
Zinnia dan William sedang menikmati makan malam romantis mereka. Semua hidangan mewah di masak secara langsung oleh chef terbaik, dari mulai makanan pembuka, makan utama, dan penutup.
Zinnia dan William menikmati minuman mereka berdua. William melihat ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Masih ada satu kejutan lagi untukmu, Sayang!" William berdiri dari kursinya berjalan menghampiri Zinnia.
William kembali mengulurkan tangannya meminta Zinnia untuk bangun. Gadis itu menerima uluran tangan suaminya dan bangun.
"Jalanlah lebih dulu," pinta William.
"Lalu kau?" tanya Zinnia memandang wajah suaminya penuh tanya.
"Aku akan mengikutimu dari belakang, Sayang!"
Zinnia mengangguk mengiyakan permintaan William. Gadis itu mulai berjalan masuk ke arah rumahnya.
Saat langka mereka sudah berada di depan pintu masuk rumah, Zinnia menghentikan langkahnya karena di dalam nampak gelap tanpa sinar apapun yang menjadi penerangnya.
Zinnia menoleh ke arah suaminya dan William meminta agar istrinya terus masuk.
Zinnia memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Saat kakinya menapak di ambang pintu, suasana yang awalnya gelap kini berubah menjadi indah dengan cahaya lampu kecil yang menggantung di seluruh ruangan menerangi ruangan rumahnya.
Kelopak bunga mawar yang berada di lantai menjadi lorong bagi Zinnia menuju ke lantai atas.
Kaki Zinnia melangkah melewati lorong yang di penuhi kelopak bunga mawar merah dengan ratusan lampu kelap-kelip yang tergantung bagai cahaya bintang yang menerangi gelapnya malam.
Langkah kaki Zinnia terus berjalan ke arah anak tangga yang di samping kanan kiri pegangannya di lilit oleh lampu-lampu kecil.
Gadis itu terus melihat suasana rumahnya yang terlihat sangat indah. Kelopak bunga mawar yang bertebaran di sepanjang jalan ia melangkah, sampai pada akhirnya kelopak bunga mawar itu tersisa hanya sampai di depan pintu kamar utama lantai dua.
Zinnia menoleh ke arah suaminya. "Kenapa hanya sampai di sini?" tanya Zinnia karena kamarnya bukan berada di lantai dua, tapi berada di lantai paling atas.
"Kau buka saja pintu di hadapanmu itu, Sayang!" William memerintahkan istrinya untuk membuka pintu kamar utama itu.
Saat tangan Zinnia sudah menyentuh hendel pintu kamarnya. Tiba-tiba pintu kamar itu terdapat tulisan yang menyala "Happy Honeymoon".
Senyum Zinnia benar-benar terukir sangat indah. Ia tak menyangka jika William akan mempersiapkan kejutan seindah dan seromantis ini.
Karena merasa penasaran dengan kejutan apa lagi yang sudah di siapkan oleh William, Zinnia langsung membuka pintu itu lebar-lebar.
Suasana kamar itu masih gelap namun aroma bunga mawar lagi-lagi menyeruak masuk dalam indera penciumannya.
Zinnia melangkah masuk ke dalam. Saat kakinya sudah berada dekat dengan bibir ranjang, lampu kelap-kelip yang menempel pada tembok lagi-lagi menjadi pemandangan favorit Zinnia. Cahaya lampu tersebut sebagai penerangngnya malam ini.
Zinnia melihat ke arah ranjang. Tak ada apapun di atas ranjangnya. Zinnia sedikit mengernyitkan dahinya. Ia berpikir dari mana datangnya aroma bunga mawar yang sangat pekat ini.
Ranjang yang akan menjadi saksi penyatuan keduanya terdapat tiang di setiap sudutnya dengan sutra yang menggantung di setiap sisi dan atas ranjangnya.
Zinnia mendekati ranjang. Ia menyentuh sutra itu membayangkan apa saja malam ini yang akan ia alami bersama suaminya.
Zinnia teringat dengan William. Gadis itu menoleh ke arah pintu dan William sedari tadi memperhatikannya di ambang pintu.
Pria itu tersenyum melihat istrinya menatapnya. "Kemarilah," pinta William sembari merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Zinnia melangkahkan kakinya secara perlahan. Pelan tapi pasti langkah kaki Zinnia semakin dekat dengan William.
Kini jarak mereka tingal dua langkah lagi dan Zinnia langsung memeluk tubuh William erat. "Terimakasih untuk semuanya, Sayang!"
William membalas pelukan istrinya. "Kau tak perlu berterimakasih padaku, Sayang! ini sudah menjadi tugasku untuk membuatmu bahagia.," Jelas William memundurkan sedikit wajahnya sampai wajah mereka berdua bisa saling pandang.
Mata mereka berdua sudah saling tatap. William sedikit melangkahkan kakinya agar Zinnia mundur ke belakang.
Pria itu menutup pintu kamarnya dan sekarang hanya mereka berdua berada di kamar yang sangat luas itu.
"Apa kau sudah siap?" tanya William pada Zinnia.
"Siap untuk apa?" tanya Zinnia balik berlagak tak tahu apa-apa padahal di dalam dadanya sudah berdebar tak karuan.
William mendekatkan bibirnya pada telinga Zinnia. "Untuk menjadi Nyonya William seutuhnya," bisik Dokter tampan itu.
Napas halus dan hangat William mengenai telinga Zinnia. Gadis itu memejamkan matanya karena sebagian dari tubuhnya ikut menghangat.
Mata William kini sudah saling tatap dengan manik mata Zinnia. "Aku mencintaimu, Zinnia!"
Entah dorongan dari mana tangan Zinnia mulai menyusuri leher William hingga masuk ke dalam setiap sela-sela rambut suaminya. "Aku juga mencintaimu, William!"
Tatapan mata yang awalnya terfokus pada manik mata lawan masing-masing, kini mata itu sudah terfokus pada bibir lawannya.
Dengan pencahayaan yang cukup minim membuat suasana semakin terasa lebih intim dan bibir William akhirnya mendarat pada bibir istrinya.
Zinnia memejamkan matanya begitu pula dengan William yang juga memejamkan matanya dengan tangan sudah berada di pinggang Zinnia.
Tangan kekar William bergerak semakin ke atas meraba punggung Zinnia.
Napas Zinnia dan William sudah saling bersahutan. Gerakan tangan William yang awalnya hanya sentuhan lembut menggerayangi punggung Zinnia, kini tangan itu mencengkram kuat pinggang istrinya.
"I want you," tutur William di tengah-tengah ciuman panas mereka berdua.
Zinnia melepaskan pangutan bibirnya. Gadis itu menatap wajah William yang mulai memerah. "I want you too," balas Zinnia kembali mendaratkan bibirnya pada bibir William.
William melepaskan ciuman itu. Ia mengangkat tubuh Zinnia menuju arah ranjang dengan tirai sutra yang menggantung melambai-lambai terkena terpaan angin malam karena satu jendela memang sengaja tak di tutup.
Tatapan keduanya tak lepas sedikitpun sampai pada tepi ranjang. William meletakkan tubuh Zinnia secara perlahan di atas tempat tidurnya. Gadis itu masih dengan posisi terduduk. William ingin membuka jasnya namun, Zinnia langsung berdiri menahan tangan William yang hendak membuka jasnya. "Biar aku saja," pinta Zinnia sambil membuka jas William.
Zinnia meletakkan jas milik suaminya di atas ranjang. Gadis itu mulai membuka dasi kupu-kupu yang melingkar pada kerah kemeja William.
Perlahan tangan Zinnia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Hot Dokter tersebut hingga pada kancing terakhir, mata Zinnia di manjakan oleh 6 kotak roti sobek milik suaminya.
Dengan gerakan lembut Zinnia membuka kemeja putih William. Secara tak langsung tangan lembut Zinnia menyentuh bagian tubuh suaminya.
William memejamkan matanya menikmati sensasi panas yang mulai menggerayangi tubuhnya karena sentuhan tangan Zinnia.
"Hentikan, Sayang!" William mulai mengeluarkan suara seraknya karena ia sudah tak tahan menahan rasa panas pada tubuhnya jika Zinnia semakin terus mencoba melepaskan kemeja yang melekat pada tubuh berototnya itu.
Kening Zinnia mengkerut sempurna. "Berhenti? apa kau ingin kita menunda lagi?" tanya Zinnia menghentikan gerakan tangannya membuka kemeja William.
Mata pria itu yang awalnya tertutup rapat kini terbuka sembari menatap ke arah Zinnia dengan kobaran gairah yang sudah hampir mencapai tingkat level komplit.
__ADS_1
"Jika aku tak menghentikanmu, tahap pemanasan akan aku lewati, Sayang! aku bisa menerkammu sekarang juga," jelas William masih menatap mata Zinnia.
Gadis itu mengerti jika suaminya sudah tergoda karena gerakan tangannya yang secara tak langsung menyentuh kulit William.
William membuka kemejanya sendiri yang sudah hampir terbuka itu. Ia melempar kemejanya ke sembarang arah.
"Berbaliklah, Sayang!" William mulai meminta Zinnia untuk berbalik.
Gadis itu dengan gerakan ragu mulai berbalik memunggungi William.
"Sabar, Zi! ingat jangan tegang! anggap saja ini ujian menuju rumah tangga yang bahagia."
William memeluk tubuh Zinnia dari belakang. Pria menyingkap rambut panjang Zinnia untuk mempermudah aksinya. Ia mendaratkan kepalanya pada ceruk leher sang istri. "I love you!" William mengecup bahu Zinnia manja.
Mata Zinnia terpejam merasakan sensasi geli pada bagian bahunya. Zinnia tak membalas ungkapan cinta William karena gadis itu saat ini tengah fokus dengan rasa nikmat yang baru pertama ia rasakan.
"Apa rasa ini yang dirasakan olehnya tadi?"
William mengecup kecil leher Zinnia dengan tangan sudah menarik resleting gaun Zinnia yang berada di punggungnya.
Zinnia sadar jika William menarik resleting gaunnya namun, sentuhan bibir William mengalihkan semua gerakan tangan Dokter tampan itu pada bagian punggungnya.
Kini bagian tubuh belakang desainer cantik tersebut sudah terlihat sebagian. William memundurkan sedikit tubuhnya. Ia melihat punggung mulus Zinnia dari leher sampai batas pinggang.
Putih, bersih, dan mulus. Tiga kata itu yang ada dalam benak William saat melihat secara langsung punggung milik istrinya.
William menyentuh punggung Zinnia dari ujung leher terus ke bawah menciptakan rasa gelenyar aneh pada diri Zinnia.
William tersenyum saat punggung tangannya sudah berada di pinggang Zinnia dan gadis itu sedikit menggeliat.
"Mau di lanjut atau tidak?" tanya William menempelkan tubuh bagian atasnya yang polos pada punggung Zinnia yang juga sudah terpampang bagian kulit tubuhnya.
Dada dan perut William yang berotot langsung menempel sempurna pada bagian kulit Zinnia yang sudah terbuka.
Zinnia memejamkan matanya menahan sesuatu dalam dirinya.
"Kenapa rasanya ingin lebih dan lebih? apa saat proses penyatuan lebih nikmat dari ini?"
"Sayang! kenapa kau tak menjawab pertanyaanku? kau masih ingin lanjut atau tidak?" tanya William kembali mendaratkan bibirnya pada punggung Zinnia yang udah terbuka untuk suaminya.
Napas Zinnia sudah naik turun tak beraturan. Gadis itu berbalik menatap suaminya dengan mata yang sudah tak kuat menahan sesuatu. "I want you, Aiden William Pattinson!"
Senyum nakal William timbul seketika. Pria itu tahu jika Zinnia sudah lebih dari cukup melakukan tahap pemanasan kali ini. "Aku lebih menginginkanmu, Sayang!"
Dengan cepat William menarik tengkuk istrinya, melahap bibir cerry Zinnia yang sudah menjadi candu baginya.
Tangan Zinnia melingkar pada leher William dan secara perlahan pria itu menggiring tubuh Zinnia ke ranjang.
Kini mereka berdua sudah berada di atas ranjang dengan posisi William di atas dan Zinnia di bawahnya.
"Siapkan dirimu, Sayang! karena tahap pemanasan kedua akan datang padamu," bisik William tepat di telinga Zinnia.
"Tahap pemanasan apa lagi? bukankah tadi sudah dalam tahap itu apa masih ada tahap yang lebih dari yang aku rasakan sebelumnya?"
__ADS_1
Zinnia memejamkan matanya. " Lakukan, Sayang! aku akan menikmatinya."
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰