
Melati keluar dari kamar mandi langsung berlari menuju arah dapur tanpa memakai polesan make up di wajahnya.
Suara pintu kamar tertutup dari luar terdengar oleh telinga Arnon.
Ceklek
Arnon melihat kearah pintu kamar.
"Cepat sekali dia mandi," gumamnya yang bangun dari tempat tidur menuju arah kamar mandi.
Melati sudah sampai di dapur,namun di sana hanya ada pelayan wanita yang di tugaskan oleh Susan untuk membantu Melati selama ada di rumah barunya.
"Sudah selesai masak,Mbak?" tanya Melati.
"Sudah,Nona! tadi saya dan ibu Nona yang masak sarapannya," jelas pelayan wanita tersebut.
Melati bergegas menuju meja makan dan benar saja semua orang sudah ada di sana kecuali dirinya dan Arnon.
Melati duduk di samping sang ayah.
"Maaf Pa,Melati kesiangan bangunannya." Dengan wajah merasa bersalah.
"Tidak apa-apa,Nak! kalian kan masih tergolong pengantin baru,jadi tak masalah bagi Papa," ungkap Hadi sambil tersenyum manis ke arah putrinya.
"Bagi Papa tak apa-apa,tapi bagi kami itu sangat memalukan!" Anggi melirik kearah Agnez yang sedang menikmati sarapannya dan Agnez tersenyum meledek ke arah Melati.
Melati hanya bisa menundukkan kepalanya karena ia memang salah bangun terlalu siang.
"Ini semua gara-gara Arnon! tadi malam aku tak bisa cepat tidur karena ulahnya yang menyebalkan itu," umpat Melati yang masih menundukkan kepalanya merasa malu.
"Suamimu kemana,Nak! cepat panggil dia untuk sarapan bersama," pinta Hadi pada putrinya.
"Sebentar lagi dia akan ...."
Ucapan Melati terhenti saat suara bariton menggelar di seluruh ruang makan itu.
"Maaf Pa,kami bangun terlalu siang," sambung Arnon yang memotong perkataan istrinya tadi.
Gadis itu melirik Arnon dengan tatapan mata tajam.
"Ini dia si biang keroknya sudah datang," gerutu Melati yang menyilangkan kedua tangannya di dada.
Arnon hanya tersenyum melihat raut wajah istrinya.Pria itu terus menuruni tiap anak tangga sampai mencapai lantai dasar.
Arnon duduk di sebelah Melati.Pria itu mengambil roti dan selai kacang.
Melati mengambil gelas yang berisi susu hangat.
Arnon melirik kearah istrinya dengan senyum penuh simpul.
"Maaf ya,Sayang! karena aku kau bangun kesiangan,seharusnya aku tak membuatmu tidur sampai subuh," tutur Arnon dengan tangan yang masih mengoles rotinya dengan selai kacang.
Melati yang tengah menikmati susu hangatnya sontak tersedak.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk."
Gadis itu masih terus terbatuk-batuk karena perkataan suaminya yang terkesan blak-blakan.
Agnez yang hendak melahap makanannya terhenti seketika dengan posisi sendok yang sudah berada di depan mulutnya dan sudah siap ia lahap dengan mulut yang sudah terbuka lebar.
Anggi melirik kearah Arnon yang masih dengan wajah santai tanpa rasa bersalah karena ucapannya yang sedikit fulgar menurut Anggi.
__ADS_1
Hadi hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan konyol menantunya.
Karena Melati masih terus terbatuk-batuk, Arnon meletakkan rotinya di atas piring.
Pria itu memberikan air putih pada sang istri.
"Minumlah,Sayang!" memberikan segelas air putih yang ia pegang.
Melati melirik Arnon,gadis itu menerima air yang di berikan oleh suaminya.
Melati meminum air tersebut namun ia masih memegang dadanya yang terasa tak nyaman.
Ide konyol kembali muncul di benak Arnon kala melihat sang istri memegang dadanya yang mungkin masih sedikit terasa sesak.
"Masih tak nyaman ya? apa masih terasa sedikit sesak? apa perlu aku bantu dengan nafas buatan?" tanya Arnon dengan kerlingan mata menggoda.
Mata Melati di buat melebar dengan ucapan Arnon yang lagi-lagi tanpa saringan itu.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk."
Kali ini bukan Melati yang terbatuk-batuk melainkan Agnez yang tersedak makanannya karena mendengar perkataan gila dari mulut adik iparnya.
"Minum ini," pinta Anggi pada putrinya.
Agnez langsung meneguk habis segelas air putih itu.
"Sial! untung aku tak tersedak sampai mati," umpat Agnez menatap kesal ke arah Melati dan suaminya.
Melati lagi-lagi melirik Arnon sinis .
"Orang ini kenapa ya? hei,Tuan! sandiwaramu terlalu berlebihan,bisa-bisa aku over dosis mendengarkannya jika terlalu sering." Melati menatap suaminya dengan tatapan penuh ancaman.
Arnon hanya tersenyum menanggapi ancaman dari sang istri.
"Aku tak ingin sarapan,aku hanya ingin minum susu saja," jawab Melati dengan wajah yang di buat semanis mungkin tersenyum pada Arnon.
"Kau harus sarapan,tenagamu pasti terkuras habis tadi malam kan?" Arnon melengkungkan bibirnya sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
Melati memejamkan matanya yang mulai merasakan kekesalan yang membuncah.
Gadis itu hendak membuka suara namun Arnon mendekat kearahnya dan mengecup pipinya sekilas.Pria itu kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ganti baju dulu,kita harus segera ke tempat kerjamu," ucap Arnon berjalan menuju lantai atas.
Melati melihat ke arah ketiga orang yang ada di hadapannya.
Wajah Agnez sudah terlihat marah dan kesal sedangkan Anggi menatap tajam ke arah Melati.
Berbeda dengan Hadi yang masih tersenyum sambil melahap sarapannya.
"Wajah kedua wanita di hadapanku ini nampak tak bersahabat," pikir Melati dengan ide yang seketika terlintas di kepalanya.
Gadis itu bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tamu.
Melati kembali ke ruang makan dengan 4 buah paper bag besar di tangannya.
"Ini untuk Papa." Meletakkan paper bag di atas meja makan ayahnya.
"Ini untuk Mama dan kak Agnez," jelas Melati sambil memberikan dua paper bag pada ibu tirinya.
Wajah Anggi seketika terpancar aura senang luar biasa menerima hadiah dari Melati.
__ADS_1
Anggi memberikan satu paper bag pada putrinya.
"Terimakasih ya," ucap Anggi yang langsung berjalan pergi masuk kamarnya.
Wanita paruh baya itu langsung meninggalkan meja makan tanpa menyelesaikan sarapannya.
"Aku ke atas dulu ya Pa," pamit Melati pada ayahnya sambil membawa 1 buah paper bag di tangannya.
Gadis itu berlari kecil menaiki tiap anak tangga yang terhubung ke lantai atas.
Melati membuka handel pintu dan melihat suaminya tengah bertelanjang dada hendak memakai baju.
"Aaaaaaaaa!" Melati berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan paper bag yang ia pegang jatuh.
"Lain kali ketuk pintu dulu jika ingin masuk kamar." Sambil memakai bajunya.
Melati masih dengan wajah tertutup mengambil paper bag miliknya yang jatuh dan melangkah sedikit demi sedikit menuju meja rias.
"Dasar pria aneh! bukannya cepat pergi dari sini masih tetap di depan lemari," gerutu Melati sambil meletakkan paper bagnya di atas meja rias.
Arnon berbalik melihat ke arah istrinya.
"Kenapa matamu masih tetap di tutupi seperti itu? aku sudah memakai baju," ucap Arnon berjalan mendekati Melati.
Gadis itu masih tetap dengan sebelah tangan yang setia menutup kedua matanya.
Arnon menarik tangan sang istri secara paksa.
"Coba lihat! aku sudah memakai baju,Nona!"
Melati memejamkan matanya tak ingin melihat Arnon.
"Aku tak ingin mataku yang masih suci ini melihat tubuh telanjang dadamu itu," jelas Melati.
"Astaga! terserah kau saja,aku akan tunggu di luar dan kau jangan lama-lama berdandan." Arnon berjalan keluar dari kamar.
Melati membuka matanya,ia melihat sekeliling tak nampak wajah sang suami.
"Syukurlah,aku bisa tenang sekarang," gumam Melati
15 menit gadis itu bersiap.Ia membuka gagang pintu kamarnya dan ....
Wajah Arnon sudah ada di depan pintu saat Melati membuka pintu tersebut.
"Kau ... bukannya kau ada di bawah ya?" tanya Melati kebingungan.
"Aku malas menunggu di bawah," ujar Arnon sekenanya.
Melati memutar kedua bola matanya malas.
Gadis itu menutup pintu dan melewati Arnon yang masih berdiri di hadapannya.
"Tunggu aku," teriak Arnon.
"Ssstttt! kau ini bisa tidak sih tak perlu berteriak," sungut Melati pada suaminya.
"Ingat,Nona? kita disini harus menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya." Arnon tersenyum sambil merangkul bahu Melati.
"Jika bukan demi Papa,sudah ku hajar kau Arnon." Berjalan beriringan dengan sang suami namun wajah Melati nampak sangat terpaksa.
Arnon menuruni tiap anak tangga bersama Melati,pria itu melepas rangkulan tangannya beralih menggenggam erat tangan Melati.
__ADS_1
Gadis itu melihat kearah Arnon kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Wajahku kenapa panas begini ya?" menyentuh pipinya dengan tangan kiri.