Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 275 ( Season 2 )


__ADS_3

Keesokan harinya, Zinnia yang tengah makan siang bersama William di kagetkan oleh sebuah barang yang dibawa Asih. "Apa itu?" tanya Zinnia pada asisten rumah tangganya.


"Ada paket dari Amerika, Nyonya!"


Asih masih memegang paket itu di tangannya. "Saya letakkan dimana paket ini, Nyonya?" tanya Asih.


"Kau letakkan di ruang keluarga saja, nanti aku akan melihatnya setelah selesai makan siang," pinta Zinnia pada Asih.


Asih segera meletakkan paket itu di ruang keluarga sesuai dengan perintah Zinnia.


"Dari siapa, Sayang?" tanya William yang kebetulan hari ini tak ada jadwal operasi jadi dia bisa menemani istrinya di rumah. Urusan rumah sakit ada asisten kepercayaannya yang menggantikan.


"Dari, Niken!" Zinnia melanjutkan melahap makanannya.


Kening William mengkerut. "Calon istri, Marquez?" tanya William lagi.


"Ya! dia memintaku untuk mengajak Sandra ke acara pernikahannya. Katanya ada kejutan yang akan Marquez berikan padanya," tutur Zinnia pada suaminya.


"Apa tidak beresiko jika kita mengajak Sandra ke acara itu?" tanya William lagi karena ia takut perang antara Sandra dan Niken tak bisa di halau.


Zinnia meletakkan sendok dan garpunya melipat kedua tangannya di atas meja. "Kau tenang saja, Sayang! ada aku yang akan melindungi Sandra jika Niken berani berbuat hal di luar dugaan kita," jelas Zinnia pada suaminya.


"Jangan melakukan hal yang aneh-aneh! kau sedang hamil! keselamatan kedua anak kita lebih penting dari apapun," ingat William pada istrinya.


"Kau tenang saja, Sayang! mereka masih tetap prioritas utamaku." Zinnia tersenyum pada suaminya dan mereka berdua melanjutkan acara makan siangnya hanya berdua saja di meja makan.


Kini Zinnia sudah selesai dengan ritual makannya. Ia dan sang suami berjalan ke arah meja makan untuk melihat apa isi dari paket itu.


Saat paket tersebut dibuka oleh Zinnia, terdapat tulisan di kotak berwarna gold dengan desain mewah. "For Sandra".


Setelah ia berhasil membuka pembungkus paket tersebut, Zinnia tak berani melakukan hal lebih jauh lagi. Karena sudah terdapat tulisan untuk Sandra, jadi ia tak berani melihat lagi.


"Kotak apa itu?" tanya William pada sang Istri yang duduk berada di sampingnya masih sibuk membersihkan pembungkus paket dari Niken. "Aku juga tidak tahu," sahut Zinnia sembari membuang sampah tersebut pada tempat sampah kering yang tak jauh dari tempat ia duduk.


Zinnia kembali duduk di sofa berdampingan dengan suaminya. Ibu hamil itu mengangkat kotak berwarna gold tersebut dan menimang-nimang kira-kira isinya apa. "Seperti sebuah baju! tapi baju apa ya?" tanya Zinnia pada dirinya sendiri dan William memeluk tubuh istrinya. "Kau jangan memusingkan hal itu, Sayang! aku sangat merindukanmu," ujar William dengan suara manjanya.


"Kau ini! seperti anak kecil saja! kita bertemu setiap hari, Sayang! kau jangan terlalu lebay," cecar Zinnia mencubit ujung hidung suaminya.


William menatap wajah sang istri yang mana kepala dokter tampan itu bersandar pada bahu Zinnia. "Tapi aku tak bisa setiap hari seperti ini kan? hanya saat aku sudah di rumah saja," rengek William lagi.


Zinnia mengusap rambut lebat suaminya. "Bayi besar ini tidak malu pada kedua baby twins kita?" tanya Zinnia dan William dengan gerakan semangat menurunkan wajahnya mensejajarkan wajah tampan itu dengan perut Zinnia. William tersenyum sembari mengelus perut sang istri. "Anak-anak Daddy apa kabar? apa kalian berdua bisa mendengar kata-kata, Daddy?"

__ADS_1


William mendekatkan bibirnya pada perut Zinnia dan ....


Cup


"Maafkan Daddy ya, Sayang! Daddy beberapa hari ini tak menyapa kalian berdua karena pekerjaan Daddy menunggu di rumah sakit, jadi kalian berdua harus mengerti ya," tutur William pada kedua janin yang berada di perut Zinnia.


Desainer cantik itu tersenyum geli. "Iya, Daddy! kami berdua memaafkan, Daddy!" Zinnia bersuara khas anak kecil.


William kembali memeluk istrinya erat. "Aku sangat mencintaimu, Sayang!" William mengecup pipi Zinnia.


"Aku juga mencintaimu, Sayang!"


Zinnia memundurkan sedikit tubuhnya. "Kita ke rumah Sandra sekarang untuk memberikan hadiah dari Niken ini," ujar Zinnia pada suaminya.


"Kita bersiap dulu, kemudian berangkat," pinta William mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.


Zinnia memekik kecil karena William tanpa permisi mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba.


Zinnia dan William kini sudah berada di rumah Sandra tepatnya sudah berada di ruang tamu rumah Sandra.


"Ada apa ya, Nona? bukankah saya diberi waktu seminggu untuk cuti?" tanya Sandra pada Bosnya.


Zinnia tersenyum sembari meletakkan kotak hadiah dari Niken berwarna gold itu tepat di hadapan Sandra. "Ini untukmu dari seseorang," tutur Zinnia pada Sandra.


"Bukan, San! ini dari Niken calon istri, Marquez!"


Wajah Sandra berubah drastis dari yang awalnya normal kini terkejut tak terkira.


Sandra mencoba menormalkan kembali perasaannya yang sudah semakin terasa tercabik-cabik dengan sebutan calon istri Marquez.


"Untuk apa dia mengirimkan hadiah ini pada saya?" tanya Sandra lagi dan lagi.


"Aku juga tidak tahu! coba kau buka saja lihat apa isinya," titah Zinnia pada Asistennya.


"Tapi ...."


"Kau jangan terlalu terfokus pada rasa sakitmu, San! kau harus bangkit dari keterpurukan itu, karena aku tak ingin kau terus berada dalam belenggu kabut hitam yang mengelilingimu! aku ingin kau bisa keluar melihat dunia yang cerah, melihat bagaimana indahnya dunia selain cintamu pada, Marquez!" Zinnia tak ingin Sandra terus menerus hidup dalam bayang-bayang Marquez.


Sandra memejamkan matanya mencerna, menghayati tiap kata yang Zinnia katakan padanya.


"Nona Zinnia benar! aku harus bangkit! aku harus menatap dunia yang tengah menungguku, bukan tetap terpuruk dalam belenggu karena Marquez sudah akan menikah dengan wanita lain."

__ADS_1


Sandra melihat ke arah Zinnia dan William. "Saya akan membuka kotak hadiah ini!"


Tangan Sandra perlahan terulur hendak membuka kotak hadiah dari Niken. Kini tangan itu sudah berada di atas kotak berwarna gold tersebut dan jari tangan Sandra sudah mencengkram tutup kotak hadiahnya dan menariknya secara perlahan.


Saat tutup kotak itu terbuka, Zinnia dan yang lain melihat sebuah gaun putih. Mereka bertiga masih belum tahu gaun apa itu.


"Coba kau lihat! gaun apa itu," pinta Zinnia pada Sandra dan Asistennya itu mulai menyentuh gaun putih yang terlihat mewah meskipun tak secara keseluruhan gaun itu terlihat.


Sandra membuka lipatan baju tersebut dan memperlihatkan pada Zinnia.


Mata Zinnia sebagai seorang desainer melebar karena desain dari baju itu sangat indah dan mewah.


"Ini gaun pernikahan terindah yang pernah aku lihat," puji Zinnia berdiri dari duduknya mendekati gaun yang dipegang oleh Sandra.


Zinnia menyentuh gaun pengantin itu untuk mengetahui detail bahan yang digunakan pada gaun semewah dan seindah itu.


"Bahannya juga bagus! pasti orang ini pintar sekali dalam dunia desain," puji Zinnia pada gaun buatan Niken.


Ya, gaun yang ada di tangan Sandra adalah gaun pernikahan yang dirancang langsung oleh Niken.


Sandra melihat ke arah Zinnia. "Gaun ini untuk siapa?" tanya Sandra pada Bosnya.


"Gaun ini untukmu, San!"


"Tapi aku tidak akan menikah, Nona! apa ini sebuah penghinaan untukku dari calon istri, Marquez?" tanya Sandra salah sangka.


"Gaun ini bisa untuk acara pernikahan atau acara pesta megah, jadi kau positif thinking saja karena kita bertiga akan berangkat ke Amerika besok pagi."


"Tapi, Nona ...."


Zinnia menyentuh pundak Sandra. "Kau harus buktikan jika kau sudah menerima kenyataan ini dan kau harus membuktikan jika kau sudah bangkit dari keterpurukan dan dengan cara itu kau sudah menang, Sandra!"


Sandra masih memikirkan perkataan Zinnia.


"Apa yang dikatakan Nona Zinnia itu ada benarnya, jika aku tak datang maka Niken akan menganggap aku masih belum move on dari, Marquez dan dia akan semakin senang jika aku tak datang dan menganggapku seorang pengecut!"


"Baiklah! saya akan datang ke acara pernikahan itu," ujar Sandra dengan suara mantap.


"Nah, begitu dong! besok kau harus memakai gaun ini ya?"


Sandra mengangguk mengiyakan permintaan Zinnia.

__ADS_1


"Aku dan suamiku pulang dulu!" Zinnia tersenyum pada Sandra dan berbalik menarik tangan suaminya untuk pulang.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2