Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 178 ( Season 2 )


__ADS_3

Mobil William langsung menuju ke arah butik Zinnia setelah gadis itu mengirimkan lokasi butiknya.


Wajah William sungguh terlihat tak sabar ingin segera bertemu dengan Zinnia.


Pria itu terus melihat ke arah jam tangannya. "Kenapa mobil ini lambat sekali sih!"


"Pak! kenapa mobil ini jalannya seperti siput! apa belum di servis agar lajunya lebih cepat lagi," tutur William pada supirnya.


"Maaf, Tuan! tapi mobil ini sudah cepat dan di daerah sini rawan macet jadi saya tidak berani jika harus menambah kecepatan lagi."


William merengut kesal karena perjalanan menuju ke arah butik Zinnia akan memakan waktu lebih lama lagi.


"Sepertinya aku harus membeli helikopter! lebih cepat melewati jalur udara daripada jalur darat," gumam William yang mendapat senyuman dari supirnya. "Sepertinya, Tuan muda sangat merindukan, Nyonya! dia sampai kebingungan seperti itu seperti orang tak pernah bertemu setahun saja! padahal hanya berpisah tadi pagi."


William terus menatap ke arah depan yang di penuhi oleh kendaraan lainnya.


Perlahan tapi pasti kendaraan William mulai bergerak sedikit demi sedikit dan mulai melaju dengan kecepatan normal karena mobil yang dinaikinya sudah tak terjebak macet lagi.


William melihat ada orang yang menjual lalapan di pinggir jalan. Gambar pada Baner-nya sungguh menggoda.


"Pak! berhenti! kita pesan makanan dulu."


William memberikan uang tiga lembar berwarna merah pada supirnya untuk membeli lalapan.


"Mau beli berapa, Tuan?" tanya supirnya yang berusia sekitar 40 tahunan.


"Berapa jumlah karyawan yang ada di butik, Zinnia? ah, terserah lah!"


"Beli 6 porsi, semuanya di bungkus!"


Supir itu langsung keluar dari mobil yang ia kemudikan.


William harus menunggu beberapa menit lagi. "Astaga! kenapa lama sekali! apa penjual itu menggoreng dengan api kecil?"


William menggerutu karena waktu menuju ke butik Zinnia kembali tersendat kembali.


"Sabar, Will! sebentar lagi juga akan sampai," gumamnya.


Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, supir William kembali membawa enam bungkus lalapan bebek.


Supir William memberikan kembalian dari uang yang di berikan oleh William untuk membeli lalapan.


"Ambil saja kembaliannya, Pak!"


"Tapi, Tuan! ...."


"Tidak apa-apa, Pak!"


"Terimakasih, Tuan!"


Supir itu memakai kembali seat belt-nya, kemudian melajukan mobilnya menuju arah butik Zinnia.


William sudah berada di depan butik Zinnia. Butik yang sangat besar dengan desain cantik sama seperti orangnya dengan bernuansa pink putih.


William keluar dari dalam mobil menuju ke arah pintu masuk butik istrinya dengan sekantung kresek yang berisi 6 lalapan untuk istri dan para karyawannya.

__ADS_1


William membuka pintu masuk butik itu. Semua karyawan dan para pelanggan yang datang melihat ke arah pintu karena pintu akan berbunyi jika ada orang yang masuk ke dalam butik tersebut.


Tatapan mata para karyawan dan pelanggan tertuju pada pria berbadan tegap, tinggi, putih, dan tampan yang masuk ke dalam butik.


Zinnia yang baru keluar dari kamar yang berada di butiknya terkejut kala ia melihat William sudah berada di butiknya dan menjadi objek sorotan dari para mata wanita yang ada di tempat itu.


"Wi ... Sayang! kau sudah datang?"


Zinnia berjalan mendekati William yang masih diam tanpa ingin bergerak karena para wanita yang ada di butik istrinya menatapnya dengan tatapan memuja.


Semua orang yang berada di dalam butik itu terkejut karena Zinnia memanggil pria tampan itu dengan sebutan sayang.


Memang karyawan butiknya tak ada yang diundang oleh Zinnia karena pernikahannya juga terbilang dadakan dan pernikahan mereka berdua juga tak di tayangkan di televisi jadi tak heran jika orang yang ada di dalam butik itu tak ada yang tahu bahwa pria tampan itu adalah suami si pemilik butik.


Zinnia mendekati suaminya yang membawa sekantung kresek dengan wangi cukup familiar bagi gadis itu.


"Kau membawa makanan?" tanya Zinnia pada William.


Pria itu mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya.


Zinnia tersenyum pada William. "Kebetulan sekali! kita masih belum makan malam," tutur Zinnia yang langsung menarik tangan suaminya ke arah taman belakang butik itu.


"Jangan lupa kalian tutup butiknya terlebih dulu dan susul aku ke taman belakang," teriak Zinnia yang sudah hilang di balik pintu penghubung ke taman belakang.


Zinnia menggelar karpet di atas rumput gajah dan beratapkan langit malam yang dihiasi bintang-bintang.


Zinnia sudah duduk di atas karpet tersebut dan ia melihat ke arah suaminya sambil menepuk-nepuk karpet di sampingnya agar pria itu duduk.


William masih diam tanpa ingin bergerak. Pria itu melihat Zinnia yang memintanya agar segera duduk.


William akhirnya duduk tepat di samping istrinya. Pria itu meletakkan satu kantung kresek berisi lalapan dan beserta nasinya di atas karpet.


Zinnia meletakkan semua bungkusan itu dengan posisi melingkar.


Saat semua sudah tertata, William tak mendapatkan bagian.


"Kau beli berapa bungkus?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Enam."


Para karyawan butik Zinnia datang berbondong-bondong.


Mereka berlima masih ragu untuk duduk satu karpet dengan Bosnya.


"Kenapa kalian hanya berdiri saja? ayo duduk! kita makan bersama," pinta Zinnia dan mereka berlima mulai mengambil posisi masing-masing.


"Kenapa suami Ibu tidak ada bagiannya?" tanya salah satu karyawan Zinnia.


Zinnia tersenyum mendengar pertanyaan pegawainya. "Apa kalian tidak tahu, jika kami menikah masih belum genap satu Minggu dan kami juga masih dalam suasana honey moon! iya kan, Sayang?" tanya Zinnia pada suaminya.


Pria itu tersenyum ke arah Zinnia dan para pegawai butik istrinya sambil mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya.


"Ibu Zinnia dan suami romantis sekali ya! saya juga jadi ingin segera menikah," celetuk salah satu karyawan Zinnia.


Semua karyawan ikut tersenyum mendengar ucapan rekan mereka.

__ADS_1


Zinnia dan William saling tatap dan keduanya hanya bisa tersenyum kikuk.


"Kita makan dulu nanti baru berbincang lagi," tutur Zinnia yang mulai membuka bungkusan lalapan bebek tersebut.


Semua karyawan juga mengikuti apa yang yang dilakukan Zinnia.


"Sambalnya sedikit atau banyak?" tanya Zinnia yang mulai mengambil lauk pauknya menggunakan tangan.


"Kau bertanya padaku?" tanya William pada istrinya.


"Tentu saja! kau kan suamiku!"


"Sedikit saja," sahut William.


Tangan Zinnia sudah menyuapi suaminya dengan lauk dan nasi.


"Aaaaaaak! buka mulutmu dulu," pinta Zinnia dan diikuti oleh William.


Pria itu membuka mulutnya dan Zinnia menyuapi suaminya.


Semua karyawan butik tersenyum-senyum sendiri melihat kemesraan dua Bosnya.


Zinnia terus menyuapi suaminya. Ia sampai tak sadar jika dirinya belum makan sesuap makanan itu.


Saat hendak menyuapi William lagi, pria itu menghentikan tangan istrinya. "Sekarang kau yang harus makan, Sayang! jangan hanya aku saja," pinta William mengarahkan tangan istrinya pada mulut gadis itu sendiri.


Zinnia tersenyum dan memakan makanan itu.


"Tolong ambilkan air mineral yang ada di dalam," pinta Zinnia pada karyawannya dan mereka semua langsung masuk ke dalam secara bersamaan.


Zinnia heran, kenapa mereka berlima kompak sekali masuk ke dalam bersamaan.


"Kenapa kalian pergi semua?" tanya Zinnia.


"Kami sudah selesai, Ibu Zinnia!" salah satu karyawan itu menjawab mewakili kelimanya.


Zinny mengangguk. "Jangan lupa ambilkan aku air," pinta Zinnia sebelum mereka berlima masuk ke dalam.


"Baik!"


Zinnia melanjutkan menyuapi suaminya. Pria itu tanpa ragu melahap makanan dari tangan istrinya secara langsung.


Setelah itu baru Zinnia yang berganti memakan makanannya.


Kini tinggal suapan terakhir untuk William. Saat tangan Zinnia sudah hendak lepas dari bibir suaminya, tiba-tiba pria itu menahan pergelangan tangannya.


"Kenapa?" tanya Zinnia kebingungan.


"Masih ada sambal di jari telunjukmu," sahut William yang langsung memasukkan jari telunjuk Zinnia ke dalam mulutnya sampai jari gadis itu bersih tanpa ada sambal yang tersisa.


Zinnia merasa geli karena William sengaja menggigit kecil jari telunjuknya.


Gadis itu langsung berjalan masuk ke dalam karena wajahnya sudah memerah akibat ulah William.


Pria itu tersenyum karena ia lagi-lagi berhasil membuat istrinya malu.

__ADS_1


__ADS_2