Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 198 ( Season 2 )


__ADS_3

William keluar dari kamar mandi. Pria itu melihat ke arah ranjang.


Pemandangan yang pertama ia lihat adalah Zinnia yang sedang tertidur di kasurnya dengan posisi duduk menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang.


Pria itu melangkah dengan sangat pelan karena ia tak ingin membangunkan istrinya.


Ponsel Zinnia masih berada di tangannya.


William mengambil ponsel sang istri dan meletakkan ponsel itu di atas nakas.


William melihat Zinnia dari ujung rambut sampai kaki. Gadis itu menggunakan kemeja hitam membuat kulit putih istrinya yang di wariskan oleh Arnon terlihat begitu kontras dengan kemeja yang ia pakai.


"Kau pasti lelah sekali ya? sampai kau tertidur dengan posisi duduk seperti ini."


William membenarkan posisi tidur Zinnia dengan posisi terlentang. Kebetulan Zinnia sudah menutupi bagian kakinya dengan selimut jadi William hanya tinggal menarik ke atas sedikit saja sampai batas dada sang istri.


William sedikit merundukkan tubuhnya dan pada akhirnya ....


Cup


Kecupan singkat mendarat sempurna pada kening Zinnia, mengantarkan gadis itu ke alam mimpinya lebih dalam lagi.


William mengusap kepala Zinnia. "Mimpikan aku ya, Gadis cerewet!"


Di lain tempat, seorang wanita dengan senyum liciknya menatap ke arah layar televisi yang menyiarkan acara fashion show peluncuran baju musim semi tahun ini.


Di temani dengan segelas wine, wanita dengan bibir tebalnya menyeruput wine tersebut dengan gerakan yang sangat seksi.


Karena minuman itu tak terisi penuh, hanya setengahnya saja, jadi wanita berambut coklat tersebut menghabiskannya dengan sekali teguk saja.


Wanita tersebut meletakkan gelas bekas meminum wine tadi di atas meja.


Lagi-lagi senyum licik terukir dari bibir tebalnya. Setiap kali tayangan televisi itu menyorot wajah Zinnia, wajah penuh kebencian itu terus saja terpancar tanpa henti.


"Satu semut sudah aku musnahkan! bahkan semut itu bertahun-tahun bisa aku kendalikan, tapi sekarang masih saja muncul semut yang lainnya! huh, sepertinya aku harus membakar habis apa saja yang berada di dekatmu Dokterku, Sayang!"


Wanita berambut coklat itu melihat ponselnya, di wallpaper ponselnya terdapat foto William sedang tersenyum.


"Kau sudah di takdirkan untuk bersamaku, Willi! buktinya kita bertemu lebih dulu di bandingkan dengan istri yang tak mencintaimu itu! aku jamin, kau pasti akan lebih memilihku daripada si gadis kecil yang tak tahu apa-apa itu," gumamnya sambil mengecup layar ponselnya yang terdapat foto William di dalamnya.


Keesokan harinya, di sebuah rumah megah di Amerika, tepatnya di kota Washington DC. Seorang pria tampan yaitu Marquez Copaldi dengan laptop di kedua pahanya sedang menatap lekat layar laptop tersebut.

__ADS_1


Marquez ternyata sedang melihat tayangan ulang proses pernyataan cinta William pada Zinnia saat acara pergelaran kemarin.


Sebenarnya Marquez sudah tahu namun, pria itu tak melihat secara detail kejadiannya seperti apa dan ia memutuskan untuk melihat kejadian detailnya lewat YouTube.


Di sebuah channel, bahkan semua ucapan William di translate ke dalam bahasa Inggris.


Saat ini tayangan William dan Zinnia sudah beratus juta kali di tonton.


Marquez mem-pause video yang ia lihat saat wajah Zinnia tepat di sorot dan memenuhi layar laptopnya.


Tangan kekar Marquez menyentuh layar laptop itu sambil mengusapnya secara perlahan seakan ia tengah mengusap wajah Zinnia.


"Apa kau tak ingat dengan janji kita saat kecil, Zi?" tanya Marquez menggunakan bahasa Indonesia.


Marquez dan Zinnia dulu pernah bertemu saat Susan, nenek dari Zinnia berkunjung ke Amerika dan kebetulan saat itu Susan mengajak Zinnia untuk ikut ke rumah temannya yang juga seorang desainer yang tak lain adalah nenek dari Marquez.


Saat Zinnia di bawa ke rumah Marquez, Zinnia kecil bermain dengan pria itu.


Zinnia memang tipe orang yang cepat akrab dengan orang baru.


Saat keduanya berkeliling rumah Marquez, tak sengaja Zinnia melihat piala berjejer di sebuah lemari kaca.


Zinnia sempat bertanya pada Marquez piala itu milik siapa dan Marquez menjelaskan pada Zinnia jika semua piala itu milik sang nenek yang memenangkan berbagai macam penghargaan di dunia fashion.


Dari situlah semangat Zinnia tumbuh untuk menjadi seorang desainer terkenal.


Saat melihat senyum Zinnia, Marquez juga ingin sekali menjadi desainer seperti neneknya.


Marquez berkata pada Zinnia jika ia akan menjadi desainer terkenal dunia dan akan menikahi Zinnia saat ia sukses kelak dan gadis itu hanya mengangguk setuju.


Pria itu sampai rela les privat bahasa Indonesia agar ia bisa mengerti bahasa calon istrinya saat ia kelak sudah menikah dengan Zinnia.


Saat itu umur Zinnia 6 tahun dan umur Marquez 12 tahun.


Marquez tersenyum saat ia mengingat masa-masa itu. "Seharusnya aku melamarmu lebih dulu, Zi!"


Marquez menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang berada di taman belakang rumahnya.


"Untuk apa gelar yang aku dapat jika kau saja sudah menjadi milik pria lain, Zi!"


Marquez masih menatap ke arah layar laptopnya. Pria itu terlihat sangat putus asa dengan kenyataan ini.

__ADS_1


Di dalam kamar hotelnya, seorang gadis dengan kemeja yang sama namun, celana jeans kali ini ia kenakan sebagai bawahannya.


Zinnia dengan wajah cemberut membereskan semua pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper.


"Dasar suami jahil! pagi-pagi sekali sudah membangunkan aku mengusirku dari kamarnya! katanya cinta, cinta apanya! cinta dari Hongkong!"


Zinnia terus menggerutu karena William membangunkan istrinya jam 4 pagi untuk pindah ke kamarnya sendiri.


"Pasti cintanya hanya sebatas ...."


"Sebatas apa, Sayang?"


Zinnia menoleh ke arah pintu dan William sudah berjalan ke arahnya.


Gadis itu mengacuhkan suaminya, Zinnia kembali mengemas semua barang-barangnya ke dalam koper.


William kini sudah berada di belakang Zinnia. "Cinta siapa yang sedang kau ukur, Sayang?" tanya William melihat Zinnia memasukkan bajunya ke dalam koper dengan gerakan kasar.


William beralih tempat untuk melihat wajah istrinya. Benar saja, bibir Zinnia sudah maju ke depan.


"Kau itu kenapa, Zi?" tanya William duduk di samping koper istrinya.


"Tak apa-apa!"


"Kenapa jawabnya ketus begitu? apa kau marah padaku?" tanya William lagi.


Zinnia menghentikan gerakan tangannya memasukkan bajunya ke dalam koper.


Gadis itu menatap ke arah William dengan tatapan marah, kesal, dan membunuh.


"Apa kau masih belum sadar dengan kesalahnmu?" tanya Zinnia dengan nada super ketusnya.


"Kesalahan? salah apa yang aku buat?" tanya balik William sembari menyilangkan kakinya.


Zinnia memutar bola matanya jengah. "Jika kau tak ingat, lupakan saja!"


Zinnia hendak pergi dari kamarnya namun, tangan William menarik pergelangan tangan istrinya sampai tubuh gadis itu sudah berada di pangkuan suaminya.


Wajah Zinnia masih tak sudi menatap ke arah William. Gadis itu masih mengacuhkan suaminya sebagai hukuman karena William sudah berani mengusirnya pagi-pagi dari kamar hotelnya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2