
Sandra masih menatap ke arah tangan Zinnia yang terselip sebuah surat di tangan indah nan mulusnya itu.
Zinnia menjulurkan tangannya sembari memberikan surat yang ia genggam.
Sandra terkejut kala surat yang sedari tadi menyita perhatiannya itu di berikan oleh bosnya kepadanya.
Sandra masih belum menerima surat yang memang untuknya. "Ini surat apa, Nona?" tanya Sandra pada Zinnia.
Asisten Zinnia itu berpikir jika itu sebuah surat pemecatan dirinya karena dari luar saja terbungkus amplop putih tak terlihat romantis sama sekali.
Zinnia masih menatap lekat kedua manik mata Sandra yang saat ini tengah membalas tatapannya. "Ini ... surat dari, Marquez!"
Wajah Sandra memasang raut wajah bingung. Ia tak mengerti kenapa calon suaminya masih menitipkan surat itu pada Zinnia, kenapa tak langsung padanya saja.
Sandra menerima surat itu dari tangan Zinnia.
Sebelum Sandra membuka surat itu, ia masih melihat ke arah Zinnia meminta persetujuan pada bosnya terlebih dulu meskipun rasa penasaran sudah menggerogoti dirinya. "Boleh saya membukanya?" tanya Sandra pada Zinnia.
Zinnia menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Sandra kembali menatap surat putih bersih tersebut dengan hati yang sudah campur aduk antara takut berisi hal yang membuatnya jantungan atau berisi hal yang bisa membuatnya terbang. Hanya ada dua kemungkinan itu dan yang paling tak ingin Sandra baca adalah perkiraan pertamanya karena ia masih belum siap akan kemungkinan terburuk itu.
Dengan bermodalkan rasa penasaran, akhirnya Sandra mulai membuka amplop surat itu. Dengan perlahan tapi pasti, Sandra mulai membuka amplop putih tersebut.
Hati Sandra sudah mulai berdetak kencang karena ia sudah mulai berpikir hal yang tidak-tidak namun, Sandra mencoba berpikir hal yang positif yaitu isi surat dari Marquez adalah hal yang membahagiakan.
Dengan senyum yang ia paksakan agar suasana hatinya juga ikut merasakan hal positif, Sandra mulai menarik surat dari dalam amplop putih tersebut.
Sandra meletakkan amplop putih itu di atas pangkuannya dan memegang suratnya.
Sandra menarik napas dalam untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk itu.
Zinnia sungguh tak tega melihat Sandra harus menerima kenyataan pahit itu. Ibu hamil itu berpaling menghadap ke arah suaminya membenamkan wajahnya pada dada bidang William.
Air mata Zinnia tak bisa di bendung lagi. Air mata itu turun dengan sendirinya dan Zinnia hanya diam saja tanpa terdengar isak tangisnya.
William memeluk erat tubuh sang istri karena William bisa tahu bagaimana perasaan Zinnia saat ini.
__ADS_1
Zinnia tak bisa membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Sandra dan orang yang kita cintai harus menikah dengan orang lain karena suatu alasan yang tak bisa di anggap remeh.
Sandra mulai membuka lipatan lembaran surat yang berada di tangannya dan saat lipatan terakhir sudah ia buka, Zinnia melihat sebuah tulisan "Dear Sandra".
Sandra tersenyum karena ia tahu surat itu dari calon suaminya.
Karena Sandra masih tak membaca isinya, hati Sandra mulai lega karena ia yakin bukan surat tipe negatif yang akan ia baca.
Sandra kembali melanjutkannya membaca surat itu.
Aku tahu kau pasti tersenyum saat kau membaca pembuka dari surat ini.
Terimakasih telah memberiku kenangan terindah selama beberapa hari belakangan ini.
Terimakasih karena kau telah mau menerima cintaku dan terimakasih karena kau telah membuatku jatuh cinta padamu.
Anugrah yang paling indah dalam hidupku adalah mencintaimu dan bertemu denganmu.
Hari ini hubungan kita sebagai sepasang tunangan sudah genap dua hari dan hari ini juga aku membatalkan pertunangan kita.
Sandra menghentikan membaca isi dari surat yang diberikan oleh Marquez.
Sandra masih menahan air mata itu agar tak meluncur bebas dan Asisten cantik tersebut menarik napasnya dalam melanjutkan membaca isi surat dari Marquez.
Kau boleh membenciku, kau boleh mengumpat sesuka hatimu karena aku seenaknya saja membatalkan pertunangan kita.
Aku harap kau mengerti kenapa aku melakukan hal itu.
Aku sesungguhnya tak ingin tragedi percintaan kita berdua berakhir seperti ini namun, aku yang membuatnya menjadi seperti ini.
Aku mencintaimu, aku sungguh sangat mencintaimu.
Maafkan aku karena aku tak bisa memperjuangkan cinta kita sampai titik darah penghabisan seperti di film yang pernah kita tonton berdua.
Realita lebih menyakitkan dibandingkan dengan cerita dalam sebuah film.
Jika aku memperjuangkan cinta kita maka, seorang wanita yang hidupnya sudah tak lama lagi akan menjadi rasa bersalahku seumur hidup karena keinginan terakhirnya tak bisa aku penuhi.
__ADS_1
Aku harus menikah dengan wanita lain. Aku harus melakukan itu karena keluarganya sangat berjasa pada keluargaku.
Ragaku boleh menjadi milik orang lain, tapi hatiku akan selalu menjadi milikmu sampai akhir napasku berhembus.
Kau wanita yang ada dalam hatiku saat ini, kau wanita yang bersemayam dalam relung hatiku, kau wanita yang sesungguhnya aku inginkan.
Kau berhak mengutukku karena rasa sakit yang aku berikan padamu dan aku juga merasakan rasa sakit itu.
Tersenyumlah! jangan membiarkan perpisahan ini menjadi sebuah akhir dari perjalanan hidupmu.
Satu hal yang harus kau ingat dan selamanya harus kau ingat, jika aku mencintaimu dan hanya kau wanita terakhir dalam hidupku tak akan ada yang lain, meskipun dia sudah terikat denganku suatu hari nanti.
Tersenyumlah! jangan ada air mata untuk menangisi pria tak tahu diri sepertiku.
Aku mencintaimu, Sandra Adista.
Air mata Sandra sudah tak dapat ditahan lagi untuk jatuh. Ia tak mengerti dengan takdir Tuhan padanya dan Marquez. Kenapa nasib percintaannya harus seperti ini.
Air mata Sandra terus jatuh sampai suara sesegukan dapat terdengar oleh telinga Zinnia.
Ibu hamil itu menoleh ke arah Sandra dan air mata wanita itu sudah membasahi wajahnya dengan mata yang sudah bengkak.
Zinnia berjalan ke arah Sandra dan memeluk asistennya seerat mungkin.
Posisi Zinnia berdiri sementara Sandra duduk. Sandra membalas pelukan bosnya.
"Menangislah sesukamu! sampai semua perasaan yang kau rasakan hilang, San!"
"Hiks hiks hiks hiks! aku sangat mencintainya!" Sandra mengeluarkan semua isi hatinya sembari diiringi dengan tetesan demi tetesan air mata yang terus menjadi.
Zinnia tak menjawab apapun, ia memejamkan matanya dengan air mata yang juga ikut menetes karena ia tak ingin Sandra tahu jika dirinya juga ikut menangis.
Zinnia terus mengusap punggung Sandra tanpa henti dan tanpa Sandra sadari, Bosnya itu juga menangis dalam diam tanpa sepengetahuannya.
William melihat ke arah sang istri dan asistennya yang tengah saling memeluk untuk saling menguatkan satu sama lain.
"Kenyataan memang harus kita hadapi apapun itu, baik kebahagiaan yang datang atau kesedihan yang datang dan kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alur perjalanan hidup yang sudah digariskan oleh Tuhan!"
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.