Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 138


__ADS_3

Melati masih mengutak-atik ponselnya dan suara operator masih tetap setia jika nomor yang Melati tuju tak aktif atau berada di luar jangkauan.


"Kemana sih dia! apa dia tak tahu jika aku sedang di ledek oleh, Kak Agnez dan Mommy!"


Melati melipat tangannya dengan raut wajah masih kesal, bahkan lebih kesal dari sebelumnya.


Di rumah Arnon, pria itu dan para pelayan sedang sibuk menyiapkan kejutan untuk istrinya.


Ia ingin membuat perayaan baby shower ini teringat selalu di benak Istrinya. Saat semua orang sedang asyik mendekor ruangan untuk acara nanti sore, tiga pria tampan dan dua wanita cantik masuk ke dalam rumah megah tersebut.


"Wah, nampaknya sudah mau selesai ya," celetuk pengusaha properti tersebut yang tak lain adalah Harry.


Arnon yang sedang fokus mendekorasi di buat menoleh ke arah sumber suara itu.


"Kenapa kalian baru datang? apa kalian tak berniat ingin membantuku?" tanya Arnon pada ketiga sahabatnya dan dua wanita cantik yang mereka bawa, Selena dan Dokter Salma.


Arnon tersenyum manis pada dokter istrinya. "Selamat datang, Dokter Salma!"


Dokter cantik itu hanya tersenyum membalas sapaan Arnon.


Aktor tampan itu menatap tajam ketiga sahabatnya yang hanya tersenyum simpul padanya. "Apa kalian bertiga hanya ingin menjadi penonton?" tanya Arnon kesal.


"Mode singa gilanya mulai on," ledek Hamish pada Arnon.


"Sudah, Ham! ayo kita bantu, Arnon! agar persiapan ini cepat selesai sebelum Melati kembali," pinta Edward melangkah ke arah Arnon.


Salma dan Selena membantu merangkai beberapa balon berbentuk hati menjadi satu.


Edward, Hamish, dan Harry membantu Arnon menulis beberapa harapan manis untuk Melati dan putrinya.


Ternyata bukan hanya mereka bertiga saja yang diminta oleh Arnon untuk menulis harapan bagi sang bayi, semua orang yang hadir wajib menulis harapan bagi putrinya. Tanpa terkecuali, termasuk para pelayan rumahnya.


Semua pelayan juga sibuk membantu persiapan acara.


Tema baby shower ini adalah baby pink. Semua nuansa serba pink karena anak Arnon dan Melati perempuan.


Arnon berjalan ke arah meja yang sudah terbalut kain tile berwarna pink menjuntai ke bawah.


Kain yang menjuntai itu bagai rok tutu yang sedang menghiasi meja tempat kue tar dan makanan lainnya.


Di meja tersebut sudah terdapat kue tar susun tiga berukuran sedang. Kue itu bertuliskan "baby" dari coklat batangan berukuran besar pula.


Di meja itu juga terdapat dua tumpukan donat dengan topping lelehan coklat rasa strawberry dan mix kismis.

__ADS_1


Jus strawberry yang di letakkan di tempat minuman menyerupai dot bayi jumbo yang di pesan khusus oleh Arnon.


Permen coklat berbentuk dua kelinci di pajang diatas meja itu juga.


Tak lupa di bagian pinggiran meja di hiasi bunga buatan yang ukurannya besar-besar berwarna pink.


Di bagian dinding, sudah terhias balon yang sudah Salma dan Selena rangkai. Tak lupa tambah dengan aksen gambar berbentuk pita di bagian pojok kanan kirinya.


Di tengah-tengah riasan dinding itu terdapat tulisan "My Baby Girl".


Semua perabotan ruangan itu di ganti menjadi dekorasi berwarna pink. Mulai dari sofa, meja, dan lainnya.


Ruangan itu disiapkan khusus oleh Arnon tanpa sepengetahuan Melati.


Sebuah karpet dengan motif pita tergelar di ruangan itu. Berbagai macam Snack sudah tertata rapi di atasnya.


Waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Semua persiapan sudaha selesai dan ruangan itu juga sudah rapi hanya tinggal menunggu pemeran utama dari acara ini datang.


"Terimakasih atas bantuan kalian semua! karena persiapan sudah selesai, kalian semua boleh bersiap untuk acara dua jam lagi," ujar Arnon.


Edward mendekati Arnon seraya berkata, " Aku dan yang lain akan pulang dulu, nanti jam setengah empat kami sudah di sini."


"Baiklah! jangan lupa! suruh Dokter Salma tampil cantik, agar kau semakin jatuh hati padanya," bisik Arnon dengan suara meledek.


Bukan umpatan yang Arnon dapatkan, melainkan pukulan keras pada lengannya. "Dasar, aktor tak waras!" Edward berjalan mendekati arah sahabatnya yang lain, sementara Arnon hanya cekikikan melihat raut wajah dokter tampan itu seketika memerah.


Seorang ibu hamil dengan wajah penuh kebahagiaan tengah asyik memilih baju di sebuah mall terbesar di kotanya.


Ibu hamil itu adalah Melati. Dengan wajah penuh antusias, ia memilih singgah di toko terlaris di mall itu.


Banyak orang-orang bertanya-tanya, kenapa Melati masih membeli baju di mall atau butik lainnya? jawabannya, karena ia tak ingin mendapatkan baju gratis terus menerus.


Melati tahu jika dirinya memilih baju di butik mertuanya, semua baju itu tak harus ia bayar, karena Susan pasti memberikan padanya secara percuma.


Ia tak ingin merugikan mertuanya, meskipun kekayaan keluarga Gafin tak akan habis hanya karena Susan memberikan baju rancangannya pada Melati.


Melati tetap tak enak hati. Ia lebih memilih membeli dengan uang yang diberikan oleh suaminya.


Agnez terus melihat ke arah jam tangannya. Ia takut Melati tiba-tiba meminta ingin pulang.


Karena merasa was-was, akhirnya Agnez diam-diam mengirim pesan pada Pram.


Agnez

__ADS_1


Bagaimana dengan persiapannya? apa sudah selesai?


Belum ada balasan dari Pram. Wajah Agnez sudah cemas. Ia mengira jika Pram masih sibuk melakukan persiapan.


"Duh, apa persiapannya masih belum selesai ya? tapi ini sudah hampir jam 3 sore," gumam Agnez dengan suara agak lantang karena posisinya dan Melati cukup jauh.


Ponsel Agnez berdenting tanda pesan masuk.


Agnez langsung melihat ponselnya. Ia membuka pesan dari Pram.


Pram


Semua persiapan sudah selesai! Jika Nona meminta untuk kembali, kau turuti saja dia.


Agnez melihat ke arah Melati yang masihlah sibuk memilih baju.


"Apanya yang minta ingin pulang! dia saja sedang menikmati waktu berbelanjanya! huh, apa ini karena efek dari kehamilannya? Melati bukan tipe orang yang suka belanja jika dia tak membutuhkan baju" gumam Agnez lagi.


Agnez kembali pada ponselnya. Ia mulai mengutak-atik benda pipih itu untuk membalas pesan tunangannya.


Agnez


Sepertinya dia betah di sini.


Pram


Syukurlah, jangan lupa untuk membuatnya sudah siap saat Nona sudah kembali kemari. Kau juga harus sudah tampil cantik untukku.


Agnez tersenyum-senyum sendiri membaca isi pesan dari Pram.


Agnez


Tak perlu merayu, karena rayuanmu itu sudah basi wahai Asisten Pram.


Pram


Aku merindukanmu.


Agnez


Aku juga merindukanmu.


Agnez mengecup ponselnya dan kelakuan anehnya itu tertangkap oleh kedua pelayan toko yang sedang berbisik menatap ke arah Agnez.

__ADS_1


Mata Agnez tak sengaja melihat itu semua. Ia tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak merasa gatal sedikitpun.


Agnez meletakkan ponselnya, kemudian melangkah ke arah Melati yang masih sibuk memilih baju.


__ADS_2