Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 61


__ADS_3

61


Harry memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemen Hamish.


Setelah sampai di depan apartemen Hamish,pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya untuk menghubungi sahabatnya.


"Kau ada dimana?" tanya Harry pada Hamish.


"Ada di apartemen,kenapa?" tanya balik Hamish.


"Turun ke bawah! aku sudah ada di depan apartemenmu," pinta Harry yang terdengar sangat panik.


"Kenapa suaramu seperti orang panik begitu?" tanya Hamish lagi.


"Cepat turun sekarang! ada masalah penting yang harus aku bicarakan padamu," jelas Harry dengan nada sedikit berteriak.


"Santai Bro! kau tunggu saja disana." Mengakhiri panggilan dari Harry.


Hamish turun menghampiri Harry yang telah menunggunya di dalam mobil.


Hamish masuk ke dalam mobil Harry.


"Ada hal penting ap ...."


Belum selesai Hamish berbicara, Harry lebih dulu melempar beberapa lembar kertas yang berisi informasi tentang berita mengenai Clara.


Hamish menatap ke arah Harry dengan tatapan mata penuh selidik.


"Coba kau baca itu," pinta Harry pada sahabatnya.


Hamish melihat kertas yang di berikan Harry dan membaca isi dari tiap lembarnya.


Saat Hamish membaca isi dari lembar pertama,kedua matanya melebar tak percaya dengan apa yang ia baca sekarang.


"Ini tidak mungkin,Harry! Clara tak mungkin gila." Melihat lembar berikutnya dengan mata yang lebih melebar dari sebelumnya.


Hamish terus membaca semua kertas yang berisi tentang informasi Clara yang sudah di blokir sejak empat tahun yang lalu.


Harry menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil dengan tatapan mata fokus ke depan.

__ADS_1


"Itu semua data yang aku dapatkan sudah akurat karena anak buahku sudah aku perintahkan untuk memastikannya," jelas Harry menatap ke arah Hamish.


"Sekarang nyawa Melati dalam bahaya,Harry!" wajah Hamish sudah terlihat panik.


"Memang dalam bahaya dan kau tahu apa rencana Clara untuk membuat Arnon meninggalkan Melati?"


Hamish menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penasaran.


"Dia akan mengadakan konferensi pers untuk memberitahu pada semua media dan masyarakat jika hubungan Melati dan Arnon hanya sebuah pernikahan kontrak dan ...."


"Dan apa Harry? kau jangan setengah-setengah menjelaskan sesuatu,nanti aku bisa mati penasaran," ujar Hamish yang sudah tak sabar mendengar kelanjutan informasi dari Harry.


"Anak buahku mendapatkan informasi jika Clara juga sudah memesan obat perangsang level tinggi,entah bagaimana ia akan menggunakan obat itu! yang jelas untuk di berikan pada Arnon."


"Astaga! bisa kau bayangkan jika wajah Arnon meminum obat perangsang level tinggi itu?" tanya Hamish pada Harry di iringi senyum jahilnya.


Harry memukul lengan Hamish sangat keras.


"Sadar! sahabatmu dalam keadaan bahaya tapi kau masih saja bercanda," kesal Harry.


"Ya maaf! daripada stress lebih baik di buat santai." Dengan cengir kudanya khas seorang Hamish.


"Terserah kau saja! yang jelas kita harus menyusun rencana untuk menggagalkan rencana Clara dan cepat memberitahu Arnon jika wanita yang sangat di cintainya telah bertunangan dengan pengusaha asal London," jelas Harry.


"Pelankan suaramu Ham! air kobokan dari mulutmu muncrat ke wajahku." Mengusap wajahnya yang penuh dengan rintikan hujan buatan Hamish.


"Maaf." melengkung senyuman kikuknya.


"Lain kali jika membaca itu dengan teliti jangan asal baca saja." Mengambil kertas yang ada di tangan Hamish kemudian Harry melihat tiap lembar kertas itu dan menempelkan satu lembar kertas pada jidat sahabatnya dengan cara sama persis seperti orang yang tengah menempelkan kertas di Mading sekolah.


Hamish melihat kertas tersebut dan membaca isinya.


"Kenapa Clara tak memberitahu kita? jika saja dia bercerita,pasti akan ada jalan keluar dari masalah ini." Hamish masih terus membaca isi kertas yang ia pegang.


"Jalan satu-satunya ya memang harus berpisah dari Arnon! kau lihat saja berapa hutang perusahaan ayahnya yang harus mereka bayar,500 Milyar,Ham! itu seharga jet pribadi keluarga Gafin kan?"


"Memang nampak rumit dan aku juga ikut merasa pusing dengan masalah Clara,orang tua Clara juga tak mungkin memaksa Arnon untuk menikahi putrinya karena jika keluarga Gafin tahu Clara pernah masuk rumah sakit jiwa,maka ... aku bisa memastikan jika perusahaan Davidson hanya akan tinggal nama saja." Hamish memejamkan matanya memikirkan rumitnya jalan percintaan sahabat aktornya itu.


"Sudahlah,nanti kita jelaskan pada Arnon dan Edward masalah ini tapi,kita harus menggagalkan rencana Clara terlebih dulu," tutur Harry.

__ADS_1


Hamish menoleh ke arah Harry sambil menganggukkan kepalanya secara bergantian.


"Apa tidak sebaiknya kita mengabari Edward terlebih dulu," ucap Hamish.


"Untuk saat ini sebaiknya tidak! dia pasti sibuk dengan pasiennya karena kita baru kembali kan?"


"Aku lupa,mana mungkin pria jomblo sepertinya paham masalah percintaan yang rumit," ucap Hamish tanpa sengaja perkataanya meledek Harry yang juga seorang jomblo sejati sama seperti Edward.


"Apa kau sedang meledekku? aku juga pria jomblo tapi,aku paham masalah percintaan rumit Arnon dan Clara." Dengan wajah siap menerkam mangsanya.


"Oke aku tahu kau sangat paham dan aku ... kabur dulu." Hamish langsung keluar dari mobil Harry berlari masuk apartemennya.


Di restoran tempat Melati bekerja,Arnon masih menjadi pusat perhatian para pelayan wanita yang bekerja di sana karena restoran tersebut tidak terlalu ramai di pagi hari.Jika waktu makan siang telah tiba,sudah bisa dipastikan para pengunjung pasti akan membeludak.Saat ini jam masih belum menunjukkan jam makan siang,lebih tepatnya masih pukul 9 pagi.


Rina masih tetap dengan wajah terkesima melihat ketampanan luar biasa seorang Arnon Marvion Gafin.


"Sungguh indah ciptaanmu Tuhan," gumam Rina sambil tersenyum-senyum sendiri.


Melati menepuk pundak juniornya.


"Rina? apa kau ingin makan gaji buta dengan hanya melihat pria itu seperti ini?" tanya Melati dengan tatapan sangar.


"Hihihi! maaf Mbak,habisnya suami Mbak Melati ganteng sih!" tersenyum malu-malu.


"Sudah! lanjutkan pekerjaanmu sana," pinta Melati.


"Iya Mbak." Berbalik hendak melangkah ke arah dapur namun langkah Rina terhenti.


Rina menoleh ke arah Melati.


"Mbak! keponakanku sudah tumbuh belum?" tanya Rina yang lebih terdengar meledek seniornya itu.


"Maksudnya?" tanya balik Melati yang memang tak mengerti maksud ucapan Rina.


Rina mendeskripsikan dirinya yang memeragakan perutnya seperti sedang hamil besar.


Mata Melati memicing tajam ke arah Rina dan gadis itu sontak kabur menghindar dari tatapan ganas mata seniornya.


"Rina ini ada-ada saja! bagaimana mau hamil,tidur saja paling mentok hanya berpelukan dan itupun tak sengaja," gumam Melati melirik Arnon sekilas kemudian masuk ke ruangan Bosnya.

__ADS_1


Arnon yang tak sengaja melihat Melati sempat melihat ke arahnya sekilas mengernyitkan dahinya.


"Kenapa dengan wajahnya itu? seperti sedang kesal pada seseorang," gumam Arnon yang terlihat kebingungan.


__ADS_2