Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 64


__ADS_3

Arnon sedikit memundurkan wajahnya agar dapat melihat wajah Melati.


Wajah gadis itu masih terlihat cantik meski bekas air mata telah mengalir di pipi indahnya.


Arnon merapikan rambut halus yang berserakan menutupi sebagian wajah istrinya.


Melati hanya diam tak melihat ke arah Arnon namun tangannya tetap melingkar indah pada tubuh pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.


"Kenapa masih cemberut seperti itu?" tanya Arnon yang masih merapikan rambut halus Melati.


Melati masih tak melihat ke arah Arnon.Kedua matanya masih tetap menatap ke arah bawah,entah apa yang ia lihat.Yang jelas tak ada koin ataupun segepok uang yang jatuh sehingga perhatian gadis itu terus-menerus melihat ke bawah.


Arnon sebenarnya ingin sekali tertawa melihat tingkah istrinya jika sudah merajuk seperti ini.


Pria itu mengangkat dagu Melati agar pandangan gadis itu bisa tertuju padanya, namun Melati masih tetap dengan egonya.Ia bukannya melihat ke arah Arnon tapi memilih memejamkan kedua matanya rapat-rapat.


*"Kau ingin menguji kesabaranku rupanya." Dengan seringai penuh tipu muslihat.


Arnon tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya sekilas membuat mata gadis itu terbuka dengan sendirinya tanpa harus Arnon suruh.


Mata Melati menukik tajam menyorot kedua manik mata suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Melati dengan nada kesal.


"Menciummu! memang apa lagi yang aku lakukan," sahut Arnon di ikuti seutas senyumnya.


Kedua alis Melati mulai menyatu dengan kedua tangan yang sudah memukul dada bidang Arnon.


"Sudah aku bilang hentikan! jangan membuat perasaan ini semakin bertambah padamu, Arnon!" Melati berteriak tepat di wajah sang suami.


Bukannya marah dengan perlakuan Melati padanya,Arnon memilih diam mendengar semua ucapan yang Melati lontarkan dengan suara lantangnya.


"Kau jahat Arnon! kau tega padaku! kau sengaja membuat aku jatuh cinta padamu dan setelah itu kau akan mencampakkan aku sesuka hatimu,iya kan?" masih dengan suara lantangnya.


Arnon menahan kedua tangan Melati karena gadis itu sudah mulai mengeluarkan kristal bening dari pelupuk matanya.


Melati masih terus berontak ingin tetap memukul dada Arnon sampai emosi yang ia tahan sedari tadi terkuras habis.


"Lepaskan aku! aku benci padamu ... aku benci,hiks hiks hiks hiks." Tangis Melati kembali pecah untuk yang kedua kalinya.


Arnon lagi-lagi mendekap tubuh Melati untuk menenangkan gadis itu agar berhenti menangis.


"Kau jahat ... hiks hiks hiks hiks ... kau jahat." Melati terus memukul kecil dada bidang suaminya.


Arnon masih tetap mendekap Melati erat tanpa ingin melepaskan dekapan itu meskipun Melati tetap berontak dan memukuli dadanya.


Pergerakan Melati mulai melemah sampai gadis itu tak ada pergerakan lagi hanya ada suara isak tangis yang Arnon dengar.


Arnon menyentuh pipi Melati menggunakan kedua tangannya.


"Jangan menangis lagi dan aku ...."


Arnon masih berpikir,apakah ia harus mengatakan hal ini pada Melati atau tidak,tapi hati kecilnya memaksa untuk segera mencurahkan segala isi hatinya pada sang istri.


Arnon menatap mata Melati yang masih tak bersedia membalas tatapannya.

__ADS_1


Pria itu menyatukan hidungnya dengan hidung Melati.Kening keduanya juga saling menempel satu sama lain.


Melati masih tetap tak ingin melihat wajah Arnon.


"Aku tak akan meninggalkanmu ... tak akan pernah," ucap Arnon seraya memejamkan matanya dengan hembusan nafas yang masih teratur.


Melati spontan membuka kedua matanya. melihat mata Arnon yang tertutup rapat dengan hembusan nafas hangat menerpa sebagian wajahnya.


Gadis itu sengaja tak bersuara untuk mendengar lebih lanjut lagi apa yang akan di katakan oleh Arnon.


Kedua tangan Arnon perlahan turun melingkar di bahu Melati.


"Jangan acuhkan aku lagi,aku merasa bingung jika kau mendiamkan aku seperti ini," tutur Arnon masih dengan mata terpejam.


Sudut bibir Melati tertarik sempurna membentuk senyuman termanisnya.


"Aku tak ada niat mempermainkan perasaanmu,dan tolong jangan buat aku frustasi seperti sekarang,Melati! jangan diamkan aku seperti ini ... aku mohon."


Mata Arnon perlahan terbuka dan ia melihat senyum yang terukir indah di bibir istrinya.


Sontak Arnon secepat kilat menjauhkan wajahnya dari wajah gadis yang sedari tadi mendiamkannya tanpa ampun.


"Apa kau sudah memaafkan aku?" tanya Arnon memastikan.


"Tidak juga," sahut Melati sekenanya.


"Jadi? kenapa kau tersenyum seperti itu?"


"Wajahmu lucu sekali saat memohon maaf seperti tadi," ledek Melati dengan tawa kecilnya.


"Oh! jadi begitu ya? aku serius minta maaf,kau merespon dengan candaan rupanya hah?" seringai liciknya mulai timbul dari bibir Arnon.


"Ampun Arnon ... ampun!" teriak Melati sudah tak tahan dengan rasa geli yang menggerayangi tubuhnya.


"Tidak mau! kau harus di hukum karena telah membuatku terlihat seperti orang bodoh," cetus Arnon yang masih terus menggelitik istrinya.


Melati berbalik membelakangi Arnon hendak kabur namun pinggang gadis itu di tahan oleh tangan kekar suaminya.


"Mau kemana kau?" Arnon mendekap tubuh istrinya dengan posisi tubuh Melati bersandar pada dada bidang Arnon.


"Oke aku mengalah ... ampun ... ampun," ujar Melati dengan nafas yang masih naik turun tak beraturan.


Kepala Melati mendongak menempel pada ceruk leher Arnon untuk menghirup lebih banyak oksigen yang sudah menipis di rongga paru-parunya.


Nafas gadis itu masih terus naik turun.


Berbeda dengan Arnon yang menikmati wangi rambut istrinya yang sangat ia suka.


"Apa kau sudah memaafkan aku?" tanya Arnon lagi.


Melati membalikkan badannya menghadap ke arah Arnon.


Tak ada jawaban dari Melati yang ada hanya tatapan dalam pada kedua mata Arnon.


"Aku harap kau bisa menunggu kepastian dari perasaanku padamu." Membalas tatapan Melati dengan penuh harap.

__ADS_1


"Aku akan menunggu hari dimana kau bisa memastikan perasaan itu," jawab Melati.


Senyum Arnon kali ini benar-benar terukir indah.Pria itu memeluk Melati dengan raut wajah yang amat sangat bahagia.


"Terimakasih," ucap Arnon sambil mencium puncak kepala Melati berkali-kali.


"Hentikan Arnon! kita kemari untuk mengambil barang yang belum Papa bawa," celetuk Melati yang merasakan geli di bagian kepalanya karena ulah suaminya.


Pria itu melepaskan pelukannya dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Biar aku saja yang mengambil foto itu." Melati berjalan mendekati foto masa kecilnya.


Gadis itu menjinjitkan kakinya untuk menggapai potret bocah kecil sedang tersenyum dengan memamerkan dua gigi ompong yang terlihat sangat menggemaskan.


Perlahan tapi pasti Melati menggapai foto tersebut dan mendaratkan bokong indahnya di atas sofa empuk ruang tamu rumah itu.


Gadis itu tersenyum sendiri meraba permukaan potret dirinya.


Arnon mendekat dan duduk di sebelah Melati dengan wajah yang masih terfokus dengan gambar masa kecil sang istri.


"Apa benar gadis kecil ini dirimu?" tanya Arnon menatap lekat foto yang ada di tangan istrinya.


"Tentu saja ini aku,kau bandingkan saja jika tak percaya," pinta Melati pada Arnon.


Gadis itu manaikkan kakinya menghadap Arnon dengan kaki yang sudah terlipat di atas sofa.


Melati memberikan foto masa kecilnya pada Arnon agar pria itu dapat membandingkannya.


"Coba kau bandingkan sekarang." Melati sudah siap menghadap ke arah suaminya.


Pria itu tersenyum geli dengan tingkah konyol Melati yang selalu membuatnya tergelak.


Arnon merapatkan jarak dengan sang istri.


Pria itu mulai menyentuh tiap inci bagian wajah Melati dengan lembut mulai dari mata,hidung,pipi,dagu,dan terakhir terkunci pada bibir merah ceri Melati.


Arnon berkali-kali meraba benda kenyal itu yang membuat ibu jarinya merasakan sensasi berbeda hingga menjalar ke bagian tubuh yang lain.


"Apa aku boleh memastikan dengan cara lain?" tanya Arnon dan di angguki oleh Melati tanpa bertanya terlebih dulu dengan cara apa Arnon akan mengujinya.


Lampu hijau sudah terlihat di depan mata dan kini saatnya Arnon menekan pedal gasnya sekencang mungkin.


Pria itu menarik tengkuk Melati untuk menyatukan bibirnya dengan benda kenyal milik sang istri yang berwarna merah menggoda.


Melati tak membuka matanya,ia tetap memejamkan mata itu sampai Arnon mulai menggerakkan bagian atas dan bawah bibirnya untuk merasakan manis dan lembut benda kenyal milik Melati.


Gadis itu tak membalas ciuman suaminya,ia hanya menikmati semua sentuhan lembut Arnon.


Setelah cukup puas dengan bibir ranum Melati, Arnon melepaskan pangutannya.


Mata mereka berdua secara bersamaan terbuka.


"Kenapa kau tak menolak ciumanku?" tanya Arnon masih menelusuri tiap inci wajah Melati.


"Karena kau sudah tahu perasaanku padamu seperti apa,jadi untuk apa aku mendorongmu? lagi pula kita sudah sah di mata hukum dan agama kan?" tersenyum manis ke arah suaminya.

__ADS_1


"Jadi kau benar-benar jatuh ...."


"Ssstttt! tak perlu kau teruskan,aku hanya menunggu jawaban dari perasaanmu." Beranjak dari sofa melanjutkan mengambil beberapa foto lainnya yang masih menempel di dinding.


__ADS_2