Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 274 ( Season 2 )


__ADS_3

Niken dan Marquez masih diam di taman belakang. Tatapan mereka berdua masih mengarah pada bunga yang sudah mulai mekar.


Niken kembali menatap wajah pria di sampingnya. Tanpa ia sadari, sebulir air mata jatuh dari matanya. Dengan gerakan cepat wanita itu mengusap buliran benda bening tersebut.


"Kita masuk ke dalam saja!" Niken mulai menggerakkan kursi rodanya berjalan ke arah pintu masuk rumahnya.


"Biar aku bantu," ujar Marquez hendak membantu mendorong kursi roda Niken namun, wanita itu menepisnya. "Tidak perlu! aku tidak serapuh yang kau bayangkan, Marq!" Niken tersenyum pada Marquez dan memutar kursi rodanya menghadap ke arah pintu masuk.


Air mata Niken kembali jatuh. Ia tak ingin mendapatkan belas kasihan dari Marquez lagi.


Setelah kursi roda itu berada di ambang pintu, Niken segera menghapus bekas air matanya.


Marquez mengikuti arah kursi roda yang bergerak masuk ke dalam. Kursi roda itu tak menuju arah ruang tamu, tapi kursi itu menuju arah sebuah ruangan lainnya.


Marquez masih terus mengikuti kemana arah kursi roda Niken bergerak dan kursi roda itu kini sudah berada di sebuah ruangan dengan sebuah gaun pengantin rancangan Niken sendiri.


Marquez dan Niken satu jurusan saat mereka masih berkuliah sampai pada akhirnya Niken mengidap penyakit mematikan itu membuat ia patah semangat untuk terus melanjutkan cita-citanya menjadi seorang desainer seperti Marquez.


Marquez terlihat takjub dengan gaun pengantin yang ada di depannya. "Gaun ini indah sekali! apa kau yang membuatnya?" tanya Marquez mendekati gaun pengantin berwarna putih bersih itu.


"Tentu saja! aku pikir jika aku lebih berbakat daripada dirimu," ledek Niken pada Marquez dan senyum Marquez terukir kala ia mendengar celotehan receh sahabatnya itu.


Niken begitu senang melihat senyum Marquez yang akhirnya terpancar bagai sinar untuknya.


"Kau lebih senang aku menjadi seperti ini rupanya."


"Apa kau ingat saat kau waktu itu lupa mengerjakan desain dan aku yang membuatnya untukmu," cicit Niken masih menatap ke arah Marquez.


Desainer tampan itu tersenyum ke arah Niken. "Aku ingat! dan aku bisa menyimpulkan, jika kau memang seorang desainer berbakat melebihi diriku," timpal Marquez yang mulai mencairkan suasana.


Niken mengangkat tangannya mengarahkan jari kelingkingnya pada Marquez sama seperti saat mereka duduk di bangku sekolah dasar dulu. "Teman!" Niken ingin memperbaiki hubungannya dengan Marquez sebelum ia benar-benar pergi.


Marquez masih diam dengan tingkah Niken yang tiba-tiba seperti saat ini.


Niken menyipitkan matanya dengan wajahnya yang sudah memucat. "Menjadi suamiku kau tidak mau! menjadi sahabatku juga kau tidak mau! jadi ...."


"Teman!" Marquez mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Niken.


Senyum keduanya terukir indah. Marquez lega karena Niken kembali menganggapnya sebagai teman, berbeda dengan wanita yang kini menebar senyum palsunya dengan hati yang sedang menahan sakit.


"Aku tak ingin memberikan kenangan buruk padamu, Marq! aku ingin memberikan kenangan manis padamu."


Kini waktunya Marquez dan keluarganya kembali. Marquez mendorong kursi roda Niken ke arah ruang tamu. Meskipun pada awalnya wanita itu menolak berkali-kali.


Di ruangan itu semua keluarga sudah berkumpul. "Kalian akan menikah dua hari lagi dan semua persiapan sudah kami diskusikan," tutur ayah Niken pada putrinya dan calon menantunya.


Niken tersenyum manis, sedangkan Marquez hanya memasang wajah datarnya.


Kedua orangtua mereka saling berpamitan. "Kami pulang dulu," pamit Evelyn pada ibu Niken.


"Iya! coba saja rumah kita masih bersebelahan, pasti kalian tak perlu naik mobil kemari," ujar ibu Niken pada Evelyn.


Perkataan ibu Niken ditanggapi dengan senyuman oleh kedua orangtua Marquez.

__ADS_1


Rumah Niken yang berada di samping rumah Marquez sudah di tempati oleh paman Niken sejak neneknya meninggal dan Niken pindah ke rumah yang saat ini ia tinggali. Jadi jarak rumah mereka bisa di tempuh menggunakan mobil dengan waktu 20 menit saja.


Marquez berjalan menuju ke arah orangtuanya namun, sebelum ia benar-benar pergi, Marquez masih menoleh ke arah Niken. "Jangan lupa minum obatmu," pesan Marquez pada sahabatnya dan Niken mengacungkan jempolnya mengiyakan pesan dari pria yang pasti akan sangat ia rindukan.


Kini Niken hanya bisa melihat punggung Marquez yang mulai bergerak menjauh dari hadapannya.


Niken tersenyum manis kala ia bisa merasakan perhatian Marquez meskipun hanya secuil saja.


"Jika dengan menjadi teman kau akan kembali perhatian padaku, aku bersedia asal kau jangan bersikap dingin lagi padaku! dan nantikan kejutan yang akan aku berikan padamu."


Niken menggerakkan kembali kursi rodanya ke arah kamarnya yang memang berada di lantai dasar agar ia lebih mudah melakukan sesuatu hal yang diinginkannya.


Kini Niken berjalan ke arah nakasnya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo!"


"Aku, Niken! boleh aku meminta tolong padamu?" tanya Niken dengan wajah penuh harap.


Orang yang berada di balik ponselnya masih diam tak merespon. Sampai beberapa detik kemudian, akhirnya suaranya mulai terdengar.


"Minta tolong apa?"


"Kau harus membawa wanita itu ke acara pernikahanku dua hari lagi dan undangannya akan aku kirim."


"Untuk apa memintanya datang?"


Niken tersenyum manis mengingat apa yang sudah ia persiapkan saat di acara pernikahannya.


"Jika kau macam-macam, aku tak segan padamu!"


"Aku tak ingin menambah dosa dalam hidupku yang sudah dapat dihitung dengan jari ini."


"Baiklah!"


Tut tut tut tut tut


Panggilan diakhiri oleh orang yang berada di balik ponsel Niken.


Niken diam dengan arah tatapan fokus ke depan. Matanya mulai memerah menahan sesuatu dan akhirnya air matanya meluncur juga.


Isak tangis Niken terdengar. Ia tak bisa lagi menangis dalam diam. "Maafkan aku, Marquez! maafkan aku!"


Niken menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus saja mengalir.


"Aku ... akan membuatmu selalu mengingatku meskipun aku harus mengorbankan sesuatu hal yang paling berharga dalam hidupku."


Niken melihat ke arah ponselnya dimana fotonya dan Marquez saat masih kecil terpajang sebagai wallpaper pada ponselnya.


Niken mengusap layar ponselnya. "Aku sangat mencintaimu dan selalu seperti itu! sama seperti kau mencintainya dan rasa cintaku padamu juga seperti itu besarnya," gumam Niken menyeka air matanya yang terus saja mengalir.


Niken membuka pesan singkatnya dan mencoba menghubungi Marquez. Ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu saat dirinya menerima Marquez menjadi sahabatnya kembali.


Niken

__ADS_1


Hai, teman!


Niken masih menunggu balasan dari Marquez namun, tak ada balasan dari pria itu.


Niken tersenyum miris karena ia berpikir Marquez mungkin sudah membencinya sampai ke ubun-ubun hingga pria itu tak mau membalas pesan singkatnya.


Saat Niken hendak meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, tiba-tiba benda pipihnya itu berdenting.


Niken segera mengurungkan niatnya dan melihat mungkin itu balasan dari Marquez dan benar saja, ternyata Marquez membalas pesannya.


Marquez


Hai, teman!


Niken


Apa kau sudah sampai?


Marquez


Masih tinggal satu tikungan lagi.


Niken


Baguslah!


Marquez


Hanya itu yang ingin kau tanyakan padaku?


Niken


Tentu saja! apa lagi? aku memintamu untuk mencintaiku kau tak mau jadi kita jalani pernikahan ini sebagai sepasang teman, bukan suami istri.


Marquez


Jadi kita masih tetap akan menikah?


Niken


Tentu saja, karena undangan sudah disebar dan kita jalani hari-hari itu sebagai teman tak lebih.


Niken menahan dadanya yang mulai terasa sakit karena ia harus berpura-pura menerima kenyataan yang ada, padahal ia tak bisa.


Marquez


Aku setuju.


Niken meletakkan ponselnya tepat di dadanya. "Setelah aku tiada, kau pasti akan bahagia."


Niken memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang berdenyut pada dadanya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.

__ADS_1


__ADS_2