Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 167 ( Season 2 )


__ADS_3

William masih mengeratkan pelukannya pada tubuh Zinnia sampai kaki gadis itu yang melingkar indah pada pinggang suaminya, kini mulai perlahan turun menapaki rumput gajah yang berada di taman belakang rumah William.


Zinnia spontan melepaskan ciumannya karena kakinya terasa geli.


Gadis itu memeluk tubuh William erat sambil menundukkan kepalanya mencari apa yang membuat kakinya kegelian.


Ternyata ada dua ekor kelinci berwarna coklat muda yang berada tepat di bawah kaki Zinnia.


Gadis itu masih tetap memeluk tubuh suaminya erat dan William juga membalas pelukan istrinya.


"Apa kau masih takut pada mereka?" tanya William pada Istrinya.


Zinnia hanya mengangguk karena ia masih belum berani menyentuh bulu halus kelinci tersebut.


William tersenyum sambil melepaskan pelukannya pada tubuh istrinya.


Pria itu berjongkok menarik tangan Zinnia agar ikut berjongkok sepertinya.


Gadis itu masih sedikit ragu untuk mengikuti kemauan suaminya, namun Zinnia sekuat tenaga mendorong rasa gelinya agar berani berinteraksi dengan dua hewan peliharaan suaminya.


Zinnia mulai berjongkok dengan telapak tangan yang di arahkan oleh William ke arah kelinci yang berada tepat di depan keduanya.


"Mereka pasti kurang dengan wortel yang hanya kau beri satu buah saja! coba kau berikan lagi," pinta William yang diikuti oleh Zinnia mengambilkan dua buah wortel untuk masing-masing kelinci imut tersebut.


Gadis itu memberikannya wortel tersebut pada dua kelinci yang tengah menunggu makanan favorit mereka.


Tanpa ragu kedua hewan itu langsung menyantap wortel tersebut di depan pasangan suami istri yang sedang dalam proses menaklukkan pasangan masing-masing.


Zinnia tersenyum kala kedua binatang peliharaan suaminya nampak menikmati wortel yang ia berikan.


"Coba kau sentuh mereka secara perlahan," komando William yang mendapat tatapan ragu dari Istrinya.


"Aku takut!"


William kembali menarik tangan Istrinya mengarahkan telapak tangan lentik nan terawat itu pada kelinci peliharaannya.


Awalnya tangan Zinnia menghindar, namun William menganggukkan kepalanya memberikan semangat pada Zinnia jika gadis itu pasti bisa melakukannya.


Zinnia menyentuh kelinci itu dan seutas senyum terbit pada bibir indahnya.


William ikut tersenyum kala sang istri bahagia karena sudah berani melawan rasa gelinya.


"Mereka tak akan menggigit jika kau tak menggigit mereka terlebih dulu," ledek William.


Zinnia tak memperdulikan ejekan suaminya. Ia terus mengusap lembut kelinci yang sedang asyik menikmati makanan mereka.


"Tak usah berlagak tak mendengar perkataanku, Gadis cerewet! sudah menggigitku, tapi tak meminta maaf," celetuk William yang membuat Zinnia menatap ke arahnya.


"Si-siapa yang mengigitmu?" tanya Zinnia gugup sambil berpura-pura tak tahu.


"Apa perlu kita ulang lagi adegan tadi?" tanya William meledek istrinya lagi.


"Hentikan, William! kau ingin aku hajar!"


"Hajar saja jika kau bisa," tantang William pada Istrinya.


Zinnia berdiri meninggalkan suaminya yang masih mengusap dua kelinci peliharaannya.

__ADS_1


William tanpa sadar tertawa melihat kepergian istrinya.


"Kenapa dia sangat lucu sekali sih," gumamnya, kemudian raut wajahnya yang semula bahagia berubah dingin kembali.


"Apa yang kau pikirkan, Will! gadis itu hanya ingin menang dalam permainan yang kalian sepakati."


William beranjak dari taman itu masuk ke dalam rumah.


Malam mulai tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Zinnia masih asyik dengan kertas dan pensil di tangannya, sedangkan William masih bergulat dengan laporan yang sudah di kirim oleh Asistennya.


Jam yang berada di atas nakas berbunyi.


William menoleh ke arah jam tersebut dan pria itu langsung mengemasi laptop dan beberapa berkas yang berada di atas pangkuannya.


William menoleh ke arah Zinnia yang masih fokus menyalurkan karyanya pada sebuah kertas putih yang berada di atas pangkuannya.


Pria itu meletakkannya laptop dan berkasnya di atas meja tepat di depan Istrinya, semantara Zinnia hanya melirik William kemudian kembali fokus dengan desainnya.


"Zi! kita tidur sekarang! besok aku harus berangkat bekerja," tutur William pada Istrinya.


Gerakan pensil Zinnia terhenti saat William mengatakan jika dirinya akan mulai bekerja besok.


"Bekerja? kau hanya cuti 2 hari saja? wah, kau sungguh pria pekerja keras, Pak Dokter!"


"Pasien membutuhkanku, Zi! aku besok harus mulai bekerja kembali."


"Kau tidur saja dulu! aku akan menyelesaikan dua desain lagi," tutur Zinnia kembali melanjutkan sketsanya.


"Hanya dua sketsa lagi, Pria mesum! setelah itu aku akan tidur."


"Tidak bisa! kau harus tidur sekarang!" William mulai mengeluarkan ultimatumnya.


"Huh, nampaknya harus aku berikan hadiah, Pria mesum ini."


Zinnia meletakkan pensil dan kertasnya di atas meja tepat di sebelah laptop dan berkas milik suaminya.


Gadis itu melangkah ke arah William.


Dokter tampan tersebut mengira jika Zinnia akan tidur, namun gadis itu malah berhenti tepat di hadapannya dan menjinjitkan kakinya.


Cup


Zinnia mengecup singkat pipi suaminya. "Mimpi indah ya, Pria mesum! sekarang kau tidur aku akan ...."


Perkataan Zinnia terhenti karena William mengangkat tubuhnya membawa tubuh proporsional itu ke arah ranjangnya.


William membaringkan tubuh istrinya di atas kasur.


"Kau juga harus tidur, Zi! aku tahu jika besok pagi kau akan melanjutkan lagi sketsamu itu!"


"Tapi hanya dua saja malam ini, aku mohon," ucap Zinnia menangkup kedua tangannya agar William mengizinkannya.


"Sekali tidak! tetap tidak, Gadis cerewet! kau lebih baik tutup matamu dan mimpi indah."


William melangkah ke arah sisi ranjang tempat tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya, menarik selimut sampai batas dada.

__ADS_1


"Kau harus mengalah! selimut itu milikku, Pria mesum!"


Zinnia langsung menarik selimut yang di pakai oleh William, namun sepertinya pria itu menahan selimutnya.


"Berikan padaku, Pria mesum!"


"Ambil saja jika kau bisa!"


"Cepat berikan, William!" masih berusaha menarik selimut yang sudah di pakai suaminya.


William langsung menarik sekuat mungkin dan Zinnia berakhir tepat di atas tubuhnya.


Tatapan mata kedua beradu kembali.


Zinnia merasa tak nyaman dengan posisinya yang seakan seperti orang yang tengah menggoda suaminya.


Zinnia hendak bangun dari posisi itu, namun tangan William menahan tubuhnya.


"Mau kemana?" tanya William datar namun penuh akan tipu muslihat.


"Aku ingin tidur," sahut Zinnia sekenanya.


"Apa kau tak ingin belajar lagi?" tanya William tersenyum meledek.


Zinnia memukul lengan William yang berada di balik selimut tebalnya itu.


"Kau sungguh pria mesum, Pak Dokter!"


Gadis itu berguling ke samping William sambil memeluk gulingnya.


Sementara William masih ingin mengerjai istrinya yang polos itu.


"Zi!"


"Hem!"


"Zi!"


"Hem!"


"Apa kau sudah tidur?"


"Hem!"


"Zi!"


Tak ada sahutan dari Zinnia karena wajah gadis itu sudah nampak sangat kesal.


Zinnia berbalik hendak mengumpat pada William, namun saat ia sudah berbalik, wajah suaminya sudah berada tepat di hadapannya.


Zinnia diam mematung, sementara William tersenyum menang karena dirinya sudah berhasil membuat istrinya kesal.


"Selamat tidur, Gadis cerewet! jangan lupa mimpi indah ya? ingat jangan sampai jatuh cinta padaku," ujar William menyentuh pipi Istrinya dan mengecup lama kening Zinnia.


William langsung kembali ke tempatnya dan tersenyum menang dengan kedua mata tertutup, sementara wajah Zinnia mulai memerah tak karuan.


Gadis itu menutup wajahnya dengan guling agar wajahnya yang memerah bisa cepat hilang.

__ADS_1


__ADS_2