Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 114


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Seorang wanita tengah turun dari sebuah pesawat yang membawanya terbang kembali ke Negara asalnya. Tempat kelahirannya dan juga tempat dimana dua bulan yang lalu ia meneteskan air mata karena pria yang ia cintai.


Wanita dengan rok selutut berwarna maroon dan sweater rajut berwarna putih bersih terlihat melangkah menuju taksi yang sudah menjemputnya.


Wanita itu mengenakan kacamata hitam dan masker. Rambu pendek dengan poni menghiasi bagian dahinya. Ankle boots yang menghiasi kaki jenjangnya semakin membuat penampilan wanita itu sungguh berubah dalam waktu dua bulan saja.


Supir taksi itu membantu penumpangnya membawa koper berukuran besar milik wanita itu.


Saat sudah berada di dalam mobil, wanita misterius itu membuka kacamata hitamnya, namun masker masih tetap menutupi sebagian wajahnya.


Lampu merah menyala dan taksi yang di tumpangi wanita itu juga berhenti untuk mentaati peraturan lalulintas.


Tepat saat itu juga mobil Pram berada tepat sejajar dengan taksi wanita itu. Pram menoleh ke arah kendaraan yang berada di sebelahnya.


Pram nampak familiar dengan wajah itu,


namun saat melihat rambut pendeknya, Pram mulai tak terlalu memikirkan, karena rambut wanita yang ia tunggu panjang dan indah.


Lampu telah berganti hijau dan semua kendaraan mulai bergerak ke depan termasuk mobil Pram dan taksi itu.


Taksi wanita misterius itu berhenti di depan rumah keluarga Gafin. Ia turun membawa kopernya masuk ke dalam halaman rumah keluarga Gafin.


Saat sampai di pos satpam, penghuni pos tersebut menyapa wanita itu. "Ingin bertemu siap ya?"


"Melati ada?"


"Ada! silakan masuk!"


Wanita itu terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk rumah Arnon, namun langkahnya terhenti saat melihat orang yang ia cari tengah menyiram bunga karena waktu hari ini sudah menunjukkan pukul 4 sore.


Wanita itu membuka maskernya dan berteriak, " Melati!"


Melati yang asyik menyiram tanamannya langsung menoleh ke arah wanita itu.


Sontak ia melempar apa saja yang ia pegang dan berlari ke arah seseorang yang memanggilnya sembari memanggil nama orang itu, "Kak Agnez!"


Keduanya saling melepas rindu dengan memberikan pelukan hangat satu sama lain.


"Aku rindu pada Kakak! kenapa Kakak tega sekali padaku," ujar Melati sembari meneteskan air matanya.


"Aku hanya bekerja, Mel! kau tak perlu berlebihan seperti ini!"


"Tapi Kakak tak memberitahu aku jika ingin ke Belanda," protes Melati lagi.


"Itu dadakan, Mel! karena aku diterima bekerja di sebuah toko bunga di sana dan aku sekarang sudah menjadi salah satu manager cabangnya, cabang itu ada di sini, Mel! jadi aku bisa pulang ke Negaraku sendiri," jelas Agnez agar adiknya itu tak merajuk padanya.


Melati tersenyum dan bangga pada Agnez. "Aku salut pada, Kakak!"


"Kau bisa saja! apa aku boleh masuk ke rumahmu?" tanya Agnez meledek Melati.


"Tentu saja, Kak! suamiku sedang tak ada di rumah, dia masih di lokasi syuting."


Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah keluarga Gafin.


Melati dan Agnez berada di ruang tamu dan gadis itu meminta pada pelayan untuk menyiapkan minuman dan makanan untuk Agnez.

__ADS_1


"Kau hanya tinggal berdua dengan, Arnon?" tanya Agnez pada Melati.


"Sebenarnya kami tinggal berenam di sini, tapi karena sebulan yang lalu kedua adik ipar kembarku berangkat ke Amerika untuk melanjutkan S2 mereka, mommy dan papi juga ikut, hanya tinggal aku dan Arnon beserta para pelayan."


"Tapi mertuamu akan pulang kan?" tanya Agnez pada adiknya.


"Ya pulang lah, Kak! mereka hanya sementara di sana sambil mengurus perusahaan yang ada di sana."


Agnez hanya manggut-manggut mendengar ucapan Melati. Pelayan datang membawa es jeruk untuk Agnez.


"Minum dulu, Kak!"


Agnez tanpa ragu meminum es jeruk itu karena ia memang sedang haus.


"Kau tak minum?" tanya Agnez pada Melati.


"Tidak, Kak! aku takut siklus menstruasiku terganggu," tolak Melati halus.


"Apa hubungannya dengan siklus menstruasi, Mel! apa kau belum datang bulan?" tanya Agnez yang mulai penasaran.


"Belum," sahut Melati sekenanya.


"Jangan-jangan kau hamil?"


"Tak mungkin lah, Kak! aku tak mengidam, tak mual-mual, semua gejala ibu hamil itu aku tak mengalaminya, Kak!"


"Tapi dua bulan yang lalu aku datang bulan hanya bercak darah saja tak seperti biasanya? ah, pasti hanya siklusnya saja yang salah," batin Melati.


"Aku kira kau hamil! aku ingin segera menjadi Bibi untuk keponakan pertamaku," ujar Agnez pura-pura kecewa.


"Kakak tenang saja! aku sudah berusaha keras untuk itu," bisik Melati yang membuat tawa keduanya menggelar karena ucapan Melati sungguh bagai lawakan.


"Aku akan datang, Kak!


Keduanya saling menebar senyum manis mereka sembari berbincang ria.


"Papa sudah pulang, Mel?" tanya Agnez.


"Belum! sepertinya untuk 2 bulan ke depan masih ada di luar kota, karena proyeknya berlanjut ke kota lain, Kak!"


"Kalau begitu, berikan padaku kunci rumahnya, karena aku akan segera pulang, aku lelah, Mel! ingin cepat istirahat."


"Sebentar, Kak! aku ambilkan dulu."


Melati melangkah menuju kamarnya, sedangkan Agnez mengeluarkan sesuatu dari dalam kopernya.


Melati turun dari lantai atas menuju ruang tamu dimana Agnez tengah menunggunya.


"Ini, Kak!" Melati memberikan kunci rumah Hadi.


"Ini untukmu," ujar Agnez sembari memberikan paper bag berukuran sedang pada Melati.


"Apa ini?" tanya Melati sembari melihat isinya.


"Itu keju Leiden Belanda dan yang satunya itu Stroopwafel!"


Melati membuka Stroopwafelnya. Ia mencoba menggigit dan merasakan makanan khas Belanda itu.

__ADS_1


"Aroma kayu manisnya cukup kuat ya, Kak?"


Melati terus mengunyah sampai gadis itu menghabiskan tiga bungkus Stroopwafel.


"Kau ingin lebih nikmat dan benar menyantapnya?" tanya Agnez.


Melati mengangguk, karena ia ingin tahu bagaimana cara yang benar dalam menyantap makanan itu di daerah asalnya.


"Kau letakkan Stroopwafel ini di atas uapan kopi, teh, atau coklat panas! dengan begitu, sirup yang ada di makanan ini akan melunak dan saat kau mulai menggigit makanan ini, sirupnya akan lumer di dalam mulutmu," jelas Agnez.


"Memang lebih nikmat seperti itu ya, Kak?"


"Iya dong! orang Belanda memakan Stroopwafel dengan cara seperti itu."


"Baiklah! nanti aku akan mencobanya," ucap Melati diiringi senyumannya.


"Sudah malam, aku pulang dulu," pamit Agnez pada Melati.


"Biar di antara oleh supir saja, Kak!"


"Tidak perlu, Mel! ini masih jam 7 malam."


"Sudahlah, Kak! biar Kakak aman sampai di rumah," tutur Melati yang tetap memaksa Agnez agar tetap di antara oleh supir rumahnya.


"Oke!"


Keduanya berjalan perlahan ke arah pintu keluar. "Apa Kakak sudah punya pacar?" tanya Melati.


Seketika ia teringat dengan Pram yang mungkin sudah bahagia dengan keluarga barunya.


"Agnez! jangan ingat-ingat dia lagi! dia sudah bahagia dengan istrinya."


"Belum, karena Kakak masih ingin mempunyai rumah sendiri dan mobil sendiri, Mel!"


"Yah, Kakak payah! kenapa tak mencari orang Belanda saja, di sana kan orangnya kaya dan tampan, Kak!"


"Sama saja, Mel!"


"Masih lebih tampan Pram kemana-mana ... Agnez! apa yang kau pikirkan? buang jauh-jauh nama dan wajah pria beristri itu, Nez!"


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Mel!"


Agnez memeluk Melati erat dan gadis itu juga membalas pelukan kakaknya tak kalah erat.


"Kakak hati-hati ya? jika ada apa-apa hubungi aku ... kakak ganti nomor telepon ya?"


"Iya kakak ganti nomor telepon, nanti Kakak chat kamu saja ya?"


"Oke, Kak! hati-hati ya?"


Agnez masuk ke dalam mobil diantar oleh supir keluarga Gafin. Wanita itu melambaikan tangannya pada sang adik dan Melati juga membalas lambaian tangan Agnez padanya.


Tepat saat mobil Agnez keluar dari halaman rumah itu, mobil Pram yang membawa Arnon pulang muncul dari arah berlawanan.


Melati yang hendak masuk ke dalam rumah berbalik kembali dan tersenyum menatap mobil yang sudah pasti membawa suaminya pulang.


Mobil itu berhenti tepat di depan Melati dan gadis itu menyambut kedatangan Arnon, "Selamat datang, Suamiku!"

__ADS_1


"Aku mencintaimu," balas Arnon sembari mengecup bibir Istrinya.


Untung saja mobil Pram sudah keluar dari halaman rumah keluarga Gafin dan nasibnya tak lagi menjadi obat nyamuk.


__ADS_2