Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 132


__ADS_3

Arnon menarik tangan Melati untuk berkeliling melihat-lihat isi rumah barunya.


Saat sudah berada di depan pintu kamarnya, Arnon bertanya pada Istrinya. "Kita ke lantai bawah dulu atau ke lantai paling atas?"


Melati melihat ke arah lantai bawah, kemudian beralih ke lantai tiga yang tepat berada di hadapannya, karena model tangganya melingkar.


"Kita ke lantai tiga saja! karena aku penasaran sekali dengan lantai paling tinggi itu," ujar Melati pada suaminya.


Arnon menggandeng tangan istrinya menaiki tiap anak tangga menuju lantai atas. Di sepanjang jalan menuju lantai tiga, Melati memandang ke arah lantai dasar. Ia merasa sungguh sangat tinggi.


Karena terlalu asyik dengan lamunannya sendiri, Melati sampai tak sadar jika dirinya sudah berada tepat di depan pintu sebuah kamar.


"Ini kamar calon anak kita, Sayang!" suara Arnon mengembalikan kesadaran sang istri. Melati langsung mengarahkan tatapannya pada wajah aktor tampan itu.


"Kamar anak kita?" tanya Melati pada suaminya. "Iya, Sayang!" Arnon membenarkan.


Melati membuka handel pintu kamar tersebut. Ia melihat kamar itu telah di dekorasi secantik mungkin oleh Arnon dengan nuansa pink.


Perabotan kamar mulai dari lemari pakaian, lemari boneka, dan meja belajarnya berwarna pink.


Gorden jendelanya juga berwarna pink, sama seperti warna sprei-nya.


Arnon sengaja memilih nuansa pink karena anaknya yang akan lahir perempuan, dan setiap anak perempuan rata-rata lebih menyukai warna itu.


Melati tersenyum melihat dekorasi yang sangat cantik tersebut.


Ranjang berukuran sedang, dengan sprei berwarna pink. Tepat di dekat bantalnya, ada dua boneka kelinci berwarna pink kombinasi putih. Boneka kelinci yang satunya memakai pita di kepalanya dengan bulu mata lentik, sedangkan yang satunya lagi memakai dasi kupu-kupu dengan kacamata lucunya.


Melati duduk di atas kasur yang kelak akan di tempati oleh sang putri. Ia melihat dua boneka kelinci yang sangat lucu baginya.


"Kau sungguh pria idaman," ujar Melati menoleh pada suaminya.


Arnon yang sedari tadi berada di ambang pintu memilih melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar calon putrinya. Ia masuk mendekati Melati yang masih memandang dua boneka kelinci imut itu.


"Semua calon ayah akan melakukan hal ini, Sayang! mereka akan mempersiapkan hal yang terbaik bagi calon anaknya," jelas Arnon merendah diri.

__ADS_1


Melati merubah posisi duduknya menghadap ke arah Arnon. "Tidak semua, Suamiku! jika memang ada calon ayah yang seperti itu, aku yakin! kau yang terbaik dari pria lainnya," puji Melati sambil tersenyum pada Arnon.


"Kamar ini untuk putri kecil kita kan?" tanya Melati.


"Tentu saja! kau kira kita berdua yang akan tidur di sini."


"Bukan itu maksudku! kau tak akan terus membiarkan dekorasi seperti ini pada kamar anak kita bukan?"


"Tentu saja tidak, Sayang! ini kamar Putri kita saat sudah usianya cukup untuk tidur sendiri di dalam kamar ini! saat dia sudah ingin merubah desain kamarnya sendiri, aku akan membantunya," jelas Arnon seakan ia sudah tahu bagaimana cara menjadi orangtua yang baik untuk anaknya.


"Apa kau belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik untuk anak kita?" tanya Melati iseng.


"Seperti apa yang kau pikirkan! karena aku tak ingin salah didik pada anakku, apalagi anak perempuan! aku harus ekstra ketat menjaganya."


"Wah, anak kita belum juga lahir kau sudah mengeluarkan ultimatum menakutkan! apalagi jika dia sudah lahir, pasti kau akan membuatkannya sangkar dari emas," ledek Melati sambil tersenyum.


"Tidak begitu juga, Sayang! aku tak ingin terlalu mengekang atau membiarkannya, aku akan bersikap sedang-sedang saja," sahut Arnon.


Melati tersenyum geli mendengar Arnon mulai mengeluarkan jurusnya. "Iya aku tahu, kau pasti akan menjadi orangtua yang baik bagi anakmu."


Melati mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut. Di sana tak ada hal yang khusus, hanya kamar mandi dengan desain mewah ala-ala orang kaya pada umumnya.


Melati keluar dari kamar mandi itu. Ia berjalan ke arah ranjang dengan raut wajah datar.


Arnon tahu Melati kenapa. "Apa kau menantikan kejutan untuk desain kamar mandi itu?" tanya Arnon menebak isi kepala istrinya.


Melati mengangguk dengan bibir di majukan ke depan.


"Aku membuatnya di desain seperti kamar mandi yang lain, karena aku tak ingin kelak saat ia dewasa, jika temannya berkunjung melihat kamar mandinya, ruangan itu masih bernuansa imut-imut," ujar Arnon dengan wajah menggemaskan.


Melati tersenyum melihat wajah suaminya yang terlihat begitu lucu.


Tanpa izin dari Arnon, Melati langsung menghampiri suaminya. Mencubit pipi Arnon gemas. "Lain kali jangan memasang raut wajah seperti tadi, aku jadi ingin mencubit pipimu ini kan!"


"Hentikan, Sayang! Ayo kita melihat ruangan lainnya," ajak Arnon agar Melati menghentikan gerakan tangannya.

__ADS_1


Karena merasa kasihan, akhirnya cubitan Melati pada pipi Arnon terlepas. Pria itu mengajak istrinya ke kamar tepat di sebelahnya.


Arnon tetap menggandeng tangan Melati. Keduanya sudah berada di depan kamar yang berada di sebelah kamar calon Putri pertama mereka.


Arnon mempersilahkan Melati untuk membuka ruang itu. Saat Melati menarik handel pintu tersebut, Wajah Nyonya Arnon itu seperti sedang kebingungan.


Melati masih tak yakin, ia mencoba memberanikan dirinya masuk melihat ruangan tersebut. Yang Melati lihat hanya ruangan kosong dengan cat tembok berwarna putih dan keramik berwarna senada.


Melati menoleh ke arah Arnon. "Kenapa begini," ujar Melati dengan suara yang menggema di seluruh ruangan itu karena tak ada satupun perabotan kamar yang ada di sana.


Arnon menghampiri istrinya. Pria jangkung itu mengusap lembut bahu Melati. "Karena anak kedua kita masih belum lahir, jadi aku tak bisa mendesain ruangan ini harus aku sulap seperti apa," jelas Arnon.


Melati lagi-lagi di buat tercengang dengan jawaban Arnon. Pria yang berada di hadapannya saat ini sudah begitu dewasa.


"Aku bangga padamu, Suamiku!" Melati tersenyum manis pada Arnon.


Arnon membalas senyuman istrinya. "Kita lanjutkan untuk melihat ke lantai dasar," ajak Arnon menggendong tubuh Melati.


Melati sempat terkejut karena Arnon secara tiba-tiba mengangkat tubuhnya. "Aku bisa jatuh jika kau tak memberi aba-aba terlebih dulu! turunkan aku," pinta Melati.


"Kau tak perlu turun, Sayang! anggap saja aku sedang berolahraga! aku tak ingin kau lelah," ujar Arnon pada Istrinya.


"Aku tak lelah! lepaskan aku sekarang," pinta Melati lagi.


"Tidak mau! apa kau ingat jika besok hari pertunangan Pram dan Agnez?" tanya Arnon untuk mengalihkan pembicaraan Melati agar wanita itu tak minta di turunkan lagi.


"Aku lupa! pasti papa kerepotan sendiri di rumah mempersiapkan segalanya," ucap Melati dengan wajah panik bercampur cemas.


"Kau tak perlu khawatir, aku sudah mengurus semuanya," tutur Arnon yakin.


"Bagaimana mungkin? Om jin-mu yang akan bertunangan, jadi tak mungkin semuanya beres seketika karena Om jin sedang cuti bekerja."


"Percayakan semuanya pada anak buahnya," ucap Arnon meyakinkan Melati kembali.


"Apa kau punya Om jin lagi?" tanya Melati dengan raut wajah polos.

__ADS_1


"Begitulah," sahut Arnon sembari terus berjalan menuruni tiap anak tangga menuju lantai dasar.


__ADS_2