Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 280 ( Season 2 )


__ADS_3

Mereka berlima sudah berada di dalam mobil Alphard milik Marquez yang mulai bergerak melintasi jalanan.


Wajah Marquez dan yang lain sudah cemas. Mereka Sudah berpikir negatif tentang keadaan Niken.


Mobil yang mereka naiki sudah melewati lampu merah pertama dan tinggal satu lampu merah lagi untuk sampai ke rumah Niken.


Marquez menggenggam cincin dari tanaman merambat yang sudah mengering itu.


"Wanita yang aku cintai dan wanita yang berstatus menjadi istriku boleh, Sandra! tapi pengantin kecilku tetap dirimu baik hari ini dan selamanya."


Setelah beberapa menit mobil Alphard itu melintas jalanan beraspal, akhirnya rombongan Marquez sampai di halaman rumah Niken.


Marquez segera turun dan menghampiri satpam yang berjaga. "Niken ada di dalam?" tanya Marquez.


"Ada, Tuan! setelah acara pernikahannya selesai Nona tak keluar dari rumah sama sekali, hanya Tuan besar saja yang keluar, kenapa Tuan dan Nona tak datang bersama?" tanya satpam itu yang tak tahu jika Niken batal menikah dengan Marquez.


Wajah Marquez terlihat merasa tak enak hati karena Niken tak memberitahu orang-orang di rumahnya jika pernikahannya tak berlangsung dengan semestinya.


"Saya ada urusan mendadak tadi, Pak!" Marquez mengelak dari satpam tersebut.


Marquez segera berjalan ke arah pintu masuk rumah Niken dan kepala pelayan rumah mewah itu menyambutnya beserta yang lain.


"Niken ada dimana?" tanya Marquez pada kepala pelayan rumah itu.


"Nona ada di atas, Tuan!"


"Boleh aku menghampirinya?" tanya Marquez dengan raut wajah memohon.


"Silahkan, Tuan!"


Marquez dan yang laik ikut bergerak menuju lantai atas.


Zinnia dan William berada di barisan paling belakang karena pasangan suami istri itu tak ingin anak mereka kenapa-napa jika sesuatu hal yang tak diinginkan sampai terjadi.


Marquez dan Sandra berada di barisan paling depan berlari kecil agar keduanya segera sampai ke lantai atas dimana kamar Niken berada.


Marquez berhenti di sebuah pintu kamar bernuansa putih dengan tulisan welcome tergantung di daun pintu kamar tersebut.


Marquez mengetuk pintu tersebut dengan tangan Sandra yang menggenggam tangan suaminya memberikan kekuatan dan Marquez membalas genggaman tangan sang istri.


Masih belum ada sautan atau tanda-tanda pintu akan di buka. Akhirnya Marquez berinisiatif untuk membuka pintu tersebut.


Tangan Marquez bergerak menyentuh gagang pintu kamar Niken.


Ceklek


Suara pintu itu terbuka dan Marquez mendorong daun pintu tersebut selebar mungkin agar Marquez dapat mencari ke keberadaan Niken lebih leluasa.


Saat pintu itu terbuka lebar, tampilan pertama yang dilihat oleh Marquez dan Sandra adalah, Niken tengah berjongkok memunguti tisu yang berserakan di lantai kamarnya.

__ADS_1


Mata Marquez terfokus pada warna merah yang menempel pada tisu-tisu itu.


Sandra tercengang melihat tisu dengan darah yang menempel di setiap lembarnya.


Marquez segera menghampiri Niken. Wanita itu yang awalnya menatap ke arah Marquez segera mengambil dengan cepat semua tisu yang berada di lantai kamarnya dan memasukkan ke dalam kantong plastik besar yang ada di tangannya.


Kini Marquez juga ikut berjongkok mensejajarkan diri di samping Niken. Sandra juga ikut berjongkok tepat di hadapan Niken.


Istri Marquez itu bisa melihat tetesan darah yang mengalir dari hidung Niken.


Air mata Sandra sudah tak dapat ia bendung lagi. Sandra memeluk Niken.


"Maafkan aku! seharusnya bukan aku yang menjadi istri, Marquez!"


Niken masih diam tak mengatakan apapun karena ia masih ingin mendengarkan lebih lanjut ungkapan hati Sandra.


Marquez melihat wajah Niken dari samping yang tengah di peluk oleh istrinya.


Marquez melihat secara langsung darah segar kembali menetes dari hidung sahabatnya.


Hati desainer tampan itu terasa teriris oleh sebilah pisau yang tak terlihat.


"Jika aku tahu kau begitu menderita, seharusnya aku membahagiakanmu sebelum hari pernikahan itu terjadi."


"Aku rela jika kau menikah dengan, Marquez!" Sandra kembali berucap sembari terus memeluk tubuh Niken yang terasa tinggal tulang saja karena tubuh wanita itu sangat kurus jika di lihat dari jarak dekat.


Niken menyentuh punggung Sandra lembut. "Aku tak akan merampas hak yang bukan milikku! aku tak ingin membuat pria yang aku cintai merasa menderita hidup bersamaku! aku tak ingin melihatnya menjalani hari-hari yang membuatnya semakin membenciku, Sandra!" keadaan hening sejenak. "Dia sudah menjadi milikmu! dia sudah menjadi bagian dari hidupmu, jadi jagalah dia."


Niken tersenyum manis pada Sandra dan Marquez bisa melihat senyum tulus tanpa paksaan dari bibir Niken.


Tangan kurus Niken menyentuh pipi Sandra. "Cinta itu tak harus memiliki jika salah satu pihak tak merasa bahagia! aku sangat bahagia bila aku menikah dengan, Marquez! tapi hatinya tidak untukku, hatinya sudah terikat oleh cintamu." Niken kembali tersenyum. "Aku tak ingin memaksakan sesuatu yang pada akhirnya tak membuat orang lain bahagia, cukup aku saja yang merasakan sakit, biarkan mereka bahagia," jelas Niken lagi.


Air mata Zinnia yang menjadi penonton kala itu menetes sembari memeluk suaminya dari luar pintu kamar Niken.


Sandra menggenggam tangan Niken yang berada di pipinya. "Hatimu terbuat dari apa? kenapa kau bisa serela ini?" tanya Sandra pada Niken dengan air mata yang kembali menggenang.


Niken menoleh ke arah Marquez. Ia tersenyum manis pada pria itu. "Cintaku yang begitu besar yang membuatku menjadi wanita sekuat ini," sahut Niken diiringi oleh tetesan darah dari hidungnya.


Niken segera mengusap darah itu menggunakan lengan bajunya.


Air mata Sandra sudah tak dapat ia bendung lagi. Sandra menangis dalam diam tanpa suara.


"Kenapa cintamu harus lebih besar dari cintaku pada Marquez, Niken!"


Pandangan Niken semakin kabur. Ia melihat ke arah Marquez dan wajah pria yang ia cintai hanya samar-samar dapat ia lihat.


"Tuhan! aku masih ingin lebih lama melihat wajahnya, meskipun hanya 5 menit saja."


Kepala Niken terasa berputar sampai ia terduduk tak dapat menyeimbangkan tubuhnya.

__ADS_1


Dengan sigap Marquez menahan tubuh Niken agar tak tergeletak di lantai.


William segera berlari ke arah Niken untuk memeriksa kondisi wanita itu.


Karena tak ada alat apapun yang ia bawa. Akhirnya William hanya memeriksa denyut nadi Niken di tangannya.


William yang juga berjongkok melihat ke arah Marquez sembari menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu!" Marquez berteriak pada William.


"Denyut nadinya sudah melemah!"


"Jika denyut nadinya melemah apa kau akan diam saja seperti ini! apa gunanya kau sebagai Dokter hah! cepat tolong dia! lakukan sesuatu!" Marquez masih berteriak pada William.


Saat William hendak menelpon seseorang, Niken menghentikannya. "Tidak perlu! waktuku pasti sudah semakin dekat."


Niken yang berada dalam pelukan Marquez dalam posisi terkulai lemas menatap wajah pria yang ia cintai untuk yang terakhir kalinya. "Wajahmu sangat tampan, tapi aku sekarang tak bisa melihatnya dengan benar! semuanya sudah terlihat kabur," ujar Niken dengan suara lemahnya.


Marquez yang tidak bisa lagi tak meneteskan air matanya akhirnya meneteskan air mata itu dengan sendirinya. "Jangan katakan itu lagi! kau pasti bisa melewati ini semua," ujar Marquez memberikan dukungan pada Niken.


"Jangan membohongiku, aku ini bukan Niken yang bisa kau bujuk dengan kata-kata bualanmu itu." Niken tersenyum lemah pada Marquez.


Tangan wanita itu berusaha terulur menggapai wajah Marquez.


Niken meraba mata, hidung, dan bibir serta bagian wajah lainnya. "Semoga kelak anakmu tampan sepertimu," tutur Niken dengan air mata yang menetes mengenai jas Marquez.


Sandra sudah tak bisa lagi melihat perpisahan terakhir ini. Ia tak sanggup melihat sakitnya jika dirinya harus berada di posisi Niken.


"Aku mencintaimu! sangat mencintaimu, Marquez!"


Tangan Niken seketika terjatuh saat masih menempel pada pipi Marquez. "Niken! jangan begini! aku mohon kau pasti kuat! kita akan berkencan dan lakukan hal yang menyenangkan untukmu, aku mohon sembuhlah!"


Marquez melihat kedua mata Niken sudah mulai meredup. Ia teringat akan keinginan Niken untuk mendengar pertanyaan cinta dari mulutnya.


Marquez mengeratkan rangkulannya pada tubuh sahabatnya itu. "Aku mencintaimu! sangat mencintaimu, jadi aku mohon bangunlah," tutur Marquez menatap wajah Niken yang semakin pucat.


Senyum Niken terukir mendengar pernyataan dari mulut Marquez.


Desainer tampan itu meraih cincin dari tanaman merambat di dalam saku kemejanya. Ia menyematkan cincin itu pada jari kelingking Niken karena jari itu pasti akan muat. Cincin itu dibuat saat usia mereka masih kecil. "Kau akan selamanya menjadi pengantin kecilku dan akan selalu seperti itu," tutur Marquez dengan suara bergetar.


Niken kembali tersenyum sembari berkata, "Aku mencin ...."


Mata Niken tiba-tiba tertutup rapat dan tak ada lanjutan dari perkataannya lagi.


Marquez memeluk Niken erat. "Bangun! aku mohon! jangan begini! jangan!" Marquez berteriak dan William segera memeriksa nadi Niken.


"Dia sudah pergi membawa cintanya," tutur William menepuk pundak Marquez pelan.


Marquez menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan Sandra dan Zinnia yang ikut menangis karena kepergian Niken yang memberikan kebahagiaan bagi orang lain namun, wanita itu harus merasakan sakit hati dan sakit dari penyakit yang ia derita secara bersamaan.


Marquez mengecup kening Niken untuk yang terakhir kalinya. "Semoga kau di tempatkan di surga yang kuasa!"

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2