Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 139


__ADS_3

Agnez mendekati Melati yang sudah berada di meja kasir.


"Sudah, Mel?" tanya Agnez pada Melati yang masih menghadap ke arah petugas kasirnya. "Sudah, Kak!"


Agnez melihat 3 paper bag berisi sebagian baju Melati yang sudah di total oleh petugas kasir tersebut. Dan masih ada banyak lagi baju yang belum selesai di total.


Mata Agnez hendak meloncat karena adiknya itu berbelanja sangat banyak sekali.


"Kau serius ingin membeli itu semua?" tanya Agnez dengan wajah tak percaya.


"Seriuslah, Kak!" Melati menyahut dengan nada santai sambil mengeluarkan black card dari dalam tasnya.


Ibu hamil itu memberikan kartu tersebut pada petugas kasir. Setelah semua bajunya di bayar, petugas tersebut mengembalikan kartu Melati.


Saat semua baju yang Melati pilih sudah di bayar, jumlah paper bag bertambah 2 dan total semuanya adalah 5 paper bag.


"Bantu aku membawanya ya, Kak!"


Agnez sukses di buat mematung oleh kelakuan adiknya itu. "Untuk apa kau membeli baju sebanyak ini? biasanya kau tak suka menghamburkan uang," ujar Agnez seakan bukan sedang berhadapan dengan Melati.


"Aku hanya ingin membelinya saja, Kak! aku suka saja melihat semua baju yang menggoda kedua mataku dan aku ingin sekali membelinya," jelas Melati pada Agnez.


"Kita ke mobil sekarang," pinta Agnez sambil membawa semua paper bag milik Melati menuju ke arah mobil.


Agnez sengaja tak bertanya panjang lebar karena ia tak ingin di lihat oleh orang-orang yang berada di toko itu.


Saat sudah berada di dalam mobil, Agnez meletakkan semua paper bag di kursi penumpang.


Agnez berada di kursi kemudi, sementara Melati berada di sebelah Agnez.


"Apa isi dari semua paper bag itu, Mel?" tanya Agnez yang sedari tadi ingin sekali menanyakan pertanyaan itu pada adiknya saat berada di dalam toko.


"Ada gaun malam, baju tidur, baju ibu hamil, baju santai ...."


"Oke, stop! aku ingin bertanya padamu, untuk apa itu semua?" tanya Agnez dengan wajah datar karena Melati sudah dalam tahap tidak benar kali ini.

__ADS_1


"Aku juga tak tahu, Kak! aku hanya suka dengan model dan bahannya, naluriku ingin sekali memiliki semua barang-barang ini dan tanganku seakan terasa gatal ingin mengambil semua baju itu," jelas Melati.


Kali ini Agnez sudah tak bisa bertanya apa-apa lagi. Kini tunangan Pram itu tahu apa penyebab sang adik bisa seboros ini. Ternyata bawaan kehamilannya.


"Huh, baiklah! jika itu sudah berhubungan dengan bawaan bayi, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, karena aku tahu betul kau orang seperti apa, Mel! lebih baik kita ke salon kecantikan dulu," ujar Agnez yang mendapat tatapan tak mengerti dari Melati.


"Untuk apa kita kesana, Kak? aku ingin pulang ke rumah, aku sudah rindu dengan, Suamiku!" wajah Melati sudah memelas.


"Astaga! Tuhan! maafkan aku, sungguh aku tak tega melihat Melati harus menahan rindu lebih lama lagi pada suaminya, karena aku tahu bagaimana saat hati ini menahan rindu," batin Agnez.


"Temani aku ke acara party," sahut Agnez sekenanya.


Dahi Melati sudah mengkerut sempurna. "Kenapa harus aku, Kak? kenapa tak dengan tunanganmu saja! kau kan sudah punya pasangan sendiri," ujar Melati dengan raut wajah kesal.


"Dia sibuk, Mel!" Mulai memainkan kemudinya memecah jalanan.


"Sesibuk-sibuknya dia, seharusnya harus bisa meluangkan waktu untukmu."


Agnez menghela nafas panjang. "Apa kau ingin gajinya di potong 99% oleh suamimu itu."


"Kan bisa minta izin," elak Melati yang tak mau kalah.


"Aku rindu dengan suamiku, Kak!"


"Aku juga rindu dengan tunanganku! tapi aku bisa menahannya," sahut Melati.


"Kau kan tak hamil! coba saja kalau kau hamil sepertiku, pasti kau akan ingin selalu dekat dengan suamimu," ujar Melati yang membuat Agnez bungkam.


"Terserah kau saja, yang jelas kau harus menemaniku ke salon titik tak ada koma."


Melati sudah memajukan bibirnya ke depan. Ia kesal dengan Agnez karena sudah memaksanya ikut ke salon.


Agnez sebelumnya tak pernah memaksa Melati seperti sekarang ini. Ibu hamil itu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil.


"Jika sudah sampai, bangunkan aku! aku mengantuk," tutur Melati dengan nada ketus.

__ADS_1


Agnez hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Melati yang ia tahu adiknya itu tengah merajuk karena dirinya memaksa untuk ikut ke salon.


"Aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai," ujar Agnez melajukan mobilnya ke arah salon langganannya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil Agnez sudah berada di depan sebuah salon dengan deretan mobil yang memenuhi tempat parkirannya.


Agnez membuka sabuk pengamannya. Tak lupa ia juga membuka sabuk pengaman Melati.


Agnez sangat hati-hati membuka seat belt adiknya karena perut Melati sudah semakin besar.


"Mel! bangun! kita sudah sampai." Agnez membangunkan Melati dengan nada lembut karena ia takut membuat ibu hamil itu terkejut.


Perlahan Melati mulai menggeliat kecil dan membuka matanya sedikit demi sedikit.


Melati melihat ke sekeliling luar mobil. Ternyata ia sudah sampai di salon langganan kakaknya.


"Ayo turun! kita sudah sampai dan jangan lupa, kau bawa gaun yang akan kau kenakan untuk nanti sore karena aku juga sudah membawa gaunku," ucap Agnez sembari turun dari mobil membawa paper bag dan tas jinjingnya.


Melati juga keluar dari mobil Agnez dengan paper bag dan tas jinjingnya.


Keduanya masuk ke dalam salon tersebut. Agnez dan Melati di sambut hangat oleh pemilik salon.


"Selamat datang, Mbak Agnez! bagaimana kabarnya? lama tidak datang kemari?" tanya wanita pemilik salon yang tampil cantik dan modis.


"Kabar saya baik kok, Mbak! saya beberapa bulan yang lalu ke Belanda, jadi tak bisa sering-sering kemari," jelas Agnez pada pemilik salon itu.


Pemilik salon tersebut hanya manggut-manggut sambil tersenyum pada Agnez. "Ini siapa?" tanya pemilik salon melihat ke arah Melati.


"Ini adik saya, kami kemari kemari ingin perawatan sekaligus make up untuk acara ...."


Agnez tak melanjutkan perkataannya. Ia memberi kode dengan menunjukkan perut buncit Melati pada si pemilik salon.


Kebetulan Melati tak memperhatikan pembicaraan keduanya, ibu hamil itu tengah fokus dengan para wanita yang sedang di rias.


Pemilik salon mengerti maksud Agnez. Ia langsung mempersilakan keduanya duduk di kursi yang sudah tersedia.

__ADS_1


Keduanya sudah memulai proses perawatan mereka. Mulai dari meni pedicure, kerimbat, dan perawatan lainnya. Salon yang di pilih Agnez adalah salon kecantikan paket komplit untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai kaki.


Mereka berdua begitu menikmati sentuhan jari-jari para manikur yang sangat lihai memanjakan keduanya dari mulai kerimbat sampai meni pedicure.


__ADS_2