Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 281 ( Season 2 )


__ADS_3

Marquez mengangkat tubuh Niken yang sudah terkulai lemah tak bertenaga.


Desainer tampan itu berjalan ke arah ranjang Niken dan meletakkan tubuh Niken tepat di atas ranjangnya.


Sandra bangun dari keadaan berjongkok langsung berdiri mendekati Niken yang sudah tak bernyawa.


Zinnia juga ikut masuk ke dalam untuk mendoakan Niken agar wanita itu bisa bahagia di surganya.


Kini posisi Niken tengah berbaring di atas kasurnya. Wanita itu memejamkan matanya untuk selamanya.


Marquez menyentuh puncak kepala Niken. "Tenanglah di alam sana! aku dan Sandra akan bahagia untukmu," tutur Marquez meneteskan air matanya.


Sandra melihat ke arah suaminya. Tak mudah bagi seorang sahabat melihat sahabatnya sendiri tiada dengan cara menyakitkan seperti ini. Apalagi ini disebabkan oleh dirinya sendiri yang tak peka atas perasaan seseorang yang sangat ia kenal dekat. Orang yang setiap hari sedari kecil selalu bersama.


Sandra menyentuh tangan suaminya. "Dia akan bahagia di sana karena dia telah membuat kita bahagia," ujar Sandra menguatkan suaminya.


Marquez melihat ke arah Sandra. "Terima kasih! aku sangat beruntung bisa dicintai oleh wanita seperti kalian berdua! tak hanya cantik parasnya saja, tapi cantik hatinya pula dan yang paling penting, aku dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangiku sampai orang itu pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini."


Sandra menggenggam erat tangan Marquez, memberikan asupan tenaga untuk suaminya. "Aku dan Niken akan selalu mencintaimu, Sayang!"


Keesokan harinya, hari ini adalah hari pemakaman Niken.


Marquez tersenyum pada istrinya, kemudian beralih menatap ke arah makam sahabatnya.


"Kau akan selalu kami kenang, Niken! baik itu cinta atau pengorbananmu akan selalu kami ingat!"


Pemakaman Niken telah selesai dilakukan. Marquez dan Sandra masih berada di pemakaman wanita yang sangat berjasa dalam hidup keduanya.


Kedua orangtua Niken sudah pulang lebih dulu karena mereka berdua terlalu lama menangis membuat keduanya merasa pusing.


Sandra dan Marquez masih berada di makam Niken. Mereka berdua duduk berdampingan menatap makam tersebut.


"Kau akan selalu ada dalam hati kami!" Marquez menyentuh nisan Niken menatapnya lekat.


Ingatan Marquez tentang masa kecilnya kembali terlintas saat ia bermain bersama Niken. Mereka tertawa gembira sambil berlari dan saling melempar bola kecil.


Marquez tersenyum menatap nisan Niken. Pria itu akhirnya tahu bagaimana wujud cinta sejati yang sesungguhnya.


"Melalui cinta yang kau miliki untukku, aku bisa tahu, seperti apa cinta sejati itu! ternyata cintaku pada Zinnia atau Sandra tak sebesar cintamu padaku! cintaku pada mereka berdua hanya sebatas rasa cinta yang teramat sangat namun, cintamu padaku tak bisa aku ukur, sampai kau rela merasakan sakit hati dan merelakan pria ini untuk orang lain dan pria yang kau cintai sungguh sangat tak tahu diri karena ia begitu egois lebih memilih kepentingannya sendiri, daripada memberikan sedikit saja kebahagiaan terakhir untukmu."


Angin bertiup sangat kencang. Marquez dan Sandra sampai menundukkan kepala mereka karena tiupan angin itu tak seperti biasanya.


Sandra masih tetap menundukkan kepalanya, sementara Marquez berusaha melawan angin tersebut mengangkat wajahnya menatap lurus ke depan.


Entah otak Marquez sudah tak bekerja dengan semestinya atau memang itu sebuah kenyataan.


Marquez melihat bayangan seorang wanita cantik. Marquez mengamati bayangan wanita berbaju putih menjuntai yang sangat indah saat pakaian itu di kenakannya.


Marquez yakin wajah itu mirip dengan wajah Niken.


Bayangan wanita itu semula jauh dan kini bayangan tersebut mendekat ke arah Marquez. Berjongkok tepat di sebelah makam Niken, berhadapan dengan Marquez.


Marquez yakin jika itu adalah Niken, sahabatnya.


Wajah Niken tak pucat atau kurus seperti dulu. Wajah wanita itu normal seperti biasanya. Sebelum ia sakit keras.


Niken terlihat sangat cantik dengan rambut yang di gerai panjang sepinggang.


Niken menatap Marquez tersenyum pada pria itu.


"Apa ini benar-benar dia?"

__ADS_1


Marquez mengulurkan tangan kirinya yang tak di peluk oleh Sandra ke arah bayangan wanita yang mirip Niken itu namun, wanita itu menggelengkan kepalanya.


Niken kembali tersenyum pada Marquez dan kini tangannya itu terangkat untuk menutupi mata Marquez.


Tangan kanan Niken sudah hampir sampai menutupi mata Marquez dan desainer tampan itu tahu jika ia mungkin sedang berhalusinasi. Marquez tersenyum pada bayangan yang mirip dengan wajah sahabatnya dan telapak tangan wanita itu menutupi mata Marquez.


Seketika semuanya tiba-tiba gelap dan Sandra menepuk pundak Marquez cukup keras. "Sayang! Sayang!" Sandra menyadarkan suaminya.


Marquez tersentak menoleh ke arah Sandra. "Kau kenapa?" tanya Sandra yang kebingungan dengan sikap aneh suaminya.


Marquez tak menjawab pertanyaan istrinya, ia melihat ke sekitar pemakaman itu dan tak ada bayangan wanita yang tadi ia lihat.


"Pasti aku hanya berhalusinasi!"


"Sayang!"


Marquez menoleh ke arah Sandra. "Aku tak apa-apa! kita kembali saja," pinta Marquez.


"Kita pulang karena angin dari tadi berembus kencang sekali," tutur Sandra dan senyuman Marquez seketika terukir.


"Jadi aku tak berhalusinasi! dia memang masih berada disini melihat kami berdua."


Sebelum Marquez benar-benar meninggalkan makam Niken, pria itu menyentuh nisan Niken kembali. "Aku tahu! kau pasti lebih bahagia di surga daripada di dunia ini," tutur Marquez tersenyum sembari berdiri.


Sandra dan Marquez berjalan meninggalkan makam Niken.


Wangi bunga menyeruak dalam indera penciuman Marquez.


"Kau wanita yang baik dan kau juga pasti akan ditempatkan di tempat terbaik di sisinya."


Marquez merangkul istrinya dan Sandra membalas memeluk Marquez.


Kini Marquez sudah berada di dalam rumahnya berjalan ke arah kamarnya bersama sang istri.


Pria itu menaikkan lengan kemejanya sampai batas siku.


Marquez merasa kepalanya sedikit pening. Desainer tampan itu memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang seharusnya tadi malam menjadi tempat penyatuannya dan Sandra. Karena masa berkabung lebih kental, akhirnya malam pertama itu ia putuskan tak akan dilakukan untuk beberapa hari ke depan.


Marquez merasa matanya begitu berat dan secara perlahan kelopak mata indah itu mulai mengatup rapat.


Marquez kini berada di sebuah ruangan yang entah dimana itu. Pria itu berjalan ke arah sumber cahaya yang berasal dari balkon ruangan tersebut.


Ia melihat bayangan seorang wanita tengah memunggunginya. Marquez familiar dengan postur tubuh wanita berambut panjang tersebut.


Saat Marquez sudah berada tepat di belakang wanita yang tengah asyik memandangi taman bunga, Marquez menepuk pundak wanita itu. "Niken!"


Wanita itu berbalik ke arah Marquez. Senyum yang sama seperti senyuman terakhir yang Niken limpahkan pada Marquez pada saat-saat terakhir umur sahabatnya itu.


"Kenapa kau kemari? bukankah hari ini hari bahagiamu?" tanya Niken pada Marquez.


Pria itu masih diam. Marquez merasa semua ini tak benar. Ini pasti mimpi bukan kenyataan karena Niken sudah tiada.


Niken masih menatap ke arah Marquez sembari terus tersenyum. "Apa kau sudah mulai membisu? wajahmu sangat tampan, tapi sayangnya kau pria yang tak dapat berbicara," ledek Niken tertawa kecil.


Marquez masih diam mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan jika semua ini nyata.


"Apa kau benar-benar, Niken?" tanya Marquez ingin memastikan kembali.


Wanita itu lagi-lagi tersenyum sembari berkacak pinggang menatap Marquez. "Jika aku bukan Niken, siapa lagi wanita yang memiliki wajah cantik seperti ini," goda Niken dan Marquez mulai menerbitkan sedikit senyumannya yang tadi sempat hilang bagai di telan bumi.


Marquez melihat ke arah sekeliling tempat itu. Ia tak pernah sekalipun berkunjung ke tempat tersebut.

__ADS_1


"Tempat apa ini?" tanya Marquez pada Niken dan wanita cantik dengan gaun yang sama seperti saat Marquez melihat bayangan Niken di pemakaman menjawab, "Ini tempat tinggalku."


Marquez mengerutkan keningnya. "Ini bukan rumahmu, Niken!"


Wanita itu berjalan ke arah balkon untuk melihat berbagai jenis bunga tertanam subur di tempat itu.


Marquez yang merasa diacuhkan bergerak mendekati Niken yang tengah menyandarkan tubuhnya pada sandaran balkon tempat itu.


Marquez berada tepat di samping Niken yang tengah memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa kulit wajahnya.


"Sekarang tempat ini yang menjadi rumahku dan aku sangat bahagia berada disini."


Niken berbalik masuk ke dalam ruangan itu yang menyerupai seperti sebuah kamar.


Tak berselang beberapa menit, suara lantunan melodi romantis terdengar oleh telinga Marquez.


Niken keluar menuju ke arah Marquez yang tengah menatap ke arah sahabatnya.


"Sudikah kau berdansa denganku?" tanya Niken pada Marquez.


Desainer tampan itu masih diam mencoba memahami situasi saat ini.


"Jika ini benar-benar mimpi, setidaknya aku sudah membuat dia bahagia meskipun hanya di dalam mimpiku dan menghilangkan rasa bersalah ini karena tak memberikan kenangan manis padanya."


Marquez tersenyum mengulurkan tangannya pada Niken untuk mengajak sahabatnya itu berdansa.


Niken membalas senyuman Marquez dan dengan senang hati ia menerima uluran tangan Marquez.


Tangan Niken sudah menggenggam tangan pria yang sangat ia cintai dan satu tangan yang lain sudah berada di bahu Marquez.


Tangan kiri Marquez meraih pinggang sahabatnya. "Apa anda sudah siap, Tuan Putri?" tanya Marquez membuat gelak tawa Niken tak dapat di tahan lagi.


"Aku selalu siap, Tuan Copaldi!"


Marquez mulai menggerakkan kakinya begitu pula dengan Niken yang mengikuti irama musik romantis tersebut.


Mereka berdua berdansa dengan sangat apik sampai di saat Niken berputar dan masuk dalam pelukan Marquez.


Tangan wanita itu sudah melingkar pada leher Marquez dan tangan Marquez juga sudah berada di pinggang pengantin masa kecilnya.


Kini tatapan mata mereka berdua bertemu. "Apa kau tak ingin pulang?" tanya Niken pada Marquez.


"Bagaimana jika aku ingin disini?" tanya balik Marquez ingin menggoda Niken.


Niken tersenyum manis menatap kedua manik mata Marquez. "Sandra tengah menunggumu dan kau harus pulang! kau tak perlu terus memikirkan aku karena aku sudah bahagia disini! kau juga harus menjalani kehidupanmu seperti biasanya. jangan merasa bersalah atas kematianku karena ini semua sudah takdir Tuhan! kembalilah, Marquez! aku mencintaimu!"


Niken mengecup pipi Marquez lembut dan pria itu memejamkan matanya diikuti oleh tangan Niken yang menutupi kedua mata Marquez.


"Sayang! bangun! kita makan siang dulu!"


Sandra membangunkan suaminya dan pria itu membuka matanya.


"Ayo kita makan siang dulu," pinta Sandra.


Marquez memejamkan matanya. Pria itu tersenyum sendiri.


"Ternyata hanya mimpi, tapi setidaknya aku tahu jika dia bahagia disana dan aku sudah mewujudkan mimpinya!"


Marquez menarik tangan Sandra masuk ke dalam pelukannya. "Aku masih ingin tidur siang dan kau harus menemaniku tidur," ujar Marquez memeluk tubuh istrinya erat.


Sandra tersenyum manis karena suaminya sudah kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2