
Zinnia memejamkan matanya menanti pemanasan tahap kedua yang akan William lancarkan kali ini.
Saat mata Zinnia masih terpejam, William menarik tirai ranjang itu dan seketika kelopak bunga mawar jatuh mengenai tubuh Zinnia dan William.
Mata Zinnia terbuka dan melihat ranjangnya sudah di penuhi kelopak bunga mawar merah.
"Jadi kelopak bunga mawar ini berada di atas kita sedari tadi?" tanya Zinnia pada suaminya.
"Aku ingin kita berdua menyatu dalam taburan bunga mawar simbol cinta ini, Sayang!"
Zinnia tersenyum menyentuh pipi William mengecup bibir suaminya.
Cup
William memperhatikan tiap guratan pada wajah Zinnia. Pria itu mulai mendaratkan bibirnya pada telinga Zinnia. Mencium telinga Zinnia terus turun ke arah lehernya.
Si empunya leher sudah tak enak diam merasakan sensasi yang lebih dari sebelumnya.
Gigitan kecil pada leher Zinnia di lakukan oleh William agar semua orang tahu jika Zinnia sudah memiliki suami dan tak ada yang boleh mendekatinya.
Stempel kepemilikan milik William ini berlaku permanen tak dapat di alihkan pada pria manapun.
William mulai menurunkan sedikit demi sedikit gaun yang digunakan oleh Zinnia.
Saat gaun itu sudah turun sampai pada perut Zinnia. William memperhatikan wajah Zinnia terus turun ke leher kemudian ke arah dada istrinya.
Dokter tampan itu bisa melihat dengan jelas bentuk bagian tubuh atas istrinya.
Zinnia melihat ke arah suaminya dengan tatapan penuh permohonan agar William tetap lanjutkan apa yang harus ia lanjutkan namun, gadis itu menahan gejolaknya agar tak semakin menjadi.
William tersenyum kemudian menundukkan kepalanya mendarat tepat di perut rata Zinnia yang sudah polos tanpa sehelai benangpun, hanya bagian bawahnya saja yang masih tertempel oleh gaunnya.
Saat bibir dan hidung William menyentuh kulit perutnya, kepala Zinnia mendongak ke atas karena rasa geli itu kembali menghampirinya.
Tanpa di pandu, tangan Zinnia menyentuh rambut suaminya. Mengusap manja menyalurkan rasa geli bercampur gelenyar aneh yang dirasakannya.
William hendak menarik gaun Zinnia lebih ke bawah lagi namun, niatnya di urungkan.
William menarik selimut berwarna putih bersih itu untuk menutupi tubuh istrinya sampai batas dada.
Kini William berada di dalam selimut mengobrak-abrik apa saja yang ada di dalam sana.
Tangan Zinnia mencengkram erat bantalnya.
"Hentikan, Sayang!"
Suara Zinnia sudah sangat pelan karena ia mencoba menahan sesuatu yang di ciptakan oleh William di bawah sana dalam proses pelepasan gaunnya yang ia kenakan.
Tak ada sahutan dari William, yang ada hanya gaun Zinnia jatuh tergeletak di lantai bersamaan dengan celana yang digunakan oleh William dan pakaian dalamnya beserta milik Zinnia.
Pria itu keluar dari balik selimut yang menutupi tubuh Zinnia.
"Kita akan menuju tahap penyatuannya," tutur William merendahkan tubuhnya.
Pria itu mengecup kening Zinnia, kedua mata, hidung, kedua pipi istrinya, dan yang terakhir adalah bibir ranum milik Zinnia.
"Mungkin akan sedikit sakit, jika kau sudah tak tahan, kau boleh mencakar atau menggigitku, Sayang!"
Zinnia menatap wajah suaminya. "Tapi aku masih takut," ujar Zinnia dengan suara sedikit gemetar.
__ADS_1
William tersenyum pada Zinnia. Ia bisa mengerti jika ini adalah yang pertama kali bagi Zinnia dan juga bagi dirinya.
"Sakitnya hanya sebentar, Sayang! setelah itu kau akan merasa terbang," tutur William mengusap lembut rambut istrinya.
"Kau tahu darimana semua itu? apa kau sudah per ...."
"Aku tahu dari seseorang yang sudah berpengalaman dan ini adalah yang pertama bagiku," sambung William memotong perkataan Zinnia.
"Kau harus santai jangan terlalu tegang," pandu William dan Zinnia mengangguk mengerti.
Diantara paha Zinnia seperti ada suatu benda keras yang mengganjal dan benda itu mulai menekan sesuatu miliknya yang sangat berharga di dalam sana.
Zinnia tahu apa itu dan seketika ia sadar. "Berhenti!"
William yang masih fokus dengan tugasnya akhirnya menatap ke arah Zinnia. "Ada apa, Sayang?" tanya William.
"Aku masih belum meminum pil kontrasepsi," sahut Zinnia dan perkataan Zinnia membuat pria itu tertawa kecil. "Aku ingin segera memiliki anak darimu, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku, Sayang! jadi kau tak perlu melakukan hal itu," jelas William di tengah-tengah proses penyatuannya.
William kembali fokus pada tujuan awalnya yaitu membobol gawang Zinnia. Pria itu mengecup bibir istrinya berkali-kali untuk menghilangkan ketegangan dalam diri Zinnia.
William sekuat tenaga mendorong miliknya masuk ke dalam Zinnia sampai tangan kekarnya yang sudah berpegang erat dengan tangan istrinya, kini mengeluarkan urat-urat kokohnya.
Zinnia meringis menahan sesuatu yang terasa perih dan terasa akan sobek.
Zinnia mencengkram erat tangan William. Saat milik William sudah sepenuhnya berada di dalam milik Zinnia, kepala Zinnia kembali mendongak ke atas. Bersamaan dengan itu, air mata Zinnia juga ikut luruh.
William tak melakukan pergerakan apapun. Ia mencoba melihat keadaan istrinya.
Ada air mata yang mengalir saat proses penyatuan tadi. "Maafkan aku, Sayang!" mengusap air mata istrinya.
Zinnia menatap ke arah William. "I love you!"
Karena keadaan Zinnia sudah membaik, William mempercepat tempo gerakannya. Suara decitan ranjang menjadi alunan indah pada malam itu. Ditambah lagi suara Zinnia yang membuat William terus menggempurnya dengan gerakan cepat.
Sudah cukup lama dengan pergulatan panasnya, akhirnya William menaburkan semua bibit unggulnya pada rahim Zinnia. Pria itu ambruk di atas tubuh istrinya.
William menghadap ke arah Zinnia. "Terimakasih, Sayang! akhirnya kau menjadi wanitaku yang seutuhnya," ujar William mengecup bibir Zinnia.
Cup
Wanita itu tersenyum sembari mengusap peluh yang ada di pelipis suaminya. "Aku mencintaimu," ucap Zinnia.
"Aku lebih mencintaimu, Sayang!"
William menarik sprei yang masih terdapat bercak darah Zinnia. Pria itu menutup tubuh istrinya dengan sprei tempat tidurnya, sedangkan dirinya mengenakan selimut.
William menggendong Zinnia. "Aw!" Zinnia merintih kesakitan.
"Maaf, aku lupa jika bagian itu masih sakit," sesal William mengecup bibir istrinya.
"Kita mau kemana?" tanya Zinnia dengan kedua tangan yang sudah melingkar pada leher William.
"Kita akan mandi dulu sebelum tidur, Sayang!"
"Yakin kita hanya akan mandi saja?" tanya Zinnia yang curiga dengan raut wajah William yang tak meyakinkan.
Pria itu tersenyum simpul pada istrinya. "Sebenarnya aku tak yakin sih! karena aku yang akan membantumu mandi, jadi jika imanku sudah tak kuat, kau harus aku santap kembali," tutur William melangkahkan kakinya menuju arah kamar mandi.
William menurunkan tubuh Zinnia perlahan. Gadis itu masih bisa berdiri meskipun bagian daerah intimnya terasa sangat perih.
__ADS_1
William mengisi bathub dan menuangkan aroma terapi ke dalamnya.
Mereka berdua akan berendam air hangat untuk meregangkan otot-otot yang tegang sehabis berolahraga malam.
William membantu istrinya masuk ke dalam bathtub, kemudian diikuti dirinya yang duduk tepat di belakang Zinnia.
William memijat bahu Zinnia agar tubuh istrinya yang sudah ia gempur habis-habisnya bisa kembali bugar.
Zinnia menikmati pijatan suaminya yang membuatnya ingin tidur.
"Kau jadi tukang pijatku saja!" Zinnia memejamkan matanya karena pijatan William sangat pas untuknya.
William mengentikan pijatannya. Prai itu meletakkan dagunya pada ceruk leher Zinnia yang basah karena busa.
"Kau sungguh memintaku menjadi tukang pijatmu," tanya William memancing Zinnia.
"Tentu saja! kau pandai sekali melakukan itu," sahut Zinnia tanpa sadar jika ia sudah masuk dalam perangkap suaminya.
William menyeringai tanpa sepengetahuan istrinya. "Deal!"
Zinnia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
"Baiklah! jadi aku setiap malam akan memijatmu kecuali saat tamu bulananmu datang," tutur William yang membuat Zinnia membalikkan badannya menatap ke arah William. "Aw!" Zinnia lupa jika bagian intimnya masih terasa perih.
Wajah William terlihat cemas akan kondisi Zinnia. "Kau tak apa-apa, Sayang?" tanya William pada Zinnia.
"Aku tak apa-apa, sekarang bukan itu yang aku ingin tanyakan padamu, apa maksud dari libur memijat saat tamu bulananku datang?" tanya Zinnia dengan wajah serius.
"Aku akan memijatmu dengan pijatan spesial agar kau tidur nyenyak setelah kau meronda sampai jam 12 malam setiap harinya," bisik William dan mulut Zinnia menganga.
"Meronda setiap malam? sekali saja masih perih begini, apalagi jika setiap hari di buat lembur."
"Sayang!" William memanggil istrinya.
Zinnia tersadar akan lamunannya yang berpikir hal yang tak penting.
"Kau kenapa? apa kau tak ingin melakukan hal seperti tadi setiap hari dengan suamimu ini?" tanya William dengan wajah memelas.
"Kenapa wajahmu harus di buat sesedih ini sih, Will? aku jadi tak tega menolaknya."
Zinnia tersenyum manis sambil menyentuh pipi William. "Kau tak perlu menjadi tukang pijat untuk meminta hakmu sebagai seorang suami! kau boleh kapan saja melakukan hal itu padaku jika kau mau, tapi harus tahu waktu," ingat Zinnia pada suaminya.
Mata William seketika berbinar kala ia mendengar ucapan Zinnia bagai mendapatkan harta karun segunung.
"Asyik! jika Zinnia terus di gempur setiap malam, proses pembuatan William junior akan membuahkan hasil."
William memeluk tubuh istrinya. "Aku mencintaimu, Sayang!"
Zinnia membalas pelukan suaminya. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"
Zinnia menengadahkan wajahnya menatap wajah William dan pria itu saat ini juga tengah menatap ke arahnya. "I want you, My Wife!"
William menyambar bibir Zinnia. Pria itu memakan bibir istrinya tanpa ampun. William mengambil dua handuk yang berada di dekatnya.
Handuk itu ia gunakan untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Zinnia.
William menggendong Zinnia. Membawa istrinya ke arah ranjang.
Kini keduanya memulai pertarungan sengit mereka kembali agar William junior cepat hadir karena kedua orangtua mereka ingin segera memiliki cucu.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰