
"Marion!" Zinnia menyebut nama mantan calon istri suaminya.
Rangkulan pada tubuh Zinnia semakin erat oleh William.
"Bukan," sambung William sambil menatap wajah Zinnia.
Wanita misterius itu tertawa renyah di depan kedua pasangan yang salah paham karena ulahnya. Tepatnya bukan karena ulahnya melainkan karena bentuk tubuhnya yang mirip seperti sang kakak.
Wanita itu mengulurkan tangannya pada Zinnia. "Perkenalkan namaku, Marinka! adik kembar dari, Marion! mantan calon istri dari kakak ipar, William!" Marinka menatap ke arah William genit.
Zinnia mengepalkan tangannya. Gadis itu ingin sekali menarik rambutnya yang di gerai panjang dan melambai-lambai meminta di jambak sampai semua rambut di kepalanya botak tak tersisa.
"Kenapa aku muak sekali dengan wanita yang bagai kutu loncat macam si Marinka ini? apa kau kira aku bodoh! dari tatapanmu saja sudah aku tebak, kau pasti mengincar, Suamiku!"
Zinnia menebar senyum palsunya semanis mungkin yang sekiranya membuat wanita yang di beri gelar kutu loncat itu ingat akan senyumannya.
"Halo, Kak Marinka! senang bertemu denganmu," sapa Zinnia menjabat tangan Marinka lembut.
Marinka yang terkejut dengan sapaan ramah Zinnia terdiam sejenak, kemudian wanita itu membalas senyuman manis istri dari William.
Marinka mengalihkan tatapannya ke arah William. "Maaf ya, Kak! aku sepertinya mengganggu kalian berdua," sesal Marinka dengan wajah di buat sesedih mungkin.
Zinnia melihat setiap gelagat janggal pada diri adik dari Marion ini.
"Cih, sudah bisa di pastikan jika si kutu loncat ini suka pada, Suamiku! awas saja kau berani merebut, Lelakiku!"
"Aku datang kemari ingin mengajak kalian berdua makan siang untuk membicarakan sesuatu," tutur Marinka pada Zinnia dan William.
William dan Zinnia saling tatap. Zinnia menganggukkan kepala tanda mengizinkan suaminya menerima undangan makan siang Marinka.
"Baiklah! tapi aku dan istriku akan ganti baju dulu," ujar William pada Marinka.
"Aku akan tunggu di bawah," sambung Marinka langsung berjalan menuju arah lift.
Zinnia dan William masuk kembali ke dalam ruangannya.
Zinnia hendak berjalan ke arah kamar mandi namun, tangannya di tahan oleh William. "Tunggu!"
Zinnia melihat ke arah suaminya. "Ada apa?" tanya Zinnia menatap kedua mata William dalam.
"Dia hanya mirip dengan, Marion! kau harus percaya padaku jika hati ini hanya untukmu, Sayang!"
__ADS_1
Zinnia tersenyum pada suaminya. Gadis itu mendekati William memeluk tubuh suaminya erat. "Apa kau sangat mencintaiku, sampai wajahmu terlihat cemas seperti itu," ujar Zinnia memejamkan matanya dengan kepala yang sudah berada di dada bidang William.
Pria itu membalas pelukan Zinnia. "Aku sungguh sangat mencintaimu, meskipun kau bukan yang pertama dalam hatiku, tapi kau wanita terakhir dalam hidupku."
Zinnia menengadahkan wajahnya melihat kesungguhan pada wajah William. "Kau adalah cinta pertamaku, kau pria pertama di hatiku, dan kau juga pria terakhir dalam hidupku. Jika ada wanita lain yang mencoba ingin memilikimu, aku yang akan mengurus wanita itu karena aku tak ingin apa yang sudah menjadi milikku di ambil oleh orang lain," jelas Zinnia tersenyum manis pada William.
Pria itu menyentuh kedua pipi istrinya. " Aku mencintaimu, Sayang!"
Tumit Zinnia naik ke atas agar ia dapat mengecup bibir suaminya.
Cup
"Aku lebih mencintaimu," balas Zinnia langsung memeluk tubuh William kembali.
William dan Zinnia sudah berada di tempat parkir.
Marinka menunggu mereka berdua di tempat parkir. "Kenapa kalian lama sekali? apa kalian masih ...."
Marinka sengaja tak melanjutkan perkataannya karena ia ingin memancing reaksi William dan Zinnia.
Zinnia tahu apa maksud Marinka. Ia memilih mengikuti permainanmu wanita yang di panggilnya dengan sebutan kutu loncat itu.
"Kenapa Kak Marinka tahu saja jika suamiku ini sangat tak tahu tempat! dia selalu tak kekurangan tenaga, bahkan setelah selesai berlomba dia masih saja minta jatah," ujar Zinnia memeluk tubuh William erat.
"Niat hati ingin menggoda mereka, tapi aku yang sakit hati karena gadis itu bisa merasakan kehangatan dari tubuh, Kak William!"
Berbeda dengan William yang ingin tertawa terbahak-bahak namun, ia tahan.
"Minta jatah dari mana sih, Zi! kau itu pintar sekali membuat wajah Marinka jadi kesal seperti itu."
Zinnia melihat raut wajah Marinka sudah masam bagai buah asam, sementara tangan wanita itu sudah mengepal erat.
"Rasakan kau, Kutu loncat! siapa suruh berani macam-macam ingin main api dengan suami orang! kau masih belum tahu siapa Zinnia kan? hah, kita lihat saja, siapa yang akan menang."
"Kita langsung berangkat sekarang saja," ujar William menengahi tatapan api antara Zinnia dan Marinka.
Marinka langsung berjalan dengan gerakan sensual menuju arah kursi kemudi agar setiap lekukan tubuhnya bisa terlihat jelas oleh William.
Zinnia yang masih dalam pelukan suaminya di buat risih oleh gerakan dramatis Marinka.
"Dia kenapa? apa dia sedang cacingan? berjalan saja seperti cacing kepanasan seperti itu," cecar Zinnia yang memancing tawa suaminya.
__ADS_1
"Hahaha! kau ini bisa saja! dia itu bukan kepanasan, tapi kedinginan, Sayang! lihat saja pakaiannya tipis begitu," ujar William yang mendapat cubitan pada perutnya oleh Zinnia.
"Aw, sakit!" William mengusap perutnya yang di cubit oleh Zinnia.
"Bagus! kau memperhatikan bajunya yang tipis itu dan kau berhasil melihat lekuk tubuhnya yang indah."
Tatapan mata Zinnia menajam sempurna.
"Maaf, andai saja dia sekecil semut, pasti aku tak bisa melihatnya," sesal William menangkup kedua tangannya meminta maaf pada Zinnia.
"Alasan abal-abal!" Zinnia tak memperdulikan suaminya. Gadis itu memunggungi William dengan tangan yang sudah menyilang di dadanya.
William memutar tubuh Zinnia. Gadis itu terlihat sangat kesal.
"Itu bukan salahku, Sayang! semua orang juga melihat dia, bukan aku saja! kau melihatnya juga kan?" tanya William pada Zinnia.
Gadis itu menatap ke arah suaminya dengan tatapan menelisik.
"Iya juga ya? bukankah semua orang juga melihat bentuk tubuhnya itu."
"Aku maafkan," ujar Zinnia dengan nada ketus.
Karena William sudah habis kesabarannya, pria itu memeluk tubuh istrinya lagi.
"Aku tak suka dengan bentuk tubuhnya, aku lebih penasaran melihat tubuh istriku sendiri yang tanpa mengenakan sehelai benangpun," goda William membuat pria itu mendapat pukulan pada lengan kekarnya.
"Sakit, Sayang! kenapa kau selalu menyiksaku seperti ini," adu William pada Zinnia.
Bukannya simpati dengan pengaduan suaminya, Zinnia berkacak pinggang. "Sejak kapan kau pandai merayu seperti itu? apa kau ingin melakukan hal itu juga pada si kutu loncat itu?" tanya Zinnia pada suaminya.
William diam kebingungan mendengar kata kutu loncat dari mulut Zinnia.
"Kutu loncat? siapa yang kau sebut kutu loncat?" tanya William.
"Siapa lagi jika bukan si Marinka genit, pecicilan itu," umpat Zinnia yang sudah muak dengan kembaran Marion.
William melihat ke arah mobil Marinka yang ternyata sudah pergi terlebih dulu.
"Aku suka jika kau cemburu seperti ini," ledek William dan Zinnia langsung masuk ke dalam mobil karena wajahnya sudah memerah.
"Dasar, Gadis cerewet! tapi aku suka."
__ADS_1
William mengikuti istrinya yang juga masuk ke dalam mobil dengan senyum manis yang tak kunjung pudar.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰