Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 199 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia masih tetap tak mau membuka suaranya dan gadis itu masih berada di atas pangkuan William.


"Sayang! kau itu kenapa?" tanya William mengusap rambut panjang istrinya.


Zinnia masih diam tak ada keinginan untuk merespon pertanyaan suaminya.


"Kenapa dia marah sih? aku kan tidak selingkuh? aku juga tak melakukan apapun padanya tadi malam."


William menyentuh pipi istrinya mengarahkan wajah cantik Zinnia pada wajahnya.


Zinnia masih tak menatap ke arah William. "Jelaskan apa kesalahanku," pinta William dengan nada lembut.


Akhirnya Zinnia mau menatap suaminya namun, tatapan matanya masih terlihat penuh emosi.


"Kenapa kau mengusirku dari kamarmu?" tanya Zinnia masih dengan nada ketusnya.


William tersenyum memeluk tubuh istrinya erat. "Jadi ini yang membuatmu marah padaku?" tanya William pada istrinya.


"Sudah tahu masih banyak tanya," sahut Zinnia lebih ketus dari sebelumnya.


William mengecup pipi istrinya dan Zinnia semakin bertambah emosi pada dokter tampan itu. "Apa yang kau lakukan, Pria mesum! aku tak akan luluh hanya kerena ciuman nakalmu itu!"


William kembali menebar senyum manisnya. Kali ini lebih manis dari biasanya.


"Aduh! kenapa pria ini semakin menebar senyumnya? bisa-bisa pertahananku goyah."


"Aku ada alasan kenapa harus membangunkanmu pagi-pagi sekali, Istriku Sayang!" William menarik hidung Zinnia cukup keras.


"Sakit, Pria mesum!"


Zinnia mengusap-usap hidungnya yang di tarik oleh William.


"Dengarkan aku baik-baik! aku memintamu segera pindah kamar karena aku tak ingin tubuh istriku di lihat oleh orang lain, aku ingin melindungi tubuhmu," jelas William pada Zinnia.


Gadis itu masih diam mencerna tiap kata yang di lontarkan oleh William padanya.


"Termasuk di lihat oleh sesama wanita?" tanya Zinnia memastikan.


"Ya!"


Zinnia membenarkan posisi duduknya yang masih berada di atas pangkuan William. "Apa kau waras? kau jangan posesif keterlaluan seperti ini, Suamiku! apa ...."


"Diam! apa yang kau katakan tadi?" tanya William sambil mendekatkan telinganya pada bibir Zinnia.


"Kau tak waras!"


"Bukan itu, Sayang! kau memanggilku dengan sebutan apa?" tanya William lagi.


"Suami ...."


Bibir Zinnia mengatup sempurna karena ia sudah memanggil William dengan sebutan suamiku.

__ADS_1


"Dasar mulut ember! kenapa mulutmu bocor sekali sih, Zi! pasti pria ini sedang terbang ke langit."


"Suami apa, Istriku!" William menggoda Zinnia.


"Suami mesum!"


William mengedipkan sebelah matanya pada Zinnia. "Kau benar sekali, aku memang mesum! tapi kemesuman ini hanya berlaku untukmu."


Dengan gerakan lebih cepat dari kilat akhirnya ....


Cup


Kecupan singkat mendarat pada bibir Zinnia. Wajah gadis itu sudah memerah.


"Jangan marah lagi ya? aku tak bisa jika satu hari saja kau tak memperdulikan aku," bujuk William dengan kata-kata mautnya.


"Halah! pasti bohong," ujar Zinnia mengacuhkan suaminya.


"Sungguh! karena aku mencintaimu, Zi!"


"Stop, William! jangan terus mengatakan hal itu, bisa-bisa aku mencintaimu secara berlebihan," jelas Zinnia menatap kedua mata suaminya dalam.


William kembali menebar lengkungan indah pada bibirnya. "Dan aku juga akan mencintaimu secara berlebihan," tutur William mendekatkan bibirnya pada bibir Zinnia. "Jangan menolak, Zi!"


Saat bibir itu sudah hampir saja menempel, ponsel William berbunyi.


Rahang William mengeras bagai beton. William langsung mengangkat panggilan yang menganggu kegiatannya bersama Zinnia.


"Ada apa!"


"Kan masih kurang satu jam, kenapa kau menghubungiku sekarang?"


"Sa-saya takut anda lupa, Pak!"


"Aku tak akan lupa dan apa kau tahu? kau sudah mengangguku yang dalam masa proses pembuatan Tuan muda kecilmu!"


William sedikit berteriak pada orang kepercayaannya karena menghubungi dirinya di waktu yang tak tepat.


"Ma-maaf, Pak! anda bisa melanjutkan lagi, saya tutup dulu."


Tut tut tut tut


Panggilan diakhiri oleh orang kepercayaannya William.


Zinnia sudah menatap suaminya dengan raut wajah kesal bukan main. "Apa yang kau katakan padanya!" tanya Zinnia mulai menggulung lengan kemejanya sampai batas siku.


William tahu jika Zinnia mungkin akan memukulnya karena ia sudah salah bicara tadi. "Aku hanya salah bicara saja, Sayang! jangan marah ya?"


Zinnia langsung bangun dari pangkuan William. Gadis itu memasukkan baju yang masih belum berada dalam kopernya.


Setelah semuanya selesai, Zinnia menarik koper itu.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya William.


"Aku akan membawa koper ini ke mobil karena sebentar lagi pesawatku akan berangkat," sahut Zinnia.


"Tidak!" William berteriak pada Zinnia.


Gadis itu yang sudah berada di ambang pintu seketika berbalik. "Tidak apa?" tanya Zinnia melipat kedua tangannya di dada.


"Kau harus pulang denganku karena aku sudah memesan satu tiket untukmu," tutur William.


"Tidak mau! aku sudah memesan tiket juga," tolak Zinnia Langsung.


"Jam berapa pesawatmu akan berangkat?" tanya William agar ia bisa mencari alasan jika lebih cepat pesawatnya yang akan berangkat daripada pesawat Zinnia.


"Satu jam lagi," sahut Zinnia datar.


William berjalan mendekati istrinya. "Kau harus pulang denganku karena pesawat yang akan aku tumpangi lebih dulu terbang."


"Jam berapa pesawatmu akan terbang?" tanya Zinnia.


"55 menit lagi," sahut William.


"What? hanya selisih 5 menit, Will! kau berangkat saja dulu sana!"


"Tidak mau! kita harus pulang bersama dan sekarang waktunya berangkat ke bandara."


William menarik tangan Zinnia keluar dari kamar hotel itu.


"Tapi tiket pesawatnya ...."


"Biarkan saja tiket itu hangus," sambung William terus menarik tangan Zinnia.


Di kediaman keluarga Arnon, para tetua ternyata sudah berkumpul. Siapa lagi jika bukan Arnon dan Edward beserta para istri mereka.


"Apa kau sudah tahu tentang acara fashion show Zinnia di Amerika?" tanya Arnon sembari menyeruput tehnya.


"Tentu saja, Ar! bukan hanya kau yang punya mata-mata handal, aku juga punya," sahut Edward.


"Semoga saja Zinnia bisa membalas cinta, William!" ujar Salma dengan wajah cemas.


Melati tersenyum pada besannya. "Kau tenang saja, Kak! aku yakin jika Putriku sudah mulai mencintai suaminya karena dia beberapa hari yang lalu menanyakan tentang bagaimana tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta. Dia berkata padaku jika ada temannya yang punya permasalahan dengan percintaan, tapi aku tahu betul Zinnia seperti apa! pasti dia yang sedang kerepotan dengan perasaannya sendiri," jelas Melati pada Salma.


"Semoga saja ya, Mel! aku tak ingin kisahnya dengan Marion terulang kembali, aku kasihan dengan William karena anak itu termasuk pria yang tak mudah jatuh cinta namun, pada putrimu berbeda, dalam waktu kurang dari dua Minggu dia sudah klepek-klepek seperti ikan terkena setrum," tutur Salma.


"Aku ada ide," ucap Edward.


"Ide apa, Sayang?" tanya Salma.


"Besok adalah hari ulang tahun rumah sakit, William! aku akan mengadakan beberapa lomba yang bisa membuat mereka semakin dekat, tapi lomba ini hanya untuk dokter yang sudah menikah karena lomba yang akan aku rancang untuk William dan Zinnia harus game sedikit berbumbu hal yang romantis."


"Tapi para dokter harus bekerja, Ed!" Melati menimpalinya.

__ADS_1


"Dokter di rumah sakit William tidak hanya satu, Mel! aku akan memilih dokter yang memiliki jam kosong," tutur Edward tersenyum sambil membayangkan keromantisan apa saja yang akan ia siapkan untuk William dan Zinnia.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰


__ADS_2