
Melati sudah berada di dalam kamarnya. Gadis itu melihat Arnon sudah memakai baju turtleneck lengan panjang berwarna salmon dengan setelah celana jeans berwarna dark blue. Tak lupa pula sepatu cat berwarna putih.
Melati mendekati Arnon yang masih berada di depan cermin sedang sibuk menata rambutnya.
Wajah Arnon tak terlihat karena terhalang oleh tinggi badan suaminya, sehingga gadis itu berjalan ke arah samping Arnon.
Saat jarak Melati dan Arnon semakin dekat, tiba-tiba Arnon berbalik menghadap ke arah istrinya di iringi senyuman yang membuat kaum hawa meleleh sampai tumpah-tumpah.
Seketika langkah Melati terhenti bagai rem cakram. Gadis itu masih menatap suaminya dengan tatapan terpukau.
"Kenapa pria ini tampan sekali?"
Arnon tersenyum melihat Melati yang terus menatapnya tanpa henti bahkan tanpa berkedip.
Pria itu mendekati Melati dan berhenti tepat di hadapan istrinya.
Gadis itu menatap Arnon dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Saat kesadaran Melati mulai kembali normal, gadis itu terkejut melihat Arnon sudah berkacak pinggang dengan alis yang sudah naik turun menggoda dirinya.
Secepat kilat gadis itu hendak berlari, namun tangan Arnon lebih gesit menarik pinggang istrinya.
"Mau kemana? apakah sudah puas melihat wajah suamimu ini, Sayang!"
Melati memejamkan matanya karena jarak wajah Arnon semakin dekat dengan wajahnya. Sedetik kemudian Arnon menjauhkan diri dari Melati.
Gadis itu membuka kelopak matanya tak terlalu lebar untuk mengintip Arnon, saat matanya dapat melihat keadaan sekitar, ternyata pria itu telah memegang satu buah baju berwarna senada dengan turtleneck yang di kenakan oleh Arnon.
Pria itu memberikan baju yang ada di tangannya pada sang istri.
"Pakai baju itu karena kita akan segera berangkat." Mengecup pelipis Melati, kemudian berjalan keluar.
Melati melihat baju yang di berikan oleh Arnon.
"Apakah ini baju couple?"
Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung memakai baju yang di berikan oleh suaminya.
Sekitar setengah jam berada di dalam kamar, Melati turun ke bawah mencari keberadaan Arnon di ruang tamu namun pria itu tak tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Kemana dia?" Melati bergumam sambil melihat jam pada ponselnya.
Saat penglihatan Melati tertuju pada pintu keluar, pria yang ia cari muncul dari balik pintu tersebut dengan ponsel yang masih bertengger di telinganya.
Arnon masih belum sadar akan kehadiran Melati karena pria itu masih asyik mengobrol dengan seseorang di balik ponselnya.
Saat mata Arnon tak sengaja melihat ke arah ruang tamu, pria itu menghentikan obrolannya dengan raut wajah terpesona melihat Melati yang sudah tampil cantik.
Gadis itu memakai baju yang sama dengan baju yang di kenakan oleh Arnon, namun ukurannya lebih kecil. Melati memakai rok tutu selutut berwarna putih, sepatu cat berwarna senada dengan roknya. Rambut Melati di Curly dengan sentuhan jepit rambut dari mutiara.
Melati mendekat ke arah suaminya yang masih tetap menatapnya tanpa henti, bahkan orang yang sedang berbicara dengan Arnon di telepon tak di perdulikan oleh pria itu karena tatapan matanya sudah terkunci pada kecantikan Melati.
"Apa kau sudah selesai menelepon?" tanya Melati membuyarkan lamunan suaminya.
"Nanti aku hubungi lagi lewat pesan." Arnon menutup panggilannya.
"Kau cantik sekali memakai baju itu," puji Arno sambil tersenyum pada Melati.
"Jadi kau suka?" tanya Melati tersenyum manis pada Arnon.
"Tentu saja! apapun yang kau kenakan, aku selalu suka dan kau pasti terlihat cantik, Sayang!"
Melati tersipu malu mendengar pujian yang bertubi-tubi di lontarkan oleh Arnon padanya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita berangkat sekarang," ujar Arnon mengulurkan tangannya agar Melati menerima uluran tangan Arnon.
Gadis itu tanpa sungkan menerima uluran tangan suaminya dan berjalan menuju mobil dengan tangan yang masih terus bergandengan.
Arnon dan Melati sudah berada di sebuah tempat wisata sea world yang memperlihatkan biota air bawah laut.
Keduanya masuk dan melihat berbagai jenis hewan laut secara langsung dari lorong yang di samping kanan kirinya di kelilingi berbagai macam jenis ikan.
Melati dan Arnon merasa berada di dalam air karena sensasi dari tempat itu benar-benar terasa begitu nyata.
Keduanya masih melihat ikan yang sedang berenang kesana kemari dengan posisi tangan pasangan muda itu tetap bergandengan.
Para pengunjung mengeluarkan ponsel tercanggih mereka untuk mengambil gambar Arnon yang sedang berkencan dengan istrinya.
Melati merasa risih saat para penggemar suaminya mengambil gambar dirinya dan Arnon.
Gadis itu menarik tangan Arnon berlari mencari tempat yang lebih sedikit pengunjung.
Saat menemukan lorong yang sepi dan hanya ada mereka berdua, Melati memutuskan untuk berhenti di sana dengan nafas yang masih naik turun tak beraturan.
Arnon juga merasakan hal yang sama seperti Melati karena tangan pria itu di tarik oleh istrinya.
"Sayang ... kenapa kita ... harus berlari seperti ... tadi," ujar Arnon yang masih terengah-engah.
Melati tidak langsung menjawab pertanyaan Arnon, gadis itu masih menstabilkan nafasnya.
"Aku ... tak suka saat ... mereka mengambil ... gambar kita," sahut Melati.
Nafas keduanya berangsur normal kembali. Melati masih menggenggam tangan Arnon.
"Maaf ya? gara-gara aku kau harus berlari seperti ini," sesal Arnon.
"Seharusnya aku memakai masker agar mereka tak mengenaliku," tambah Arnon lagi yang mengusap lembut tangan Melati.
Arnon masih menunggu kelanjutan dari ucapan istrinya.
"Terutama para gadis-gadis cantik," ujar Melati yang sedikit memajukan bibirnya.
Arnon di buat geli mendengar ucapan Melati yang terdengar seperti orang sedang cemburu pada para fans wanitanya.
Pria itu memeluk istrinya dari belakang sambil menatap akuarium besar yang ada di hadapannya. Keduanya melihat mahluk hidup yang ada di dalam sana sedang asyik berenang menyalurkan rasa kebebasan bagi para pengunjung yang benar-benar menikmati setiap pergerakan dari hewan air itu.
"Apa kau cemburu pada mereka?" tanya Arnon menempelkan pipinya pada pipi Melati dengan kedua mata mereka terfokus pada ikan yang mendekat ke arah mereka.
"Wanita mana yang tak cemburu jika suaminya di kelilingi oleh gadis-gadis yang sangat tergila-gila pada suaminya," sahut Melati menempelkan tangannya pada dinding transparan akuarium raksasa itu.
"Aku tak cinta pada mereka, yang aku cintai hanya istriku! orang yang saat ini sedang aku peluk dan ingin selalu seperti ini."
Melati tersenyum mendengar ucapan Arnon yang menenangkan dirinya.
"Aku juga tak akan melarangmu untuk berinteraksi dengan mereka, karena tanpa mereka kau bukan apa-apa, jadi cemburuku ini masih masuk dalam kategori aman untukmu," jelas Melati sambil mencubit gemas pipi kanan Arnon.
Gadis itu kembali melihat ke arah akuarium raksasa dengan telapak tangan menyentuh kaca yang sangat tebal.
Seekor ikan mendekat ke arah tangan Melati. Gadis itu perlahan mengusap kaca pembatas tersebut seakan sedang mengelus ikan yang masih tetap berada di depan telapak tangannya.
"Sepertinya dia menyukaimu," tutur Arnon yang meletakkan telapak tangannya tepat di atas tangan Melati.
Gadis itu tersenyum, namun sedetik kemudian ada seekor ikan yang sama mendekati ikan yang masih tetap setia berada di depan telapak tangan Melati.
Keduanya saling bertatapan kemudian melihat ke arah ikan yang baru datang itu tengah mendekati ikan yang sedari tadi sudah ada di sana.
Arnon dan Melati tertawa kecil melihat tingkah lucu kedua ikan yang nampaknya berjenis kelamin jantan dan betina.
__ADS_1
"Apakah mereka juga ingin berkencan seperti kita," goda Arnon pada Melati.
"Mungkin saja mereka juga ingin berkencan, ikan-ikan itu juga mahluk hidup yang harus memiliki generasi penerus," tutur Melati tanpa ia sadari telah memancing Arnon untuk terus menggodanya.
"Kau benar, Sayang! kalau begitu, kita harus segera merencanakan untuk segera memiliki generasi penerus, sama seperti kedua ikan itu." Arnon menunjuk kedua ikan yang masih tetap berdekatan.
Sontak Melati memukul lengan Arnon cukup keras.
"Sakit, Sayang!" Arnon merintih kesakitan.
"Aku ingin kita mengenal satu sama lain terlebih dulu," jelas Melati sambil memajukan bibirnya.
"Maaf, Sayang! aku hanya bercanda," sesal Arnon yang mengeratkan pelukannya.
Melati menganggukan kepalanya tanpa berkata apapun pada Arnon.
"Coba lihat kedua ikan itu," pinta Arnon pada Melati dan gadis itu menuruti permintaan suaminya.
"Apa kau tahu mereka sedang berbicara apa?" tanya Arnon berlagak serius.
"Astaga, Sayang! mereka itu tidak sedang berbicara, memang mulut ikan seperti itu," jelas Melati sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi mereka itu sedang berbicara, Sayang!"
Melati memutar kedua bola matanya malas.
"Memang apa yang mereka bicarakan?" tanya Melati yang terpaksa mengikuti alur permainan suaminya.
"Ikan yang di sebelah kiri itu berkata, aku mencintaimu," bisik Arnon.
Melati memutar badannya menghadap ke arah Arnon dengan posisi tangan pria itu masih berada di pinggang Melati.
"Aku juga mencintaimu," balas Melati yang berjongkok agar dapat dengan mudah keluar dari pelukan Arnon.
Melati langsung berlari menuju pintu keluar sambil menoleh ke arah suaminya dan pria itu sedang tersenyum mengejar dirinya dengan kecepatan penuh.
"Awas kau ya!" Arnon berteriak sambil mengejar Melati.
Melati sudah berada di kursi sebuah taman. Gadis itu menunggu kedatangan Arnon.
"Kemana dia?" mencari keberadaan Arnon.
Saat sibuk mencari keberadaan suaminya, tiba-tiba orang yang di cari oleh Melati sudah berada di sampingnya.
"Kau mencariku kan?" ujar Arnon.
Melati sangat hafal dengan suara itu. Melati menoleh ke arah sumber suara, namun bukan Arnon yang pertama kali ia lihat, melainkan dua buah eskrim yang sudah berada di hadapannya dengan toping coklat dan kismis.
Senyum Melati mengembang sempurna. Gadis itu langsung mengambil satu eskrim dari tangan Arnon.
Melati langsung menikmati eskrim tersebut sambil tersenyum ke arah suaminya.
"Terimakasih," ucap Melati.
Arnon sangat bahagia melihat istrinya sangat menikmati eskrim yang ia belikan.
"Ini hanya kebahagiaan kecil yang aku berikan padamu dan masih banyak lagi kebahagiaan yang sedang menunggumu, Sayang!"
Arnon tersenyum-senyum sendiri saat mengingat kencannya dengan Melati.
"Beginikah rasanya pacaran setelah menikah? kenapa lebih menyenangkan berkencan dengan istri sendiri ya?" Arnon masih tetap tersenyum sendiri.
Melati tak memperdulikan suaminya. Gadis itu masih asyik menikmati eskrim di tangannya.
__ADS_1