
Pagi sudah menjelang. Kini semua orang di butik termasuk Zinnia dan Marquez sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pergelaran kombinasi gaun rancangan keduanya yang akan di tampilkan di sebuah ajang penghargaan bergengsi.
Zinnia sebenarnya masih merasakan mual namun, ia masih tetap mencoba bekerja karena ia kasihan pada Marquez dan Sandra harus berdua saja mengurus persiapan keberangkatan untuk besok lusa.
Zinnia dan beberapa pelayan sibuk di ruang serbaguna butiknya, sementara pelayan yang lain menjaga butik.
Marquez mengecek beberapa barang yang akan di bawa dan Sandra sibuk dengan ponselnya.
Marquez yang notabene-nya memiliki sifat jahil tersenyum licik saat melirik ke arah Sandra.
Pria itu melirik ke arah Zinnia yang sibuk dengan urusannya dan tanpa sepengetahuan Zinnia, Marquez mengambil benda pipih miliknya. Pria itu sibuk dengan jari-jarinya yang mengutak-atik layar ponselnya.
Ting
Suara denting ponsel Sandra terdengar oleh Marquez dan desainer tampan itu tersenyum kecil melirik ke arah kekasihnya.
Saat Sandra melirik ke arah Marquez, pria itu pura-pura sibuk.
Sandra membuka pesan dari Marquez.
Tn. Copaldi
Aku mencintaimu ❤️
Sandra tersenyum sembari melirik ke arah Marquez yang masih berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Senyum jahil Sandra terpancar kala otak humornya mulai aktif.
Denting ponsel Marquez berbunyi dan pria tampan itu melihat ponselnya. Ia sudah bisa memperkirakan jika pesan itu pasti dari kekasihnya.
Sandra
Lihat ke arahku!
Marquez segera menoleh ke arah Sandra. Wanita itu tengah menatap ke arahnya menunggu Marquez melakukan apa yang di tuliskan dalam pesannya.
Sandra tersenyum manis karena Marquez menuruti permintaannya. Sedetik setelah senyuman itu hilang, Sandra mengerlingkan matanya menggoda Marquez karena berani menganggunya bekerja.
Marquez membalas senyuman manis Sandra dan tangan pria itu terulur ke atas dengan dua jari membentuk hati dan sebelah matanya juga mengerling membalas godaan Sandra.
Sandra tak gentar dengan godaan balik dari kekasihnya, wanita itu memiringkan kepalanya dengan tangan yang dipakai sebagai alat penyangganya.
Sandra memajukan bibirnya memberikan ciuman jarak jauh pada Marquez dengan mata terpejam seakan ia sungguh mencium wajah desainer tampan itu.
Tangan Marquez terulur seakan ia mengambil ciuman jarak jauh dari Sandra.
Mereka berdua tak sadar jika Zinnia sudah berkacak pinggang melihat keduanya sibuk bermesraan.
__ADS_1
"Bagus! pacaran saja sampai puas!" suara Zinnia terdengar bagai guntur yang menyambar telinga keduanya dan Sandra segera menunduk, sementara Marquez hanya bersikap santai karena ia tahu mungkin itu pengaruh hormon kehamilan dari kedua bayi kembarnya.
"Jangan teriak-teriak, Zi! kepalaku pusing!" Marquez melanjutkan mengecek barang yang sudah masuk dalam sebuah koper untuk persiapan besok lusa.
Mata Zinnia melotot karena Marquez dengan santainya memprotes tindakannya tadi. "Ini jam kerja, Marq! jika kalian ingin bermesraan nanti saja saat jam istirahat!"
"Kau seperti orang tak pernah pacaran saja, Zi!" Marquez lagi-lagi menjawab celotehan ibu hamil itu.
Wajah Zinnia sudah kesal. "Aku kesal padamu, Marquez! aku mengatakan hal seperti ini agar anak-anakku tak sama sepertimu."
Marquez bukannya marah, ia malah tertawa bangga. "Bagus kan jika mereka sama sepertiku! orang tak akan percaya jika anak itu anak, William! ingat, Zi! jangan terlalu benci padaku, nanti wajah anakmu ada yang mirip denganku," ledek Marquez membuat emosi Zinnia sudah meletup sampai ke ubun-ubun.
"Amit-amit, Marquez!"
Zinnia pergi dari tempat itu. Ia lebih memilih berada di depan menenangkan dirinya agar bayangan wajah tengil Marquez tak bertebaran di dalam otaknya.
Marquez tertawa melihat kepergian Zinnia dengan langkah kaki yang di hentakkan dengan sengaja.
Sandra melirik ke arah kekasihnya. "Kau ini suka sekali membuat Nona Zinnia emosi," celetuk Sandra.
Marquez melangkah mendekati kekasihnya. Desainer tampan itu duduk tepat berdempetan dengan Sandra. "Biarkan saja! sebentar lagi dia juga tak akan marah lagi!"
Sandra hanya menggelengkan kepalanya. "Sana pergi!" Sandra mengusir Marquez dengan nada bercanda.
Marquez memeluk lengan Sandra dan kepalanya kini sudah berada di bahu kekasihnya. "Tidak mau! aku rindu padamu!"
Sandra tersenyum namun, ia segera mengenyahkan senyuman itu karena ia masih ingin mengerjai Marquez.
"Tapi aku rindu padamu!"
Sandra sungguh ingin tertawa terbahak-bahak karena Marquez bagai anak kucing yang kehilangan induknya.
Marquez menatap ke arah Sandra. "Sungguh kau tak rindu padaku?" tanya Marquez dengan wajah di buat sesedih mungkin dan Sandra menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Jika kau tak rindu padaku, aku akan pergi sekarang," ancam Marquez pada kekasihnya.
"Silahkan!"
Marquez masih diam menatap wajah Sandra. "Aku sungguh akan pergi, aku bukan bercanda, Sayang!"
Sandra menganggukkan kepalanya pasrah dan mempersilahkan desainer tampan itu pergi.
Marquez menjauhkan tubuhnya dari Sandra. Marquez berdiri hendak pergi namun, ia masih melihat Sandra. "Aku akan pergi sungguh, Sayang! apa kau tega padaku?" tanya Marquez lagi.
"Silahkan pergi, Tuan Copaldi! aku masih sibuk banyak pekerjaan untuk mengurus keberangkatan besok lusa," jelas Sandra uang kemudian berlagak fokus ke arah ponselnya padahal ia tak sedang melakukan apapun.
Wajah Marquez kecewa, pria itu menurunkan bahunya sembari melangkah keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sandra melirik ke arah kekasihnya dan asisten Zinnia itu berdiri dengan senyum penuh kepuasan sudah berhasil mengerjai Marquez.
Sandra berlari memeluk tubuh Marquez dari belakang.
Grep
"Jangan pergi! aku juga sangat merindukanmu," tutur Sandra menempelkan kepalanya pada punggung bidang desainer tampan itu.
Tak ada jawaban dari mulut Marquez yang ada hanya hembusan nafas dan aroma wangi tubuh maskulin menyeruak masuk dalam indera penciuman Sandra.
"Jangan marah," timpal Sandra lagi.
Masih tak ada jawaban dari Marquez dan Sandra memutuskan melepaskan pelukannya. Asisten cantik itu memilih melangkah ke depan agar ia dapat melihat wajah Marquez.
Wajah itu ternyata sudah berubah dingin tak berekspresi.
"Aduh! ini pasti sudah marah sungguhan."
Sandra tak menyerah untuk membuat Marquez berbicara padanya.
Tangan lembut Sandra terulur menggapai pipi Marquez dengan lembut tangan itu mengusap pipi kekasihnya. "Maafkan aku! tadi aku hanya bercanda."
Marquez masih diam tak ada niatan untuk membuka suaranya.
Sandra masih punya banyak cara agar pria di hadapannya ini mau merubah pendiriannya yang saat ini dalam kondisi marah padanya.
"Sepertinya pria ini harus aku beri sedikit vitamin pembangkit tenaga agar otaknya bekerja dengan benar."
Sandra melihat ke arah sekelilingnya dan keberuntungan berpihak padanya. Disana tak ada orang-orang.
Sandra menyentuh kedua pipi Marquez dan ....
Cup
Kecup singkat mendarat pada bibir Marquez. Sandra menatap lensa mata Marquez dalam dan pria itu masih diam tanpa ada pergerakan apapun.
Sandra kembali menjijitkan kakinya dan kecupan yang kedua mendarat sempurna pada bibir Marquez.
Saat Sandra hendak melepaskan ciuman itu, Marquez menahan tengkuk Sandra.
Kini pria itu memejamkan matanya menikmati bibir yang sedari tadi mengoceh tanpa henti.
Sandra tercengang karena tindakan Marquez membuatnya terkejut.
Ciuman itu terlepas. "Jangan pernah membangunkan macan tidur jika kau tak ingin aku nikahi saat ini juga karena aku ingin sekali memakanmu," bisik Marquez tepat di telinga Sandra.
Wanita itu segera mendorong tubuh Marquez dan pergi dari ruangan tersebut dengan wajah memerah.
__ADS_1
Marquez tertawa puas karena ia berhasil membalas godaan Sandra padanya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.