Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 129


__ADS_3

Mereka berempat sudah selesai makan siang.


"Kau akan kemana sebentar lagi, calon Kakak Ipar!" Arnon meledek Pram dengan suara yang di buat semanis mungkin.


Wajah Pram dan Agnez sudah memerah.


Mereka berdua menundukkan kepalanya karena Arnon secara langsung telah memberikan lampu hijau pada Pram dan Agnez.


Melati menatap datar kedua manusia yang berada di hadapannya itu. "Kenapa wajah kalian berdua merah begitu? apa kalian kepanasan," ledek Melati yang menahan tawanya sedari tadi.


"Tidak, Nona! saya hanya ...."


"Kepedasan," sambung Agnez sekenanya.


Melati dan Arnon saling bertukar tatapan. Mereka berdua melihat ke arah bekas piring makanan yang di pesan oleh Pram dan Agnez, namun tak ada makanan yang bercampur dengan cabai.


"Sungguh karena kepedasan?" tanya Melati memastikan dengan menatap Agnez tajam.


Agnez sedikit gugup mendapat tatapan tajam dari Melati. "I-iya!"


Melati lebih dekat lagi melihat semua bekas piring Pram dan Agnez. "Tidak ada bekas biji cabai di piring kalian! apa wajah kalian memerah karena malu pada kami," ujar Melati langsung.


"Bukan begitu, Nona! kami ...."


"Tak perlu di bahas lagi, Kakak Ipar Pram! suamiku hanya bertanya pada kalian, kemana kalian akan pergi sebentar lagi?" tanya Melati mengulang pertanyaan suaminya.


"Kami akan ke toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan," sahut Pram gugup.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Melati pada Pram.


"Boleh, Mel!" Agnez menjawab pertanyaan yang di tujukan pada Pram.


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang," ajak Melati menyambar tas jinjingnya.


"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja, Sayang! aku takut kau kelelahan," tutur Arnon yang khawatir pada Istrinya.


"Tak apa, Sayang! kita hanya sebentar saja!"


Pram dan Agnez juga bangun hendak keluar dari restoran itu, namun Arnon memanggil pelayan untuk membayar semua makanannya.


Aktor tampan itu membayar semua makanannya dan makanan yang di pesan Pram.


"Tidak perlu, Tuan! biar saya sendiri yang bayar," tolak Pram pada Bosnya.


"Tidak apa-apa, Pram! hari ini, aku yang traktir untuk merayakan awal kisah cintamu dan Kakak Ipar!"


"Terimakasih, Tuan!"


Arnon hanya tersenyum dan merangkul Melati menuju keluar dari restoran itu, setelah ia membayar semua makanannya.


Mereka berempat sudah berada di tempat parkir. "Kita naik mobil masing-masing saja! kau yang memimpin di depan," ujar Arnon pada Pram.


Mereka semua masuk ke dalam mobil masing-masing.


Setelah beberapa menit roda mobil keduanya bergulir, akhirnya Pram menghentikan mobilnya tepat di sebuah toko perhiasan ternama dan diikuti oleh mobil Arnon tepat di belakangnya.


Mereka berempat masuk ke dalam toko perhiasan tersebut. Melati dan Agnez mulai mencari cincin yang cocok.


Para lelaki hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa. Wajah Pram datar seperti biasanya, sedangkan Arnon sudah terlihat bosan.


"Aku paling tak suka jika wanita sudah berbelanja," gumam Arnon.

__ADS_1


Arnon sudah tahu bagaimana rasanya menunggu wanita berbelanja. Apalagi wanita itu sedang berbelanja dengan temannya, sudah bisa dipastikan, waktu 10 jam bagi mereka tak cukup, karena para wanita itu asyik memilih semua hal yang memanjakan matanya.


Arnon kali ini kapok menunggu wanita yang sedang asyik berbelanja karena ia dulu pernah menunggu kedua adiknya di sebuah parkiran mall. Waktu itu semua supir sedang mudik.


"Apa kau tak lelah, Pram?" tanya Arnon yang melihat ke arah sekeliling toko itu.


Semua wanita muda mudi tengah menatapnya dengan tatapan memuja.


"Harus tetap sabar, Tuan!"


Arnon mendekati Melati yang masih melihat beberapa cincin untuk pertunangan Agnez.


"Sayang! apa masih belum selesai?" tanya Arnon pada Istrinya.


"Tunggu sebentar! ini masih memilih mana yang cocok untuk Kakak dan Asisten Pram!"


"Huh, apa masih lama?" tanya Arnon lagi.


"Sebentar lagi," sahut Melati tanpa memperdulikan Arnon dengan wajah yang sudah mulai terlihat kesal.


Arnon teringat dengan hadiah yang akan ia berikan pada sang istri.


"Hari ni kesempatan yang pas untuk memberikan hadiah itu."


Pria itu berjalan ke arah mobilnya. Pram yang melihat Arnon pergi berupaya untuk menyusul Bosnya.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Pram merundukkan sedikit kepalanya karena Arnon sudah masuk ke dalam mobil.


Arnon kembali melihat ke arah Melati dan Agnez untuk memastikan sesuatu.


Karena istri dan kakak Iparnya masih sibuk memilih, Arnon tersenyum simpul sambil menatap ke arah Pram.


"Sudah, Tuan!" Pram menjawab dengan begitu lantangnya.


"Ssstttt! jangan keras-keras, Pram! nanti dia mendengar pembicaraan kita!"


"Maaf, Tuan!" dengan suara lebih rendah dari sebelumnya.


"Aku akan memberikan kejutan itu nanti malam padanya! hari ini aku akan pura-pura marah karena dia tadi telah berani mengabaikan aku! aku akan kembali untuk mempersiapkan semuanya dan kau yang aku pasrahkan untuk menjaga istri dan anak dalam rahim, Melati! jika istriku bertanya? bilang saja jika aku marah padanya, oke!"


"Baik, Tuan!"


Mobil yang di naiki Arnon mulai bergerak pergi dari parkiran toko perhiasan itu.


Pram masih setia menunggu kedua wanita yang sedang asyik memilih perhiasan tanpa ingat waktu.


"Ya ampun! sudah berjam-jam lamanya, tapi kedua wanita itu belum juga beranjak dari toko ini!"


Pram sudah kehilangan kesabaran. Ia berjalan menghampiri Agnez. "Apa masih belum selesai? ini sudah sore! apa kau ingin aku menjadi seonggok manusia yang mengering karena menunggumu," ujar Pram pada Agnez.


"Tunggu sebentar! aku masih memilih cincin ...."


"Masih memilih? apa yang kau lakukan sedari tadi selama berjam-jam lamanya? astaga! sepertinya aku terlalu longgar padamu ya, kucing galak!"


"Kita sudah selesai memilih," celetuk Melati yang memberikan dua buah cincin pertunangan yang sangat indah.


"Tapi, Mel! ...."


"Kakak memang terlalu lama jika berhubungan dengan perhiasan, Kak Pram! jadi tolong di maklumi ya," tutur Melati yang tak ingin Agnez bertengkar dengan Pram.


Wajah Pram memerah karena Melati memanggil dirinya dengan sebutan, Kakak. "Tidak apa-apa, Nona!"

__ADS_1


Melati tersenyum manis. Ia melihat ke sekelilingnya, namun keberadaan Arnon tak kunjung ia temukan.


"Kak Pram! apa kau melihat adik iparmu?" tanya Melati sambil menggoda calon Kakak iparnya itu.


Agnez menutup mulutnya rapat-rapat. Ia ingin sekali tertawa karena ulah Melati yang dengan sengaja membuat calon tunanganya salah tingkah.


Wajah Pram menegang karena ucapan Melati yang membuatnya tak bisa berkonsentrasi dengan baik.


"Tuan muda tadi pergi dengan wajah sedikit emosi, Nona!"


"Emosi?" tanya Melati.


"Iya, Nona! apa anda mengabaikanya atau ...."


"Diam!" Melati langsung memotong pembicaraan Pram. Ia mengambil ponselnya.


Melati mencoba menghubungi Arnon, namun ponsel pria itu tak aktif.


"Tuhan! kenapa aku tadi mengabaikan dia, tapi bukan maksudku begitu, aku hanya ingin fokus memilih cincin untuk Kak Agnez!"


Tubuh Melati sedikit lemas. Agnez memapah tubuh adiknya ke arah mobil Pram, sedangkan pria itu membayar uang cincin yang di pilih oleh Melati.


"Kau istirahat dulu disini," pinta Agnez yang juga ikut masuk ke dalam mobil Pram.


"Dia pasti marah padaku, Kak! dia sebelumnya tak pernah mematikan ponselnya seperti ini," jelas Melati yang menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang.


Pram masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat lewat kaca spion tengah. Melati nampak sangat sedih karena Arnon.


"Maafkan saya, Nona! ini semua demi kelancaran rencana Tuan untuk anda."


"Kita akan kemana sekarang, Nona!" tanya Pram pada Melati.


"Kita langsung pulang saja," sahut Melati dengan suara tak bersemangat.


Agnez menggenggam tangan adiknya untuk memberi semangat.


"Baik, Nona!"


Pram melajukan mobilnya dengan wajah yang sudah panik bukan main.


"Aku tak bisa langsung menuju ke rumah keluarga Gafin! aku harus mengambil rute yang sekiranya macet total."


Saat sudah berada di depan lampu merah, jalan yang Pram ambil adalah jalan lurus. Agnez sadar akan jalan yang diambil Pram.


"Kenapa kau mengambil jalan lurus? biasanya kan kita mengambil jalur kiri?" tanya Agnez pada calon tunangannya.


"Aku ingin kita cepat sampai," sahut Pram berlagak polos.


"Tapi itu kan jalan yang rawan macet total!"


"Kau diam saja! jika kau tetap mengomel, kau saja yang menyetir," ujar Pram yang sudah kesal.


"Dasar pria tukang marah," umpat Agnez dengan mata melotot.


"Dasar, kucing galak! Meongggg!"


Pram tertawa sendiri saat dirinya menirukan suara kucing yang sedang mengamuk.


Agnez memonyongkan bibirnya karena Pram bisa-bisanya tertawa setelah mengolok-olok dirinya.


Tanpa sadar, Melati ikut tersenyum melihat pasangan baru itu yang bertengkar bagai kucing dan tikus.

__ADS_1


__ADS_2