
Jam terus berputar sesuai porosnya dan Zinnia masih saja hanya berguling kekanan dan kekiri karena William tak mengangkat panggilannya. "Awas saja jika dia sudah pulang! aku ketuk kepalanya sampai botak," kesal Zinnia sembari meninju gulingnya.
Tiba-tiba ponsel Zinnia berdering. Ibu hamil itu kegirangan karena ia mengira jika ponselnya berdering itu panggilan dari suaminya.
Saat Zinnia melihat nama kontak orang yang menghubunginya, raut wajah Zinnia seketika berubah yang awalnya terlihat senang menjadi murung dengan bibir yang sudah dimajukan ke depan.
"Ada apa kepala pelayan Asih?" tanya Zinnia dengan suara yang dibuat setenang mungkin, padahal keadaan hatinya sudah kesal bukan main.
"Anda ingin makan sesuatu, Nyonya?"
"Ada!"
"Apa itu, Nyonya?"
"Aku ingin makan serabi dengan topping durian dan taburan keju di atasnya," jelas Zinnia dengan nada cukup antusias.
"Baik, saya akan memanggil Chef handal kemari!"
"Tidak!"
"Maksud Anda, Anda tidak jadi ingin makan serabi?"
"Bukan itu! aku tak ingin Chef yang membuatnya, aku ingin Suamiku yang membuatnya langsung."
"Tapi Tuan tak bisa memasak, Nyonya!"
"Aku ingin dia, kepala pelayan Asih! bukan aku yang menginginkannya, tapi kedua anakku yang menginginkan ini semua," jelas Zinnia pada kepala pelayan rumahnya itu.
"Saya akan usahakan untuk menghubungi, Tuan!"
"Ide yang sangat bagus! karena aku sudah kesal padanya sedari tadi aku mencoba menghubungi dia, tapi tak ada sahutan dan aku sekarang sangat kesal padanya dan kau harus mengatakan itu semua padanya jika dia mengangkat panggilan darimu."
Tut tut tut tut tut
Zinnia langsung menutup panggilan dari Asih.
Zinnia menatap ke arah ponselnya. "Semoga saja dia bisa menghubungi, Suamiku! biar dia menyampaikan apa yang aku kesalkan sedari tadi."
Di tempat lain Asih hanya bisa menghela napas panjang. "Menghadapi ibu hamil lebih susah daripada merawat para kelinci, Tuan! apa yang diminta harus dituruti, meskipun dia salah harus selalu benar," gumam Asih sembari menekan tombol panggil pada layar ponselnya.
"Halo!"
"Kau ada dimana?" tanya Asih pada orang dibalik ponselnya.
"Saya ada di luar, kepala pelayan Asih! ada apa?"
"Katakan pada Tuan jika Nyonya dari tadi menghubunginya, tapi tak diangkat dan sampaikan juga jika Nyonya sedang ngidam kue serabi dengan topping durian dan taburan keju diatasnya."
"Baik, akan saya sampaikan!"
Asih mematikan sambungan teleponnya dan orang yang dihubungi oleh Asih tadi adalah sopir William, ia segera menuju arah ruangan Tuannya.
Saat sopir itu sudah berada di depan ruangan William, ternyata si empunya ruangan baru saja datang dari arah berlawanan dengannya. "Pak Gatot! ada apa kemari?" tanya William yang membuka baju bedah medisnya.
"Ada yang ingin saya sampaikan pada Anda, Tuan!"
"Ada apa, Pak?" tanya William pada sopirnya.
"Nyonya Zinnia dari tadi mencoba menghubungi Anda dan beliau ingin kue serabi!"
Kening William mengkerut sempurna saat ia mendengar pernyataan dari mulut sopirnya. "Tinggal di belikan kan, Pak!"
__ADS_1
"Masalahnya, Nyonya ingin Anda yang membuat kue itu, Tuan!"
Wajah William terlihat terkejut karena permintaan istrinya sungguh di luar dugaan. "Tapi saya tidak tahu bagaimana cara membuat makanan itu," protes William meletakkan baju bedah medisnya di lengannya.
"Saya juga tahu, Tuan! tapi Nyonya ingin seperti itu dan menurut pengetahuan saya, mungkin Nyonya sedang mengidam makan kue itu, Tuan! dan menurut sepengetahuan saya juga, jika keinginan ibu hamil tak dituruti, maka ketika anaknya sudah lahir, akan sering mengeluarkan air liurnya karena keinginannya tak dituruti saat hamil," ceramah si sopir.
William hanya tersenyum menanggapi penjelasan sopirnya. "Benarkah seperti itu? bukankah ada penjelasan lain dari seorang bayi mengeluarkan banyak liurnya. Menurut yang saya tahu, bayi mengeluarkan banyak air liur karena proses pertumbuhan giginya, Pak! tapi tak apa, nanti saya akan usahakan untuk memenuhi keinginan istri saya dan setelah ini kita langsung pulang karena saya tak ada jadwal operasi," tutur William di angguki oleh Gatot.
William masuk ke dalam ruangannya dan Gatot berjalan ke arah halaman parkir untuk menunggu William.
Kini William sudah berada di dalam mobilnya menuju arah jalan pulang.
Di dalam perjalanan, William diam memikirkan bagaimana cara membuat kue serabi yang diinginkan istrinya.
"Yang pintar masak kan dia! kenapa harus aku yang masak? ah, kenapa orang hamil sangat banyak maunya ya?"
William menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang.
Gatot melihat raut wajah William dari arah spion tengah.
"Pasti Tuan sedang bingung harus meminta bantuan pada siapa."
"Boleh saya menyarankan sesuatu, Tuan?" tanya Gatot pada William.
William yang awalnya memejamkan matanya dengan tangan memijit pelipisnya tergerak untuk merespon pertanyaan sopirnya.
"Saran apa, Pak?" tanya balik William pada Gatot.
"Bagaimana jika anda meminta bantuan mertua Anda saja, Tuan! bukankah Nyonya Melati pintar memasak," usul Gatot pada William.
Dokter bedah tersebut memikirkan ucapan sopirnya.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh, Pak Gatot!"
"Baik, Tuan!"
Dengan sigap Gatot memutar balik arah mobilnya. Akhirnya masalah yang William alami bisa terpecahkan karena mertuanya pintar memasak.
Kini mobil yang dinaiki oleh William sudah berada di halaman depan rumah keluarga Gafin.
William disambut oleh kepala pelayan Miranda. "Selamat datang, Tuan muda!"
"Apa mommy ada?" tanya William pada Miranda.
"Ada, Tuan Muda! Nyonya Melati ada di dalam bersama Tuan!"
"Boleh saya menemuinya?" tanya William lagi.
"Silahkan ikuti saya, Tuan Muda!"
William mengikuti arah kaki Miranda berjalan. Miranda menuju ke arah ruang keluarga rumah mewah itu.
"Tuan Muda datang berkunjung, Tuan!"
Miranda datang membuyarkan kemesraan Arnon dan Melati saat mereka berdua tengah asyik menonton film legendaris Titanic.
William segera menundukkan kepalanya karena sang mertua laki-laki merangkul tubuh mertua perempuannya.
"Pantas saja mereka berdua menjadi best couple sepanjang masa! sekarang saja meskipun usia mereka sudah setengah abad masih terlihat begitu romantis."
"William! Zinnia mana?" tanya Arnon yang blak-blakan.
__ADS_1
Melati menyikut lengan suaminya karena ia bukannya menyambut menantunya datang tapi malah menanyakan putrinya.
"Maafkan mertuamu ini ya, Nak! dia sedang dalam keadaan kurang sehat hati dan pikiran," canda Melati agar William tak merasa canggung.
"Tidak apa-apa, Mom!" William tersenyum kikuk.
"Ayo duduk dulu!" Melati mempersilahkan menantunya duduk.
William dengan cepat duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Zinnia tidak ikut?" tanya Melati pada menantunya.
"Zinnia ada di rumah, Mom! aku dari rumah sakit langsung kemari, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan pada, Mommy!"
William menatap ke arah mertua perempuannya penuh harap.
"Ada apa, Will?" tanya Melati.
Arnon hanya diam sebagai pendengar sembari menjeda film legendaris yang tengah ia tonton bersama istrinya.
"Zinnia ingin kue serabi, Mom!"
"Tinggal dibelikan saja kan, Nak! apa yang harus ditanyakan pada, Mommy!"
"Jangan bilang kau tak ada uang hanya untuk membeli kue serabi," celetuk Arnon yang membuat William kembali menebar senyum kikuknya.
Melati kembali menyikut lengan suaminya sembari mata melotot.
William melihat itu semua bergidik ngeri karena apa yang dialami mertua laki-lakinya sudah pernah ia alami juga sebelumnya.
"Pantas saja Zinnia bagai macan betina yang tak dapat di ganggu, ibunya saja bisa menjinakkan seorang aktor papan atas seperti, Daddy Arnon!"
"Maafkan perkataan, Daddy-mu ya, Nak! jadi masalahnya apa?" tanya Melati pada menantunya.
"Zinnia ingin aku yang membuat kue serabi itu," jelas William pada Melati.
Senyum Arnon terbit karena anaknya sungguh mempersulit hidup William.
"Untung Daddy saat hamil Zinnia tak mendapatkan kesulitan apapun seperti dirimu ini," ledek Arnon.
Melati menoleh ke arah suaminya. "Kau memang tak mendapatkan kesulitan apapun, tapi kau mendapatkan tamparan saat kau memberikan kejutan 7 bulanan Zinnia, kan?"
Arnon tersenyum manis pada istrinya. "Jangan dilanjutkan lagi ya, Sayang!"
Melati menatap suaminya kesal.
Sementara William hanya bisa menahan tawanya karena mertua laki-lakinya pernah terkena tamparan ibu dari istrinya.
"Jadi bagaimana dengan kue serabi itu?" tanya Melati.
"Aku ingin belajar membuatnya dari, Mommy! jadi Mommy ke rumah ya? aku ingin di ajari langsung oleh Mommy hari ini juga karena Istriku sangat ingin kue itu, Mom!" wajah William memohon kepada Melati.
"Baiklah! kita berangkat sekarang! Daddy ingin ikut atau tidak?" tanya Melati pada Arnon.
"Tentu saja Daddy ikut, Mom! Daddy ingin mencicipi masakan menantu tampan Daddy, dong!"
"****** aku! Daddy kenapa harus ikut sih! bisa-bisa aku di ledek habis-habisan jika kue buatanku tak enak! apalagi jika GOSONG!"
"Kau tenang saja, Nak! pasti kau bisa memasak kue yang diinginkan oleh istri dan kedua anakmu karena the power of love itu bisa mengalahkan apapun," dukung Melati pada menantunya.
William tersenyum pada Melati. "Terima kasih, Mom!"
__ADS_1
Melati tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia tahu jika menantunya ini pasti sangat merindukan kasih sayang seorang ibu.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.