
Tangan Zinnia mencengkram erat bantalnya saat gerakan demi gerakan di lakukan oleh William.
Pria itu terus menggempur Zinnia sampai kepala istrinya mendongak ke atas menahan rasa nikmat tiada tara dalam dirinya.
Sudah beberapa menit yang lalu mereka berdua memulai pertempuran itu namun, tubuh William masih belum puas akan kenikmatan yang di berikan oleh tubuh istrinya.
William seakan tak pernah puas untuk melakukan lagi dan lagi sampai Zinnia berada pada puncaknya berkali-kali, sedangkan William masih tak mencapai puncaknya sama sekali.
"Aku ... lelah," tutur Zinnia di tengah-tengah pertempuran dahsyat keduanya.
"Dua ... jam ... Sayang!" William terus melakukan tugasnya dengan tangan yang mulai bergerak menggapai telapak tangan Zinnia dengan cincin yang sudah melingkar pada jari manis istrinya.
Saat tangan William sudah menyentuh tangan istrinya, wanita itu mencengkram erat tangan suaminya. Menyalurkan rasa campur aduk yang menjalar pada tubuhnya.
Jarum jam terus berdetak sampai pada detik menuju dua jam tepat, akhirnya William menaburkan semua bibit unggulnya pada rahim Zinnia.
Tubuh Zinnia terkulai lemas karena korban dari keganasan William yang menerkamnya tanpa jeda sedikitpun.
William berbaring di samping Zinnia sebelum keduanya membersihkan diri.
"Terimakasih, Sayang!" William membawa Zinnia dalam pelukan hangatnya.
Zinnia tak menanggapi ucapan William, ia lebih fokus membalas pelukan suaminya.
"Kita harus membersihkan diri dulu! setelah itu kita bisa tidur karena nanti sore kencan tahap ketiga akan dilakukan," tutur William pada istrinya.
Zinnia menatap ke arah suaminya dengan raut wajah terlihat sangat lelah. "Aku sudah tak bertenaga," tutur Zinnia dengan suara lemah.
William tersenyum sembari mengecuo kening istrinya. "Aku yang akan membawamu ke kamar mandi dan aku pula yang akan memandikanmu," ujar William.
"Jangan ada ronde kedua, aku bisa pingsan tak sadarkan diri jika kau terus memakanku," ujar Zinnia pada suaminya.
"Kau tenang saja karena aku tak ingin kencan kita gagal nanti sore."
Zinnia menganggukkan kepalanya memeberikan izin pada William untuk memandikannya.
Seperti biasa, sprei bekas percintaan mereka di tarik oleh William untuk menutupi tubuh istrinya, sedangkan dirinya menggunakan selimut tebalnya.
Setelah itu, sprei dan selimutnya akan langsung di ganti, jadi jika setiap jam mereka berdua bergulat di atas ranjang, maka setiap jam pula sprei itu akan diganti yang baru.
Di sebuah cafe, Marinka bertemu dengan seorang pria berkacamata hitam menggunakan masker berwarna hitam pula.
"Bagaimana? apa rencana kita sudah siap semuanya?" tanya Marinka pada pria itu.
"Tenang saja, Boss! semua aman terkendali dan misi pertama kita akan di mulai hari ini," tutur pria misterius tersebut.
"Bagus! kau memang bisa aku andalkan," puji Marinka dengan senyum liciknya.
Marinka melihat Marquez sudah datang ke cafe itu bersama asistennya untuk bertemu dengan seseorang.
"Target kita sudah sampai dan kau harus lakukan bagianmu," tutur Marinka pada pria itu.
Marinka bangun dari kursinya. Ia membawa secangkir ekpresso ke arah Marquez dan pria yang tadi bersama Marinka keluar dengan sengaja berputar-putar tersandung sehingga Marquez membentur Marinka dan ekpresso yang di bawa Marinka sengaja di tumpahkan pada bajunya. "Aw!"
Marquez melihat ke arah orang yang menyenggolnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Marquez dengan nada tinggi.
Sementara asisten Marquez membantu menahan tubuh Marinka agar tak jatuh terjungkal.
"Maaf, Mas! saya tidak sengaja karena saya terburu-buru jadi kaki sampai tersandung," elak pria tadi.
Marquez menatap tajam orang itu dan pada saat yang bersamaan, Marinka mengeluarkan jurusnya.
"Panas sekali," adu Marinka sehingga membuat perhatian Marquez teralihkan padanya dan pria berkacamata tadi kabur.
"Are you okay?" tanya Marquez pada Marinka.
__ADS_1
Marinka melihat ke arah Marquez. Wanita itu pura-pura terkejut akan kehadiran seorang desainer ternama dunia. "Kau Marquez Copaldi kan?" tanya Marinka.
"Nona! jangan pikirkan itu dulu! kau harus di bawa ke rumah sakit agar kulitmu yang terkena kopi tak iritasi," tutur Marquez dengan wajah panik karena ia tak mau Marinka kenapa-napa.
"Aku tak apa-apa, aku baik-baik saja," jelas Marinka pada targetnya itu.
"Sebentar lagi kau akan masuk dalam perangkapku, Tuan Copaldi!"
"Kita duduk dulu," pinta Marquez pada Marinka dan mereka duduk di sebuah meja tempat Marquez akan mengadakan pertemuan dengan seseorang.
"Aku tak apa-apa, aku akan pergi karena masih ada pekerjaan," tutur Marinka.
"Kau benar tak kenapa-napa?" tanya Marquez merasa bersalah dan Marinka hanya tersenyum manis pada targetnya.
"Tapi aku merasa bersalah padamu jika kau tak mau di ajak ke rumah sakit," tutur Marquez lagi.
"Jika kau ingin menebus kesalahanmu, kau bisa datang ke acara perayaan ulang tahunku karena aku penggemar beratmu, Tuan Copaldi!"
Tanpa pikir panjang Marquez langsung menjawab permintaan Marinka, "Baiklah! ini kartu namaku!" Marquez memberikan kartu namanya pada Marinka.
Dengan senang hati wanita itu menerima kartu nama pemberian dari Marquez.
"Target sudah masuk dalam perangkap!"
"Terimakasih karena Tuan Copaldi sudah bersedia datang ke acara ulang tahun saya," ujar Marinka menundukkan wajahnya kemudian pergi dari cafe itu.
Zinnia dan William sudah berada di halaman depan rumah mereka.
Zinnia mengenakan jumpsuit berwarna light blue dengan inner lengan panjang berwarna putih dan rambut ia gerai sebagian dan sebagainnya lagi ia ikat ke atas.
William mengenakan celana berwarna hitam dan baju turtleneck berwarna abu tua.
Sebuah sepeda tandem sudah berada di halaman rumah William.
Zinnia melihat sepeda itu dengan tatapan takjub. "Apa kita akan mengayuh sepeda bersama?" tanya Zinnia pada William.
"Kita akan kemana?" tanya Zinnia pada suaminya.
"Kita akan bersepeda di sekitar sini saja, aku akan mengajakmu mengenal lebih dekat tempat ini," jelas William penuh semangat.
Zinnia langsung berlari kecil menuju arah sepeda tandem itu. Seketika ia berhenti karena merasa di bagian intimnya masih sedikit nyeri.
"Ini akibat dari pertempuran dua jam tadi!"
Zinnia menaiki sepedanya dan wanita itu duduk di bagian depan tepatnya pada bagian kapten sebutan untuk orang yang memegang kendali di depan.
William mendekati istrinya yang sudah sangat antusias ingin segera melakukan aktivitas romantis bersama suaminya.
"Apa kau yakin akan di depan?" tanya William sebelum mereka benar-benar berangkat bersepeda.
"Aku yakin, Pak suami!" Zinnia menjawab pertanyaan William dengan nada tegas dan memberikan hormat pada William.
Dokter tampan itu hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya.
Karena terlalu gemas dengan Zinnia, akhirnya kecupan manis mendarat pada kening Zinnia.
Cup
Semua orang yang ada di sana tersipu malu karena tuan mereka bermesraan di depan halaman rumah.
"Aku akan di belakang," tutur William memakai kacamatanya.
Zinnia menoleh ke arah William yang sudah berada di belakangnya. "Kau sudah tampan! awas saja kau berani tebar pesona," ancam Zinnia mengepalkan tangannya pada William.
"Kau tenang saja, Sayang! bukankah kita berdua sudah berada dalam satu sepeda yang sama," ujar William agar jurus macan ngamuk Zinnia tak bangkit.
__ADS_1
Desainer cantik itu tersenyum pada William dan Zinnia langsung menghadap ke depan untuk bersepeda bersama suaminya.
Zinnia dan William mulai mengayuh sepeda tandem mereka keluar dari halaman rumah megah tersebut.
Zinnia tersenyum bahagia karena ia merasa dunia bebasnya kembali tanpa ada kertas dan pensil yang biasa memenjarakannya.
William ikut tersenyum melihat gestur tubuh Zinnia yang nampak menikmati suasana jalan dengan pepohonan di daerah rumahnya.
"Kita akan mengambil jalur kanan atau kiri?" tanya Zinnia pada William.
"Hatiku, Sayang!"
Zinnia tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya lebih cepat lagi.
"Aku serius, Sayang! kita akan kemana?" tanya Zinnia lagi.
"Kanan."
Zinnia membelokkannya setirnya ke kanan dan keduanya menambah kecepatan.
Zinnia dan William nampak menikmati kencan sore ini.
Di belakang mereka ada penjaga yang mengawasi keselamatan keduanya.
Beberapa menit menikmati sejuknya udara di perjalanan, Zinnia melihat ada beberapa orang yang juga bersepeda namun, bukan sepeda tandem macam miliknya.
Sepeda itu hanya untuk satu orang saja dan orang-orang berhenti di sebuah tempat yang menyita perhatian Zinnia.
Zinnia menghentikan laju sepedanya. "Ada apa di sana?" tanya Zinnia pada suaminya.
"Itu tempat tujuan kita selanjutnya," sahut William turun dari sepeda menarik tangan Zinnia ke arah tempat yang ramai dikunjungi oleh orang-orang.
Zinnia dan William masuk ke dalam tempat tersebut. Saat Zinnia sudah masuk, ternyata tempat itu adalah sebuah kebun jeruk dan orang yang berkunjung ke tempat itu bisa memetik buah jeruk sesuka hati mereka dan bisa memakan sepuasnya di sana, tapi saat akan membawa pulang, jeruk itu di timbang dan harus di bayar tidak diberikan secara cuma-cuma.
Zinnia berlari ke arah pohon jeruk dengan buah yang sudah meronta-ronta ingin ia petik.
William mengambil sebuah keranjang untuk tempat jeruk hasil panen Zinnia.
"Apa kau senang?" tanya William pada istrinya.
"Tentu saja aku senang! kapan lagi bisa menjadi petani jeruk seperti sekarang ini," sahut Zinnia masih fokus memetik jeruk yang sudah siap petik itu.
William memetik jeruk berukuran cukup besar, ia membelah jeruk itu menjadi dua dan mengambil satu bagian daging jeruk untuk istrinya.
"Coba ini," pinta William menyodorkan daging jeruk tersebut pada Zinnia.
Tanpa bertanya Zinnia langsung melahap jeruk tersebut dan mata desainer cantik itu terbelalak. "Ini jeruk atau gula?" tanya Zinnia pada William.
"Jeruk ini masih kalah manis darimu, Sayang!" William mulai merayu Zinnia.
Zinnia mengabaikan bualan suaminya. "Merayu tapi aku tak tertipu," celoteh Zinnia sambil memetik jeruk lainnya.
William mengambil ponselnya dan ia meletakkan keranjang jeruk itu di bawah.
William memeluk tubuh Zinnia dari belakang dengan bibir yang sudah mendarat pada pipi istrinya dan kamera depan ponselnya sudah siap untuk membidik momen mesra antara keduanya.
Zinnia tersenyum dengan mata tertutup menggemaskan, sedangkan William melihat ke arah kamera dengan bibir yang sudah mendarat mulus pada pipi Zinnia.
Foto keduanya langsung di unggah ke akun media sosial milik William dan pria itu menandai akun milik istrinya.
Belum 5 detik postingan romantis itu di kirim, para netizen sudah banyak yang berkomentar semoga mereka berdua segera diberi keturunan.
Zinnia dan William tersenyum saat membaca doa dari semua penggemar mereka. "Aku berharap do'a mereka menjadi kenyataan," tutur William mengeratkan pelukannya pada tubuh Zinnia.
"Aku juga berharap seperti itu," celetuk Zinnia mengusap tangan William yang melingkar pada perutnya.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰