Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 208 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia sudah berada di dalam mobil. Seperti biasa keduanya menjadi penumpang dengan seorang supir yang bertugas mengemudi mobil mereka.


"Kau tahu dimana tempat dia mengajak kita makan?" tanya Zinnia sambil memainkan tangannya yang di genggaman oleh William.


"Aku tahu, Sayang! pasti di restoran tempat kita biasa makan dulu," tutur William sambil melihat ke arah pinggir jalan.


Zinnia menatap wajah William. "Kita? kau dan Marinka saja?" tanya Zinnia penasaran.


"Marion juga," sahut William santai.


"Jadi kalian berdua sudah sering bertemu sebelum hari ini?" tanya Zinnia lagi.


"Hmm, karena dia sering mengajak aku dan Marion makan siang bersama di restoran."


William menatap wajah Zinnia. Pria itu tersenyum pada istrinya. "Kau tenang saja! aku hanya mencintaimu," tutur William mengusap puncak kepala istrinya lembut.


Zinnia menyandarkan kepalanya pada bahu William. "Aku harap semua ucapanmu bukan hanya sebuah kalimat penyejuk hati, melainkan sebuah janji hidupmu untuk selalu mencintaiku," ujar Zinnia kembali memainkan tangannya dan tangan William yang saling genggam.


"Meskipun wajahnya sangat mirip dengan, Marion! aku akan tetap mencintaimu, bahkan Marion sekalipun yang datang kemari, aku tak akan tergoda."


"Tapi dia wanita pertama dalam hidupmu sebelum aku," sambung Zinnia.


"Dan kau wanita terakhir dalam hidupku, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak."


William mengecup puncak kepala Zinnia. "Mencari perempuan cantik, berbakat, dan tergila-gila padaku sepertimu ini sangat susah, bahkan jarang! jadi aku memutuskan untuk mencintaimu selama aku bernapas," ungkap William dan wajah Zinnia mendongak. "Kata-katamu sungguh manis, Sayang! aku hampir diabetes mendengar gombalanmu itu," ledek Zinnia.


"Hei, ini bukan gombalan, Sayang! ini dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam," jelas William dan mobil yang di naiki keduanya berhenti di sebuah restoran tempat dimana kenangan William dan Marion bertebaran.


Zinnia melihat ke arah restoran itu. Desainer cantik bermarga Gafin tersebut nampak memikirkan sesuatu.


"Ayo kita turun! kau sedang memikirkan apa?" tanya William membuyarkan lamunan Zinnia.


Zinnia langsung membuka pintu mobil dan berjalan ke arah suaminya.


Zinnia menggenggam erat tangan William. "Kali ini Zinnia Putri Marvion Gafin yang ada di sampingmu, jadi jangan mengingat perempuan lain," jelas Zinnia mengerlingkan sebelah matanya pada William.


"Aku mencintaimu, Zinnia!"


Bibir Zinnia terpancar senyum tulus tiada tara. "Aku juga mencintaimu, Dokter William!"


Cup


Ciuman di pipi William tak terelakkan lagi.

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam restoran itu. Marinka sudah duduk di sebuah meja dimana ia biasanya makan siang bersama dengan William dan saudara kembarnya.


William dan Zinnia berjalan ke arah Marinka dengan tangan yang masih tetap lengket bagai perangko.


Tatapan mata Marinka tertuju pada tangan keduanya.


"Enak sekali gadis ingusan itu bergandengan tangan dengan, Kak William! akan aku tunjukkan padamu, siapa di sini yang lebih mengenal Kak William lebih lama."


Zinnia dan William duduk di kursi yang berdekatan, sementara Marinka duduk tepat lurus dengan William.


"Si kutu loncat pasti sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, aku akan mengikuti permainanmu, kutu loncat!"


Pelayan mulai memberikan daftar menu yang ada di restoran itu.


William melihat menu apa yang akan ia pesan.


"Aku akan memesan makanan kesukaan kakak yang ada di restoran ini, aku masih ingat semua makanan kesukaan, Kakak!" Marinka memulai melakukan serangan lebih dulu.


Zinnia hanya melihat dan menonton apa saja yang akan di lakukan Marinka.


"Tidak perlu, Rin! aku sudah tak ingin makan makanan itu, aku ingin melupakan kenangan pahitku bersama, Marion! termasuk makanan yang biasanya aku makan saat bersama dia," jelas William yang membuat Marinka kesal karena William secara tak langsung sudah mempermalukan dirinya di depan Zinnia.


Desainer cantik itu hanya diam memperhatikan, namun hati Zinnia bersorak kegirangan.


"Rasakan kau, Kutu loncat! memang enak di tolak mentah-mentah, berlagak ingin memamerkan kedekatan, tapi ujung-ujungnya kau yang terjatuh ke dalam kesalahanmu sendiri."


William menyentuh tangan Zinnia mengarahkan tangan lembut itu ke arah bibirnya.


Cup


Kecupan romantis penuh cinta di daratkan pada tangan istrinya. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"


Marinka terlihat sebal pada Zinnia. Karena gadis itu bisa menerima perhatian dari William.


"Aku tak bisa tinggal diam, aku harus segera merencanakan sesuatu untuk tikus kecil macam istri Kak William ini."


"Kalian berdua jangan bermesraan seperti itu, kasihan pelayan yang menunggu pesanan kalian," tegur Marinka pada William dan Zinnia.


Zinnia tersenyum pada pelayan wanita itu. "Apa anda sudah memiliki pacar?" tanya Zinnia pada pelayan itu.


"Sudah, Nona!"


Zinnia mengalihkan tatapannya pada Marinka. "Dia tak jomblo, jadi dia sudah tahu hubungan laki-laki dan perempuan seperti apa, di sini hanya kau yang jomlo, jadi kau yang harus di kasihani, Kak Marinka!"

__ADS_1


Lagi-lagi Marinka kalah dari taktik Zinnia. Wanita itu semakin menumbuhkan rasa kebencian luar biasa pada Zinnia.


"Kau harus segera enyah dari kehidupan, Kak William! kau gadis yang sangat tak gampang untuk aku hadapi rupanya."


Marinka memilih tak memperdulikan ucapan Zinnia. Ia lebih memilih memesan makanan. Setelah selesai memesan makanan, Marinka berdiri dari kursinya.


"Aku ke toilet sebentar," pamit Marinka pada William dan Zinnia.


William dan Zinnia hanya mengangguk.


"Kau ingin pesan apa, Sayang?" tanya Zinnia pada William.


"Aku tak terlalu lapar sebenarnya, bagaimana jika kita memesan makanan sepiring berdua saja," usul William.


"Uh, kau romantis sekali, Suamiku! ini ide bagus untuk membuat si kutu loncat cemburu sampai meledak-ledak," cecar Zinnia penuh semangat.


"Hus, apa sih kau ini! dia itu hanya menganggap aku kakaknya saja, tak lebih."


"Ya ampun! kau ini sehat kan? aku saja yang baru mengenal cinta paham jika si kutu loncat suka padamu."


"Jangan menghayal, Sayang!" William mengusap pipi Zinnia dengan ibu jarinya.


"Ih, kau ini ya! polos atau tak peka sih! sudah jelas-jelas dia suka padamu! lihat saja tadi berlagak perhatian padamu," tutur Zinnia dengan tatapan wajah kesal.


"Terserah dia aku tak perduli, yang jelas hanya ada satu perempuan yang aku cintai saat ini," tutur William tersenyum pada istrinya.


"Siapa?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Siapa ya? aku lupa dengan namanya," goda William dengan tangan bertumpu pada meja restoran dan kepala sudah di tahan oleh tangannya.


Zinnia melirik William, menggoda suaminya agar menyebut siapa nama perempuan yang di maksud suaminya.


"Ah, jangan seperti itu, Sayang! aku ingin menciummu," ucap William manja.


"Siapa perempuannya itu!" tanya Zinnia lagi.


"Dengarkan baik-baik karena aku tak akan mengulang untuk yang kedua kalinya."


William menyentuh kedua pipi istrinya. "Perempuan itu bernama, Zinnia Pattinson!"


Bibir Zinnia tertarik indah membentuk senyuman manisnya. "Terimakasih untuk gelar baru yang kau berikan padaku, Tuan Pattinson!"


"I love you, Mrs. Pattinson!"

__ADS_1


"I love you too, Mr. Pattinson!"


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰


__ADS_2