaran?" tanya Zinnia pada kedua pasangan kilat itu.
"Baru satu Minggu," sahut Marquez sembari membukakan minuman kaleng milik Sandra. "Kau minum dulu, Sayang!"
Marquez memberikan minuman itu pada Sandra. Dan senyum kikuk asisten Zinnia langsung terpancar.
"Kenapa orang ini berlebihan sekali melakukan akting! aku benci akting yang terlalu over."
William dan Zinnia saling bertukar tatapan. Senyum merekah juga ikut mengembangkan sempurna. "Jadi kapan kalian berdua akan menikah?" tanya William pada Marquez dan Sandra.
Pertanyaan suami bosnya itu sukses membuat Sandra tersedak saat ia meminum sodanya.
Uhuk uhuk uhuk uhuk
Marquez terkejut segera mengusap lembut punggung Sandra. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Marquez cemas pada Sandra.
"Aku baik-baik saja, Tu ... aku baik-baik saja, Sayang!"
"Aduh, hampir saja keceplosan memanggilnya dengan sebutan, Tuan!"
"Kenapa kau sampai tersedak seperti itu, San? apa kau terkejut dengan pertanyaan, Suamiku?" tanya Zinnia pada Asistennya.
Sandra menegakkan kembali tubuhnya yang sedikit menunduk karena terbatuk-batuk.
"Jelas saya terkejut, Nona! karena kami masih ingin menikmati masa berpacaran lebih dulu," jelas Sandra pada Bosnya.
"Tapi lebih seru pacaran setelah menikah seperti kita ini, iya kan, Sayang?" tanya Zinnia pada suaminya.
"Betul sekali! romantis tidak habis-habis, apalagi kalau sudah waktu malam tiba, tidak mau berhen ...."
PLAK
Zinnia memukul lengan suaminya cukup keras. "Apa yang kau katakan pada mereka berdua? mereka ini masih bau kencur tak tahu hal berbau seperti yang mau katakan tadi," cecar Zinnia pada suaminya.
"Maaf, Sayang! aku hanya ingin mengu ...."
"Diam!" Zinnia memotong perkataan suaminya yang secara tak langsung akan membocorkan rencananya untuk menguji Sandra dan Marquez.
Sandra meneguk ludahnya karena ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh Dokter tampan itu.
"Astaga! obrolan macam apa ini? aku masih murni tak tersentuh hal-hal seperti itu."
"Biarkan waktu berjalan semestinya, jika kita berjodoh, Tuhan akan mempersatukan kita namun, jika kita tak berjodoh, semoga pasangan hidup kita kelak akan lebih menyayangi kita," tutur Marquez mengusap rambut Sandra.
"Ini apa lagi? kenapa dia melakukan hal-hal manis seperti ini sih? aku juga perempuan yang pasti akan meleleh jika terus diberlakukan seperti ini."
William dan Zinnia tersenyum simpul sambil diam-diam saling mengedipkan mata untuk melancarkan rencana mereka selanjutnya dalam proses pengetesan pasangan baru di hadapannya.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA