Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 97


__ADS_3

Melati mengalungkan tangannya pada leher jenjang Arnon. Gadis itu menelusuri tiap dada Arnon dengan ujung hidung mancungnya.


Rasa geli dan nikmat yang Arnon rasanya. Tangan Arnon bertengger pada pinggang ramping istrinya.


Kemeja yang Arnon pakai sudah terbuka separuh. Tangan nakal Melati terus turun secara perlahan ke arah dada suaminya. Jari-jarinya meluncur bebas menyentuh tiap tubuh atletis aktor tampan tersebut.


Arnon tetap setiap memperhatikan Melati yang saat ini mengambil alih permainan panas mereka berdua.


Kancing pertama sudah terbuka. Kancing kedua juga sudah terbuka. Hanya tinggal satu kancing lagi yang belum di buka oleh gadis itu.


Melati menengadahkan wajahnya menatap wajah Arnon yang sangat tampan.


Wajah pria itu juga menunduk menatap Melati yang kini tengah di selimut kabut gairah.


Kaki gadis itu perlahan mengangkat tumitnya setinggi mungkin sampai bibirnya mencapai bibir Arnon dan pada akhirnya ....


Cup


Kecupan kilat Melati daratkan pada bibir suaminya dan pria itu memejamkan matanya.


Tangan Melati kembali melanjutkan membuka kancing kemeja Arnon yang masih tersisa dan melemparkannya entah kemana.


Bukan rasa dingin yang Arnon rasakan, melainkan rasa panas menerjang kulitnya karena sang istri menempelkan tubuhnya yang masih terbungkus pakaian tipis pada tubuh Arnon.


Arnon sudah tak ingin bermain-main lagi. Pria itu mengangkat tubuh Melati dan si empunya tubuh spontan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang suaminya.


Tangan Melati melingkar indah pada leher Arnon. Jemari gadis itu masuk pada tiap sela-sela rambut suaminya.


Wajah Melati masuk dalam ceruk leher Arnon mengendus wangi rambut Arnon yang baru pertama ia hirup saat ini.


Arnon tersenyum saat Melati berada pada gendongannya, sama seperti anak monyet yang yang bergelantungan pada tubuh ibunya.


Arnon merebahkan tubuh Melati pada kasur hotel dengan sprei serba putih khas kamar hotel.


Kali ini bukan Arnon yang mencium Melati , melainkan gadis itu yang mencium suaminya terlebih dulu.


Entah kapan Melati belajar membuat ciumannya sungguh membawa Arnon terbang melayang tanpa beban.


Gadis itu malam ini sangat lihai memberikan sensasi nikmat pada suaminya.


Arnon membalas ciuman Melati dan keduanya pun larut dalam malam yang panas.


Semua pakaian mereka sudah terbang tersangkut di mana-mana.


Permainan Arnon tak mengena dalam diri Melati, sampai gadis itu membalik posisi. Dirinya di atas dan Arnon di bawah.


Napas pria itu terengah-engah dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya.


"Lakukan apa yang kau mau, Sayang!"


Tangan Arnon membelai lembut pipi istrinya. Lampu kamar yang awalnya menyalah kini mati. Hanya tinggal lampu tidur yang menambah kesan romantis di kamar hotel itu.


Melati tersenyum menatap wajah suaminya. Ia mulai menggempur Arnon tanpa henti sampai pria itu memejamkan matanya karena permainan istrinya malam ini sungguh di luar ekspektasinya.


Ternyata Melati orang yang cepat belajar.


Teori yang biasa Arnon pakai untuk menundukkan seorang Melati Putri Hadi di atas ranjang, kini di pakai oleh istrinya sendiri untuk menggempurnya tanpa henti bahkan Melati tak merasa lelah sedikitpun.


Kurang dan kurang, itulah yang terjadi pada malam panjang mereka kali ini.


Untungnya tubuh Arnon sering berolahraga, jadi jika hanya melayani istrinya itu urusan kecil dan yang pastinya membawa pahala bagi pasangan suami istri.


Malam telah berganti pagi. Arnon dan Melati masih tertidur dengan tubuh di tutupi selimut.


Keduanya masih dalam posisi saling berpelukan. Arnon berada pada puncak kepala istrinya, sedangkan Melati berada pada dada bidang Arnon.

__ADS_1


Pria itu bangun terlebih dulu. Biasanya Melati yang terbangun, namun karena tadi malam permainan di kuasai oleh istrinya, gadis itu masih terlelap.


Arnon menatap wajah Melati yang terpancar oleh guratan rasa lelah luar biasa.


Pria itu meraba perut rata Melati. "Semoga anak, Daddy! cepat tumbuh di dalam rahim, Mommy!"


Dering ponsel Arnon tiba-tiba terdengar. Pria itu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


"Ya, Pram!"


"Saya sudah menyelidiki siapa yang berada di balik peristiwa tadi malam, Tuan!"


"Baiklah! nanti siang kita bertemu di ruang belajar."


Arnon memutuskan panggilan terlebih dulu. Ia meletakkan ponselnya pada tempat semula.


Karena Arnon bergerak-gerak, akhirnya Melati membuka matanya. Gadis itu melihat ke arah sekeliling, namun bukan kamarnya tempat ia tidur sekarang.


Melati melihat ke arah suaminya. Gadis itu terkejut dengan tubuh Arnon yang terlihat aneh.


"Sayang!" Melati memanggil Arnon karena pria itu masih menghadap ke arah nakas.


Arnon menoleh ke arah istrinya diiringi senyuman. "Kau sudah bangun? jika kau lelah, tidur lagi saja, Sayang!"


"Aku sudah tak mengantuk," tolak Melati.


Gadis itu masih terus memandangi tubuh Arnon tanpa henti, sampai si empunya tubuh ikut melihat ke arah tatapan istrinya.


Wajah Arnon terkejut saat melihat sekujur tubuhnya penuh dengan tanda merah hasil dari percintaan mereka semalam.


Melati masih tak sadar jika yang membuat tubuh suaminya bagai kain polkadot itu adalah dirinya sendiri.


Arnon langsung menutupi tubuhnya dengan selimut sampai batas leher.


Melati bingung dengan tingkah laku Arnon yang semakin lama semakin aneh.


Arnon kembali membuka selimutnya sampai batas pinggang.


"Apa kau tak mengingat kejadian tadi malam, Sayang?" tanya Arnon memiringkan badannya dengan tangan menyangga kepalanya.


"Memang ada kejadian apa tadi malam?"


"Sungguh kau tak mengingatnya?" tanya Arnon balik.


Melati mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Sekelebat bayangan dirinya yang berada di atas tubuh Arnon mulai melayang-layang dalam otaknya.


Wajah Melati memerah. Tatapan gadis itu tertuju pada mahakarya yang menghiasi seluruh tubuh suaminya.


"Astaga! apa aku seganas itu tadi malam?"


Arnon tersenyum melihat raut wajah Melati yang mulai memerah karena ingatannya tentang kejadian semalam mungkin telah terbayang dalam benak istrinya.


"Kenapa wajahmu memerah, Istriku? apa kau masih ingin menambah karyamu pada tubuhku ini?"


Melati langsung masuk ke dalam selimut. Menutupi seluruh tubuhnya sampai tak terlihat.


Arnon menyusul sang istri masuk ke dalam selimut.


Entah apa lagi yang mereka lakukan sampai selimut itu tak di buat diam oleh kedua manusia beda jenis tersebut.


Agnez mencoba untuk bangun. Kondisinya sudah sedikit membaik karena kemarin Melati sudah sempat merawatnya.


Gadis itu membuka handel pintu kamarnya, namun ia tak sengaja samar-samar mendengar ucapan ibunya yang berada di ruang tamu.


"Hahahaha! sekali tepuk dua nyamuk langsung mati! bukan hanya itu saja, aku juga mendapatkan uang dari, Erick! karena ia sudah berhasil tidur dengan, Melati!"

__ADS_1


Agnez menutup mulutnya tak menyangka dengan apa yang ia dengar. Ibunya sendiri membiarkan orang yang ia cintai tidur dengan adik tirinya.


Agnez mencoba memberanikan diri mendekat ke arah Anggi.


"Ma!"


Anggi menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah suara putrinya.


"Kau sudah, sehat?" tanya Anggi


"Apa maksud ucapan Mama tadi?"


"Yang mana?"


"Ma! aku mohon, tolong jujur padaku!"


"Kamu ini bicara apa sih, Nez! Mama tak mengerti!"


"Mama tak perlu berkilah padaku! aku mendengar semua ucapan, Mama!"


"Ya! Erick dan Melati sudah tidur bersama dan kau tak perlu memikirkan pria seperti dia! lebih baik kau cari pria kaya yang lebih tajir melintir darinya."


"Jadi, Mama menjual Melati pada, Kak Erick?"


"Bukan menjual, tapi Mama bekerja padanya."


"Sama saja, Ma! Mama tetap menjual Melati pada, Kak Erick! Mama sungguh keterlaluan! aku tak mengerti dimana jalan pikiran, Mama!"


"Halah! kau tak perlu banyak bicara, Nez! kita nikmati saja uang ini."


"Tidak! aku tak ingin memakai uang dari hasil menipu itu."


Agnez berjalan ke arah kamarnya dengan tetesan air mata yang mulai membasahi wajahnya.


"Maafkan aku, Mel! Mama sungguh sudah keterlaluan sampai tega membiarkanmu tidur dengan pria yang di cintai oleh putrinya sendiri ... mama sungguh tak menyayangi aku! dia rela menukar kebahagiaan putrinya hanya demi uang."


Agnez meluruhkan tubuhnya kelantai dengan posisi bahu menempel pada daun pintu kamarnya.


Anggi masih sibuk dengan beberapa tumpukan uangnya yang di berikan oleh Erick.


"Mendapatkan uang banyak dengan cara instan, siapa yang tak mau? semua orang pasti mau, meskipun harus mengorbankan perasaan, Agnez! lagipula, pria masih bisa di cari, kan? banyak pria yang lebih kaya dari si, Erick!"


Anggi berjalan ke arah kamarnya dengan setumpuk uang yang ia masukkan ke dalam tasnya.


Melati dan Arnon sudah selesai membersihkan diri. Mereka berdua check out dari hotel tempat mereka bergulat semalam.


Melati dan Arnon sudah berada di dalam mobil menuju arah pulang.


"Sayang!" Melati memanggil Arnon ragu-ragu.


"Ya, Sayang!"


"Boleh aku ...."


"Bertanyalah," celetuk Arnon yang dapat membaca pikiran istrinya.


"Bukankah aku kemarin sedang makan malam bersama, Mama Anggi dan ...."


"Erick si pria tak tahu diri itu," sambung Arnon dengan wajah mulai tersulut emosi.


"Sayang! aku bisa menjelaskan semuanya, aku dan ...."


"Kita akan membahas semua kejadian kemarin sebentar lagi saat sudah sampai rumah."


Melati tak berani menyuarakan sesuatu lagi. Ia sudah tahu jika Arnon tak ingin membahas masalah kemarin malam di mobil.

__ADS_1


Gadis itu lebih memilih diam, daripada amarah Arnon semakin tak terkendali.


__ADS_2