
Melati dan Arnon sudah berada di lantai bawah. Mereka berdua berjalan ke arah teras rumahnya.
Di teras rumah itu sudah ada Agnez dan Pram yang tengah menunggu Melati dan Arnon.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" Melati berpamitan pada suaminya.
Sebelum Melati pergi, Arnon mengecup kening istrinya. "Hati-hati ya, Sayang! aku mencintaimu."
Melati tersenyum sembari menyentuh kedua pipi suaminya. "Aku lebih mencintaimu, Suamiku!"
Pram dan Agnez tak mau kalah. Mereka berdua juga melakukan hal yang sama.
Pram mengecup kening Agnez cukup lama. Setelah kecupan itu terlepas, ia menyentuh pipi kanan tunangannya. "Kita akan bertemu nanti sore, jadi kau tahan rasa rindumu itu," tutur Pram yang mendapat senyuman manis dari Agnez.
Melati dan Arnon tergelak melihat kemesraan keduanya.
"Aku kira, Om jin tak bisa seromantis itu pada calon istrinya! eh, ternyata dia bisa merayu juga rupanya," ledek Melati pada Pram dan Agnez.
"Sudah! ayo kita berangkat!" Agnez menyentuh kedua pundak Melati membawanya ke arah mobil.
Melati masuk terlebih dulu, setelah itu baru Agnez yang masuk ke sisi kursi kemudi.
Melati menurunkan kaca mobilnya. Ibu hamil itu menatap Arnon. "Kau jangan merindukanku ya!" Melati berteriak karena mobil Agnez sudah berjalan menjauh dari halaman rumahnya.
Pram dan Arnon dibuat cekikikan karena ulah kekonyolan Melati.
"Sekarang kita tinggal menunggu yang lain datang," ujar Arnon kembali masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Pram.
Agnez dan Melati sudah sampai di butik Susan. Mereka berdua masuk ke dalam butik tersebut.
"Bagaimana kabarmu, Sayang? maafkan, Mommy! karena bulan kemarin sedang sibuk merancang sebuah gaun untuk acara penting, Nak!"
"Tak apa, Mom! aku mengerti," tutur Melati sambil tersenyum.
"Terimakasih, Sayang! mmmmm, tumben sekali kau kemari, Nak?"
"Kak Agnez ingin fitting gaun pernikahannya, Mom!"
"Astaga! Mommy lupa belum mengucapkan selamat padamu, Nak! selamat atas pertunangan kalian ya!"
Susan memeluk Agnez dan kakak Melati itu juga membalas pelukan mertua adiknya. "Tak apa-apa, Tante!"
"Kau bisa menunggu di sana, Nak! Mommy dan Agnez akan melakukan proses fitting sekarang," tutur Susan yang langsung membawa Agnez ke ruang ganti untuk mencoba baju pengantinnya yang sudah Agnez pilih dan tinggal melihat bagian mana yang masih belum pas.
Melati berjalan ke arah sofa untuk menunggu Agnez selesai melakukan fitting baju pengantin dengan mertuanya.
__ADS_1
Tak lama setelah Melati duduk, seorang pelayan datang membawakan minuman untuknya.
"Silahkan diminum, Nona!"
"Iya, Mbak! terimakasih."
Sementara di ruang ganti, Agnez dan Susan melakukan proses fitting, namun sambil berbincang.
"Proses fitting ini kan tidak lama ya, Tante! jadi sebentar lagi, Tante harus mencari alasan atau kegiatan apa yang bisa menahan Melati sedikit lebih lama di sini," ujar Agnez pada Susan.
"Kau tenang saja, Nez! Tante sudah mempersiapkan semuanya," tutur Susan sambil mengukur bagian yang masih kurang pas di tubuh Agnez.
Susan memang sudah tahu rencana Arnon yang akan memberikan Melati kejutan baby shower hari ini, karena putranya pagi-pagi sekali menghubunginya.
Agnez dan Susan sudah keluar dari ruangan ganti dan juga sudah selesai proses fitting baju pengantin.
Mereka berjalan ke arah sofa tempat Melati menunggu dengan ponsel yang berada di tangannya.
"Maaf ya, Nak! kau harus menunggu lama," sesal Susan pada menantunya.
"Tak apa, Mom! aku hanya duduk-duduk saja, tak bekerja berat kok," sahut Melati.
"Sudah selesai, Kak?" tanya Melati pada Agnez.
"Sudah," sahut keduanya bersamaan.
Melati merasa aneh dengan mereka berdua. "Ada yang aneh denganmu, Kak!"
Agnez segera menormalkan kembali kegugupannya. Ia mencoba tak sekaku mungkin agar Melati tak curiga.
"Apanya yang aneh, Mel? kau saja yang parno, selalu berpikir negatif pada orang lain," kilah Agnez agar Melati tak curiga padanya.
"Sudah! daripada kalian berdua berdebat, lebih baik kalian ikut, Mommy!"
Susan berjalan ke arah baju couple keluarga yang sudah terpajang rapi.
Melati dan Agnez mengikuti Susan ke ruangan khusus baju keluarga.
"Coba kalian lihat ini! Mommy merancang baju dan gaun ini untuk pernikahanmu, Nez!"
"Wah, itu bagus sekali, Tante!"
Agnez mendekati baju dan gaun itu. Warna yang dipilih oleh Susan adalah warna salmon. Warna yang di sukai Agnez.
"Semua sudah Mommy buatkan, dari mulai keluarga Melati dan keluarga Pram! ini hadiah untukmu dari Mommy, Nez!"
__ADS_1
"Jadi, ini gratis, Tante?" tanya Agnez dengan mata berbinar.
"Tentu saja, Nak!"
Wanita berambut pendek itu langsung berhamburan memeluk Susan.
"Terimakasih, Tante Susan!"
Melati melihat Kakaknya yang kegirangan tersenyum geli. Ibu hamil itu kembali menatap ke arah gaun yang sudah dirancang oleh mertuanya.
"Mom! apa baju itu tak akan kurang besar untukku?" tanya Melati polos.
Sontak pertanyaan yang dilontarkan Melati membuat tawa mertuanya pecah.
"Hahahaha!"
"Kau ini bisa saja, Nak! nanti kau kan sudah melahirkan, jadi perutmu juga tak akan terus terlihat besar seperti itu," jelas Susan pada menantunya.
Melati tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak merasa gatal. "Aku teringat jika pernikahan Kak Agnez akan dilaksanakan bulan depan," elak Melati pada mertuanya.
"Melati mulai pikun, Tante!" Agnez ikut meledek adiknya.
Melati menatap Kakaknya dengan raut wajah kesal. "Ih, Kakak ini bicara apa sih!"
Susan dan Agnez tertawa melihat raut wajah istri Arnon sudah kusut bukan main. Bagai baju yang tak di setrika bertahun-tahun.
Melati duduk di sofa sambil mengutak-atik ponselnya. Ia mencoba menghubungi seseorang.
"Aku akan mengadukan pada, Suamiku! kalau Kakak dan Mommy meledekku," tutur Melati sambil menjulurkan lidahnya pada Agnez.
Susan hanya bisa tepuk jidat melihat kelakuan menantunya yang berbeda 180 derajat saat Melati hamil. Padahal dulu saat menantunya belum hamil, Melati sangat sopan, tapi sekarang kelakuan ibu hamil itu bagai anak kecil yang nakalnya minta ampun.
"Apa itu bawaan kehamilannya," gumam Susan yang di dengar oleh Agnez.
"Pastinya, Tante! Melati bukan orang yang suka manja dan tipe pengadu seperti itu," jelas Agnez pada mertua adiknya.
"Huh, biarkan saja dia! asal cucuku tak stress di dalam sana, aku tak masalah," ujar Susan tersenyum pada Melati dan ibu hamil itu tengah menghubungi Arnon.
Saat di hubungi nomor Arnon tak aktif dan itu membuat Melati semakin kesal dengan bibir yang sudah maju ke depan.
"Kemana sih dia? awas saja jika aku sudah sampai di rumah, akan aku buat menjadi tempe penyet karena telah berani menon aktifkan ponselnya."
Melati sungguh merasa kesal hari ini karena keberuntungan tak berpihak padanya. Di butik ia di ledek oleh Agnez, sedangkan Arnon tak bisa di hubungi sama sekali.
Melati terus mencoba menghubungi nomor telepon suaminya berkali-kali.
__ADS_1