
William langsung bangun dari atas tubuh Zinnia, sementara istrinya juga ikut bangun sembari membenarkan bajunya yang sedikit berantakan.
Pasangan suami istri muda itu menundukkan kepalanya bagai murid sekolah dasar yang di hukum oleh gurunya.
Edward yang masuk ke ruangan itu masih diam memperhatikan apa yang sedang terjadi di ruangan itu.
"Apa yang sedang terjadi di sini? apa aku tengah mengganggu proses pembuatan cucuku?"
William dalam keadaan gundah karena ia takut jika Edward berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan sang istri.
"Semoga saja pikiran Daddy masih jernih! ah, untuk apa sih kau datang kemari, Dad! kau hanya membuat suasana menjadi canggung saja."
Zinnia masih diam tanpa ingin melakukan apa-apa. Ia lebih memilih menunduk.
"Sedang apa kalian?" tanya Edward memecah keheningan di ruangan itu.
William mendongakkan kepalanya memberanikan diri menatap sang Paman.
"Kami tak sengaja terjatuh sampai harus tumpang tindih seperti tadi," elak William agar Edward tak memperpanjang masalah ini.
Edward tak habis pikir dengan keponakannya itu. Bisa-bisanya dia berbohong pada orang yang lebih dulu hidup dari dirinya.
"Kau kira aku ini lahir prematur! orang pikun saja tahu jika kalian berdua sedang bermesraan."
"Apa kau ingat sekarang ada jadwal operasi?" tanya Edward lagi.
"Jadwal op ... astaga! aku lupa, Dad! masih ada waktu kan?" tanya William dengan raut wajah panik.
Edward hanya bisa melipat kedua tangannya di dada. Pria paruh baya itu mendekat ke arah Zinnia dan William.
Mata Edward yang mengenakan kacamata melihat jelas bekas gigitan di leher menantunya.
"Anak nakal! kau bilang tak sengaja terjatuh, tapi jatuhmu sangat menguntungkan, Son!"
"Apa yang membuatmu sampai lupa seperti ini, Will! kau tak pernah sebelumnya sampai tak ingat jadwal operasi," cecar Edward yang ingin membuat keponakannya itu mengakui apa yang tengah dilakukannya pada Zinnia.
__ADS_1
"Maaf, Dad! aku tadi malam tidur terlalu malam jadi masih mengantuk," elak William lagi.
Edward menatap ke arah Zinnia. "Benar itu, Zi?" tanya Edward pada menantunya.
"Tidak, Dad! kami tidur le ...."
Zinnia sontak mengentikan ucapannya. Ia tak sadar jika telah membuka kebohongan suaminya.
Gadis itu menoleh ke arah William yang sudah menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Mati kau, Zi! tamatlah riwayatmu kali ini."
"Jadi mana yang benar? kau atau suamimu, Zi?" tanya Edward lagi.
Zinnia menatap ke arah Edward. Gadis itu bertekad ingin mengakui semuanya, namun saat hendak membuka suaranya, tiba-tiba Edward bergumam, "Bekas tanda apa itu," gumam Edward pura-pura tak tahu.
Zinnia dan William bisa mendengar gumaman Edward. "Bekas apa, Dad?" tanya William pada Pamannya.
"Itu di leher istrimu," goda Edward pada putranya membuat pria itu melihat ke arah leher Zinnia.
Wajah William langsung bersemu merah karena bukan hanya satu tanda kepemilikan di sana, melainkan tiga tanda kepemilikan yang warnanya sangat jelas, merah keunguan.
"Tanda apa itu, Zi?" tanya Edward yang ingin terus menggoda keduanya.
"Ini ... ini aku di gigit nyamuk, Dad! nyamuk di rumah sangat besar," elak Zinnia sekenanya.
Edward tersenyum lebar, sementara William semakin di buat gemas dengan kepolosan istrinya.
"Alasan macam apa itu, Gadis cerewet! apa kau kira Daddy anak SD berumur 7 tahun yang dapat kau bohongi!"
"Jadi di rumah kalian ada nyamuk raksasa ya? seperti apa besarnya? apa perlu Daddy membantu kalian untuk mengusirnya dengan obat pembasmi serangga atau jika kalian ingin cepat, langsung semprot dengan cairan racun tikus saja pada nyamuk nakal itu," tutur Edward menatap ke arah William dan pria itu tersenyum kikuk karena Pamannya tahu jika itu semua ulahnya.
"Tidak perlu, Dad! nanti juga akan sembuh sendiri," tolak Zinnia halus.
"Apa kau tak perlu di obati, Zi? siapa tahu gigitan nyamuk raksasa itu mengandung semacam zat berbahaya yang bisa membuat darahmu terkontaminasi," ledek Edward lagi.
__ADS_1
William hanya bisa memejamkan matanya menahan malu karena Pamannya tahu jika nyamuk raksasa itu adalah dirinya.
"Dad! tolong jangan terlalu kasar padaku! Daddy kira aku ini zombie apa yang bisa mengontaminasi seseorang hanya karena gigitan saja."
"Tak perlu, Dad! ini hanya gigitan kecil saja," ujar Zinnia sambil tersenyum pada Edward.
"Bukankah Daddy dan suamiku ada jadwal operasi?" tanya Zinnia yang hanya berpura-pura agar kedua dokter bedah di hadapannya ini enyah jauh-jauh darinya sekarang juga.
"Iya benar, Dad! kita harus bersiap-siap," sambung William yang mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Kau benar, Zi! ayo, Will! kita ke ruangan operasi sekarang, tinggal 20 menit lagi," tutur Edward langsung keluar dari private room ruangan putranya, diikuti oleh William di belakangnya.
Selepas kepergian keduanya, tubuh Zinnia lemas langsung terduduk di kasur. "Huh, kenapa berhadapan dengan ayah mertua lebih tegang daripada saat aku menerima hasil kelulusan," gumam Zinnia menggelengkan kepalanya agar kesadarannya kembali normal.
William dan Edward berjalan di koridor rumah sakit."Seharusnya kau tadi menghubungi, Daddy!"
"Untuk apa aku harus menghubungimu, Dad?" tanya William tetap mengikuti langkah Pamannya.
"Agar Daddy tak mengganggumu dalam proses pembuatan William junior."
Edward tersenyum manis saat ia membayangkan jika Zinnia dan William memang akan punya anak, namun itu hanya bayangan untuk saat ini, namun suatu saat nanti Edward yakin jika keduanya akan saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
"Dad! itu semua tak seperti apa yang Daddy pikirkan," elak William yang masih kekeh dengan pendiriannya.
"Jika tak seperti apa yang ada dalam pikiran, Daddy! gigitan di leher Zinnia itu ulah siapa?" tanya Edward membuat William benar-benar di skak mati.
"Daddy sudah tahu bukan itu gigitan siapa? jadi untuk apa masih bertanya padaku?"
"Iya, Daddy tahu itu gigitan apa! itu gigitan nyamuk raksasa minta di basmi sekarang juga! apa kau ingin Daddy basmi sekarang juga?" tanya Edward langsung berbalik menghadap ke arah William yang berada di belakangnya.
Seketika keduanya terhenti dan William langsung memasang raut wajah pasrah di hadapan Edward.
"Maafkan aku, Dad! aku khilaf! aku tadi hanya kebablasan saja," elak William yang tak ingin mendapat amukan dari Edward.
Pria paruh baya itu menepuk kedua pundak keponakannya. "Kau sudah menjadi kepala rumah tangga, Will! kau harus berusaha menerima istrimu, dia gadis yang baik dan kau juga pria yang baik, jadi Daddy harap, rumah tangga kalian kekal abadi," doa Edward untuk William.
__ADS_1
"Jangan lupa! lain kali jika kau sedang berduaan dengan istrimu hubungi, Daddy! Daddy bisa melakukan tugas ini sendirian tanpa harus denganmu, namun karena ini permintaan pasien, jadi kita berdua harus turun tangan sendiri!"
Edward berjalan melangkah menuju ruang operasi diikuti oleh William di belakangnya karena waktu sudah tinggal 5 menit lagi sebelum operasi di mulai.