
Melati dan Arnon sudah berada di sebuah restoran mewah.
Keduanya telah duduk di kursi sebuah meja sembari memilih menu.
Arnon telah selesai memilih menu untuk dirinya, sedangkan Melati masih sibuk melihat-lihat. Kira-kira menu apa yang cocok di lidahnya.
Melati bingung apa yang harus ia makan karena semua masakan itu tak ada yang ia suka.
Gadis itu menatap ke arah suaminya. "Sayang! aku juga pesan seperti pesananmu saja ya?"
"Mbak! yang saya pesan tadi, masing-masing 2 porsi ya?"
"Baik, Tuan!"
Pelayan itu berlalu meninggalkan kedua pasangan muda tersebut.
"Kenapa? apa restoran ini tak cocok dengan seleramu?" tanya Arnon
"Bukan! aku bingung harus memesan yang mana, jadi aku pesan makanan seperti yang kau pesan saja!"
"Bukankah Istriku ini dulunya seorang pelayan restoran?"
"Maka dari itu, aku sudah bosan melihat semua menu ini, Sayang! lebih enak sayur bayam, tempe goreng, dadar jagung, dan sambal terasi."
"Sayang! hentikan! aku jadi ingin makan masakanmu," ujar Arnon yang sungguh membayangkan jika apa yang di sebutkan istrinya itu ada di mejanya saat ini.
"Besok aku buatkan ya?"
"Haruslah! memang kau mau suamimu ini hanya bisa menelan ludah tanpa bisa merasakannya," ucap Arnon tersenyum pada istrinya.
Arnon celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. " Dimana, Pram?"
"Bukankah dia ada di belakang kita saat dalam perjalanan kemari?" tanya Melati.
"Aku akan hubungi dia," tutur Arnon yang mulai mengutak-atik ponselnya.
Melati juga mengutak-atik ponselnya sembari menunggu pesanan datang.
Gadis itu tak sengaja melihat status media sosial kakak tirinya jika Agnez saat ini tengah sendiri berada di rumahnya.
"Pram! kemari sekarang! kita makan siang bersama," pinta Arnon lewat ponselnya.
Melati melirik suaminya yang sedang menghubungi Asisten pribadinya.
Ide brilian muncul dalam otak Melati. Gadis itu tanpa ragu menghubungi kakak tirinya.
"Halo, Kak!"
"Iya, Mel?"
"Kakak sekarang ke restoran jalan Cempaka! nanti aku share lokasinya."
"Kau sedang dengan suamimu?" tanya Agnez yang ingin memastikan jika dirinya tak akan menjadi obat nyamuk.
"Iya, Kak! tapi dia juga mengajak temannya, kok! siapa tahu kakak berjodoh dengannya," ledek Melati yang hanya ingin menggoda Agnez.
"Ah, kau ini ada-ada saja! baiklah aku akan segera ke sana."
Melati langsung mengakhiri panggilannya.
Gadis itu menatap ke arah Arnon. "Tidak apa-apa, kan? jika aku mengajak Kak Agnez kemari?"
"Tidak apa-apa, Sayang! lagipula dia kan sudah berubah, tak seperti dulu lagi."
"Terimakasih, Sayang!" Melati mengedipkan sebelah matanya manja.
"Apa kau ingin kita melakukannya di sini?" ledek Arnon yang berhasil mendapat juluran lidah dari istrinya. "Itu sih maumu!"
Keduanya sama-sama tersenyum. Mereka saling menggenggam tangan pasangan masing-masing.
15 menit kemudian, akhir Pram datang menghampiri meja Arnon dan Melati.
__ADS_1
"Maaf, Tuan! saya terlambat," ucap Pram.
"Tak apa, Pram! duduklah," pinta Arnon pada Asistennya.
Mau tak mau, pria berwajah datar itu duduk tepat di hadapan Arnon.
"Jadi obat nyamuk lagi," batin Pram karena kursi di sampingnya tak ada penghuni.
Selang beberapa menit, seorang wanita di balut baju kaftan berwarna hitam menghampiri Melati.
Wanita itu Agnez. Ia tanpa permisi langsung duduk di samping Pram karena Agnez tak tahu jika orang yang berada di sampingnya itu adalah Pram. Musuh bebuyutannya yang baru.
"Maaf ya, Mel! tadi harus mencari baju yang pas dan hanya ini baju yang sopan terselip di lemariku," jelas Agnez dengan raut wajah menyesal.
"Apa? Kakak kan banyak baju yang lain?" tanya Melati yang masih ingin menggali informasi apa benar Kakak tirinya ini sudah berubah.
"Kau tahu sendiri kan, Mel! semua bajuku ... seksi semua dan aku sekarang merasa tak nyaman memakainya, aku lebih suka yang agak longgar saja," tutur Agnez yang masih belum sadar akan pria yang kini menatapnya datar bukan main.
Arnon hanya diam melihat ke arah Pram yang masih menatap Agnez dengan tatapan datar.
Arnon tersenyum, karena ia sebelumnya tak pernah melihat Pram melirik lawan jenisnya.
"Jadi, kakak tak mau memakai baju itu lagi?" tanya Melati lagi.
Agnez hanya menggelengkan kepalanya.
Melati tersenyum bahagia melihat kakak tirinya telah berubah sekarang.
"Aku bahagia sekali melihat Kakak telah berubah," ujar Melati pada kakak tirinya.
"Aku sempat berpikir, kenapa aku tidak dari dulu saja seperti ini? pasti hidupku tak akan sekacau ini kan, Mel!"
"Kakak tak boleh berkata seperti itu, mungkin ini sudah jalan dari yang kuasa agar Kakak bisa mengerti jika dalam hidup pasti ada pembelajaran yang dapat kita ambil."
"Iya, Mel! mmmmm ... tadi kau bilang ada teman suamimu yang datang! mana orangnya?" tanya Agnez yang masih tak sadar.
"Di sampingmu itu!" Melati sembari mengisyaratkan dengan matanya.
Agnez menoleh ke arah Pram. Wajah wanita itu langsung menegang.
Agnez membalas senyuman Pram dengan senyum kikuknya.
"Astaga! aku kira tak ada orang di sampingku sedari tadi."
"Kau kira aku ini apa wahai, kucing galak! kau kira aku ini mahluk halus yang tak terlihat? atau kau kira aku ini asap yang hanya menumpang lewat saja? huh, sungguh tragis nasibku ini."
Pram menegakkan kembali tubuhnya. Ia tak ingin reputasinya di depan Arnon turun drastis.
Agnez juga menegakkan tubuhnya. Ia mulai salah tingkah karena tanpa sadar Agnez melihat Arnon dan Melati memperhatikan dirinya dan Pram.
Arnon tersenyum melihat tingkah dua orang yang seperti sudah mulai tumbuh serbuk-serbuk cinta.
Melati juga merasa aneh dengan sikap Pram. Yang ia tahu, Pram itu adalah orang yang dingin, datar, dan perfeksionis. Pram tak akan sembarang menatap wanita jika orang itu tak dekat dengannya atau Pram sudah jatuh hati.
Buktinya, Asisten Arnon itu belum juga menikah.
"Kalian pesan saja makanannya," pinta Arnon pada Agnez dan Pram.
Arnon memberi kode pada pelayan agar membawa daftar menunya.
Agnez dan Pram mulai memilih menu yang akan mereka santap.
Setelah cukup lama memilih, akhirnya semua menu yang mereka inginkan telah di catatan oleh pelayan tersebut.
Semua hidangan telah tersaji di meja makan.
"Ayo! kita makan dulu," ajak Arnon yang langsung menyantap makanannya.
Semua ikut menyantap makanan mereka, namun anehnya makanan yang di pesan oleh Pram dan Agnez hampir sama, yang membedakan hanya makanan pembuka dan minumannya, sedangkan yang lainnya sama.
Melati dan Arnon saling tatap. Mereka berdua menangkap sinyal-sinyal chemistry yang kuat di antara keduanya.
__ADS_1
"Apa kalian janjian memesan makanan itu?" tanya Melati yang penasaran.
"Tidak!" Agnez dan Pram menjawab secara bersamaan.
Arnon ingin sekali tertawa terbahak-bahak, namun ia tahan.
"Sudah bisa dipastikan, ini pasti karena ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua," batin Arnon.
"Tapi kenapa pesanannya hampir sama?" tanya Melati lagi.
"Tidak tahu!" keduanya menjawab secara bersamaan kembali.
"Kau ini kenapa sih! bisa tidak jika tak mengikuti perkataanku," ujar Agnez menatap tajam Pram.
"Aku tak mengikuti perkataanmu! pasti kau yang mengikuti perkataanku," Pram balik menyerang tuduhan Agnez.
Pram masih fokus dengan makanannya tanpa ingin melihat wajah Agnez yang sudah pasti tak enak di lihat.
"Dasar! pria datar, tak berperasaan, dan yang pasti kau tak romantis! pantas saja kau tak laku-laku!"
Pram menatap Agnez tajam. " Dasar, kucing galak! pasti tak ada orang yang akan mengadopsi kucing sepertimu jika kau galak seperti itu," balas Pram.
"Aku bukan kucing! jika aku seumpama menjadi kucing, aku juga tak sudi diadopsi oleh tuan sepertimu yang datar dan dingin macam Antartika! yang ada aku bisa mati kekurangan kasih sayang," celoteh Agnez yang tanpa ia sadari telah menjadi tontonan menarik bagi Arnon dan Melati.
"Tom and Jerry! itu julukan yang pas untuk kalian," ujar Melati pada Agnez dan Pram.
"Tak sudi!" mereka berdua lagi-lagi menjawab secara bersamaan.
"Aku curiga? jangan-jangan kalian berdua jodoh?" Melati mulai menggoda keduanya.
Tanpa ada yang menjawab, Pram dan Agnez melahap makan siang mereka.
Arnon dan Melati mulai beradu tatapan.
Melati mengetik sesuatu pada ponselnya, kemudian ia mengirim pesan tersebut pada suaminya.
Ternyata Melati menulis pesan singkat pada suaminya agar mereka berdua bisa berbincang lewat ponsel dan tak ketahuan oleh Agnez dan Pram.
Melati
Aku berpikir mereka berdua jodoh.
Arnon
Sama, aku juga berpikir seperti itu.
Melati
Bagaimana jika kita membantu mereka berdua saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
Arnon
Kenapa tidak? aku juga kasihan pada Asistenku yang sudah sangat cukup umur untuk menikah.
Melati
Kau benar, aku juga kasihan pada kakakku yang sudah sangat cocok menjadi ibu.
Arnon
Ibu?
Melati
Iya ibu?
Arnon
Kau yang harus lebih dulu menjadi ibu dari anak-anakku π
Melati
__ADS_1
Dasar gombalπ
Melati dan Arnon saling tatap. Keduanya melanjutkan makannya yang hampir tak tersentuh karena ke asyikkan membahas Agnez dan Pram.