
Erick masih geram menatap Agnez. Ia tak habis pikir dengan wanita itu. Ternyata Agnez masih tak berubah.
Erick sebenarnya ingin sekali menampar wajah Agnez, namun ia tahan karena dirinya tak ingin peluang sering bertemu Melati hilang. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini.
"Saya pulang dulu, Tante!"
Erick berjalan keluar menuju ke arah mobilnya.
"Agnez benar-benar kelewatan! jika saja bukan karena Melati, sudah aku beri pelajaran dia," ujar Erick sambil memukul kemudinya kasar.
Roda mobil yang di tumpangi Arnon dan Melati terus bergulir tanpa henti.
Melati masih berada dalam dekapan Arnon dengan air mata yang sudah jatuh tak terkendali.
"Maafkan aku, Sayang! seharusnya tadi aku tak meninggalkanmu," sesal Arnon masih mengusap rambut halus Melati sesekali mengecupnya.
Tak ada jawaban dari mulut Melati. Yang ada hanya Isak tangis memilukan hati bagi yang mendengarnya.
"Dua wanita itu benar-benar tak bisa di biarkan! aku harus memberi pelajaran pada mereka berdua," pikir Arnon.
Roda terus berputar menuju arah rumah pohon Melati dan Arnon. Pria itu tahu jika perasaan Melati tak akan mudah kembali normal.
Mobil mereka berhenti dengan kedua penumpang yang tak lain Arnon dan Melati turun berjalan ke arah rumah pohon mereka.
Arnon masih mendekap Melati berjalan menuju rumah pohon.
Suasana hati Melati nampaknya berangsur membaik melihat lampu kelap-kelip yang menghiasi seluruh rumah pohon tersebut.
Mereka berdua sudah berada di dalam rumah pohon. Melati berjalan ke arah balkon untuk melihat hamparan bunga yang menenangkan pikirannya.
Arnon menyelimuti tubuh Melati dengan selimut yang sudah tersedia di rumah pohon mereka.
Pria itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Melati dari belakang.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Arnon.
"Ya! melihat bunga-bunga itu, hatiku lebih tenang," sahut Melati memejamkan matanya menghirup aroma terapi alami dari wangi bunga yang tertanam di kebun tersebut.
Arnon memutar tubuh Melati agar menghadap ke arahnya.
"Aku akan selalu melindungimu, Sayang! mereka berdua tak akan berani memperlakukanmu seperti tadi," jelas Arnon memeluk tubuh Melati.
Gadis itu membalas pelukan tubuh suaminya. Arnon mengangkat tubuh istrinya agar duduk di pembatasan balkon.
"Aaaaaaaa!"
Melati menundukkan kepalanya karena posisi mereka kini Melati yang lebih tinggi karena ia duduk di atas pembatasan balkon.
"Jangan takut, aku akan menjagamu agar kau tak jatuh," ujar Arnon mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melati.
Tangan Melati menangkup pipi Arnon. Tatapan keduanya sudah sama-sama terbuai satu sama lain sampai tanpa sadar bibir mereka telah menempel sempurna.
Gerakan lembut dari kedua bibir itu sungguh membuat orang yang merasakannya terbang melayang.
Tangan Arnon yang memang sudah berada di pinggang Melati menjalari tiap lekuk tubuh istrinya samping pada punggung gadis itu.
Tangan Arnon meraba resleting yang berada pada punggung istrinya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, resleting itu mulai di tarik oleh Arnon hingga punggung polos Melati dapat di rasakan langsung oleh telapak tangan Arnon.
Halus, lembut, dan hangat. Itu yang dirasakan oleh Arnon saat mengabsen punggung polos Melati.
Hawa dingin yang menyeruak masuk pada pori-pori kulit mereka, kini mulai perlahan menghangat saat ciuman mereka juga lebih intens dari sebelumnya.
Hawa panas mulai terasa dengan tetesan keringat yang membasahi kening keduanya.
Arnon melepaskan ciumannya. Pria itu mengangkat tubuh Melati menuju ke arah ranjang dengan posisi kedua kaki Melati melingkar indah pada pinggang Arnon.
Tangan Melati terkalung kokoh pada leher suaminya. Tatapan keduanya masih terus menyatu sembari kaki Arnon melangkah ke arah ranjang.
Saat kedua lutut Arnon sudah menyentuh bibir ranjang, pria itu merebahkan istrinya di atas kasur.
Arnon sudah bertelanjang dada kemudian menindih tubuh Melati.
Kali ini Melati mempermudah Arnon menarik dress yang di kenakannya dengan sekali tarikan saja.
Penghangat ruangan secara otomatis hidup saat suhu ruangan sudah mulai dingin.
Melati dan Arnon tanpa pikir panjang memulai pergulatan mereka berdua dengan penuh cinta tanpa memikirkan suhu udara yang semakin malam, semakin dingin.
Suhu dingin tak terasa bagi mereka karena pertempuran yang menguras keringat itu menambah suhu panas dalam rumah pohon tersebut.
Terpaan angin yang masuk dari arah balkon tak menjadi penghalang bagi keduanya untuk menumbuhkan bibit kecambah Arnon dan Melati junior.
Bagi para anak buah Pram yang berada di bawah, malam ini sungguh sangat dingin karena mereka berada di alam terbuka, sedangkan bagi Tuan dan Nona mudanya, malam ini malam yang panas.
Anggi dan Agnez masih belum tidur karena kejadian tadi saat makan malam.
"Bagaimana ini, Ma!"
"Mama! bisa tidak berpikir yang realistis sedikit! jika gajiku untuk membayar sewa rumah ini, aku harus mendapatkan dari mana membeli bedak dan alat make-up lainnya."
"Halah! jangan berlebihan deh kamu, Nez! gaji sekretaris itu besar, kau jangan pelit lah dengan kehidupan kita," ujar Anggi sinis.
"Terserah, Mama lah! jika suatu saat nanti terjadi sesuatu yang tak di inginkan? Mama yang harus mencari uang," ancam Agnez pada ibunya.
"Kau tenang saja! Arnon itu tak akan melakukan hal yang lebih dari ini." Anggi sungguh percaya diri.
Agnez naik ke atas kasur kemudian tidur tak memikirkan ocehan ibunya yang hanya membuat pusing kepala.
Hari sudah pagi. Matahari terbit dari timur dengan sejuta keindahannya.
Sepasang suami istri yang berada di dalam rumah pohon masih bergulung dalam satu selimut yang sama terlelap tidur karena pergulatan hebat yang mereka lakukan.
Suara tumbuhan terkena angin membuat alunan suara yang sangat merdu bagi si pendengarnya.
Perlahan kedua mata Melati mulai terbuka. Kelopak mata Arnon juga ikut terbuka.
Tatapan mata kedua saling bertemu. Bayangan percintaan mereka semalam bermunculan di kepala keduanya hingga senyum manis terukir dari bibir mereka.
Cup
"Morning kiss, My wife!"
Cup cup cup
__ADS_1
"Morning kiss, Hubby!
Melati langsung bangun dari ranjang menuju kamar mandi dengan selimut yang setia melilit tubuhnya.
Rumah pohon itu bukan rumah pohon biasa.
Di dalam sana sudah ada kamar mandi, dapur minimalis, ruang TV, ruang makan, dan juga kamar.
Semua itu Arnon desain agar saat keadaan seperti tadi malam terjadi, ia tak perlu bingung-bingung harus check in hotel.
Rumah pohon ini bagi mereka berdua seperti rumah kedua Melati dan Arnon.
Sementara Asisten Pram masih setia menunggu Tuan dan Nona mudanya yang masih belum terlihat kemunculannya.
"Huh, nasib jomblo seperti saya memang memprihatinkan," gumam Pram yang merasa iri dengan kemesraan Bosnya.
"Apa aku harus segera mencari istri ya?"
Pram menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin memikirkan itu. Ia ingin fokus dulu pada Tuan mudanya sampai Bosnya itu sudah memiliki junior.
Aroma masakan tercium dari dalam rumah pohon. Perut para anak buah Pram sudah mulai keroncong.
Melati keluar dari balik pintu rumah pohon itu.
"Asisten Pram! kemarilah! ajak semua anak buahmu" pinta Melati yang kembali lagi masuk ke dalam.
Pram dan anak buahnya masuk ke dalam rumah pohon itu.
Di sana sudah tergelar karpet bulu tebal dengan berbagai macam hidangan masakan yang tersedia.
Arnon dan Melati sudah duduk berada di karpet itu.
"Ayo duduk! kita makan bersama," pinta Melati sambil memberikan beberapa piring pada Pram dan yang lain.
Mereka semua mematuhi permintaan Nona mudanya.
"Kenapa tak di meja makan saja, Tuan dan Nona!"
"Aku ingin lebih santai saja, Pram! aku ingin menikmati suasana alam bebas seperti saat ini," jelas Arnon yang mulai mengambil beberapa lauk pauk.
Mereka semua makan dengan lahap karena masakan Melati tak perlu di ragukan lagi sudah pasti pas di lidah para penikmat masakannya.
Di sebuah toko. Para kaum hawa memadati toko tersebut. Mereka mengantri untuk membeli majalah Arnon dan Melati.
Rata-rata orang yang mengantri kebanyakan kaum hawa yang masih remaja karena mereka semua mengagumi ketampanan, bakat, dan totalitas Arnon dalam bermain film di serial apapun.
Mereka semua rela berdesak-desakan hanya demi membeli majalah artis popular tanah air tersebut.
Kenapa majalah itu banyak di minati dan di buru oleh orang-orang? karena model utama dalam majalah itu adalah Arnon dan Melati.
Yang menjadi pusat perhatian bagi semua orang adalah Melati yang dikenal memiliki paras cantik, kulit eksotis tak putih seperti artis kebanyakan, dan tubuh proporsional bagai model internasional.
Hal itu yang membuat semua orang penasaran ingin melihat bagaimana chemistry Melati dalam beradu akting menjadi model majalah dengan Arnon yang memang sudah tak perlu diragukan lagi bakatnya.
Semua awak media juga memadati toko tersebut untuk mencari tahu bagaimana respon masyarakat dalam peluncuran perdana majalah yang di bintangi pasangan suami istri yang fenomenal itu.
Hasil yang mereka temukan sungguh mengejutkan. peluncuran perdana majalah itu terjual habis tanpa tersisa satupun.
__ADS_1
Peran Melati dan Arnon memang sangat berpengaruh. Buktinya majalah mereka laku habis terjual.
Mereka berdua kini menjadi ikon couple terbaik sepanjang masa.