
Pram sudah menindih tubuh Agnez. Pria itu menatap wajah wanita di bawah tubuhnya.
Sementara Agnez merasa tak nyaman dengan posisinya saat ini.
"Apa-apaan ini? kenapa aku harus berada dalam posisi seperti ini dengan pria datar sepertinya!"
Agnez mendorong tubuh Pram agar menjauh dari tubuhnya.
"Cepat menyingkir dari tubuhku!"
Pram mengerutkan dahinya. " Kau pikir aku mau berada dalam posisi seperti ini? hah, kau jangan terlalu besar kepala!"
Agnez terus mencoba mendorong tubuh Pram dengan gerakan menggila. Wajah Agnez mulai kewalahan berusaha menjauhkan tubuh Pram dari atasnya.
Pria itu hanya tersenyum melihat Agnez yang terus mendorong tubuhnya sekuat tenaga.
Tangan Pram mulai jahil. Ia mengambil lumpur kemudian mengusapnya pada pipi Agnez tanpa rasa bersalah.
Mata wanita itu terbelalak kala benda dingin dan lembek menyentuh permukaan kulitnya yang ia rawat dengan baik.
Tak tanggung-tanggung, Agnez juga mengambil lumpur dengan kedua tangannya mengusapkan pada kedua pipi Pram.
"Wah, kau tampan sekali jika pipimu penuh dengan masker lumpur ini, Asisten Pram!"
Pria itu mengusap-usap pipinya yang penuh dengan lumpur.
Agnez menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari kungkungan tubuh Pram karena pria itu dalam keadaan lengah sibuk dengan pipinya.
"Lain kali jika kau ingin berkebun, jangan menggunakan jas mahal itu! gunakan celana pendek dan baju biasa saja, hahahaha!"
Agnez berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan hati yang begitu senang karena telah berhasil membalas kejahilan Pram padanya, namun sebelum itu, ia berbalik menatap Pram kembali.
"Jangan lupa, petik semua bunga itu sampai selesai ya? selamat bekerja!"
Agnez berbalik berjalan masuk ke dalam rumah.
Pram merengut kesal karena ulah Agnez yang berani membalas kejahilannya.
"Dasar wanita menyebalkan! jika bukan karena, Tuan muda! aku tak sudi membantumu!"
Pram melanjutkan kembali memetik bunga di halaman belakang rumah lama Hadi. Pria itu melakukannya sampai semua bunganya benar-benar telah di petik tak tersisa.
Melati berada di kamarnya tengah menyiapkan baju untuk Arnon kenakan pada acara pertemuan film barunya.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Pria dengan tubuh atletis keluar dari dalam kamar mandi dengan tetesan air dari rambut, dada, dan perut six pack-nya. Membuat semua wanita yang melihat keindahan tubuh itu ingin sekali menjamahnya tanpa henti.
Arnon mendekati Melati. Memeluk tubuh istrinya penuh kehangatan.
"Lepaskan aku, Sayang! badanmu masih basah," ujar Melati pada suaminya yang tak ingin mendapat dekapan basah dari Arnon.
"Aku memang ingin membuatmu basah, Sayang!"
"Tapi aku tak ingin mandi," tolak Melati halus agar Arnon tak memaksa dirinya.
Tanpa permisi, pria itu mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
"Sayang! turunkan aku," pinta Melati.
Ocehan Melati tak di hiraukan oleh Arnon. Pria itu terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan menurunkan istrinya tepat di dalam bathtub.
__ADS_1
Arnon ikut masuk ke dalamnya. Tubuh Arnon telah tertutup oleh busa yang menggenangi permukaan air pada bathtub tersebut.
Handuk yang Arnon kenakan entah sudah tersangkut dimana karena pria itu melemparkannya ke sembarang tempat.
Arnon menarik tubuh istrinya membuka semua pakaian yang menempel pada tubuh Melati, hingga tubuh gadis itu juga sudah tak terlihat karena busa menutupi seluruh tubuh keduanya.
Kedua tangan Arnon memeluk perut rata istrinya. Pria itu mengusap-usap lembut perut Melati.
Hidung Arnon tak tinggal diam. Hidung mancung itu menelusuri tiap jengkal tengkuk dan punggung Melati, sampai tubuh gadis itu melengkung sempurna menerima sensasi luar biasa yang di ciptakan oleh Arnon.
Rasa nikmat dan geli dari ujung hidung Arnon membuat Melati ingin sekali terlelap tidur karena pria itu memperlakukan dirinya dengan sangat hati-hati.
Arnon menghentikan kenakalan pada hidungnya, namun kedua tangannya mulai beraksi.
Kedua tangan Arnon mengambil busa dan mengusapnya pada punggung Melati dengan perlahan dan lembut.
Kedua tangan Arnon terus melakukan gerakan yang sama, sampai si empunya punggung menempelkan punggungnya pada dada bidang Arnon.
Pria itu tersenyum kemudian memeluk erat tubuh istrinya yang sudah polos tanpa satu benangpun yang menempel.
"Aku ingin tidur, Sayang!" Melati memejamkan matanya yang mulai terasa berat.
"Tidurlah, Sayang! nanti aku akan membangunkanmu," tutur Arnon mencium puncak kepala Melati.
"Tapi jangan lama-lama, aku tak ingin seluruh tubuhku keriput," ingat Melati pada suaminya.
"Tak akan lama, Sayang! hanya 20 menit saja, setelah itu kita ...."
"Aku tak ingin berolahraga di siang hari, nanti saat menemanimu aku bisa kelelahan," sambung Melati yang memotong pembicaraan suaminya.
"Baiklah! kali ini kau lolos, namun untuk kali selanjutnya! kau pasti akan aku terkam di bathtub ini."
Agnez sudah keluar dari kamarnya dengan balutan daster kekinian yang ia temukan di lemari ibunya.
Wanita itu keluar dari dalam kamar ibunya, namun seseorang dengan wajah dan baju di penuhi lumpur telah berdiri di hadapannya.
Sontak tawa Agnez pecah sampai wanita itu memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.
"Hahahaha."
Agnez hampir tak mengenali jika pria di hadapannya adalah Pram karena biasanya wajah Asisten Arnon itu nampak tegas dan rupawan, namun kali ini hanya lumpur yang menjadi perusak citra ketampanannya selama ini.
Agnez terus tertawa dan Pram tak ingin menanyakan apa yang membuat wanita itu tertawa. Karena ia tahu jawaban pastinya.
"Dimana kamar mandinya?" tanya Pram dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Di sana," tunjuk Agnez pada arah kamar mandi rumah lamanya.
Tanpa ada percakapan lagi, pria itu langsung berjalan menuju arah kamar mandi, namun gumaman Agnez masih terdengar di telinganya.
"Dasar tukang kebun elit! mana ada berkebun dengan pakaian seorang Asisten seperti itu?"
Pram menghentikan langkahnya berbalik menoleh ke arah Agnez. "Kau bisa diam tidak? dasar! ibu-ibu berdaster!"
Pria itu melanjutkan langkahnya menuju arah kamar mandi.
Agnez di buat naik pitam oleh ucapan Pram padanya. "Apa yang dia katakan tadi? ibu-ibu berdaster? what? aku masih muda, bukan ibu-ibu! sementara usia dirinya ...."
Agnez berjalan menuju dapur sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal dengan ucapan Pram padanya.
Agnez menuju dapur. Ia ingat jika tak ada bahan makanan apapun di rumah itu. Hanya ada peralatan masak saja.
__ADS_1
Agnez berjalan menuju kebun belakang. Ia mengambil sayur kol, wortel, dan kentang untuk membuat soup.
Saat sedang asyik mengambil beberapa sayuran, suara bariton seorang pria mengganggunya.
"Hei!"
Agnez menoleh ke arah sumber suara. Orang itu adalah Asisten Pram.
"Ada apa?" tanya Agnez.
"Apa tak ada baju untukku?"
Agnez masih terfokus dengan tetesan air yang langsung jatuh dari rambut Pram mengenai tubuhnya yang sungguh enak di pandang.
Pria itu hanya terlilit handuk sampai batas pinggang dan Agnez menelan ludahnya kasar.
"Ada di kamar tempat aku ganti baju," jawab Agnez yang melanjutkan pekerjaannya kembali.
Pram langsung menuju kamar yang di sebut oleh Agnez. Pria itu dengan cepat berganti baju dan langsung menuju ke arah dapur.
Saat sudah sampai pada undakan dapur, Pram masih terdiam menatap wanita dengan apron yang menempel pada tubuh indah Agnez.
Pram masih terus menatap wanita itu tanpa ingin mengalihkan pandangannya.
Pram mendekati Agnez yang tengah sibuk memotong sayur. Pria itu memeluk tubuh Agnez dari belakang dengan erat.
"Kau sedang apa?" tanya Pram manja.
"Aku sedang memasak untukmu? apa kau sudah lapar, sampai menyusulku kemari?" tanya Agnez melanjutkan pekerjaannya memotong wortel.
"Iya, aku lapar! ingin segera melahapmu," sahut Pram mencium tengkuk Agnez lembut dan lama.
Gadis itu memejamkan matanya. Menghentikan kegiatan memotong wortel dan meletakkan pisau yang ia gunakan untuk memotong sayur.
Wanita itu berbalik menatap ke arah Pram. Agnez melingkarkan kedua tangannya ke leher Asisten Arnon dengan tatapan keduanya yang sudah menyatu.
"Sungguh kau ingin melahapku sekarang?" tanya Agnez memastikan.
Pram hanya mengangguk kepalanya tanda membenarkan ucapan Agnez.
Wanita itu menjinjitkan kakinya, mendekatkan wajahnya ke wajah Pram.
Hembusan napas Agnez menerpa langsung wajah Asisten Arnon. Wajah keduanya kini mulai hanya berjarak 2 senti saja, sampai saat dimana kedua bibir mereka akan menyatu.
"Hei! sedang apa kau di sini?" tanya Agnez membuyarkan lamunan Pram yang sungguh nampak seperti pasangan keluarga harmonis.
Wajah Pram memerah bagi tomat matang di pohon. "Aku lapar! cepat buatkan aku makanan dan aku akan menunggu di meja makan."
Pram langsung berlalu menuju meja makan.
Agnez masih menatap punggung Pram yang mulai menjauh.
"Kenapa dengan wajahnya itu? apa dia berpikir mesum sampai wajahnya memerah macam tomat busuk, hahahaha."
Agnez menepuk jidatnya karena telah berpikir hal yang tidak-tidak, sementara Pram duduk di kursi meja makan dengan gelisah.
"Apa yang kau pikirkan, Pram! hilangkan dari pikiranmu itu! buang, Pram! buang!"
Pram mencoba menghilangkan pikiran aneh dalam otaknya.
note : Maaf telat updatenya karena bab ini tadi terhapus jadi author harus ngetik lagi dari awal huwaaaaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1