
Sandra sudah mengantarkan Marquez ke arah kamar tamu. Asisten cantik itu menunggu Marquez di depan kamar tamu tersebut. "Ini kamarmu dan aku akan segera kembali ke kamarku," ujar Sandra hendak pergi meninggalkan Marquez namun, pergelangan tangan Sandra di tahan oleh Marquez. "Tunggu!"
Sandra menoleh ke arah Marquez. "Ada apa?" tanya Sandra dengan tangan yang masih terhubung.
"Jangan pergi dulu, aku masih belum memberikanmu night kiss, Sayang!"
Sandra menyipitkan matanya dan melepaskan genggaman tangan Marquez pada pergelangan tangannya. "Tunggu saat kita sudah sah ya, Sayang!"
Sandra tersenyum pada Marquez dan segera berlari kecil menuju lantai atas rumahnya dimana kamarnya berada.
Marquez melihat ke arah telapak tangannya kemudian mendekatkan telapak tangan itu pada hidungnya dan mencium wangi pergelangan tangan Sandra. "Kenapa kau selalu bisa membuatku terbayang-bayang seperti ini" gumam Marquez yang masuk ke dalam kamarnya.
Pagi-pagi sekali Sandra dan Nina sudah bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga mereka dan satu tamu spesial Sandra yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Marquez masih tertidur pulas, pria itu menggeliat membuka kelopak matanya. Ia tahu itu bukan kamar apartemen miliknya karena desain kamar itu penuh akan nuansa kelembutan. Senyum Marquez terukir kala ia mengingat jika calon kakak iparnya merestui hubungannya dan Sandra.
Marquez meregangkan otot-ototnya. Pria itu bangun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Sandra dan Nina sudah selesai memasak sarapan pagi ini.
Semua hidangan sudah tersedia di meja makan. Kedua anak Nina sudah berada di meja makan.
Yang satu sudah SMA dan yang satunya lagi masih SD.
"Kau panggil calon suamimu sana!" Nina memberikan instruksi pada adiknya.
"Siap, Kak!"
Sandra berjalan ke arah kamar tamu dimana Marquez tidur.
Jina yang merupakan anak sulung dari Nina kebingungan mencerna ucapan yang keluar dari mulut sang ibu.
"Sejak kapan Tante Sandra memiliki seorang calon suami, Ma?" tanya Jina pada ibunya sembari mengambil nasi goreng dan telur mata sapi ke atas piring putihnya.
Nina duduk tepat berhadapan dengan anak sulungnya. "Sejak kemarin malam, Sayang!"
"Perasaan di rumah ini kemarin malam tak ada acara apapun, Ma! kenapa aku bisa tidak update berita sepenting ini," celoteh Jina pada sang ibu.
__ADS_1
"Acaranya dadakan, Nak! dan sekarang kau harus cepat lanjutkan sarapanmu karena sebentar lagi waktunya berangkat sekolah! ingat! ini sudah hampir kelulusan jadi kau tak boleh malas ya!"
Jina hanya menganggukkan kepalanya patuh sembari mulai melahap sarapannya.
Jihan yang tak mengerti dengan obrolan antara ibu dan kakaknya memilih diam menikmatinya sarapan paginya karena anak itu masih berusia 8 tahun.
Sandra sengaja tak mengetuk pintu kamar Marquez dan kamar itu beruntungnya tak di kunci jadi Sandra dengan leluasa masuk ke dalam kamar itu.
Sandra duduk di sofa yang berada di ruang tersebut. Ia menunggu Marquez selesai mandi karena suara gemercik air dari dalam kamar mandi terdengar oleh telinganya.
Beberapa menit kemudian akhirnya suara pintu kamar mandi terbuka.
Sandra menoleh ke arah sumber suara dan Marquez sudah memakai setelan baju santainya. "Sejak kapan kau disini? apa kau ingin kita mandi bersama," goda Marquez pada calon istrinya.
Sandra hanya tersenyum kecil menanggapi godaan receh calon suaminya itu. "Ayo ke meja makan sekarang! kau sudah di tunggu oleh kak Nina dan dua keponakanku," jelas Sandra mulai berdiri berjalan ke arah pintu keluar.
Marquez masih sempat menyisir rambutnya sebelum ia bergegas ke meja makan.
Sandra dan Marquez sudah sampai di depan meja. Mereka berdua duduk di dua kursi yang masih kosong.
"Maaf ya, Marquez! anak-anak tak menunggu kalian berdua dulu untuk sarapan karena mereka berdua harus segera berangkat ke sekolah," jelas Nina pada Marquez dan Sandra.
Marquez mengambil nasi goreng dan telur mata sapi. Pria itu melahap sarapannya dan mata Marquez melebar kala suapan pertama masuk ke dalam mulutnya. "Enak sekali! Kakak memang pandai memasak," puji Marquez pada Nina dan yang di puji tersenyum geli mendengar perkataan itu dari mulut Marquez.
"Ini bukan masakan, Kakak! ini masakan calon istrimu," jelas Nina menatap ke arah Sandra yang tersenyum kecil sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Marquez menoleh ke arah Sandra yang tepat berada di sampingnya. "Sungguh ini masakanmu? kenapa enak sekali? aku kira kau hanya tahu garam saja sebagai bumbu penyedapnya," ledek Marquez pada calon istrinya.
"Jika itu yang kau mau, aku bisa memasak hanya dengan garam saja dan kau wajib menghabiskannya," goda Sandra balik.
Tawa di meja makan seketika terdengar renyah karena perdebatan kecil antara Sandra dan Marquez.
Kedua keponakan Sandra sudah selesai sarapan dan mereka berpamitan pada para tetua untuk berangkat ke sekolah.
Jina dan Jihan diantara oleh supir mereka yang biasa setiap hari mengantar dan menjemput keduanya.
Nina dan Sandra membawa bekas piring kotor ke dapur, sementara Marquez masih asyik dengan ponsel di tangannya.
__ADS_1
Ponsel Marquez berdering dengan nama kontak " Mom ".
Pria itu tersenyum karena ia juga akan memberitahu berita penting pada ibunya jika ia sudah melamar Sandra dan pernikahannya akan segera dilaksanakan secepat mungkin.
Marquez mengangkat panggilan dari sang ibu. Pria itu tersenyum gembira karena ia sudah tak sabar memberitahu ibunya jika wanita yang telah melahirkannya itu sudah memiliki seorang calon menantu dari Indonesia.
"Halo, Mom!"
"Where are you right now?"
(Ada dimana kau saat ini?)
"I'm at someone's house, mom! why?"
(Aku berada di rumah seseorang, mom! kenapa?)
"Can you go back to America right now?"
(Bisakah kau kembali ke Amerika sekarang juga?)
Tubuh Marquez menegang hebat. Perasaannya terasa tak nyaman seperti akan ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi padanya.
Marquez tahu dan mengerti bagaimana sifat ibunya. Ia tak akan meminta Marquez kembali jika tak ada sesuatu hal yang sangat genting sedang terjadi.
"Why did you ask me to come back, mom?"
(Kenapa kau memintaku untuk kembali, mom?
"You have to marry, Niken!"
(Kau harus menikahi, Niken!)
Bagai tersambar petir dengan tegangan tinggi, jantung Marquez berdetak sangat kencang karena ucapan dari balik benda pipinya itu.
Tangan Marquez sudah berkeringat dingin. Ia tahu apa yang terjadi pada Niken sampai dirinya diminta untuk menikahi wanita yang sudah bersahabat sejak kecil dengannya dan Niken memang sudah menaruh hati pada Marquez sejak mereka remaja dan semua itu diketahui oleh Marquez.
Marquez melihat ke arah dapur yang terhalang oleh kaca transparan. Ia melihat Sandra tengah tertawa ria bersama sang kakak. "Bagaimana mungkin aku bisa melukainya? dia bagian dari hidupku," gumam Marquez sangat pelan dengan ponsel yang masih terhubung dengan sang ibu.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.