Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 270 ( Season 2 )


__ADS_3

270


Zinnia menatap Marquez tajam. "Katakan kenapa kau ingin mengakhiri pertunangan kalian berdua!"


Marquez membalas tatapan tajam Zinnia. "Aku harus menikahi, Niken!"


"Siapa itu, Niken?" tanya Zinnia masih dengan raut wajah datar dan nada suara dingin.


Marquez melihat ke arah William dan Dokter tampan itu mengangguk pertanda jika Marquez harus menjelaskan pada Zinnia siapa Niken itu sebenarnya.


Marquez melihat ke arah Zinnia dengan ragu-ragu ia akhirnya memberanikan diri menjelaskan semuanya pada Zinnia.


"Niken adalah sahabatku dari kami kecil! aku dan dia tumbuh bersama karena rumah kami bersebelahan. Sampai pada suatu hari dimana ia tiba-tiba pingsan saat kami duduk di bangku kuliah! dia masuk rumah sakit, saat dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut padanya, ternyata dia menderita penyakit kanker. Sampai suatu hari ibunya memberitahuku jika Niken jatuh cinta padaku sudah sejak lama, aku terkejut waktu itu karena pada saat itu aku masih mencintai ...."


Penjelasan Marquez terhenti karena nama yang akan ia sebut orangnya berada di hadapannya.


"Siapa?" tanya Zinnia penasaran.


Marquez memejamkan matanya dan menatap ke arah Zinnia lagi. "Pada saat itu aku mencintaimu, Zi! aku menjelaskan pada ibunya jika aku tak memiliki perasaan apapun padanya! bertambah bulan dan tahun penyakitnya semakin parah dan saat ini dia sudah berada pada stadium akhir dan ... umurnya sudah tak lama lagi, kurang dari satu bulan ini."


Marquez menundukkan kepalanya dengan air mata yang hampir saja jatuh namun, pria itu mencoba menahannya.


"Di saat aku sudah serius pada seorang wanita, Tuhan kembali mengujiku." Marquez tersenyum meratapi nasibnya yang sungguh jauh dari kata beruntung. "Mungkin Tuhan ingin melihat kesungguhan hatiku terhadap, Sandra! aku sangat mencintainya namun, sahabatku juga dalam keadaan sekarat dan ... aku harus mengorbankan hatiku demi umurnya yang sudah tak lama lagi. Jika saja orang tuaku tak berhutang budi pada keluarganya, mungkin aku masih bisa berusaha memperjuangkan cintaku pada, Sandra! jika saja orangtuanya tak membantu keluargaku saat perusahaan Daddy mengalami krisis yang sangat parah! di satu sisi aku tak bisa meninggalkan, Sandra! di sisi lain aku tak bisa membiarkan sahabatku sekarat dan mengabaikan keinginan terakhirnya untuk menikah denganku," jelas Marquez dengan mata yang sudah memerah menahan tangisnya.


Marquez tersenyum pada Zinnia dan William. "Kau boleh menghinaku sesuka hatimu, Zi! memang aku disini yang salah yang tak memiliki pendirian, tapi satu hal yang harus kau ketahui, meskipun aku tak bersatu dengan, Sandra! hanya dia yang ada dalam hatiku baik sekarang ataupun selamanya."


Marquez mengambil sesuatu dari saku kemejanya. sebuah surat yang ia tulis untuk Sandra sebelum ia berangkat berkencan.


Marquez membungkukkan sedikit tubuhnya meletakkan surat tersebut di atas meja, mendorong surat itu ke arah Zinnia.


"Berikan surat itu pada, Sandra! aku akan pergi dan ... terimakasih telah mau mendengarkan penjelasanku," pamit Marquez tersenyum pada William kemudian beralih pada Zinnia.


Desainer tampan itu mulai melangkahkan kakinya berjalan ke arah pintu keluar rumah William sembari menarik koper miliknya.

__ADS_1


William dan Zinnia masih diam tak ada yang berani mengeluarkan suara mereka.


Pasangan suami istri itu kini mulai paham bagaimana kondisi Marquez sekarang.


William merangkul istrinya. "Lain kali dengarkan penjelasannya terlebih dulu sebelum kau menyimpulkan sesuatu, Sayang! kau bisa bayangkan bagaimana jika kita berdua berada di posisi Marquez saat ini, dia sudah mempertimbangkan segalanya sebelum ia mengambil keputusan sepenting ini."


Zinnia melihat ke arah suaminya sembari menganggukkan kepalanya mengerti maksud suaminya.


"Kita harus segera memberikan surat dari Marquez ini pada Sandra agar dia bisa segera tahu dan masalah ini cepat terselesaikan meskipun ada dua hati yang harus tersakiti demi kebahagiaan seorang wanita yang tak lama lagi ia tak akan berada di dunia ini."


Zinnia berdiri menarik tangan suaminya. "Kita harus ke rumah Sandra agar ia bisa segera move on dari, Marquez!"


William menganggukkan kepalanya sembari mengikuti langkah kaki Zinnia.


Di dalam jet pribadi miliknya. Marquez melihat ke arah luar pesawat sebelum jetnya itu benar-benar sudah mengudara.


Marquez tersenyum sembari berkata, "Selamat tinggal Indonesia! selamat tinggal, Sandra!"


Perlahan jet pribadinya mulai mengudara dan merangkak naik terus ke atas sampai jet itu sudah dalam posisi terbang dengan stabil.


Zinnia dan William melangkahkan kaki mereka ke arah teras rumah Sandra. Zinnia membunyikan bel rumah tersebut.


Ting tong


Ceklek


Pintu rumah Sandra terbuka dan Asistennya yang membukakan pintu untuknya. "Nona Zinnia!" wajah Sandra nampak terkejut. "Silahkan masuk!" Sandra meminta Zinnia dan suaminya untuk masuk ke dalam.


Nina yang sedang berada di dapur tengah mencuci piring dan gelas bekas makan malam mereka menoleh ke arah sumber suara. "Siapa itu?" tanya Nina pada dirinya sendiri dengan tangan penuh busa sedang sibuk mencuci piring.


Sandra pergi ke arah dapur untuk membuatkan kedua bosnya minuman.


"Siapa itu, San?" tanya Nina pada adiknya.

__ADS_1


"Bosku, Kak!" tangan Nina masih sibuk menuangkan sirup untuk Zinnia dan William.


"Aku kira siapa," celetuk Nina melanjutkan mencuci piring.


Setelah selesai dengan sirupnya, Sandra membawa gelas berisi sirup itu ke ruang tamu dimana bosnya berada.


Sandra meletakkannya dua gelas sirup tersebut di hadapan Zinnia dan suaminya.


"Silahkan di minum!" Sandra duduk berhadapan dengan Zinnia.


Zinnia meminum sirup rasa jeruk itu diikuti oleh suaminya.


Setelah selesai, William menoleh ke arah istrinya. Ia bermaksud memberikan kode pada Zinnia agar ibu hamil itu memulai pembicaraannya.


Zinnia tersenyum menatap ke arah Sandra. "Bisa kita ke ke taman belakang rumahmu atau tempat yang lebih sejuk lagi? karena aku ingin suasana yang cukup udara segar," bual Zinnia yang sebenarnya agar anggota keluarga yang lain tak mendengar percakapan serius mereka bertiga.


Sandra yang tak ada pikiran negatif sama sekali, langsung menyetujui permintaan Zinnia.


Asisten cantik itu berjalan ke arah kolam renang rumahnya dimana suasana di sana lebih sejuk dengan berbagai macam tumbuhan yang tertanam rapi sebagai penyejuk mata.


Zinnia dan William berjalan mengikuti langkah Sandra dan keduanya saat ini sudah berada di kolam renang rumah Sandra.


Kebetulan di tepi kolam renang itu ada dua kursi panjang yang jaraknya cukup dekat. Zinnia dan William duduk di satu kursi yang sama, sementara Sandra duduk di kursi lainnya tanpa seorang teman.


Sandra menoleh ke arah Zinnia. "Apa yang ingin anda bicarakan, Nona?" tanya Sandra pada Bosnya.


Zinnia menengadahkan tangannya pada William karena surat Marquez ada pada suaminya.


William menyerahkan surat dari Marquez itu pada sang istri.


Kini surat tersebut sudah berada di tangan Zinnia dan tak sengaja Sandra menoleh ke arah Zinnia. Sandra melihat sebuah surat yang ada di genggaman tangan bosnya.


Sandra menatap lekat surat yang berada di tangan Zinnia itu yang tanpa ia ketahui adalah surat dari Marquez untuknya.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2